Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
6. Tak semestinya.


__ADS_3


Seperti biasanya, pagi-pagi sekali Ayana sudah mengayuh sepedanya menuju ke kediaman Armanto. Kali ini ada acara penting di perusahaan Alex. Tentu ingatkan siapa Alex? anak nomor dua dari keluarga ini yang paling lembut dan berprilaku hangat.


" Ayana, tolong bersihkan dulu lalu setrika dengan ini." Alex menyodorkan dua alat berupa pembersih bulu bérupa roller dan setrika uap khusus untuk baju yang menggantung apalah namanya itu Ayana hanya tau menggunakannya saja.


" Iya Kak." Patuhnya tanpa melihat bagaimana mimik muka Alex.


Alex sibuk berjalan mondar-mandir dari memilih jam tangannya, lalu sepatunya, lalu kaus kaki yang juga harus senada, tapi dia lupa bagaimana tampilannya kini. Dia lusuh dan kusut karena baru saja dia bangun dari tidurnya. Matanya saja masih bengkak.



Tampilan muka Alex putra Armanto yang baru bangun tidur. Pipinya semakin menggemaskan dan matanya yang semakin sipit.


Tapi ini adalah pemandangan yang biasa bagi Ayana. Dia hanya sibuk menyetrika jas mahal yang berwarna hitam pekat itu dengan dasi kupu-kupu yang tersedia menggantung di atasnya. Tampak serasi dan senada.


" Jam berapa acaranya Kak?" Ayana beralih mengekor di belakang Alex yang berjalan hanya dengan membuka satu matanya.


Alex berhenti mendadak dan membuat Ayana menubruk bahu kekarnya. " Nanti malam jam 8. Ini undangan makan Malam." Jawabnya enteng.


Oh astaga!


Kalau saja bukan anak majikan sudah pasti Ayana akan menelannya bulat-bulat seperti boa yang kelaparan yang memangsa seekor babi.


" Baru nanti malam? tapi...."


" Iya aku tau, ini terlalu cepat kan bagimu? tapi bagiku ini sangatlah sempit waktunya. Kau tak mungkin akan datang lagi nanti malam dan membantuku untuk bersiap-siap kan?"


Benar sekali ucapanya. Ayana juga harus kuliah, mengurus rumah, juga mengurus ayahnya yang akhir akhir ini sering mengeluh sakit. Tidak bisa Ayana tidak akan bisa.


" Sekarang pilihkan jam tangan dan juga ikat pinggangku. " Titah Alex menunjuk lemari lemari di walk on closet miliknya yang lebarnya mungkin seluas lapangan voli.


" Emm..." Ayana menurut tapi tentu saja dengan gerutuan di dalam hatinya.


Alex menyunggingkan senyum tipisnya. " Ikhlas tidak?" Serunya. " Kalau tidak ikhlas tidak usah, nanti tanganmu terjepit karena kualat!" sindirnya karena melihat langkah malas Ayana.


Ayana manyun, tentu saja dia terpaksa kalau saja dia anak orang kaya, tak mungkin juga dia mau menjadi jongos ketiga anak majikannya ini. " Aduh!!" keluhnya saat tangannya terjepit pintu lemari.


" Mana yang sakit? kau baik-baik saja?" Alex terlihat khawatir dan melihat jari-jari Ayana yang baik-baik saja.


" Tidak apa-apa Kak, hanya tersangkut nanti juga sembuh."


Alex melihat jari jemarinya lalu mulai kembali mengusili " Aku kira parah dan perlu di amputasi." Katanya santai yang kemudian melenggang pergi kembali menuju ke meja kerjanya yang berada di dalam kamarnya.


Amputasi katanya? Oh... yang benar saja? Kalau si amputasi lalu siapa yang akan mengatakan semua baju-bajunya? Ayana hanya bisa mengerang jengkel tapi tetap, dia juga melakukan tugasnya dengan baik.


" Nana!" Seru Gino yang melongok kedalam kamar Alex.


" Hei tuan Gino, ketuklah pintu terlebih dahulu. Dimana letak sopan santunmu? ini adalah teritori ku." Alex berdecak kesal dan menyugar rambutnya kebelakang menatap Gino dengan tatapan mata yang menelisik tegas.


Gino berdecih. " Cih, teritori katamu? Eh, cebol ini milik kita bersama, apa itu teritori aku tidak kenal." Gino melenggang masuk meski si empunya kamar tak ridho sama sekali.


" Oh, ayolah Kak! berpura-puralah kalau aku ini terlihat berwibawa dan garang. Aku butuh latihan, mereka semua mengataiku pria manis kau tau itu?" Alex merengek mengekor Gino yang berjalan menuju ke walk in closet miliknya.


Gino terdiam lalu kembali berjalan. " Memang kau pria manis kan? Lihat senyummu itu, kau sungguh manis cebol. Kau yang ter imut di antar kamu jadi sukuri saja itu adalah anugerah."


