
...🌹🌹🌹. ...
Sungguh malang nasib Ayana, malam tepat kejadian dia mengalami kecelakaan rupanya juga ada seseorang yang mengabarkan hal buruk tersebut kepada sang Ayah.
Pak Pras yang notabene memiliki sakit jantung, kini tergolek lemah tanpa ada seorangpun yang tau. Mengingat mereka hanya tinggal berdua di apartemen.
Pak Pras kritis dan ditemukan oleh Ayana masih terduduk di kursi rodanya dengan nafas dan denyut nadi yang tak begitu terasa.
" Kamu mau kemana Mas?" Tanya Lena yang menyunggingkan senyum tipisnya tanpa sepengetahuan Gino.
Gino panik kala Ayana menghubunginya sembari menangis tersedu-sedu di sebuah rumah sakit. Terlambat sudah, saat Gino datang, Pak Pras sudah meninggal dunia.
Di balik itu semua ada senyuman licik dari seseorang yang melihat layar ponselnya.
" Bagaimana, serangan keduaku? Cukup membuatmu susah tidur kan?" Gumam Lena yang berbicara mengancam dengan gambar Ayana di ponselnya.
" Kau akan sulit bahkan untuk bernafas Gino. Posisi ini akan semakin bagus dengan kedatangan adikmu nanti." Lena tertawa girang dalam hati.
Karena kabar kematian Pak Pras, mau tidak mau Ayana juga harus mengabari keluarga Armanto. Dan mau tak mau juga, dia harus menutupi hubungannya dengan Gino. Ayah Dhani juga memiliki penyakit' yang serupa dengan pak Pras. Hanya saja penyakitnya masih bisa ditangani dengan mudah mengingat Ayah Dhani tak kesulitan dalam finansial.
Tak bisa memeluk ataupun menenangkan padahal sebenarnya Gino sangat ingin memeluk istri keduanya tersebut. Kini mereka berada di tanah pemakaman umum.
" Ayana, kamu pucat sekali nak? Pulanglah kembali kerumah besar, ikutlah bersama kami." Bunda Winda mengusap perlahan pucuk kepala Ayana.
Bunda Winda hanya tak mau saja melihat Ayana yang sudah seperti putrinya sendiri itu sedih sendirian.
" Tidak Bun, aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian. Ini waktuku untuk hidup mandiri." Kata Ayana beralasan.
" Jadi ini Alasanmu pergi dari kami? kamu sudah tak mau membebani kami?" Ayah Dhani bertanya dengan suara rendahnya.
Sekilas Ayana dan Gino saling melempar pandangan. Ayana hanya bisa tertunduk dan mengangguk perlahan tanpa berani menatap mata mereka semua yang telah ia khianati.
Tanpa dinyana, Bunda Winda justru memeluk hangat wanita rapuh itu. Yang ia tau, Ayana hanya kehilangan Ayahnya. Tetapi Ayana juga kehilangan anaknya yang tak lain adalah cucu dari garis keturunan Armanto.
Sementara disini, Lena bersikap biasa saja seolah tak tau apa-apa. Padahal jika saja suara tangis si mayat terdengar, maka nama Lena lah yang akan sering terdengar.
FLASHBACK ON.
Lena datang bertamu dan mengatakan semuanya kepada Pak Pras Setelah dia menyelesaikan pekerjaannya menghilangkan bukti. Dia bahkan mengemudi seorang diri dan hal itu juga yang membuat pak Pras kaget bukan kepalang.
Belum lagi dengan setumpuk bukti yang dia tunjukkan juga termasuk foto sewaktu ijab Kabul antara Gino dan Ayana.
" Nak Lena, tolong bapak.... Antarkan bapak kerumah sakit...." Pintanya dengan suara merintih kesakitan memegangi dadanya.
" Hemh....! Rumah sakit? Merangkak lah sana menuju kerumah sakit. Aku tidak perduli bahkan jika kau mati saat ini juga." Ucapnya sarkas dengan tatapan mata bak iblis dari dunia kegelapan.
" To....long...." Rintih Pak Pras lagi yang sudah semakin melemah dan nafasnya terlihat tersengal.
Lena hendak mengambil bantal dengan niatan ingin membekap mulut dan jalan nafas pak Pras.
" Oh, tidak. " Lena kembali pada posisinya yang berdiri sembari melipat tangannya ke dada. " Aku lebih suka melihatmu kesakitan seperti ini. Lebih lama kau kesakitan lebih puas aku." Ucapnya dengan diikuti gelak tawa lirih nan menyeramkan.
Hingga akhirnya Lena meninggalkan Pak Pras yang kritis dan pingsan terduduk di kursi rodanya.
Flashback off.
" Dimana kau sekarang tinggal?" Tanya Bunda Winda lembut.
