
...~~...
Ayana Tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah suaminya. "Menurut sajalah dengan kata-kata Dokter. Dia sudah tau kan yang terbaik untuk pasiennya?"
Semenjak malam itu, dimana Jackie sudah berbuka puasa dengan begitu khidmat nya. Perangainya mulai berubah. Dia tak lagi suka marah-marah, lebih kalem dan bersahabat.
Dan, hari ini adalah weekend, hari dimana paling dinantikannya selama satu Minggu kemarin. Dia masih bergelung di dalam selimutnya, tanpa mengenakan sehelai benang pun.
"Bangun Jack!" Ayana sudah duduk bersandar pada headboard sambil menyangga selimut agar tak terjatuh lalu menampilkan tonjolan indah miliknya.
"Eungh!" Dia hanya melengkuh tanpa bergerak sedikitpun. "Aayang, Jagan panggil nama sih. Panggil apa gitu." Pintanya dengan wajah yang masih bersembunyi dibalik selimut dan mendekap erat bagian tubuh istrinya.
"Apa ya? Ya udah, Sayang... ayo bangun. Sayangnya aku, si gigi kelinci..., ayo bangun..." Ucap Ayana dengan nada manja menggoda sang suami. Dia bahkan menggelitik bawah dagu suaminya seolah suaminya adalah seekor kucing.
"Emh...!" Lagi si bontot bergigi kelinci itu hanya menggunam dan menarik kembali Ayana sampai berada dalam dekapannya. "Begini saja seharian ya sayang. Aku sangat lelah." Katanya.
"Lelah? emh... mungkin karena kamu kebanyakan nambah."
" Ha-ha-ha...., iya mungkin. Tapi enak, Yang yuk mumpung masih pagi.." Ucapanya lagi sambil terkekeh senang.
"Stop! keseringan juga tidak baik kan? Udahlah besok lagi aja, dua hari lagi."
"Dua hari ya? Lama banget .." Protes Jackie.
Terulur lembut tangan Ayana mengusap perlahan kepala bagian belakang Jackie yang masih tengkurap. Sedari tadi dia berbicara, mulutnya masih menghadap ke bantal.
"Sayang, jangan suka marah-marah lagi ya. Janji sama aku ya. Jangan suka menyakiti diri sendiri, termasuk tato entah apapun nanti yang terjadi." Kata Ayana yang terdengar sendu dengan tiba-tiba.
Jackie lalu membalikkan badannya dan menghadap sang istri. Terlihat pelupuk mata Ayana sudah menggembung, ada perasaan sedih yang bergelayut di sana.
"Ada apa? muka kamu sedih begini?" Jackie berbalik mengusap lembut pipi ang istri.
"Kamu tahu? setiap aku melihat tatomu yang ini, ini dan ini." Ayana menunjuk ke gambar tato di beberapa bagian tubuh Jackie. "Aku selalu ingat akan kamu yang salah paham waktu itu. Aku sendiri melihatmu membuatmu tato. Meskipun jarum itu kecil, nyatanya kamu kesakitan berbulan bulan setelahnya karena alergi pada salah satu tintanya."
"Melihatmu kesakitan, aku jauh lebih sakit." Ayana meneteskan air matanya.
"Hust....! sudah, itu dulu. Dan aku, tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji. Apa perlu aku menghapus tato-tato ini?"
"Jangan! Menghapusnya hanya bisa di lakukan dengan membuat luka baru yang lebih dalam dan sakit kan? Jangan sakiti lagi, sudah cukup." Kata Ayana kemudian mengusap lengan Jackie.
__ADS_1
"Jangan sakiti tubuhmu lagi Oke?" Tanya Ayana penuh harap, dia memungkasi kesedihannya.
"Iya sayang." Jackie mengangguk.
"Apa kamu pernah berfikir sebelum membuat tatto itu? Bagaimana nanti jika kamu sudah punya anak dan mereka menirunya saat belum cukup umur?"
