
...πππΌππ...
...πππΌππ...
Kau wanita yang hebat sayang. Batin Jackie menatap pantulan wajah Ayana.
Tok!
Tok!
Tok!
"Ah, Sayang itu sepertinya pesanannya sudah datang. Aku siapkan dulu ya?" Ayana meminta ijin untuk sekedar bangkit tapi Jackie menahan bahunya.
Jackie menatap sendu Ayana. Tatapan yang mengartikan sejuta makna ketulusan. "Ay, duduklah saja biar aku yang menyiapkannya."
Ayana mendongak dan menatap Jackie. " Tapi, kau belum mandi."
"Ah sudah, kasihan kurirnya sudah mengunggu." Ucap Jackie sambil berlari kecil membukakan pintu untuk si kurir.
Ayana kembali menerawang dia merenung. Mengapa sikap suaminya begitu berubah? Dari semenjak bertemu di rumah sakit pun suaminya menjadi sosok yang berbeda.
Dia kemarin tidak bertanya apa sakitku. Tapi sekarang, cara dia memperlakukanku sangat berbeda?
Apa dia sudah mengetahui semuanya?
Dengan perlahan dan hati-hati, Ayana bangkit dan menuju ke ruang makan. Dia melihat suaminya tengah sibuk menyiapkan jamuan makan.
Dia begitu tampan saat sedang serius begini. Ayana memuji ketampanan suaminya dalam hati.
"Hei, kubilang tadi tunggu saja di kamar. Kenapa malah kemari?" Ucapnya mengomeli sang istri yang tetap berjalan ke arahnya bahkan sambil menyunggingkan senyumnya.
"Tidak apa-apa, biar aku siapkan. Kau mandilah." Ucap Ayana seraya tersenyum manis. Senyumnya menunjukkan bahwa dirinya mampu untuk mengerjakan pekerjaan yang remeh itu.
Jackie melihatnya sesaat lalu menarik sedikit kurva di ujung bibirnya menampilkan senyuman yang sulit di artikan. "Iya..." Ucapnya dengan suara lembut dan disertai kedipan perlahan menggambarkan ada sedikit rasa risau dan keberatan.
"Aku bisa Sayang. Sudahlah jangan melihatku seperti itu... seolah aku ini lemah dan tak mampu melakukan sesuatu." Ucap Ayana menggerutu.
Jackie tertawa kecil. " Iya... iya... jangan marah. Nanti jelek." Tangannya terulur mentoel dagu istrinya.
Sontak saja hal tersebut membuat Ayana tersipu. Perhatian kecil dan hal-hal manis lainnya mulai sering Jackie berikan seiring dengan fakta yang telah diketahuinya dari Bu Sri.
Jackie memasuki kamarnya dengan beberapa kali menengok kebelakang memastikan apakah istrinya baik-baik saja. Dia memasuki kamar mandi meletakkan jam tangannya melepas jas dan juga bajunya satu persatu tetap dengan pikiran yang mengkhawatirkan istrinya.
"Apa tidak sebaiknya aku mencari asisten rumah tangga? Ah... apa Diah saja yang ku panggil untuk mengurus Ayana?" Jackie menggumam sambil memakai bajunya setelah selesai dengan ritual mandinya.
"Aku rasa itu bukan ide yang buruk." Gumamnya lagi yang kemudian di susul dengan senyuman yang terukir indah di ujung bibirnya.
...πππΌππ...
Makanan telah siap tersaji di meja. Lauk favorit dari para tamu yang sudah Ayana hapalkan sebelumnya sudah tersaji dengan sempurna.
"Ayah suka Ayam bakar, Bunda suka rendang, Mas Gino... em Kak Gino... dia suka Apa yang dia suka ya?" Ayana kebingungan mengingat makanan kesukaan Gino.
"Dulu sewaktu kami menikah, apapun yang ku masak selalu habis di lahapnya. Jackie juga." Ayana menggumam dan kemudian tersentak saat Jackie keluar dari kamarnya.
"Sayang sudah selesai?" Tanyanya dengan riang.
"Jack, apa makanan kesukaanmu? Aku sampai sekarang tidak tau apa yang kau sukai."
