Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
116. Pernikahan Alex


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


"Bagaimana saksi, sah?" Tanya penghulu kepada dua saksi nikah yaitu Rian dan adik perempuannya.


"Sah!" jawab keduanya serempak.


Pernikahan sederhana dan sangat jauh dari kata mewah di gelar dalam sebuah ruangan apartemen. Alex telah resmi menikahi Diah. Setelah melalui beberapa perdebatan, akhirnya mereka bisa menikah.


Bukannya tak bersyukur, tapi setelah menikah. dengan Diah demi menjaga agar semuanya terlihat tak terjadi suatu apapun. Alex memilih meninggalkan istrinya dan kembali ke aktivitasnya yang semula. Dia tak ingin sang istri nantinya akan menerima masalah yang lebih berat lagi dari Ayahnya.


Terkadang, apa yang di sembunyikan itu belum tentu kebusukan. Bisa jadi sesuatu yang memang lebih baik berada jauh dari jangkauan.


Diah sudah dapat bernafas lega sekarang, pasalnya setelah berembuk, Alex mau menuruti perkataannya untuk tetap menjaga jarak sampai nanti bayinya lahir. Adanya ikatan pernikahan diantara mereka berdua hanya sekedar untuk memberikan ketenangan batin dan mengikat kepercayaan satu sama lain.


"Bu Diah, janinnya baik. Rencana mau lahiran dimana Bu?" Tanya bidan yang menanganinya.


"Masih belum tau Bu. Tapi sepertinya di klinik ini saja karena saya lihat fasilitasnya cukup lengkap dan memadai."


"Iya, Bu. Banyak banyak berolahraga ringan ya. Seperti mengikuti senam kehamilan. Kebetulan di klinik kami juga ada kelasnya, juga kelas parenting. Apa ibu berminat?"


Diah terdiam sepersekian detik. Dia seperti menimang sesuatu. Setidaknya apapun itu baik atau buruk, wajib di bicarakan berdua dengan Suaminya kan?


"Nanti saya tanyakan dengan suami saya dulu Bu. Soalnya suami saya sedang bekerja di luar kota."


"Oh, iya. Saya tunggu ya Bu. Biar lebih semangat kalau ada temannya. Kebetulan yang ikut lumayan banyak sih. Juga sekaligus bisa merileksasi ibunya agar tidak terlalu setres."


Diah hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Sesekali matanya memindai ruang tunggu, dimana banyak dari mereka yang memeriksakan kandungan bersama dengan suaminya. Lalu dia? Dia hanya sendirian. Pengaruh hormonal membuatnya seketika merasakan kesedihan. Tapi, semua itu di tahannya dan dia lagi lagi memberikan afirmasi positif pada dirinya sendiri.


"Tidak apa-apa, aku tidak di antar bukan karena tidak bersuami, tai karena keadaan kami." Gumamnya sambil mengusap perutnya yang rata.


Saat dalam perjalanan pulang dari memeriksakan kandungannya, Diah merasa sangat ingin memakan ayam geprek yang pedasnya wahhh, Tak ada yang menasehatinya ataupun melarangnya, Diah kemudian membelinya dan menyantapnya.


Efek yang baru terasa mulai menyerangnya di malam hari. Dia merasa tidak nyaman di bagian perut, dan sesekali mulas yang sulit di artikan itu datang. Tapi dia konsisten dan menahannya.


"Ah, ini hanya rasa mulas biasa karena kebanyakan makan pedas tadi." Ucapnya yang sebisa mungkin menahan rasa mulas tersebut.


...~~~...


Di apartemen Alex.


"Hoamzz! lelahnya!!" Keluh Alex yang baru saja menginjakkan kakinya di rumah.


Di lemparnya jas dan juga Tae kerjanya di atas sofa. Dia kemudian berjalan menuju dapur dan menenggak air minumnya.


Dalam setiap tegukan, pikirannya selalu mengambang. Dia mengusap kasar wajahnya dan menghela nafasnya dalam-dalam. Ada masalah baru yang Ayahnya berikan hari ini. Dimana Ayahnya menerima perjodohan antara putranya dengan Alex dengan menyertakan satu ancaman yang membuat Alex tak sanggup berkutik.


"Argh ...!" Alex melemparkan gelasnya ke dinding. Dia begitu marah dengan keadaan ini. Dengan dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah begitu saja.