Ah iya, Jackie mana pernah berpikir panjang dan jauh sampai ke titik itu? Dia hanya memikirkan kesenangan sesaat dan sebatas seni. Sudah itu saja, tapi pada kenyataannya di kehidupan nyata apalagi di negara-negara bagian timur. Tatto berpengaruh besar dalam masa depan seseorang.
Pekerjaan di perusahaan yang terakreditasi menuntut setiap karyawan untuk berpenampilan rapi dan menarik. Sedangkan tatto identik dengan kesan menyeramkan dan kebebasan. Bahkan banyak sebagian yang selalu menutup lengan dan lehernya saat bekerja karena perubahan membuat peraturan ketat dimana menolak karyawan yang bertatto.
"Iya kamu benar."
"Tapi sudahlah, biarkan itu menjadi PR mu, dan kamu akan menjelaskannya kelak. Aku berharap kamu bisa menjadi contoh yang baik bagi anakmu." Kata Ayana yang entah mengapa sedari pagi tadi selalu mengeluarkan kata-kata bijaknya.
"Ay, hari ini kan weekend. Kamu sudah bisa berjalan lama kan?" Tanya Jackie memastikan.
"Iya, ada apa?" Ayana mengangguk dan menatap lekat kedua manik sang suami lalu bergerak maju untuk mengecup dagu suaminya.
"Ih, kok situ? sini geh!" Jackie menunjuk bibirnya lalu memanyunkannya.
Ayana menurut saja lalu mengecupnya. "Ada apa?" Ulangnya lagi bertanya.
"Pedesaan ya? Oke... tapi, nanti kalau aku capek gendong ya?" Tanya Ayana seolah dia masih balita. Dia berbicara begitu manjanya.
"Berarti kamu cuti dong? Bagaimana kalau kita pulang kampung, aku kangen sama si sulung." Ucap Ayana yang merindukan sosok anak pertamanya yang keguguran.
Jackie terdiam, ada rasa bersalah yang menggunung di sana. Secara tidak langsung dalam kejadian dulu, dialah sekutu dari Lena. Dan dia sangat menyesal sekarang.
"Ah, kamu mau melihatnya? Iya akan ku antarkan. Jika saja dulu aku tidak gegabah dan mendorongmu. Mungkin sekarang kita sudah memiliki momongan. Kamu harus mengalami luka yang lebih parah karena aku kan?"Ucap Jackie menatap nanar sang istri.
"Mau makan apa? aku masak dulu ya!" Kata Ayana yang seolah menjadi tuli tiba-tiba. Ayana hanya tak mau terjebak dalam luka dan kesedihan di masa lalunya. Dia ingin bangkit dan menjadi lebih ceria saat ini.
Aku tau kamu hanya berpura-pura tidak mendengarku. Aku tau kamu tak ingin larut dalam kesedihan. I'm sorry Ay and I love you.
...~~~...
"Uhuk! uhuk!" Seseorang terbatuk-batuk saat membersihkan sebuah rumah tua yang lama tak di huni. Rumah yang berada di pinggir desa yang lekat dengan pemandangan sawah di sekitarnya.
"Oh, Kak Alvin. Boleh ya aku menempati rumah ini lagi. Toh juga kau pasti sudah melihat bagaimana kelakuan Lena. Dia bukan wanita yang baik. Dia wanita jahat!" Ujar Marvin berbicara seolah dia itu mahluk yang paling baik sedunia.
"Hemh.... segar sekali udara disini. hhh... ini saat yang pas buatku untuk berubah. Suatu saat nanti kita akan kembali bertemu Ay... dan aku akan mengucapkan terimakasih karena kamu telah banyak merubah hidupku. Ay... bolehkah aku berdoa pada yang kuasa agar memberikanku jodoh yang sama sepertimu?" Marvin berbicara pada hamparan sawah yang membentang.