Jackie terkekeh geli dia mendekat lalu mendaratkan kecupan hangat di kening istrinya. "Aku pun tidak tahu, Apapun yang kau masak selalu terasa lezat di lidahku."
__ADS_1
Ouh! sungguh perkataan suami yang mengandung pemanis buatan. Sangat manis melebihi manisnya madu. Membuat sang istri seketika berbunga-bunga.
CUP!!
Kecupan singkat mendarat di bibir Jackie. "Manis sekali... siapa yang mengajari?"
"Kau... kau selalu memujiku dan itu kurasa sudah menular padaku." Sahutnya kemudian mengedipkan matanya beberapa kali menggoda sang istri.
Terdengar riuh ramai suara beberapa orang di depan pintu flat mereka.
"Oh, itu mereka sudah datang." Ujar Ayana.
"Mari, kita sambut mereka dan sampaikan kabar bahagia ini." Kata Jackie dengan yakin.
Ayana terlihat ragu dan juga cemas. Raut wajahnya berubah seketika. Dia seperti sedang ketakutan. Dia takut kalau nanti para anggota keluarga yang lain terutama mertuanya akan tau akan kondisinya yang sebenarnya.
"Tenanglah, jangan cemas..." Jackie mengusap tangan Ayana yang digenggamnya. Tangan itu terasa bergetar dan dingin berkeringat.
Ayana, satu hal yang di takutkannya, jika sampai mereka tau kondisinya yang sebenarnya maka mereka juga pasti akan mengusut apa penyebab Ayana sampai mengalami luka separah itu dan hal itu menyebabkan juga mereka akan mengetahui perihal pernikahan Ayana dan Gino dimasa lalu.
"Jangan banyak pikiran. Kita bicarakan nanti lagi." Jackie menarik Ayana perlahan dan menggiringnya untuk berjalan bersama membuka pintu untuk para tamu.
"Hai.. !" riuh ramai suara tamu yang berdatangan. Suara yang paling riang berasal dari ibu mertua yang langsung memeluk menantu dan juga anak kesayangannya.
"Bunda...." Ayana menyahut sambil membalas pelukan sang ibu mertua.
"Hai Kak..." Sambutnya lagi kepada Kakak iparnya yang masih saling merangkul terlihat mesra dan harmonis.
"Hai." Balas Dita sementara Gino hanya mengangguk dan memberikan senyumannya.
Mereka saling bercengkrama dengan hangat dan menikmati makanan yang tersaji.
"Ini... agak berbeda." Ucap Bunda Winda mengomentari sambil terus mengakrabkan Indra perasanya dengan makanan yang dikenyamnya.
"Woah....! Bunda tahu?" Jackie tetkejut.
Bagaimana sang Bunda bisa lupa, bila lidahnya sudah begitu akrab mengecap rasa setiap masakan Ayana? Apakah Jackie lupa, jika istrinya itu sedari kecil tumbuh di bawah pengawasan Bundanya? termasuk dalam hal memasak.
"Iya..., ini memesan di restoran Bun. Ayana masih hamil muda Bun, jadi dia masih lemas dan mengidam. Maaf ya, kalian kesini tapi tidak ada masakan istimewa." Ucapnya dengan santai dan setenang mungkin.
"Apa!!" Ayah Dhani dan Bunda Winda terkejut bersama mereka sampai menghentikan kegiatan mengunyahnya.
"Kamu serius?" Tanya Bunda Winda sambil menatap Jackie menunggu kelanjutan dari jawabannya selanjutnya.
"Iya Bun, dia hamil." Ucap Jackie lagi dan kini satu tangannya berada di bawah meja, menggenggam erat tangan sang istri guna meredam segala ketakutan, kegundahan, dan rasa gelisahnya.
Ayana dia menarik nafas perlahan dan menghembuskannya secara perlahan pula guna mengusir ketegangan yang bersemayam dalam dirinya.
Satu tarikan nafas dan Ayana menyuguhkan senyum palsunya seapik mungkin. "Iya Bunda, Ayah, Ayana hamil." Ucapnya membuat sepasang suami istri yang mulai beruban itu tertawa senang.
