
...~~~...
...~~~...
"Di ..!" Alex berseru memanggil Diah.
Setibanya dia di apartemen, hal pertama yang langsung di carinya adalah keberadaan Diah, si gadis kecil calon istrinya.
Tak di dapatinnya Diah dimana pun, Keadaan rumah masih tertata rapi. Barang-barang tak ada yang bergeser sedikitpun. Semuanya masih berada pada tempatnya. Alex lagi-lagi mencoba menghubungi nomor Diah, tapi sama sekali tak ada jawaban.
"Kemana dia?"
Alex melihat ransel diah yang masih berada di pojok kamar tamu. Dia membukanya dan masih utuh semua isinya. Alex kembali menyusuri ruangan yang lainnya tapi nihil samasekali tidak di dapatinnya sosok yang di cari.
Alex begitu kebingungan. Firasatnya mulai bereaksi dua hari semenjak dia pergi untuk menghadiri pertemuan di luar kota untuk membahas proyek baru. Selama itu juga Diah sudah tak bisa di hubunginya.
"Argh... ! kemana Dia?" Alex meremas kasar rambutnya. Dia frustrasi dan sama sekali tak tau dimana Diah sekarang.
Di sisi yang lain, di sebuah apartemen yang berada di tepi kota. Diah menyewa apartemen, memang hal ini sudah di pikirkanya matang-matang.
Uang yang di dapatkannya dari Tuan Dhani Armanto langsung dipindahkan kedalam tabungannya. Diah memilih menyewa apartemen demi kesehatan mentalnya. Dia audah berfikir sejauh itu.
Ada kekhawatiran yang memang belum tentu terwujud tapi Diah sudah begitu yakin akan kemungkinan terburuk. Dia begitu yakin jika dia akan hamil.
Menggugurkan bukankah pilihan yang baik dimana dia menginginkan adanya seseorang sebagai penguat dalam hidupnya. Dan mungkin itu adalah calon janinnya yang sengaja Tuhan kirimkan melalui cara yang berbeda.
Diah merasa lebih tenang jika tinggal di apartemen. Setidaknya dia bisa bersembunyi selama beberapa bulan sampai bayinya lahir dan baru bisa pergi ketempat lain untuk mendapatkan identitas baru.
"Setidaknya aku aman disini. Tidak akan ada yang menghinaku. Mereka semua tidak kenal denganku." Diah berbicara seorang diri di depan jendela besar apartemennya. Dia berada di lantai dua dimana kebetulan juga harga sewanya lumayan murah karena ada cerita sadis di dalamnya.
Apartemen yang di tempati Diah saat ini, baru beberapa saat di segel polisi sebagai TKP dari sebuah kejadian kriminal dimana seorang wanita terluka oleh kekasih gelapnya sendiri.
Karena trauma, si wanita pemilik apartemen itu memutuskan untuk pindah dan hendak menjualnya. Tapi belum laku, dan Diah berkesempatan untuk menyewa sebelum unit tersebut mendapatkan pemilik baru.
"Hhh.... semoga ini awal yang baik." Gumamnya kemudian mulai berbelanja secara online.
Sampai kebutuhan makanan pun Diah membelinya secara online. Dia benar-benar tidak mau mengambil resiko untuk keluar dari apartemennya. Hinaan yang di lontarkan oleh Ayah Dhani nyatanya memberikannya efek jera yang begitu membekas dalam.
Jika ditilik lebih jauh, sebenarnya keluar rumah pun tak akan ada yang mengenalinya. Tidak ada yang tau siapa Diah sebenarnya.
Di apartemen Alex.
"Bunda, Iya... satu-satunya orang yang bisa memberikanku pencerahan." Alex segera meraih kunci mobilnya dan menuju ke kediaman Bunda Winda.
Dua jam mengemudi, akhirnya Alex sampai. Keadaan rumah begitu sepi. Dia pikir orang tuanya pergi keluar kota, tapi tidak. Bunda Winda hanya sedang berada di taman belakang, duduk sendirian menatap bunga-bunga yang bermekaran.
"Bun!"
