Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
31. Aku harap mereka percaya.


__ADS_3


...🍁🍁🍁...


"Kemana anak itu ya Yah, kenapa sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dari kita. Dia bilang dia sudah menikah siri dengan Ayana. Tapi, Bunda tidak yakin. Apa dia hanya berbohong? Bagaimana kalau kita susul yah?" Bunda Winda cemas bukan main setelah putra bungsunya mengabarkan soal pernikahan siri.


"Bunda, apa bunda lupa? Hari ini kita masih ada urusan mengenai wedding organizer yang akan mereka pakai. Kita harus menemui mereka dulu." Kata Ayah Dhani yang terdengar lebih tenang dan dingin dalam menyikapi masalah.


Pembicaraan kecil itu, Nyatanya merembet melalui celah-celah pintu dan terdengar di telinga Gino.


"Ayah, Bunda. Maaf bila Gino menyela. Tapi, sebagai Kakak tertua, Gino rasa Gino harus membantu kalian dalam menyelesaikan masalah yang Jackie buat." Ujar Gino yang masih berada di ambang pintu.


"Oh, ide bagus. Sebaiknya kau menyusulnya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin bila denganmu dia bisa lebih bisa leluasa bercerita." Ujar sang Ayah.


Gino mengangguk dan bergegas pergi. Di raihnya kunci mobilnya.



🤧🤧 Beginilah kira-kira stylenya babang Gino yang lagi gemesh sama tingkah si bontot. Kalau ada duda macam begini sih yang Deket ma lingkungan Othor-nim gitu, dah ga lama-lama langsung slebewww. Ga apa deh jadi babu tukang gosok panci di rumah dia juga. Eits...., kok jadi halu... kok jadi ngablak?


Dah ah, kembali ke tank top 😏.


"Aku yakin, dia hanya mengada-ada. Jika benar mereka sudah menikah siri, Ayana pasti akan memberitahuku." Gino bermonolog dengan mengendarai mobilnya.


Urusan kantor banyak yang kacau dan terbengkalai. Berapa rapat penting harus ditunda dan itu membuat Dita kelabakan bukan main. Dia pontang-panting mengurus semuanya.


"Aish!! benar-benar bisa mati berdiri aku bila begini!! argh...!!" Dita mengerang frustrasi dan menjambak rambutnya sendiri.


"Ada apa? sampai seperti itu?" Tanya Alex santai saat melewati ruangan Dita.


"Oh, Pak Alex?" Sapa Dita dengan malu-malu. Dia mulai gugup dan merapikan rambutnya.


"Tidak usah memanggilku dengan sebutan yang terlalu formal. Dit, Apa kabar?" Tanya Alex yang kemudian duduk di tepi meja kerja Dita.


"Huft.....! Masih tanya, sudah lihat kan aku hampir gila?"


"Hahahaha, kenapa? Si bungsu kami mengacaukan semuanya ya?" Tebakan Alex 100% benar.


Dita mengangguk.


"See! Semuanya menumpuk. Dia tidak masuk lagi dengan alasan sakit. Tapi saat kutanya sakit apa kau tau apa katanya?"


Alex menggeleng.


"Tak penting apa sakitku yang jelas gajimu kunaikkan satu bulan ini." Dita menghela nafasnya. " Huh..., dasar orang kaya suka seenaknya saja!!" Kesalnya yang kemudian kembali membuka berkas.


Alex mengulum senyumnya, lucu saja melihat sahabat baiknya berkeluh kesah seperti itu.


"Tapi bukanya kamu juga senang bila gaji naik?"


"Iya, tapi juga tidak harus mendadak juga. Kau tau aku sudah dua hari ini tidak sempat mandi atau pulang ke rumah."


"Ah~~~, pantas saja sedari tadi tercium bau aneh." Alex meledek dan menggosok-gosok hidungnya. "Untung saja aku belum memelukmu, kalau tidak bisa lumutan aku terkena dakimu." Cecar Alex meledek singa betina.


