Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
46. Ini realita, bukan drama.


__ADS_3


...🍁🌼🌼🍁...


Bertaut pada satu hati tak semudah mengikat simpul pada sebuah tali.


Melapangkan dada menerima jalan cerita dari sang sutradara pembuat alam semesta, Tak seindah cerita yang tayang di sebuah drama. Biru langit di cakrawala, menuntun sepasang mata mensyukuri indah karya sang pencipta.


Ayana, wanita itu kini tengah merenungi apa yang sedang dijalaninya. Menimang antara keharusan dan kesiapan yang tak selaras dalam jiwanya. Tangan kekar melingkar di atas perutnya, sesekali mengusap lembut penuh pengharapan.


Berharap akan segeranya hadir si penerus keturunan.


CUP!


Satu ciuman mendarat di perut rata Ayana. membuatnya merasa geli dan mengusap Surai kecoklatan yang masih bertengger di atas perutnya.


"Geli!" Keluhnya sambil tertawa dengan tangan yang masih mengusuk surai sang suami. Canda tawa, senda gurau, riang suasana kental terasa manakala kedua insan yang sedang hangat menjalin hubungan telah berbaikan.


"Kenapa geli? Bukanya semua kulitmu sudah akrab dengan bibirku?" Selorohnya tanpa rasa malu. Lelaki bertubuh kekar itu kemudian bersandar pada headboard. Tapi, tangannya tak berhenti bergerak perlahan mengusap lembut memberikan kenyamanan pada sang pasangan.


"Iya, semua.. semuanya sudah bau jigongmu. Kenapa? kenapa kamu begitu suka menciumku?" Ayana bertanya dengan nada songongnya. Kedua alisnya naik dan tangan yang berkacak pinggang seolah menantang.


"Ehem! simpel saja, itu karena kamu istriku! Masa iya, aku sudah beristri malah menciumi istri tetangga. Kamu mau aku seperti itu? Menjadi lelaki yang kurang kasih sayang istrinya?" Sungguh pandai bersilat lidah. Jackie memantulkan kembali serangan yang istrinya lontarkan.


Ayana yang malas berdebat memilih mengakhiri perdebatannya. Tak ada yang diuntungkan dari perdebatan kecil ini. Semalaman melakukan kerja kelompok dan melakukan reka ulang sampai berkali-kali, membuat Ayana sedikit merasa pusing dan lemas. Saat dia bangkit dan berdiri, pandangannya terasa berputar-putar.


Pemilik darah rendah sudah biasa akan hal ini bukan? Kurang tidur, terlalu lelah, kurang makan, kurang minum, dan overthinking membuat penderita penyakit merakyat ini kerap kali dihadiahi rasa pusing di kepalanya.


"Kamu kenapa?" Jackie dengan sigap menangkap tubuh Ayana dan kembali membawanya duduk di ranjang. Dia terlihat sekali begitu mencemaskan keadaan istrinya.


Ayana tersenyum tipis lalu mengusap pipi Jackie. Netra mereka beradu pada satu titik yang sama. "Tidak apa-apa sayang, hanya mungkin kurang tidur dan darah rendahku kembali kambuh," ujar Ayana meredam kecemasan sang suami.


Lelaki yang dulu sangat membencinya, kini menjadi begitu mencintainya. Begitulah cara Tuhan membolak-balikkan hati manusia. Siapa yang tau jika apa yang kau caci menjadi suatu yang begitu kau cintai? Apa yang kau remehkan, nyatanya itu pula yang memberimu pertolongan.


"Sini, kamu tidur lagi. Biar aku yang buat sarapan ya," ujarnya lembut, nada bicaranya mendayu dan bersahabat ditelinga. Satu garis kurva tertarik, membuat sebuah sudut cekung yang tak sebegitu besar. Ayana tersenyum tipis dan mengangguk.


Lelaki bergigi kelinci itu segera pergi membuat makanan untuk mereka. Dia butuh banyak asupan sekarang setelah semalam banyak membakar kalori bersama istrinya. Selepas kepergian Jackie, Ayana dengan gusarnya menengok jam dinding.


Terburu-buru dia lekas meminum sebuah pil kecil bulat. "Ah, untung saja tidak kelewat jam," gumamnya bermonolog yang kemudian menyimpan kembali pil tersebut kedalam tasnya.


...🀍🀍🌼🀍🀍...