"Apa ini kejutan? Kenapa tidak memberitahu Bunda dari awal? Sudah berapa bulan?" Kegembiraan tak dapat lagi disembunyikan oleh Nyonya Dhani Armanto. Dia begitu senangnya. Matanya sampai berbinar dengan bulir bening yang menghiasi di ujung matanya.
Ayana menggigit bibir bawahnya lalu tersenyum simpul menatap sekilas sang suami seolah memohon bantuan. Jackie mengangguk paham. Tangannya tak lepas menggenggam erat tangan sang istri.
"Sudah 4 bulan Bun. Kami sengaja merahasiakannya agar usianya cukup. Ya..., bunda pasti tau tentang mitos wanita hamil kan?" Ucap Jackie menggiring opini Bundanya kepada pemikiran tahun tua dan mengaitkannya dengan mitos.
Memang di beberapa suku di Indonesia, memiliki mitos yang mereka percayai mengenai beberapa pantangan bagi ibu hamil. Diantaranya tidak boleh mengumbar berita kehamilan saat masih muda atau awal hamil. Ada juga yang melarang membeli perlengkapan bayi dan membawanya pulang saat usia kandungan masih muda. Dan..., Bunda Winda paham betul akan hal itu.
"Ah, iya. Kau benar sayang. Kau pintar sekali. Wah..., Bunda benar-benar senang sebentar lagi akan menjadi nenek." Ucapnya begitu girang seperti anak kecil yang di ajak ke taman bermain impiannya.
Ayah Dhani yang lebih bersikap tenang dan santai hanya mampu menggeleng melihat perilaku istrinya yang begitu antusias menyambut kedatangan calon anggota baru di keluarga mereka.
Begitulah cara Tuhan menjaga makhluknya. Apa yang ditakutkan Ayana, nyatanya satu persatu menyingkir dengan sendirinya. Mengubah kekhawatiran menjadi kebahagiaan. Seketika raut wajah Ayana berubah kembali cerah.
__ADS_1
"Terimakasih." Katanya menyampaikan rasa terimakasih kepada sang suami tanpa suara. Hanya melalui gerakan bibir dan kerlingan mata. Tangannya terangkat dan senyuman yang tak terlepas dari bibir mungilnya lalu mengecup tangan Jackie yang masih menggenggamnya di hadapan keluarganya.
"Wah... romantisnya!" Ucap Alex meledek. Dia yang sedari tadi diam menyimak dengan mulut yang sibuk makan, kini mulai berbicara menggoda sang adik yang sebentar lagi akan menjadi Ayah.
Semuanya ikut tersenyum senang dan merayakannya. Acara kunjungan biasa menjadi jamuan makan malam yang begitu istimewa dan mengena di hati para orang tua.
"Gino, kamu kapan?" Tanya sang Bunda menggoda si anak sambil menaikkan kedua alisnya.
"UHUK....!"
"UHUK...!" Gino terbatuk-batuk, tersedak minumannya untung saja tidak menyembur dan mengenai Alex yang duduk di hadapannya.
"Mas, pelan-pelan." Desis Dita menepuk-nepuk perlahan punggung Gino untuk meredakan rasa ingin batuknya.
Dita tersenyum tipis " Kami juga akan segera rilis kabar baik Bun, doakan kami ya.." Ucapanya berdusta yang hanya semata-mata ingin mencairkan suasana meski hatinya serasa tertohok ketika hampir saja muncul perbandingan keberhasilan di atas meja makan.
Gino yang ditanya kapan, tapi aku yang sesak. Mengapa aku jadi memiliki rasa iri seperti ini? Bukankah wajar jika mereka memiliki anak? Mereka rajin membuatnya. Sedangkan aku? Dita membandingkan hubungan harmonis Ayana dan Jackie dengan dirinya dan Gino yang terasa dingin dan hambar.
Malam hari di kamar Ayana.
"Sayang, terimakasih ya. Tadi.... kau ... sudah membantuku agar terlihat baik-baik saja di hadapan Ayah dan Bunda." Ucap Ayana lirih seraya tidur menghadap Jackie yang masih duduk dan mengerjakan laporannya.