"Kenapa? Kenapa Ayah? Kenapa!!" Dia mengerang meluapkan segalanya di dalam ruangan remang tanpa ada seorangpun yang menenangkan.


Tata, satu nama yang menjadi kandidat terbaik untuk menjadi istri Alex, Dia juga terpaksa keadaan karena Ayahnya yang juga tak merestui hubungannya dengan pacarnya yang hanya seorang karyawan biasa.


"Alex! Alex!" Tata mengetuk pintu apartemen Alex dengan mulutnya yang tak berhenti membuat kegaduhan.


Alex tetap diam tapi kakinya langsung melangkah ke arah suara dan membukakan pintu. Rupanya Tata tengah menangis tersedu di depan pintu apartemennya. Ketika Alex membuka pintu, dia langsung memeluknya erat.


"Alex, kumohon! menikahlah denganku ya?" Ucapnya yang sudah bersimpuh di kaki Alex saat Alex menutup pintu.


Alex tak mengerti, Bukankah baru tadi sore mereka bertemu dan saling menolak perjodohan. Bahkan keduanya saling terbuka mengenai hubungan pribadinya masing-masing. Tapi kenapa malam ini?

__ADS_1


"Ada apa kamu sampai begini Tata? Ada apa? Apa sesuatu terjadi dengan pacarmu?" Tanya Alex dengan mata yang penuh kebingungan.


Tata mengangguk. "Pacarku tiba-tiba saja dia terlibat kecelakaan tunggal tadi, dan sekarang dia membutuhkan penanganan khusus untuk menyelamatkan nyawanya, aku sama sekali tak punya uang Alex, Ayahku mencabut semua fasilitasnya." Ucapnya mengadu dengan tersedu-sedu.


"Apa? Kenapa Ayah kita sama-sama....? Argh...!!" Alex meninju bantalan sofa dan duduk dengan Tata yang masih bersimpuh di kakinya.


"Aku tahu perasaanmu. Tapi Tata, aku ini sudah menikah dan...." Alex ingin menyatakan kejujurannya dimana dia tidak akan bisa bersikap adil kedepannya nanti.


"Tidak apa-apa Alex.... tidak apa-apa...! Sumpah aku akan menerima apapun keadaanmu. Aku hanya ingin dia hidup, dia sangat berarti bagiku." Tata kembali memohon dengan bercucuran air mata.


"Kita sama, aku juga tidak ingin sampai terjadi apa-apa dengan anak dan istriku. Tidak ada pilihan lain, ini memang menyakitkan bagi kita semua. Tapi kita bisa apa melawan keegoisan mereka? Tanpa uang, aku juga tidak bisa menjamin hidup anak dan istriku. Sia*!!"


"Alex, tanpa uang, Pacarku akan mati malam ini juga. Jadi tolonglah segera hubungi Ayahmu dan juga Ayahku. Katakan kita siap untuk menikah." Ucap Tata yang terus saja menangis tanpa berani menatap wajah calon suaminya.


"Hemmh....!" Alex menghela nafasnya dalam-dalam. Perlahan dia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi sang Ayah.


"Ayah, Aku bersedia menikah dengan Tata. Jadi tolong, segera konfirmasi hal ini pada Ayahnya." Ucap Alex dengan afeksi yang nyata. Matanya memerah dengan urat-urat lehernya yang mencuat menunjukkan amarah.


"Bagus, kalau seperti itu dari awal kan semuanya akan lebih mudah tanpa air mata. Lagian Tata itu, cantik, berpendidikan tinggi dan juga jelas keluarganya. Tidak seperti anak pembunuh itu."


Ucapan Ayah Dhani begitu menusuk hati Alex dimana sosok yang dihinanya saat ini adalah istri yang tengah mengandung anaknya. Alex hanya bisa mengepalkan tangannya hingga membuat buku buku tangannya memutih.


Tak banyak bicara lagi, Alex lalu mengakhiri panggilannya. Dan, Tata seketika berdiri memeluknya. "Terimakasih!" Ucapannya begitu dalam dengan sorot mata yang sulit di artikan.


"Sudah, lepaskan. Kita saling membantu disini, dan ingat, aku ini suami orang." Ucap Alex yang kemudian melepaskan pelukan Tata.


