Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
127. tak tahu siapa


__ADS_3

...~•~ ...


Tidak bisa dihindari memang jika di dalam satu keluarga memiliki kesibukan ataupun acara, maka sebagai anggota keluarga kita selayaknya menghadiri dan turut bersuka cita di dalamnya.


Seperti saat ini, dimana Ayana yang juga hadir saat acara syukuran cucu pertama di keluarga Armanto lahir.


Gattan Aufar Armanto. Itulah nama dari bayi laki-laki yang menjadi anak pertama sekaligus cucu pertama di keluarga Armanto. Kasih sayang mengucur kepadanya. Semuanya berebut ingin menggendongnya secara bergantian.


Tak terkecuali salah satu Tantenya, Ayana yang ingin sekali menyentuhnya tapi sama sekali tidak berani mendekat sama sekali.


"Mbak, aku bantu cuci piring ya?" Ayana lebih memilih untuk menyibukkan diri disaat yang lainnya sedang bercengkrama di ruang keluarga.


"Ah, tidak usah Non. Nanti gaji saya dipotong." Kata pembantu baru yang hanya di panggil bekerja di kediaman keluarga Armanto hanya selama mereka menempati rumah yang ada di Jogja. Sedangkan saat mereka kembali ke Jakarta, maka pembantu tersebut akan diberhentikan.


Ayana tersenyum dan mengusap pundak si pembantu. "Tidak apa-apa Mbak, Lagian saya juga tidak enak menganggur saja." Ucap Ayana yang beralasan.


Sebenarnya dia tengah bergelut dengan hatinya sendiri. Dia tengah memerangi perasaan tersisihkan dan terabaikan dari anggota keluarga yang lainnya tidak terkecuali suaminya yang sedari tadi terus saja menggendong keponakan barunya dan ikut tertawa seolah dia begitu mendamba hadirnya bayi didalam rumah tangganya.


"Menganggur bagaimana? Nona kan juga menantu di keluarga ini, sudah Non..., biar saya saja." Si pembantu berusaha untuk meminta piring yang tengah di pegang oleh Ayana.


"Baiklah kalau Mbak tidak mengijinkan maka saya akan marah." Ujarnya mengancam dengan sorot mata horor.


"Daripada Nona cuci piring, lebih baik nona duduk manis disana sambil memangku Tuan kecil." Kata si pembantu.


Andai saja Kakak iparku itu tidak mencemburuiku Mbak. Mungkin Dia sudah bisa merasakan hal yang aneh dari dalam suaminya sedari Dia hamil, itu sebabnya Dia mulai bersikap tidak baik kepadaku ketika hamil. Dan aku bisa apa? di saat semua yang awalnya hanyalah tuduhan tidak beralasan berubah menjadi tuduhan yang tak terbantahkan. Suaminya memang benar masih mencintaiku.


"Jack, kemana istrimu?" Tanya Bunda yang rupanya baru menyadari ketidak beradaan salah satu menantunya.


Ayana muncul sambil membawa piring dengan kueh di dalamnya. " Aku disini Bun, sedang memotong kue tadi."


"Oh, ku kira kamu kemana? Dari tadi kulihat kamu belum menggendong keponakan barumu? tidak ingin yang seperti ini?" Tanya Bunda.


"Oh, cakepnya cucu Oma.....!" Bunda Winda menimang Gattan dengan sangat bangga bercampur bahagia.


"Iya Bun, Dia memang tampan." Ayana menimpali.


Terulur sebuah tangan yang tiba-tiba menepuk pundak Ayana dengan memberikan sedikit usapan yang tak terdeteksi oleh mata mereka yang hanya terfokus pada bayi yang sedang menjadi pujaan.


Si Ayah bayi justru melakukan sesuatu yang terbilang terlalu berani dan bisa memicu perkelahian saat itu juga. Ayana merasa risih lalu menggidikan bahunya dan menyorot tak suka si empunya tangan.


"Dia tampan kan? sama sepertiku. Jelaslah, Dia anakku." Gino berbangga hati.


"Em... iya." Sahut Ayana yang kemudian bergeser mendekat pada sang suami.

__ADS_1


Tapi Jackie yang sama sekali tidak menaruh curiga atau melihat kejanggalan tadi hanya ikut tersenyum saat kakaknya memuji ketampanan dari bayinya.


"Benar, keponakanku memang tampan. Dan suatu saat aku juga akan buat yang lebih tampan daripada Dia. Gattan...., siap siap kamu punya saingan." Kata Jackie.


Alex tertawa renyah. " Sanalah kalian bersaing dan biarkan anakku yang menjadi Tuan putrinya." Ujarnya sambil mengusap perut sang istri.


"Tidak, anakku juga akan menyaingi anakmu Kak, aku akan rilis dua sekaligus. Satu laki laki dan satu perempuan. Iyakan Ay?" Jackie memainkan alisnya menatap Ayana yang hanya berdiri dan tergugup dengan apa yang sedang terjadi.


Tak ada tempat bernaung, tak ada tempat mengadu saat ini. Mengadu pada suaminya tentang sikap Kakaknya yang kurang ajar, itu sama halnya dengan menghancurkan keluarga Armanto.