"Yak!! sialan!! Kalau bukan adik dari bosku, sudah ku patahkan hidungmu itu!!" Kesal Dita yang kemudian melempar pena dan di tangkap oleh Alex yang tertawa lebar.


"Emmm... Dit, Apa Kau tau sesuatu tentang Jackie dan Ayana?"


"Tentang apa?" Dita fokus mengerjakan berkasnya.


"Hubungan mereka. Kemarin tiba-tiba Alex bilang sama Bunda kalau dia sudah menikah siri dengan Ayana. Apa kau tau sesuatu?" Tanya Alex yang mendekat kepada Dita. Tepatnya Alex berdiri di samping Dita dan setengah menundukkan tubuhnya.


"Apa? Menikah? siri? Bukanya mereka baru saja bertunangan?" Dita meneleng dan saling tatap mata dengan Alex.


"Ouh .. bau sekali rambutmu. Kau tidak keramas berapa tahun?" Protes Alex yang kemudian membuat Dita bangkit dan memukuli punggungnya. Tak begitu keras, dan itu hanyalah sebuah candaan teman lama.


"Alex!!" Dita menekan intonasi bicaranya dan mendelik tajam menatapnya.


"Iya, iya maaf. Canda Sayang." Kata Alex yang tersenyum manis.


__ADS_1


Sesaat ekspresi Alex membuat Dita terkesima.


Ouh, senyuman manis itu .. Astaga!! Dita membatin dan mulai memalingkan wajahnya.


"Jangan panggil sayang, aku takut jatuh cinta." Kata Dita yang terkesan dingin dan cuek.


"Ouh, Masa? Ah~~~ bagus dong. Berarti kau bisa menemaniku di pesta pernikahan Ayana dan Jackie nantinya." Kata Alex.


"Oh, No!! Anda kurang beruntung! Sayangnya aku si bau yang berlumut ini akan datang kesana dengan pacarku."


"Pacar? cih...! Siapa yang doyan dengan perempuan galak seperti kau?"


"Aku...! Aku yang doyan. Hormati dia, dia calon Kakak iparmu." Celetuk Gino yang tiba-tiba masuk dan merangkul pundak Dita.


Dita tersenyum dan menatap Alex penuh dengan kesombongan.


"Panggil Aku Kak Dita!" Sombongnya Dita mulai terbang ke awan.


"Huek...! Mual sekali perutku melihat kalian yang sok romantis." Keluh Alex yang kemudian berlalu pergi. " Langit! bisa kau turunkan pacar? Aku lelah dibilang tak laku." Seloroh Alex sembari berjalan dan mendapatkan sahutan tawa dari Dita.


Selepas kepergian Alex, Gino buru-buru melepaskan rengkuhannya dari pundak Dita. "Maaf Pak, bau ya? Maklum aku belum mandi dua hari." Dita berbicara jujur dan meringis memamerkan jajaran giginya.


" Astaga!! Cepat ikut aku. Kita harus kesuatu tempat." Gino berjalan memimpin di depan Dita.


" Tapi pak, pekerjaan ini?" Dita tergopoh-gopoh mengikuti langkah lebar Gino.


" Dua jam ini, tunda dulu semuanya." Kata Gino yang berjalan cepat dengan tangan yang masuk kedalam saku celananya.


Gino mengantarkan Dita untuk pulang, dan menunggunya di dalam mobil yang terparkir di depan rumah Dita. Setengah jam, Dita bersiap-siap dengan terburu-buru.


"Kakak adik sama saja, suka seenaknya!!" Gumam Dita sembari mengunci pintu dan menggerutu.


Gino tersenyum melihatnya.


"Lihat itu, menyebalkan sekali!! Untung tampan, kalau tidak, Sudah ku Hajar." Ketusnya lirih dan berjalan cepat menuju ke mobil.