" Tapi aku ingin terlihat jantan!" Serunya berbicara sambil menghadang Gino dengan tangannya yang merentang.


" Jangan terlalu lebar, aku tau ketekmu itu bau. Kasihan Nana dia bisa mati keracunan ketekmu." Gino mencemooh adiknya itu dengan sesuka hatinya. bahkan dia tertawa saat menghinanya.


Sungguh berbanding terbalik saat Gino berada dekat dengan Lena istrinya. Auranya terlihat menegangkan dan kaku tak ada senyuman atau lagi candaan semuanya kaku tegak lurus seperti garis vertikal yang menjulang.


" Hoek! " Ayana merespon ucapan Gino dengan menutup hidungnya saat melewati Alex dan itu membuat Alex melotot tak percaya. Dia merasa tersudut dan dihina oleh kedua manusia itu.


Alex menyergap Ayana dan menempatkan kepala Ayana di pangkal keteknya. " Rasakan ini! kau bersekongkol? Rasakan ini!" Alex tertawa nyaring dan menggema memenuhi ruangan.


Gino menarik tangan Ayana dan membebaskannya dari serangan ketek Alex. " Lepaskan dia, dia sudah mandi. Kasihan kan kalau bedaknya terkena cairan asam dari ketekmu, bisa luntur semua make up-nya nanti."


" Kak.." Alex menahan rasa kesalnya lalu kembali duduk di kursi kerjanya dan menatap tajam kedua manusia yang berjalan melewatinya tanpa permisi lagi.


Oh, iyakah aku harus bersyukur dengan sebutan pria manis?


Apakah aku semanis itu?


Alex menggumam dan bercermin sambil tersenyum menatap pantulan gambar dirinya.

__ADS_1


"Ada apa mencariku Kak?" Tanya Ayana saat semakin dekat memasuki kamar Gino. Entah mengapa kegugupannya menyerangnya kini.


Gino berhenti dan membukakan pintu kamarnya. " Masuklah, istriku menunggumu. " Tuturnya dingin. Berbeda sekali saat menghadapi Alex dia bisa bercanda tetapi jika dengan Ayana dia akan kaki dan dingin, mengubah presensinya dari hangat menjadi beku sungguh drastis.


Lena terlihat kesusahan saat akan berpindah ke kursi roda dan Ayana dengan sigap membantunya. Sedangkan Gino sudah hilang entah kemana presensinya.


" Kakak mau apa? biar aku bantu." Kata Ayana lembut.


" Ayana, bisa kau mengikat rambutku agar sama dengan rambutmu? Aku tak pandai menata rambut."


" Oh, tentu Kak. Dengan senang hati. " Ayana tersenyum tulus. Itu semua memantul dari cermin dihadapannya.


Mereka sedang berada di depan sebuah meja rias yang lengkap dengan segala perlengkapannya dan juga semua aksesoris milik Lena.


" Ay..." Lena melihat pantulan mereka berdua dengan Ayana yang masih sibuk menata rambutnya.


" Bagaimana keadaan ayahmu?" Tanya Lena yang lain jurusan. Tak ada angin dan tak ada hujan dia membahas soal ayah Ayana?


Ayana mengulum senyumnya. " Dia baik hanya terkadang sedikit merasa lelah. " Ucapnya " ada apa memangnya kak?" Tanyanya dan kini mata mereka saling bertukar pandang.


" Eum tidak .." Lena menggeleng. " Nanti antarkan aku kerumah sakit ya?" ucapnya memohon sampai mengatupkan kedua tangannya dan memasang wajah memelas.


" Aku tak bisa Kak, aku ada kelas." Tolaknya halus.


" Aku sudah mengijinkanmu. Kau mendapatkan ijin untuk tidak masuk kelas hari ini. " Ucap Gino santai sambil melenggang melewati mereka berdua lalu mendekat kepada Lena dan mengusap bahu Lena hangat. Terlihat indah dan romantis dan berhasil menyelipkan rasa iri hati pada gadis yang sedang jauh dari kekasihnya ini.


Cih, seenaknya saja. Ayana hanya terdiam dan berpikir beberapa saat sebelum akhirnya dia mengangguk pasrah. Bisa ijin dengan mudah? tentu saja, sebab keluarga Armanto adalah dermawan yang ikut menyokong dana beasiswa mahasiswa yang berprestasi disana. Sudah barang tentu, soal ijin perijinan atau bahkan penundaan itu hal uang mudah di atur. Asal tidak menyalahi prosedur, peraturan dan program saja.


Di dalam mobil yang melaju kencang membelah jalanan kota. Ayana hanya terdiam tangannya sibuk berbalas pesan dengan Jackie. Dia menceritakan betapa kesalnya dia dengan sikap Gino yang terbilang semena-mena padanya. Jackie hanya menanggapi dengan santai dan hanya bisa menenangkan pacarnya yang mungkin saja mudah emosi karena sedang ora menstruasi.