Tata tersenyum lalu menyeka sisa air matanya. " Terimakasih Alex, terimakasih!" Ucapannya yang kemudian pergi begitu saja tanpa banyak berkata-kata.


Sementara Alex, dia kemudian menyambar kunci mobilnya dan melesat ke rumah istrinya yang sudah dinikahinya seminggu yang lalu.


Suasana sepi, dengan lampu yang hampir keseluruhannya mati, dan hanya di dapur dan juga ruang baca yang masih menyala remang. Alex masuk perlahan dan melihat sorot lampu dari kamar Diah yang masih menyala.


Perlahan dia membuka pintu dan melihat Diah yang baru saja keluar dari kamar mandi. Diah menatap bingung. Bukanya baru saja di bahas bahwa Alex hanya akan pulang satu bulan sekali?


"Ada apa? kenapa datang Sekarang? Katanya setiap satu bulan sekali. Apa ada masalah?" Tanya Diah yang kian mendekat dan meraih tangan Alex.


"Ada apa hum?" Tanya Diah dengan begitu lembutnya. Memang setelah menikah, hilang semua perangainya yang galak dan uring-uringan. Diah begitu menghormati suaminya dan menanamkan toleransi yang tinggi.


Alex masih saja diam dan menatapnya sendu seolah berkata. Di, maafkan aku yang akan menduakan dirimu sebentar lagi. Maafkan aku yang akan menikah secara diam-diam tanpa ijinmu istriku. Di, sungguh aku melakukan semua ini demi kalian. Aku tidak ingin Ayah jadi nekat dan melenyapkan kalian berdua. Di.... ku harap hatimu bisa menerima ini.


"Enggak sayang, aku cuma kangen banget sama kamu. Kayaknya ga jadi deh satu bulan sekali, aku akan pulang kesini setiap dua Minggu sekali." Ucapnya sambil memeluk dan mengecup kening sang istri.


"Ah, Mas. Ku kira ada apa. Tapi kenapa matamu... Kamu kelihatan sedih banget. Ada apa?"


Menceritakannya padamu, tentu aku tidak akan pernah melakukannya. Biarlah kamu marah dan mengamuk asalkan semuanya sudah terkendali. Ku harap kau mau mengerti jika masa itu tiba nanti.


Cup!


CUP!


CUP!


"Mas, bukanya kita sudah sepakat. Tidaka akan melakukannya sampai anak kita lahir?" Diah menuntut janji sang suami yang baru terucap beberapa hari yang lalu.


Alex, dia hanya ingin semakin dekat dan menjalin hubungan yang teramat erat sebelum hari yang menyesakkan itu tiba dan membuatnya akan tercerai-berai dengan Diah.


"Aku udah tau, kita boleh melakukannya. Selama ini, sampai kamu hamil, yang memberikan bibit cuma aku kan?" Tanyanya frontal dan diselingi tawa kecil untuk menyamarkan kesedihannya yang mendalam.


"Ish...!" Diah mencubit gemas pinggang Alex. " Ya cuma kamu lah Mas, ga inget gimana malam pertamaku yang menyakitkan itu?" Sahutnya kesal. Jelas saja kesal dan marah, rasa itu masih tersimpan di dalam hatinya saat dimana dia sama sekali tidak dihargai sebagai manusia.

__ADS_1


"Maaf, maaf banget. Kali ini enggak kasar. Kita main pelan-pelan saja ya?" Ucap Alex dengan lembutnya dan satu alisnya menukik menggoda sang istri.


"Hahaha...., sok manis kalau ada maunya. Tidak mandi dulu? sudah makan belum? Atau aku buatkan kopi?" Diah bertanya dengan suaranya yang lembut dan kemudian meraih tangan Alex lalu mencium punggung tangannya.


"Tadi belum Salim Mas." Ucapnya sambil tersenyum.


Apa kamu akan tetap semanis ini jika tahu aku akan menikah lagi Di? Apa kamu akan sebaik ini padaku jika tau kebenarannya nanti? Di sungguh, di mataku kamu adalah wanita terbaik.


"Mandi ya, bau acem... " Ucapnya sembari mencium baju yang Alex kenakan.


Alex menangkup wajah Diah lalu menyambar bibirnya begitu saja melum4tnya halus, lembut dan dalam penuh perasaan. Tanpa perintah dan aba aba, air matanya jatuh menetes di setiap sudutnya.