"Kita pulang saja ya Pak. Saya, saya ada tugas dari rumah sakit." Diah beralasan. Sungguh dia tak enak hati saat ini. Memang dia mendambakan Alex, lelaki yang baik dan hangat. Tapi untuk menjadi suami? Diah meragukan dirinya sendiri. Dia merasa Insecure akan fisik dan penampilannya. Apalagi soal strata, jelas jauh berbeda.


Silsilah keluarga dan juga kisah kelam kedua orang tuanya yang meninggal secara tragis membuatnya takut menjalin hubungan. Adanya Diah hanya menginginkan lelaki sederhana sebagai suaminya. Tadinya dia memang mendambakan sosok seperti Alex, tapi itu lebih mengarah pada mengidolakan tidak lebih.


"Tidak bisa!" tolak Alex segera. Alex tak suka penolakan, dia ingin wanita yang patuh dan tunduk padanya.


"Tugas, tugas apa kamu? Aku sudah menghubungi orang rumah sakit. Tidak ada tugas buatmu dan aku jamin nilaimu akan jadi yang terbaik," kata Alex yang sibuk memainkan benda pipihnya.


Diah terbelalak, bagaimana bisa?


Bagaimana caranya? Dia bahkan belum menunjukkan laporan terakhir.


"Yang terbaik? Tapi Pak, aku belum mengumpulkan laporan terakhirku..." Diah bertanya ragu.


Alex mengentikan langkahnya lalu memutar badannya dan secara otomatis Diah menabraknya karena Alex berhenti tanpa aba-aba sedangkan Diah mengekor di belakangnya. Seperti Paman yang menceramahi keponakannya saja mereka ini. Berjalan beruntun seperti kereta dengan masinis yang tak henti-hentinya bicara.


"Sudahlah, gampang. Semuanya bisa diatur. Kenalanku banyak di rumah sakit tempatmu bekerja."


"Kamu tau rumah sakitku?" Diah kembali terbelalak tak percaya. Matanya membulat dan mulutnya menganga.

__ADS_1


"Tentu saja, jangan pernah meremehkan kekuatan uang." Alex berbicara dengan sombongnya. Meninggikan statusnya yang kaya. Astaga Alex, tak perlu sampai begini juga.


Diah meringis kecut dan mengusuk rambutnya. "Ah, iya aku lupa uang punya kuasa dan manusia adalah budaknya."


"Kamu akan menjadi semakin pintar setelah bergaul denganku," ujar Alex menjunjung tinggi harkat sendiri dan tangannya merangkul Diah lalu menepuk-nepuk pucuk kepalanya layaknya sedang mengasuh anak TK.


Apa menurutnya aku selama ini bodoh?


Diah merasakan pegal-pegal di kakinya setelah hampir dua jam Alex hanya terus mengajaknya berkeliling taman yang luas. Alex mencibir dan menyunggingkan seringai liciknya.


Kita tes ketahanan dulu. Seberapa kuat kaki kecilmu itu mengikuti langkahku 😏.


"Pak, kita berhenti sebentar ya?" Diah mengiba bertanya lirih berharap Alex memberi melas padanya.


Kamu menyerah kan?


Sudah kuduga, kaki kecilmu itu tak mampu menyamai langkahku. Batin Alex.


Ah, sakitnya kakiku.


Apa dia sengaja melakukan ini? apa dia sengaja mengerjaiku? Pulang pun aku tidak boleh, tapi disini dia menyiksaku secara halusπŸ₯Ί. Batin Diah yang kemudian melepas high heelsnya dan berjalan tanpa alas kaki.


Alex masih asik berjalan melenggang dengan acuhnya mengabaikan Diah yang berada di belakangnya. Diah yang kesal sedari tadi hanya diajak berputar-putar akhirnya memilih duduk tanpa pamit sedangkan lelaki yang dicalonkan sebagai suaminya telah berada jauh di depannya.


Diah tak perduli lagi. Dia kesal bukan main. Merenung menyesal pernah mengidolakan sosok yang menyebalkan. Rupanya yang diidolakannya tak bersikap manis seperti Jackie layaknya sikap Jackie pada Ayana. Tidak tau saja dia bagaimana dulu Jackie menyiksa Ayana.


Memang yang namanya pertalian darah selalu memiliki sedikit banyak persamaan sikap. Seperti saat ini, jika dipahami, Alex, Jackie dan Gino mereka hampir sama dalam memperlakukan wanita. Bersikap acuh bahkan kasar saat diawal, tapi bucin bukan main setelahnya.


"Oh, perutku bunyi. Aku lapar, kamu mau makan apa?" tanya Alex tanpa mengindahkan keberadaan Diah.