Tapi terus saja berdiam diri menerima segala perlakuan Gino terhadapnya juga bukan suatu pilihan yang baik. Ayana berada pada dilema besar sekarang.


"Ay, kamu mau menggendongnya?" Ucap Dita dengan tiba-tiba.


Dita yang selama hamil bersikap tidak ramah pada Ayana, kini tiba-tiba menanyakan sesuatu yang bagi Ayana itu sangatlah aneh untuk ukuran orang yang menaruh rasa cemburu.


"Tidak, aku masih tidak berani Kak. Dia masih sangat lemah. Aku takut melukainya." Tolaknya secara halus.


"Oh, sayang sekali. Padahal ini mungkin saat yang baik bagimu untuk belajar menggendong bayi." Dita berucap sambil meminta Gattan dari tangan Bunda Winda.


"Iya Ay, belajar dulu siapa tau cepat nular." Kata Gino yang lagi lagi mendekatinya.


Ayana kembali menyingkir dan berpura-pura untuk mengambil minum demi bisa menjaga jarak dan agar Gino tidak melakukan sesuatu yang menyebalkan. "Aku akan mengambil kelas parenting saja nanti sebelum mengikuti program kehamilan." Ucapnya sambil meminum air putih di dapur yang letaknya lumayan jauh.


Jackie hanya mengangguk dan Ayana segera pergi. Ayana segera pergi dan kembali masuk kedalam mobilnya lalu menutup semua kacanya dan hanya sedikit memberikan celah disana hanya sekedar untuk membiarkan oksigen masuk.


Dia butuh ruang untuk sendiri.


Dia butuh waktu untuk menenangkan hatinya yang tertekan.


Ayana menangis sejadi-jadinya di dalam mobilnya. Dia tidak berdaya, sama sekali tidak berdaya. Dia harus menyimpan semuanya seorang diri. Lagi-lagi dalam keadaan seperti ini, Dia sama sekali tidak memiliki seorang pun sebagai penguat diri termasuk suaminya sendiri.


"Kenapa aku selalu tidak berdaya seperti ini?" Ayana meremas ujung bajunya dengan menyalurkan kekesalan.


"Kenapa aku selalu tak memiliki ruang untuk membela diri?"


Saat Dia tengah menangis, tiba-tiba suara ketukan di jendela terdengar.


Tok!


Tok!


Tok!

__ADS_1


"Buka!" Perintah si pemilik tangan yang bertato.


"Ada apa Jack?" Ayana membuka kaca jendela mobilnya dengan membuang wajahnya. Dia sengaja ingin menyimpan rapat lukanya seorang diri.


Jackie melongok dan membuka pintu mobil dengan cepat lalu menarik tangan Ayana. Ayana hanya bisa mengikuti kemauan suaminya tanpa bisa banyak bertanya. Jackie terlihat dingin dan datar seolah Dia tengah menyimpan kemarahan.


"Kamu...., Kamu kenapa lari?"


"Lari? lari kenapa? Aku tidak lari, aku hanya sedang ingin sendiri."


"Ingin sendiri? ditengah-tengah acara keluargaku? Kamu mulai aneh Ay, ada apa? apa yang membuatmu tidak menyukai keluargaku." Jackie tengah salah tanggap akan sikap Istrinya yang terlihat tengah menyembunyikan sesuatu.


"Siapa tadi yang menghubungimu?" Jackie merebut ponsel Ayana.


Ayana hanya bisa diam di tempatnya dan menunduk menutupi wajahnya. Dia pasti akan salah paham, kenapa nomor itu tadi juga berkali kali menghubungiku di saat aku menangis?


Pikir Ayana yang mendadak menjadi gusar saat ingat terakhir kali dia menangis sempat mengangkat panggilan dari nomor yang tidak ia kenal.


"Nomor siapa ini?" Jackie bertanya dengan sorot mata tajam.


"Aku tidak tahu Jack." Jawab Ayana dengan jujur.


"Dia menghubungimu, baru saja dan kamu sampai pergi kesini? Oh, aku tidak percaya ini. Apa kamu punya pria lain? apa kamu kembali pada kebiasaan lamamu?"


"Kebiasaan? kebiasaan apa Jack?"


"Argh ...!" Jackie membanting ponsel Ayana ke lantai.


"Jackie!" Ayana memekik geram dan memungut ponselnya yang sudah pecah seribu.


"Kenapa kamu selalu menuduhku tanpa bukti? Nomor ini, aku juga tidak tahu siapa dia." Ayana kembali menangis dan mengusap layar ponselnya yang sudah tak bisa berfungsi secara optimal.


...~•~...


Mereka saling diam setelah beberapa hari terjadi pertengkaran tersebut. Keduanya terlibat perang dingin dan tak bertegur sapa.


Ayana bersandar pada rasa sakit hatinya, sedangkan Jackie bersandar pada rasa tak dihargai.


Dua duanya sama sama memiliki ego yang tinggi.


Mereka berdua bahkan tidak pernah bertemu akhir akhir ini. Jackie selalu lembur dan pulang malam, sedangkan Ayana akan berangkat pagi-pagi sekali sebelum suaminya terbangun.


Entahlah apa maunya mereka berdua ini, yang jarang bertengkar tapi sekalinya bertengkar sudah seperti perang dunia ketiga.

__ADS_1


__ADS_2