I love you Di. Tapi...., maafkan caraku yang tak bisa memilih untuk melindungi kalian berdua. Melindungi dengan menyakiti. Maafkan aku Di.


Batin Alex bergemuruh dan meluap dengan segala rasa bersalah yang tertimbun kian meninggi dan menenggelamkan kejujurannya.


Perlakuan lembut Alex, malam itu sungguh membuat Diah merasa begitu teristimewakan dan sangat di cintai.


Tangannya yang kokoh berurat mulai menelvsvp kedalam baju Diah, mer*ba setiap jengkal kulit mulusnya. Bibir yang tak henti-hentinya menikmati silaturahmi yang begitu akrab, memberikan sengatan- sengatan kecil yang semakin membangkitkan ga*rah.


"Aku mau makan," Ucapanya mendes*h.


Diah berhenti sesaat dan melepaskan pagut*n bibir mereka. Dia menatap lekat netra coklat milik suaminya. " Ya sudah, aku masak dulu ya, mau makan apa?" Lirih Diah bertanya.


Alex memunculkan smirik dan mengangkat satu alisnya dan mengerling. "Aku mau makan daging mentah saja." Ucapnya yang kemudian mulai berlutut dan mencari sesuatu yang di rindukannya.


Kalian bayangkan sendiri saja lah ya. Mimi mau jump!


...~~~...


Di sebuah rumah sakit, Tata berlarian sambil menangis dan tak memperdulikan lagi penampilannya yang berantakan. Dia mencari kemana pacarnya di rawat tapi nihil dan tak ditemukan. Hanya secarik surat pemberitahuan yang dipegangnya kini.


"Tetaplah hidup untukku sayang, tetaplah hidup!" Tata menangis sejadi-jadinya. Namun, seketika tatapannya berubah drastis menjadi begitu tajam dan menyiratkan kebencian.


"Lihat saja, akan ku balas semua ini. Kita lihat bagaimana kamu nanti akan memohon untuk tetap hidup padaku!" Geramnya sambil menggertakan giginya yang saling beradu.


Tata kembali pulang kerumahnya dengan tatapan hampa dan tanpa alas kaki. Dia bahkan mengabaikan kakinya yang terluka.


"Sayang, kenapa kamu seperti ini? darimana saja kamu?" Tanya ibunya.


"Tidak dari manapun Bun, hanya jalan jalan malam. Suamimu itu tau kemana aku pergi berjalan-jalan hingga larut malam begini. Iyakan Yah?" Cetus Tata dengan tatapan penuh amarah pada sang Ayah tiri yang sedang menuruni anak tangga.


"Oh, Dia? Dia tadi sedang mengurus bisnis dengan keluarga Armanto. Sepertinya sangat menyenangkan ya?" Tanya Ayah tiri Tata dengan tersenyum remeh merendahkan Tata yang saat ini memang sedang terhimpit masalah besar menyangkut nyawa sang pacar.


"Sangat menyenangkan, jamuan makan malam yang luar biasa. Bisa kan lain kali Om ikut?" Ucapnya yang dengan sengaja memanggil Ayah tirinya dengan sebutan Om.


PLAK!


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. Tata hanya menatap datar si pelaku yang tak lain adalah Ibundanya.


"Sudah ku katakan berulang kali, hargai dia. Panggil dia Ayah!" Bentak Ibunda Tata yang sangat marah akan sikap tidak sopan putri semata wayangnya.


"Sampai aku mati pun, Aku tidak akan pernah memanggilnya dengan sebutan Ayah! Ayahku sudah mati!!" Lantang Tata berbicara dengan suara yang meninggi. Dia begitu tertekan kali ini. Menerima setiap perlakuan buruk dari Ayah tirinya merupakan hal yang paling memuakkan dalam hidupnya.


"Tata! jaga mulutmu!" Seru sang ibu berbicara.


"Apa? Dan ingat saat aku mati nanti, akan ku bawa dia ke neraka bersamaku!! Kau selalu saja membelanya, kemana nuranimu sebagai seorang Ibu? Aku anakmu tapi kau selalu mengutamakanyya!!"


PLAK!!

__ADS_1


Tamparan mendarat lagi dengan sempurna.


"I'll kill you!!" Teriak Tata di hadapan Ayah tirinya.


__ADS_2