Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
130. End


__ADS_3

...~•~...



...~•~...


Berhari hari tidak bertemu ataupun bertegur sapa nyatanya membuat keduanya uring uringan.


"Sebenarnya kamu ini menganggapku sebagai suami atau tidak?" Celetuk Jackie saat tidak sengaja berpapasan dengan Ayana di dapur.


Ayana menatapnya datar dan dingin. "Terserah!" ujarnya yang kemudian pergi meninggalkan Jackie.


Jackie geram, dia merasa tidak dihargai oleh istrinya. ia kemudian menarik kasar tangan Ayana hingga Ayana terduduk di kursi meja makan.


"Ada apa ini? kita sudah satu minggu tidur terpisah dan juga tidak saling bertegur sapa. Apa mau kamu?"


"Apa mauku? kamu yang maunya apa?" Ayana menyerang balik dengan matanya yang terasa panas dan siap meluncurkan cairan bening.


Bagaimanapun, sekuat kuatnya dia sebagai wanita, tetap saja akan merasakan kesakitan dalam hati jika berhadapan dengan yang namanya pertengkaran.


"Ok, mauku kita tetap baik dan tak bertengkar seperti ini. Ay...., tolonglah kamu jadi berbeda semenjak kelahiran anak Kak Gino, ada apa?" Jackie mendesaknya.


Ayana menunduk dan menangis disana. "Ada sesuatu yang tak akan baik jika ku katakan Jack."


"Katakanlah, apa?" Jackie mulai luluh dan kini dia berjongkok di hadapan sang istri.


"Apa kau akan mempercayaiku?"


Jackie menatapnya lekat dan mengangguk. "iya aku akan mempercayaimu."


Seolah mendapatkan kekuatan dan angin segar, Ayana kemudian mengusap air matanya. Dia mulai memiliki keberanian untuk menyuarakan apa yang selama ini di pendamnya.


"Kak Gino, dia masih mencintaiku." Ucapnya perlahan.


Jackie tak percaya begitu saja. dia melepaskan genggaman tangannya dan Ayana tau apa artinya itu. "Sudah kuduga kamu tidak akan percaya padaku. Jadi percuma sja aku mengatakannya padamu. Memang darah akan selalu lebih kental daripada air." Ayana tertunduk lesu. Dia putus asa, mungkin inilah titik akhir dari perjalan cintanya.


"Ay! bicara apa kamu ini? Kak gino sudah menikah dan memiliki anak sekarang lalu kamu bilang jika dia masih mencintaimu? BULSHITT!!" Jackie meremas rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Terserah, apapun yang terjadi terserah. Tapi aku tidak akan mengemis kepercayanmu lagi. Aku sudah mengatakan apa yang harus ku katakan. Setidaknya kamu tahu apa penyebab aku selalu menolak untuk berkumpul bersama keluargamu. Bukan karena aku iri karena tidak bisa memiliki anak, tapi karena aku tidak mau semuanya menjadi semakin kacau." Ayana kembali bangkit dan menyeka air matanya yang terjatuh.


"Kita todak bisa selalu seperti ini. Setidaknya kau harus memilih Jackie. Pilih keluargamu dan berpisahlah dariku, aku bukan wanita yang baik dan aku juga tidak bisa memberikanmu keturunan. Semuanya sudah jelas sekarang." Ayana kembali memasuki kamar tamu.


"Tidur di kamar kita! kita tidak akan bercerai, itu keputusanku! sekarang aku bilang tidur di kamar kita. Aku tidak mengijinkanmu tidur di tempat lain selain kamar kita!"


Ayana berdiri mematung mendengar ucapan suaminya.


Tidak akan menceraikan? lalu tindakan apa? jika terus berada diantaranya itu bukanlah pilihan yang baik kan?


Jackie mendekap ayana dan membawanya kedalam pelukannya. Mereka berdua menangis bersama. "Kita akan menua bersama sesuai janjiku. berpisah beberapa hari darimu sudah membuatku kesulitan bernafas." Kata Jackie yang memeluk erat sang istri seolah sangat takut kehilangan.