Jackie, tangannya yang masih mengetik terhenti seketika. Dia lalu melepas kacamatanya dan menutup laptopnya mengakhiri sesi sibuknya. Perlahan dia berbaring dan menarik Ayana dengan lembutnya hingga berada di dalam dekapannya. "Apapun, Apapun yang menjadi pilhanmu. Aku..... aku akan mendukungmu." Ucapnya dengan suara bergetar menahan tangisannya.
...Flashback on. ...
Di kantor Jackie setelah selesai rapat.
"Pak, Bapak kenapa terlihat murung?" Tanya fajar si sekretaris Jackie.
Jackie termangu menatap foto Pernikahannya yang terpajang di meja kerja. Dia tersenyum sekilas lalu mengusap bunga anggrek bulan berwarna putih yang Ayana letakkan di sudut mejanya. "Aku, masih bimbang. Aku mengkhawatirkan sesuatu yang aku sendiri tak tau kemungkinan dan hasilnya akan seperti apa." Ucapnya.
"Apa itu tentang peraturan di kantor ini? atau ada bisnis yang..." Tanya si fajar terpotong.
Jackie menggeleng dan tangannya memijit pelipisnya pertanda jika dia sangat pusing memikirkan hal itu. "Ini tentang istriku. Beberapa hari lalu dia sakit dan sedang hamil muda. Tapi aku sendiri sampai saat ini tidak tau apa penyebab dia sampai masuk rumah sakit."
"Mengapa tidak Bapak tanyakan saja langsung?"
Jackie berdecak. " Cek!" Dia menautkan jari jemarinya lalu memutar kursi kerjanya. " Dia..., aku takut menyinggung perasaannya. Yang ku tau orang hamil itu akan mudah tersinggung, salah paham, dan sensitif." Ucapnya.
Si fajar, sekretaris berkacamata yang nihil pengalaman bab kehamilan hanya bisa terdiam tanpa memberikan solusi yang berarti.
"Bukanya bapak masih punya saudara di rumah sakit tempat Bu Ayana kemarin di rawat?" Kata fajar mengingatkan.
Jackie tercenung. Bagaimana dia bisa lupa perihal keberadaan Jihan? Si bawel yang suka uang?
"Iya kau benar." Ucap Jackie lalu berdiri.
Jackie dia segera menemui Jihan di rumah sakit tempatnya bekerja. Berkat bantuan Jihan akhirnya Jackie mengetahui semuanya tentang kondisi Ayana yang sesungguhnya.
Satu titik fokus dari pernyataan dokter adalah tentang resiko kematian sang ibu yang semakin besar berasama dengan usia kandungan yang semakin besar pula. Rahim Ayana sungguh jauh dari kata baik-baik saja.
...Flashback off....
"Kau... kau sudah mengetahui tentang kondisi rahimku?" Tanya Ayana dengan pipinya yang sudah basah dengan deraian air mata.
Jackie mendesah menarik nafasnya dan menghembuskannya seolah melepaskan beban berat dari dalam dirinya. Dia mengangguk. meski Ayana tak melihatnya tapi dia bisa merasakan pergerakan anggukan kepala sang suami.
"Terimakasih." Bibir Ayana bergetar mengatakan sebuah kata yang sebenarnya tak begitu penting untuk di ucapkan.
"Aku... aku tadinya begitu takut untuk memberitahukan hal ini kepadamu. Aku takut kau akan berpikiran sama dengan mereka dan menganjurkan untuk menggugurkan kandunganku. Aku.... aku berusaha melindungi anak kita." Ucap Ayana yang tergugu dalam dekapan hangat sang suami.
"Hussst....!" Jackie mendesis lalu mengecup kening sang istri yang sudah bercampur rasa asin dari air matanya yang berlinang meski tanpa isakan. "Jangan menangis, nanti perutmu kontraksi. Sudah tenanglah... kita lalui ini bersama..." Ucapnya dengan berbisik lembut di telinga Ayana.
__ADS_1
Bukankah ini yang seharusnya terjadi di dalam setiap hubungan?
Saling mengerti dan memahami juga memberikan dukungan yang begitu berarti.