"Bun!" Alex segera menuju ke taman belakang.
Bunda Winda menoleh. Tak ada senyuman ataupun sambutan hangat. Dia hanya menatap datar putranya.
"Ada apa?" Tanya Bunda Winda dengan tenang.
Alex mendekatinya dan langsung duduk di sebelahnya. Terlihat sekali nafasnya sampai terengah-engah. "Bun, apa Bunda tau Diah?" Tanya Alex dengan penuh harapan.
Berharap Bundanya akan memberikan jawaban yang menyenangkan. Namun....
"Jangan kamu cari lagi dia." Jawab Bunda Winda membuat Alex ternganga.
"A... apa maksudnya Bun?"
"Alex, dia ternyata sama dengan para mantanmu sebelumnya yang hanya menginginkan uangmu saja." Celetuk Bunda Winda. " Aku menyesal pernah mengenalkannya padamu sayang." imbuhnya lagi.
"Apa... maksudnya Bun? bisa jelaskan?" Alex menuntut penjelasan dan kejujuran dari Bundanya.
__ADS_1
Bunda Winda menatap sendu wajah putranya. Dia kemudian mengusap pundak Alex. "Dia pergi setelah kemarin datang kesini untuk meminta restu."
Alex masih terdiam menyimak penuturan sang Bunda. "Lalu, mengapa dia sampai pergi ada apa?"
"Ayahmu dan Bunda baru mengetahui sebuah fakta, jika ibunya adalah seorang pembunuh ayahnya sendiri. Apa kamu sudah tahu hal itu Alex?"
Alex terdiam tanpa ekspresi. Diamnya menunjukkan bahwa dia mengetahuinya dan hanya mengabaikannya.
" Alex! kamu sudah tahu? dari kapan?" Desak Bunda Winda.
Alex menunduk. Kini semuanya semakin rumit manakala Alex lebih mengedepankan hawa na*sunya sendiri dari pada akhir yang baik.
"Alex sedari awal sudah mencari tahu informasi tentang Dia Bun. Lalu apa masalahnya? Diah juga merupakan korban dan bukan pelaku!" Tutur Alex membela dirinya.
Bunda Winda menggeleng. Ternyata putranya yang manis masih sangat naif untuk perkara yang tak bisa di bilang remeh begini.
"Alex, Asal usul seseorang menentukan kepribadian dan prilakunya. Hal itu berkaitan secara genetika. Bunda sudah menyekolahkan kamu tinggi-tinggi tapi kenapa kamu malah menutup mata?" Bunda Winda mulai meluapkan amarahnya.
Bunda menarik nafasnya sebelum berbicara. "Alex, jika Ayahnya berkelakuan buruk, maka Diah juga bisa seperti itu dalam versi wanita. Apa kamu siap? Kami sebagai orang tua tidak ingin melihat anak-anak kami mendapatkan pendamping yang buruk." Kata Bunda Winda.
" Tapi Bun, Diah itu baik!" Alex mulai terbakar emosi saat pilihan hatinya mendapatkan penentangan keras dari kedua orang tuanya.
"Semuanya terlihat manis di awal pembukaan." Ucap Bunda Winda.
"Bukankah bunda sendiri yang mengajarkan agar Alex tak menilai sesuatu dari luarnya?"
"Lalu, apakah kamu tahu dia yang sebenarnya?" Bunda Winda menatap tajam Alex. "Kemarin, saat aku berfikir dia akan bertahan untuk memperjuangkan kamu dan membuktikan kalau apa yang kami pikirkan adalah salah. Kamu tahu apa yang di lakukanya Alex?"
Alex menggeleng.
"Diah lebih memilih uang. Uang alex!! dia meminta harga yang lebih mahal 3 kali lipat dari yang ayahmu berikan sebelumnya. Apa kamu tahu itu?"
Alex terperangah. Tubuhnya melemas seketika dan dia meremas rambutnya frustasi.
"Tapi Bun, apa Bunda tau? aku sudah merenggut kesuciannya dan berjanji akan menikahinya." Alex menangis tersedu.
PLAK!
PLAK!