Mereka berjalan bertiga dengan Gino yang mendorong kursi roda Lena. Ayana terus bertanya-tanya di dalam hatinya apa gunanya dia jika Gino bisa melakukannya untuk istrinya? Apakah dia berfungsi sebagai bodyguard hari ini? Tidak, tentu tidak bukan itu.


Segudang pertanyaan yang terbersit akhirnya terjawab sudah. Setelah medical check up, kini mereka duduk bertiga di sebuah restoran mewah untuk makan siang.


Raut wajah Lena sulit di tebak, ia terlihat ragu-ragu sebelum berbicara tetapi Gino? dia datar, dan dingin terkesan cuek dan acuh atau sebaliknya dia marah dan memendam perasaannya.


" Ayana, hari ini disini secara resmi aku melamarkan dirimu untuk suamiku sebagai istri keduanya." Ucap Lena yang menggenggam tangan Ayana.


Ayana yang sedang terdiam semakin terdiam dan menatap kedua insan di depannya secara bergantian. Dadanya sesak dan kepalanya terasa berat. Sesi lamar melamar yang terjadi beberapa bulan yang lalu kini terulang lagi.


" A... Apa maksudmu Kak? Apa maksud semua ini....?" Ayana tercekat dia merasa tak bisa bernafas sekarang, oksigen serasa menipis di sekitarnya, seperti ikan yang menyembul kepermukaan, dia sampai berkali-kali menenggak air putih untuk melegakan tenggorokannya.


Disini, hancur sudah harga diri Gino dia merasa tak berharga sama sekali di mata istrinya. Bagiamana bisa semua ini terjadi dengan begitu mudahnya. Kemana wibawa Gino yang dingin pergi?


Seharusnya dia bisa tegas menolak dan membantah apa yang tidak menjadi kehendaknya.


lihat kenyataannya sekarang dia terpaksa mengiyakan dan memberi jawaban dengan sederhana seolah penolakannya pun tak aga ada guna.


" Jangan lihat aku seperti itu, Aku pun tak menginginkan hal ini." Jawabnya dengan nada bicara yang tenang dan dingin. Tak ada penekanan tapi justru lebih mengerikan.


" Kak, ayolah jangan bercanda seperti ini. Ini tidak lucu sama sekali... Tak semestinya ini seperti ini. " Ayana jelas menolak hal tersebut. Ini tak semestinya terjadi.


Tak semestinya dia berada diantara suami istri yang baik-baik saja.


Tak semestinya penawaran seperti ini meluncur dari bibir orang terhormat seperti mereka.


Lantas sekarang bagaimana?


" Lena.., jangan paksakan dia." Gino mulai membuka suaranya. Kali ini terdengar teduh dan lembut disertai dengan usapan lembutnya pada suatu sang istri.


Ayana melihatnya, dia mendecih sinis dalam hati.


Sengaja mau mengumbar huh? Aku juga punya pacar asal kalian tau!


Sebal saja dia melihat adegan seperti itu dihadapannya sedangkan pacarnya sedang jauh di negara tetangga.


" Ayana kumohon, hanya kau yang terbaik dari semua calon yang aku punya."


Calon?


Apa ini semacam audisi yang sudah melalui tahapan audisi?


Aku semakin tidak mengerti, tidak tidak! tak semestinya ini berjalan seperti ini.


Ayana menggeleng kencang. tatapan matanya mulai sendu dan berkabut, mungkin lebih tepatnya mulai buram sebab pelupuknya sudah penuh dengan buliran bening yang siap jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


" Lihat ini, baca ini Eoh..!" Lena menyodorkan beberapa amplop dan juga kertas putih hasil medical check up miliknya tadi. Tidak lebih tepatnya bonus kematian yang berupa lembaran. Raut wajahnya teramat sedih lebih tepatnya dia berputus asa akan usianya yang tak lagi panjang.


" Bisakah kau membantuku membahagiakan suamiku sebelum aku meninggalkannya? hum? lihat ini Na, baca ini..." Bibirnya bergetar, dengau suaranya tak menghentikan niatanya untuk berhenti membujuk Ayana. " Tidakkah kau kasihan padaku? Aku hanya ingin punya anak dari mas Gino sebelum aku mati Na, sebelum aku mati!"


" Kak..., Tidakkah disini aku juga punyak hak untuk memilih dan menolak?" Ayana menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan tapi jelas jiwanya sedang tertekan sekarang.


" Katakan Na, katakan apa hakmu untuk memilih dan menolak. Kurasa setelah apa yang keluarga kami berikan kamu tak punyak hak lagi untuk itu?" Gino berbicara perlahan tapi sungguh menghujam dalam hingga meremukkan tulang belulang Ayana.