__ADS_1
Semenjak saat terakhir dia bertemu dengan Ayana di dalam Mall, Marvin terus membuntuti Ayana, tapi perlahan dia juga sadar bahwa kebahagiaan Ayana adalah bersama dengan Jackie si pemilik separuh hatinya.
"Seharusnya, aku tak membuang waktu ku hanya demi mengacaukan hidup dan kebahagiaanmu Ay, aku hanya tergiur oleh bayaran Lena. Tapi aku lupa bagaimana caranya berterimakasih padamu. Kini aku tau bagaimana caranya Ay. Dengan menjauh dan tak lagi hadir dalam hidupmu." Gumam Marvin.
Sementara itu di sisi lain.
"Ga, udah deh jangan bandel. Nurut aja apa kata Ibu kamu ya? aku ga mau ya, tambah lama nemenin kamu di rumah sakit. Tubuhku remuk rasanya setiap hari harus tidur di sofa." Keluh Reizu sambil memijit lehernya yang kaku.
Shaga dengan entengnya berbicara. " Ga kau ya sana pulang! repot banget." Ketusnya.
"Astaga! Eh, kalau bisa ya aku udah pulang! kamu ga liat di depan kamar kamu ini sekarang ada berapa penjaga? ini semua karena kamu yang bandel. Segitunya kamu ga mau di jodohkan dengan aku sampai kaburan." Ucap Reizu panjang kali lebar kali Ciliwung kali apa lagi ga tau ah.
Shaga dan Reizu, keduanya terjebak di dalam kamar VIP di sebuah rumah sakit. Shaga yang tertusuk pun akhirnya di ketemukan oleh keluarga kerajaan dan sekarang, pengawalan ketat sedang berlangsung. Dia bahkan tak di ijinkan memegang ponsel oleh ibu ratu.
"Memang!" Jawabnya dengan sangat enteng.
"Ya ampun! ini mulut.." Reizu gas sendiri ingin mencakar mulut Shaga.
"Aku ya, kalau tidak demi fasilitas juga ogah Ga, nemenin orang kayak kamu begini. Acuh, cuek sombong! cih!"
"Sama." Jawab Shaga yang semakin membuat Reizu kesal bukan main.
"Permisi Den, ibu datang." Satu pengawal masuk dan mengabarkan kedatangan ibunda Ratu.
"Hemmh!" Aahut Shaga malas.
Reizu yang sudah terlanjur pening hanya bisa diam di pojokan dan memijit lehernya. "Terserahmu Ga! terserah!!" Bentaknya.
Tak lama kemudian ibunda Ratu datang dan membawa beberapa orang kerajaan yang memakai seragam batik dan berpenampilan klimis juga satu orang yang berpenampilan seperti ustadz. Mereka kemudian duduk dengan santai tanpa menghiraukan keadaan Shaga yang terduduk dan selang infus menempel di tangannya.
"Ibu, ada apa? kenapa banyak membawa orang kemari." Tanyanya pada sang ibu.
"Apalagi? aku tentu akan menikahkanmu sekarang juga, tidak bisa di tunda. Aku tidak mau kamu kabur lagi." Ucap ibunda Ratu.
mendengarkan itu Reizu kemudian mendekat." Maaf Ibu, bukanya saya lancang. Tapi Ayah dan ibu saya sedang tidak berada di dalam negri." Ucap Reizu dengan sangat lemah lembut, berbeda dengan dia yang baru saja mengamuk pada Shaga.
"Kita akan menghubungi kedua orang tuamu saat kalian melakukan akad, ini sudah jaman canggih, aku tau itu hanya alasan kalian saja untuk menunda pernikahan ini." Ucap sang ratu dengan tegas.
"Ajudan! lakukan video call sekarang." Final ucap ibunda Ratu tak terbantahkan.
Kedua mempelai hanya bisa menelan ludahnya kasar. Sangat sulit di percaya, penerus kerajaan menikah di dalam rumah sakit?
__ADS_1