"Bunda! Apa bunda lupa? bunda juga yang menjadi dalang dimana aku bisa menjeratnya untuk tinggal dan merawatku dalam satu atap? Aku lelaki normal Bun, apa Bunda melupakan hal itu?"Ucap Alex meluap-luap.
"Bukan hanya aku yang bersalah, tapi bunda juga!" Alex kembali terduduk di bangku taman.
"Saat itu terjadi dia berada dalam masa suburnya Bun. Kalau dia hamil bagaimana? Seharusnya kalian bicarakan hal ini denganku! Aku sudah dewasa. Aku bisa menentukan jalan hidupku!" Ucap Alex yang kemudian pergi meninggalkan sang Bunda yang tertegun mendengar perkataan anaknya.
Kalau benar Diah sampai hamil, Lalu apa bedanya aku dengan ibunya? Jika ibunya membunuh ayahnya untuk membela diri, lalu aku membuang cucuku demi nama baik keluarga kami? Tidakkah itu juga perbuatan yang sangat rendah?
...~~~~...
Alex kebingungan mencari keberadaan Diah. Pikirannya sudah buntu dia benar-benar kehilangan separuh dari nafasnya. Sesuatu yang sudah di rencanakan harus sia-sia dan sirna begitu saja. Janji dengan para EO pun semuanya di batalkan dengan Alex yang menderita batin dan kerugian.
Pagi buta, Rian yang merupakan sekretaris Alex kelabakan karena ulah Atasannya. Rian harus menjemput Alex yang terdampar di sebuah club malam.
"Ah..., ada apa ini. Kenapa harus menjemputnya di club? Tidak biasanya dia. Biasanya setiap ada undangan minum pun aku yang dipaksanya untuk mewakili. Sehhh..... ini aneh sekali." Rian mendesis menerka-nerka apa gerangan yang sedang menimpa atasannya.
Suara dentuman musik begitu keras dan membuat reaksi tersendiri. Pukul 2 dini hari, Rian langsung memasuki club di kawasan xxxxxxx. Karena sangking hapalnya, Rian yang masuk langsung menuju ke meja dimana Alex meracau tak berdaya.
Meskipun begitu, masih sempat-sempatnya Rian yang duduk di sekat Alex terlebih dahulu menenggak minuman milik Alex yang masih tersisa. Rian menikmati barang sesaat sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dentuman musik yang begitu familiar di telinganya.
"Di... Di ...!" Alex meracau memanggil Diah. Tak begitu jelas di telinga Rian, dia justru mengerutkan alisnya kala Alex kembali meracau.
"Didi...!" Kicau Alex yang sudah mabuk berat.
"Didi? oh God? apa bosku ini penyuka pisang?" Rian mendelik dan melepaskan Alex Yangs Edang di papahnya hingga Alex tersungkur begitu saja ke lantai pelataran parkir.
"Lex, kamu suka pisang? Sejak kapan Lex? Wah... sungguh disayangkan. Tubuhmu begitu bagus, wajah tampan, duit banyak... apalagi Lex? Kalau akau jadi kamu sudah ku jelajahi banyak gadis. Tapi Kamu kamu malah suka sama siapa tadi?" Rian menyanyai Alex yang tak begitu jelas mendengar ocehannya.
__ADS_1
"Didi .. Dimana didi!" Alex berteriak di depan wajah Rian.
"Ouh...! Bau banget Lex! Kamu suka sama Didi? Didi Personal Trainer kita?" Rian menunggu jawaban dari si pemabuk abal-abal.
"Bukan bodoh!" Alex memukul kepala Rian tanpa tenaga, seperti hanya ditoyor saja. "Didi, Diah...! Calon istriku, dia kabur... dia pergi ...!!" Ucap Alex meracau.
"Hemh, syukurlah. Aku jadi takut jika kamu menyukai pria." Ucap Rian kembali dengan begitu Perlahan sampai Alex tak mendengarnya.
Rian menempatkan Alex di bangku tengah. Masih dalam keadaan mabuk dan mulut yang terus meracau memanggil nama Diah.