Sunyi tanpa jawaban, bahkan tak terdengar pergerakan. Alex kemudian menoleh dan tak mendapati siapapun di belakangnya. Alex panik. Bagaimanapun, dia tadi ditutupi Diah oleh Bunda dan juga tantenya. Lalu kemana perginya gadis mungil itu?


Langit sampai hampir petang, dan Alex belum menemukan Diah. Dia sampai ngos-ngosan sekarang. Dadanya kembang kempis memompa darah dan suplai oksigen ke seluruh tubuh. Diah, dia berhenti untuk beristirahat di sebuah warung kecil yang menjual bakso. Dia berbekal uang yang tak seberapa membeli semangkuk bakso lalu menyantapnya.


"Adiknya, begitu baik pada istrinya. Tapi dia? lihat bagaimana kelakuannya padaku!!" Diah mendumel dan menusuk-nusuk bakso dengan garpu.


"Mengajakku jalan, tapi tidak mengajakku makan. Bahkan mengabaikan ku dan lebih sibuk dengan ponselnya!!" geramnya lagi dan menyantap pentol bakso dengan kemarahan di matanya. "Oh, rasanya aku hampir mati kelaparan!!"cicitnya lagi penuh emosi.


"Dan kau!! Sudah aku hanya pinjam, tapi kau malah membuat kakiku lecet! apa maumu? Ayo ribut denganku!!" tantangnya mengajak high heels berkelahi. Efek lapar membuat fungsi otaknya terganggu benda matipun mendapat amukan.


Penjual bakso dan pelayanannya menggeleng-gelengkan kepalanya kala melihat tingkah pelanggannya yang aneh itu. Belum selesai menyaksikan orang aneh dalam warungnya, ada orang aneh satu lagi lewat seperti iklan. Seorang lelaki yang berlarian kulu-kilir tak jelas tujuan bolak-balik kesana-kemari. Alex terengah-engah dan berhenti di warung bakso tempat Diah makan.


"Mas, lihat perempuan bantet tidak? em... maksudku perempuan pendek, rambut panjang sepinggang berbaju pink, pink agak buluk. Entahlah apa namanya itu pokoknya pink seperti bercampur lumpur." Ujar Alex yang memvisualisasikan sosok Diah yang berbaju pink buluk.


Apa tadi katanya?


Bantet? pink buluk? Astaga... ini telingaku salah rungu atau bagaimana,Gumam Diah berpikir sebelum menoleh ke sumber suara.


Si pelayan tak menjawab tapi hanya menunjuk pada Diah yang duduk manis di salah satu mejanya. Alex mengusap dadanya lega. Bisa hancur segala urusan kalau Diah sampai pulang duluan dan mengadukan apa yang terjadi padanya seharian ini pada Bunda Winda.


"Kau! ku cari, malah enak-enakan makan!" serunya kesal lalu masuk dan menempatkan bokongnya di samping Diah. Diah acuh dan terus melahap makanannya tanpa memperdulikan teguran Alex. Alex yang kesal lalu menyerobot mangkuk bakso Diah dan menyantapnya tanpa permisi.


"Ish!!" Diah mendesis tak rela. Tatapan matanya sungguh tak ikhlas. "Jangan dimakan, ini makanan rakyat jelata. Nanti perutmu sakit Pak," kata Diah.


"Aku lapar!" jawab Alex cepat dan kemudian memesan dua porsi bakso lagi.


Diah terdiam dan lesu. Malas saja jika harus beradu argument di tempat umum. Dia memilih diam dan mengiyakan kemauan Alex meski harus mengusap dada. Mereka makan dengan hening, tak ada perbincangan ataupun pertanyaan. Intinya Diah sudah lelah, jengah, dan ingin segera pulang.


"Berapa pak?" tanya Alex yang sudah mengeluarkan dompetnya.


"Semuanya..." kata si pelayan.

__ADS_1


"Pak, punyaku ku bayar sendiri saja. hitung secara terpisah saja," pinta Diah.


Alex ternganga tak percaya, jika otot rahangnya sudah bermasalah, pasti dia membutuhkan bantuan tangan untuk mengatupkan mulutnya. "Pak, biar saya yang bayar semuanya!" Kata Alex. Mau taruh dimana harga diri lelaki bila mengajak berkencan tapi makanan yang tak seberapa pun harus membayar masing-masing?


"Ini pak, pasti sisa kan? ambil saja kembaliannya." kata Diah yang mengabaikan niat baik Alex.