Kini dia tersadar sedang menghadapi apa. Ini bukan permintaan yang dimana dia berkesempatan untuk menolak atau mengiyakan. Tapi ini adalah keharusan yang musti dilaksanakan meski dengan keterpaksaan yang berbalut keihklasan.


Ayana menatap Lena dan Gino penuh arti. Keduanya kini tampak menyebalkan dimatanya. Gino yang di sangkanya akan menolak nyatanya justru dia yang melakukan final keputusan dalam sekali tebas.


Apa alasanmu Kak?


Apa aku melakukan salah selama ini terhadap kalian?


A... Apa aku...


Bukanlah ini hal lumrah? dimana pengungkitan selalu terjadi setelah pemberian?


Dan inilah Sekarang yang sedang terjadi. Jika tak mau katakan saja tak tau diri atau tak tau balas Budi.


Jika memang semua berlandaskan keikhlasan maka tak semestinya ada pengungkitan. Bukankah begitu?


Ayana hanya menunduk dan menangis. Dia menimang lagi, Sekarang haknya untuk bicara sudah musnah menguap bercampur kabut pekat kesedihan. Tak mampu lagi bibirnya berucap.


Lalu bagaimana dengan kasihnya?


Bagaimana dengan cintanya?


Akankah semuanya hancur sebelum dimulai?


Ayana terhimpit, dia sendiri.


" Pikirkanlah Eoh? aku akan meninggalkan kalian berdua agar semakin mengenal lebih dekat. Jangan menangis." Lena berucap lembut dan mengusap air mata Ayana dengan kedua ibu jarinya.


Ayana benci keadaan yang menghimpitnya ini. Keadaan yang membuatnya lemah dan tak berdaya.


Lena pergi dengan kursi rodanya bersama sekretaris Gino yang mengantarnya setelah mendapatkan panggilan.


" Sudahlah Na, Jangan menangis. Bukan hanya kau yang menderita disini. Akupun sama." Ucap Gino dengan tanpa melihat raut wajah lawan bicaranya.


Ayana hanya tertunduk dan terus menangis. Beginilah nasib si miskin? si miskin yang setiap saat bisa di permainkan oleh si kaya pemegang kuasa.


" Tulislah berapapun yang kau mau." Gino menyodorkan cek kosong di hadapan Ayana.


Sumpah Ayana terlihat menyedihkan sekarang dia semakin terhina disini. Apa itu harga diri? Ayana sudah tak punya lagi bahkan jodoh dan masa depannya 0un tergantung pada berapa jumlah nominal pada kertas kosong berwarna semburat kekuningan itu.


" Tidak." Tolaknya dengan suara yang bergetar.


" Jangan munafik!" Gino berdecih merendahkan.


Sisi Gino seperti ini yang tak pernah dia jumpai selama hidupnya. apa mungkin ini sifat Gino yang sebenarnya?


" Tidak! Jangan kau fikir karena aku miskin kau bisa membeli harga diriku? kau bisa membeli masa depan dan semuanya ?" Ayana mengangkat satu sudut bibirnya. " Katakan padaku organ apa yang bisa kutukar kedalam tubuh istrimu agar dia berumur panjang? katakan!" Ayana sudah tak kuasa menahan emosinya.


Gino tertawa kecil lalu mengacak rambut Ayana. Ya, dia meremehkan amukannya saat ini. " Jangan marah kucing kecil, aunganmu tak sebesar singa betina." Lirihnya dengan memajukan sedikit wajahnya.


" Dengar aku tak akan melakukannya! aku masih punya harga diri. Jika kau ingin membahagiakan istrimu dengan cara yang tak wajar itu, silahkan kau cari wanita lain.


" Hust...! " Gino berbicara santai dan menggerakkan tangannya seolah meredam amarah lawan bicaranya. " Kau butuh uang, aku tau itu, jangan sok keras disini."


PYAK...!


Sisa air yang masih setengah gelas kini memiliki fungsi yang berbeda yang sedikit lebih berkelas dan garang. Ayana menyiram wajah Gino dengan air minumnya.


Semua mata tertuju kepada mereka ya atensi penuh untuk suatu pertunjukan drama. Gratis pula.


" Pikirkanlah, aku menunggumu." Gino berdiri tanpa mengusap wajahnya yang basah dan malah menyibak rambutnya dengan jari yang tentu saja menambah kadar ketampanannya Sekarang.


Dia berlalu pergi meninggalkan Ayana sendiri yang menangis sedih.


Bapak, jika tau apa yang mereka lakukan selama ini akan meminta imbalan seperti ini, aku lebih memilih kuliah dengan kemampuanku sendiri.


Hiks... hiks... hiks!

__ADS_1


Tak semestinya kan aku menjadi penebus?



__ADS_2