Rian mulai melajukan mobilnya setelah beberapa saat memastikan Alex tidak melakukan hal-hal yang aneh.
"Awas saja kalau nembak!" Ucap Rian yang mencemaskan Alex. Dia takut kalau Alex muntah di dalam mobilnya.
"Hoek!!"
Benar saja Alex si pemabuk amatiran memuntahkan semua isi perutnya di dalam mobil Rian.
"Ouh! shitt!!" Rian langsung mengerem mendadak dan membuat Alex terjungkal kedepan dan terselip di antara handel rem tangan.
"Kamu muntah? Ah...., si*l!! Pasti Wafat itu powerku!!" Rian mencemaskan keadaan power dari sound sistem yang terpasang di dalam mobilnya.
"Ayo... jalan! Jalan!! kita akan jemb*t Diah kan?" Cicit Alex.
"Jemb*t, jemb*t kepalamu! Jemput bodoh!!" Umatnya sungguh kesal bukan main.
"Besok lagi kalau mabuk di rumah ajalah Lex, jangan kayak gini. Bikin repot aja!" Rian bersungut-sungut menahan kekesalannya.
"Jemput kamu kayak gini malah rugi bandar aku." Ucapnya yang kembali menilik kebelakang melihat Alex yang sudah tertidur dengan acak-acakan.
"Kalo enggak karena kamu baik, ogah deh jemput begini." Rian mendumel sepanjang perjalanan.
...~~~~...
"Sayang, hari ini sepertinya aku lembur." Ucap Gino sambil melihat ponselnya dengan Dita yang masih bermode manja tiada duanya.
Dita terus saja memeluk erat tubuh sang suami, Soleh tak ingin melepaskannya barang sedetik. "Apa? lembur?" Tanya Dita yang membulatkan matanya.
" Iya, lembur ini Si Rian chat memintaku untuk mewakili Alex bertemu dengan klien. Jadi pagi sampai siang temu klien, malamnya baru bisa memeriksa hasil laporan di kantor."
"Aku boleh ikut?" Tanyanya dengan tangan yang bergerak menarik pola-pola abstrak di atas dada bidang sang suami.
Gino tertawa geli. " Geli sayang." Dia mengambil tangan Dita lalu mengecupnya. "Tidak usah ikut, kamu masih hamil muda. Nanti kalau kelelahan bagaimana? Memangnya tidak lelah, kita sudah main dua kali, kamu juga masih hamil." Ucapnya menasehati.
"Aku bosan hanya berdiam diri di rumah sendirian." Rengeknya.
"Mainlah, kerumah Bunda. Temani Bunda, hari ini. Ayah sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin ayah juga akan sampai malam hari."
"Kesana itu memakan waktu 2.5 jam sayang. Aku akan kelelahan di jalan. Juga aku belum mau mengumumkan kehamilanku ini dulu. Biarlah sampai usia 4 bulan baru aku akan memberitahukan pada Bunda."
Gino terdiam, memang menghadapi kesendirian itu bukanlah hal yang mudah. Dita setiap hari hanya berurusan dengan kebersihan rumah dan juga pakaian.
"Ya sudah ikut saja. Tapi janji tidak akan rewel ya. " Kata Gino.
." Ah, tidak jadi. Kamu dari pagi sampai sore tidak di kantor kan?" Dita memainkan dagu Gino.
Gino mengangguk perlahan.
"Ya sudah aku di rumah saja. Em... ke tempat fitness boleh ya?"
" tidak sekarang, nanti saja kalau sudah minta ijin dokter. Oke? Sekarang bangun dan buatkan suamimu ini sarapan." Ucap Gino dan beringsut lalu bersandar di headboard di susul dengan Dita di atas dadanya.
" 5 menit." Dita menunjukkan jarinya. " 5 menit saja biarkan seperti ini. Aku kangen." Ucapnya dengan manja.
Kangen darimana sih Dit? Orang suami berangkat aja belum udah bilang kangen. Kemarin-kemarin hambar, sekarang bucin setengah Mateng. Kemana-mana maunya di intilin.
?
__ADS_1