Dita masuk kedalam mobil dan tersenyum manis sembari memasang sabuk pengamannya.



" Menemui Jackie, aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk memulai kerja sama kita. Berakting yang baik, ingat aku sudah membayarmu mahal." Kata Gino.


GLEK! Dita menelan ludahnya perlahan. Kata-kata Gino menyadarkan Dita akan tanggungjawab yang diembannya untuk sebuah kepura-puraan yang harus berjalan mulus.


"Iya Pak, aku tau." Lirih Dita menyahut dan kemudian berusaha untuk setenang mungkin meski sekarang hati dan pikirannya sedang berlarian tak karuan.


Di sebuah Apartemen.


Ayana sudah ikut pulang bersama Jackie. Karena kejadian kemarin, Ayana kini berjalan menggunakan tongkat kruk.


"Kenapa harus kesini? Kau bisa mengantarkan ku ke kosanku saja." Ayana berhenti di depan pintu masuk unit apartemen milik Jackie.


"Tidak! Kau sekarang tunanganku, kau sakit begini ketika bersamaku. Sudah seharusnya aku bertanggungjawab merawatmu sampai sembuh." Ucap Jackie dengan kedua tangannya yang sudah siaga memapah Ayana untuk berjalan masuk.


Tak berhak bersuara, ataupun menolak.Hanya bisa menurut layaknya boneka. Ayana jauh didalam hatinya meratapi nasibnya.


"Lepaskan! aku masih bisa berjalan sendiri." Ayana menepis tangan Jackie yang bertengger di pundaknya.


"Jangan keras kepala! Aku tidak mau kau memaksakan diri dan akhirnya akan memperlambat penyembuhanmu." Kata Jackie dengan nada bicaranya yang dingin dan kedua tangannya mencengkram erat bahu Ayana menandakan Ayana harus tunduk, patuh dan menurut.


"Duduklah." Lembut Jackie berucap dan kemudian mengambilkan minum untuk Ayana.


"Bagaimana dengan baju-baju ku?" Ayana bertanya membuat tangan Jackie berhenti menuangkan air kedalam gelas lalu menatapnya.


Jackie menyeringai. " Aku punya baju banyak, kau bisa memakainya." Jawabnya dengan enteng.


Ayana menunduk lesu dan kehabisan akal. Dia hanya ingin pulang dan terbebas dari rasa sesak saat bersama dengan Jackie.


Tak lama bel berbunyi. Jackie membukakan pintu. Beberapa detik, dia terkejut tapi...


"Kak? Ada apa kemari?" Tanyanya gugup dia takut bila Gino mengetahui keadaan Ayana.

__ADS_1


"Kenapa? apa tidak boleh? aku datang kemari ingin memastikan ucapanmu kemarin. Mana istrimu?"


Belum sempat Jackie menjawab,


"Sayang...! Ah, maaf aku terlambat." Dita berakting seolah-olah dia tertinggal karena mengambil sesuatu.


"Ka.. kalian?" Jackie tertegun.


"Kami berpacaran, sudah hampir dua tahun." Kata Gino datar.


"Ah, maaf ya. Seharusnya aku tidak ikut kemari tadi. Kau pasti terkejut." Dita tersenyum. "Kami sengaja menyembunyikan hubungan kami yah, karena kau tau kan peraturan perusahaan?" Dita berbicara seolah tanpa beban. Lancar dan tanpa hambatan.


"Apa kami tidak disuruh masuk? Kami sengaja datang kemari untuk berkunjung. Kata kakakmu kau sudah menikah? itulah sebabnya aku penasaran dan ingin bicara dengan Ayana. Bagaimanapun hubungan kita kan mirip-mirip. Apa setelah menikah secara resmi Ayana akan berhenti bekerja?"


Dita sungguh mengasah bakat aktingnya, bahkan lidahnya tak terbelit sedikitpun.