Si pelayan ikut bingung juga akhirnya pelanggan itu saling berebut untuk membayar. Akhirnya yang dipilihnya adalah uang dari Diah. Diah tersenyum meremehkan Alex dan kemudian berjalan dengan bertelanjang kaki.


Tambah dibuat melongo lagi kan si Alex. Baru ini, seumur hidupnya bertemu wanita yang tak manja. Tidak meminta dibayarkan, bahkan menolak dan tidak jaim.


"Kenapa tidak kau pakai heels mu?" Tanyanya penasaran tanpa melihat tungkai dan kelingking diah yang sudah mengelupas kulitnya dan berdarah.


Diah tersenyum palsu hanya sekedar untuk menghormati lelaki yang super jahil itu. "Kakiku lelah," jawabnya singkat tanpa basa-basi apalagi pemanis buatan.


"Hei tunggu!" Setengah berlari Alex mengejarnya saat sorot lampu taman sedikit membantu Alex dalam melihat kaki Diah.


"Kakimu lecet, sini aku gendong!" katanya menawarkan bantuan.


"Tidak! terimakasih, kita di dunia nyata bukan dalam drama. Berhenti bersikap seolah-olah nyeker itu masalah besar." tolak Diah yang tetap keukeh berjalan tanpa hambatan ataupun rasa jijik.


Kamu unik dan berbeda dari yang lainnya. Gumam Alex melihat punggung mungil Diah yang sedikit terlihat tak stabil karena dia agak pincang.


"Hei, besok ku traktir makan ya. Hitung-hitung aku membalas yang tadi mentraktirku," kata Alex di samping Diah dan mensejajarkan langkahnya.


Diah berhenti dan menatap Alex sesaat. " Tidak usah, aku ikhlas. Aku rasa setelah ini kita tidak perlu bertemu lagi kan? Aku mengundurkan diri dari perjodohan ini. Terimakasih untuk hari ini." Diah setengah membungkuk dan memberi senyuman dan pergi meninggalkan Alex.


Alex terdiam mematung. Ini sejarah besar dalam hidupnya. Sekali dan pertama kalinya dia mendapatkan penolakan.


Pertama kali dalam hidupnya di pertemukan dengan wanita yang terlihat rapuh, tapi sebaliknya dia sangatlah kuat.


Pertama kalinya juga dia bertemu wanita yang tak mengharapkan hartanya ataupun merengek mengejarnya.


Kau pikir semudah itu bisa menolakku?


Alex, tidak pernah ditolak. Sikapmu membuatku penasaran.🀨


Orang-orang yang berlalu-lalang tak sedikit dari mereka yang saling bergosip dan bergibah ria membicarakan Diah yang berjalan tanpa alas kaki.


"Ayo kuantar Kau pulang!" kata Alex lalu menyerobot menggandeng tangan Diah.


Diah menarik tangannya. "Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Bye!" katanya lalu melambai.


"Coba saja kalau kau berani pulang tanpaku!" ancaman meluncur menggetarkan keberanian Diah. Tak berhenti dan terus berjalan. Dengan tiba-tiba Alex menggendong Diah seperti memanggul karung beras.


"Lepaskan aku!" Diah memberontak dan memukuli punggung Alex. Sialnya punggung kekar Alex tak merasakan apapun.


Satpam berlari menghampiri melihat kejadian itu. "Hei! ada apa ini?" seru satpam setengah berteriak. Dia wajib menegur untuk menjalankan tugasnya dan menjaga keamanan sekitar taman.


"Pak, dia ini mau berbuat tak senonoh padaku!!" adu Diah dengan suaranya yang terengah-engah.


"Pak, jangan percaya. Dia ini adik sepupu saya. Dia kabur dari rumah dan hari ini saya menemukannya!" kata Alex berbohong.


Satpam kemudian meminta tanda pengenal Alex. Dia mencurigai Alex sebagai pelaku kejahatan. Tapi, setelah melihat kartu nama Alex, si satpam yang tadinya berbicara lantang berubah seketika.


"Dia bohong Pak," rengek Diah.


"Diam!" Alex membentaknya.


"Oh, yasudah kalau begitu bapak bawa saja sepupunya pulang. Kasihan kalau keluarganya mencari," katanya sopan dan nada bicaranya berubah ramah. Diah melongo tak percaya.


Inilah kalau di dunia nyata, uang adalah segalanya. Kalau di drama, mungkin kami akan dibawa ke kantor polisi. Tapi ini? aku diserahkan begitu saja seperti tumbal.😡😡😡.

__ADS_1


__ADS_2