"Kita yang mengalah, kita saja yang pindah ari sini. Kita aka menetap di negara lain. Jika berada di tempat yang jauh, secara otomatis dia juga akan melupakanmu sayang." jackie menangkup wajah Ayana.


"Yang terpenting disini adalah hubungan kita dan kepercayaan kita. Jangan pikirkan yang lain. Sementara mengurus kepindahan aku akan meminta ijin dengan Ayah dan Bunda." Imbuhnya yang kemudian mencium kening sang istri.


"Kenapa selama ini hanya diam? Tidak percaya lagi padaku?"


"Bukan begitu, aku sadar aku ini hanya beban bagimu."


"Hussttt!!" Jackie mengecup lagi kening Ayana. "Tidak ada kata beban dalam hubungan suami istri. Kita wajib berbagi dan saling meringankan."


...~•~...


"Sayang, kamu kenapa sih dari tadi manyun terus?" Jackie kebingungan pasalnya setelah menempati rumah barunya tak ada raut senang di wajah ayana.


"Tidak tahu aku malas." Jawab Ayana yang hanya duduk bersandar di sofa dan menatap kerlap-kerlip lampu kota.


Jackie menghempaskan bokongnya dan berbaring di sofa. "Malas itu moodnya bukan mukanya yang manyun terus dari tadi. Ada apa, hum?" Jackie mentoel dagu ayana.


"Ih...! jangan pegang ih...!" Ucapnya yang menangkis tangan suaminya agar tak menyentuh dagunya.


"Ish...! cuman di toel aja sayang ga diapa apain." Jackie bersikeras.


"Hoek!" Ayana memegangi perutnya.


"Lebay, banyak gaya...! di toel aja langsung mual mau muntah, dikira aku ini bangkai." Selorohnya dengan tetap santai menonton acara TV.

__ADS_1


"Hoek...! Hoek!" Ayana berlari menuju ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening.


Jackie ikut berlari dan menyusulnya dia membantu dan memijit tengkuknya. "Kamu kenapa, masuk angin?" Tanya Jackie.


"Enggak tahu Jack, mungkin telat makan makanya jadi mual."


Jackie terdiam dan terus memijit tengkuk Ayana. "Semoga cepat ada isi."


Isi?


"Jack ini tanggal berapa?" Tanyanya dengan mata yang membulat.


Jackie pun lupa, dia segera mengecek ponselnya. "Tanggal 2" Jawabnya.


"Sayang, seharusnya aku tanggal 18 kemarin haid. Tapi ini tidak sama sekali, apa ini berarti aku hamil?"


"Jangan senang dulu, kita cek dulu." Ujar Ayana pada Jackie yang hampir saja melonjak kegirangan.


"Ok, kita test dulu." Jackie segera berdiri dan mengambil alat tes kehamilan.


Hampir setiap bulan melakukan test, membuat keduanya menyimpan banyak stok alat di kamar mandi.


Keduanya saling menggenggam tangan dengan erat dan berdoa dalam hati masing-masing berharap semuanya terkabul.


Dua garis merah yang nampak membuat keduanya saling berpelukan dan menangis disaat yang bersamaan.


"Aku hamil sayang." Ayana berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, kita akan jadi orang tua sayang. Aku akan jadi Ayah." Ucap Jackie.


"Terimakasih Tuhan!" Jackie bersujud syukur di atas ranjangnya.


Ayana hanya bisa mengusap air mata bahagianya dan kemudian mengusap lembut Surai hitam milik sang suami.


Satu keinginan yang lama menggantung di langit kini akhirnya terwujud. Satu dambaan yang menjadi kunci kebahagiaan kini akhirnya terkabul. Ayana dan Jackie berhasil mendapatkan apa yang selama ini mereka selalu panjatkan.


Keduanya hanya ingin bahagia dan menua bersama tanpa ada kata pisah atau semacamnya.

__ADS_1


Kabar bahagia itu pun segera disambut baik oleh Ayah dan Bunda juga seluruh anggota keluarga yang lainnya tak terkecuali Gino meski di dalam hatinya masih saja menyimpan rasa yang berbeda untuk adik iparnya ini.


...END....


__ADS_2