"Oh, masuklah!" Tak ingin menampilkan perseteruan di hadapan orang lain demi nama baik keluarga, Jackie tak mempunyai pilihan lain selain ikut memasang topeng malaikatnya.


"Ya, nanti setelah peresmian pernikahan kami aku ingin dia fokus dirumah saja dan merawat anak-anak kami. Tentunya aku ingin menjadi suami yang baik yang tidak menyia-nyiakan istri dan bayiku nantinya." Perkataan Jackie menyinggung sesuatu yang terjadi dimasa lalu.


"Ah, beruntung sekali Ayana." Dita menimpali.


"Ay....!" Seru Dita berlari kecil dan mendekati Ayana yang duduk di sofa. " Kakimu Kenapa?" Dita syok dan mematung melihat kondisi Ayana dengan kaki dan kepala yang diperban.


"Nana!" Gino tak kalah terkejutnya.


Keduanya lalu menatap Jackie dan meminta penjelasan.


"Hai! kalian datang." Ayana tersenyum. " Sayang, ambilkan minum aku haus." Kata Ayana yang juga mulai berakting.


"Iya sayang." Jackie menurut tak lupa senyuman manisnya juga membumbui suasana.


"Duduklah!" Ayana menarik tangan Dita perlahan.


"Kakiku, aku tak sengaja terjatuh dari tangga."


"Jatuh dari tangga?" Gino menelisik dan mengamati luka di tulang pipi Ayana.


Ayana yang paham akan apa yang di amati Gino lalu menunduk sesaat.


"Tapi itu lebih mirip luka lecet karena tergesek aspal." Celetuk Dita.


"Ah, ini?" Ayana meraba luka lecetnya yang mulai mengering. " Sebenarnya tangga tempatku terjatuh adalah mercusuar yang lawas. Saat disana kemarin aku sangat ingin melihat laut dari atas mercusuar, aku memaksa Jackie. Akhirnya dia mau, semua berjalan lancar sampai kami hendak turun dan gerimis mulai turun juga. Saat itu aku lupa mengganti heels ku dengan sepatu. Kakiku slip dan akhirnya aku terjatuh." Ayana berhenti bicara sesaat dan melihat Jackie.


Jackie balas melihatnya. "Dia hendak menolongku, tapi semuanya begitu cepat dan aku menggelinding kebawah. Entahlah yang aku tau saat itu dia begitu panik, bahkan sampai menangis sambil membawaku ke rumah sakit."


Paket komplit, kebohongan yang berbumbu kan drama percintaan romantis. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah ironi yang miris.


"Lalu soal pernikahan?" Gino melihat Jackie yang datang membawakan air minum. " Benar kalian sudah menikah? Mana buktinya?"


DEG...!


Jackie dan Ayana saling menatap. Disisi lain, Jackie tak mau dicap sebagai pembohong ya, meski memang dia berbohong. Disisi lain, Ayana tak mau hubungan Kakak beradik itu semakin rancu.


CUP!


Ayana mencium bibir Jackie di hadapan Gino dan Dita membuat mereka membelalakkan matanya lebar-lebar.


"Oh my God!!!" Pekik Dita yang hampir melompat layaknya sedang menonton drama.


Gino wajahnya langsung merah padam! Masih ada rasa panas terbakar cemburu disana.


"Sayang, maaf ini terlalu berani. Tapi aku harap mereka percaya." Kata Ayana tanpa menyiratkan adanya kesalahan atau keraguan.


"See! dia begitu mencintaiku. Kami masih menikah siri. Buktinya juga bukan kami yang menyimpan kak. Kalau kalian sendiri, aku tidak yakin kalian berpacaran." Jackie membalikkan keadaan.


"Cih!" Gino berdecih remeh lalu menarik tengkuk Dita.


CUP!!


Coba kalian tebak apa yang selanjutnya terjadi???

__ADS_1


__ADS_2