Mereka berjalan beriringan hendak meninggalkan makam.
" Aku hanya tinggal disebuah gubuk kecil Nyonya. Kami membeli gubuk di pinggiran kota. " Ucap Ayana pelan.
" Kau punya tabungan?" Tanya Alex yang sedari tadi terdiam.
__ADS_1
" Bukan, itu adalah uang warisan dari pemberian almarhum Nenek dari ibu." Jawab Ayana beralasan yang padahal juga dia tidak tau nenek dari ibunya itu wajahnya dan tempat tinggalnya dimana.
" Jadi hubungan kalian sudah membaik?" Tanya Ayah Dhani. dan di angguki oleh Ayana yang tersenyum tipis.
" Boleh kami tau dimana rumahmu? siapa tau nanti salah satu dari kami akan mampir jika ada waktu." Ucap Alex.
Oh astaga Alex terlalu banyak bicara. Dia tidak tau saja jika saat ini ada dua manusia yang sedang berjuang untuk menutupi segala kebohongannya? Gino sampai terlihat seperti orang sakit.
" Yah, Bun. Ayo kita pulang, aku tiba-tiba pusing." Gino berbicara dengan cepat tanpa melihat Ayana seolah dia tak suka berada di tempat itu.
Lena meraih tangan Gino lalu mengusapnya sengaja ia tunjukkan di hadapan Ayana. " Iya Bun, kami duluan pulang. Mas Gino terlihat tidak sehat." Ucapnya seolah dia membantu Gino menyudahi sesi tanya jawab yang membuat lidahnya tercekat.
" Baiklah, aku tau kamu sedang ingin sendiri tapi biarkan Kak Alex mengantarmu ya Sayang? Sekalian biar dia tau dimana alamatmu. Siapa tau nanti Bunda ingin berkunjung. " Ucap Bunda Winda lembut dan Ayana tak mampu berkelok lagi.
" Sudah ayo, aku antar pulang dan beristirahatlah. " Alex menarik tangan Ayana lalu merengkuh pundaknya dengan lembut dan perlahan tepat di hadapan Gino membuat Gino hanya mampu diam dan mengepalkan satu tangannya hingga buku-buku tangannya memutih.
Dia memeluk istriku.... Arghh.....!! Alex..... berani kau menyentuh Kakak iparmu seperti itu? Gino bersungut-sungut menahan amarahnya.
Alex dan Ayana menghilang terlebih dahulu dan di susul oleh keluarga Armanto kemudian.
Di dalam mobil tak ada yang terdengar kecuali Isak tangis Ayana dan Alex hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Dia hanya diam dan mengusap-usap lengan Ayana.
" Sabar...." Katanya. Tidak ada kata lain yang mampu Alex ucapkan mengingat Ayana kini telah menjadi yatim piatu. Pasti sedih dan sakit rasanya.
Tak kekurangan akal, Ayana meminta Alex untuk berhenti di depan gang sempit.
" Rumahmu yang sebelah mana?" Alex clingukan mengamati sekitar.
Ayana tersenyum pias lalu menunjuk gang kecil di hadapannya. " Masih masuk jauh kedalam Kak. Mobilmu tak akan muat. Untuk berjalan saja kau harus memiringkan tubuhmu saat berpapasan dengan orang lain. Rumah yang kami beli sangat kecil dan berada dekat dengan sawah. Sudahlah, lain kali saja kau mampir. Aku ingin sendiri." Kata Ayana sendu.
Alex mengangguk paham dan tak berani bertanya lagi.
" Hati-hati." Ujarnya sebelum pergi dengan usapan lembut di pucuk kepala Ayana. Baginya Ayana sudah seperti adik kesayangannya.
" Iya, Terimakasih Kak sudah mengantar." Lagi-lagi senyum palsu yang ia suguhkan.
Langit gelap dan gemuruh angin begitu kuat beriring dengan suara petir yang menggelegar. Ayana menangis sendirian di sudut kamarnya. Dia takut dan juga sedih. Dai di apartemen sendirian tidak ada kerabat atau tetangga yang menghiburnya. Hanya Gino yang dia punya sekarang hanya dengan Gino dia bisa bersandar.
" A.....a.....!" Ayana berteriak dan lari menelusupkan tubuhnya kedalam selimut.
Sebuah pergerakan terasa sampai membuat ranjangnya berdecit. Ayana semakin ketakutan dan mencengkeram bantal. Di kepalanya sudah pasti itu adalah hantu.
" Na..." Lembut suara Gino memanggilnya membuatnya terbelalak dan menghentikan tangisnya.
" Kak..." Lirihnya lalu membuka selimut yang menutupi kepalanya. " Jangan pergi...." Ayana langsung menghambur kedalam pelukan suaminya.
Gino lega, sungguh lega. Sebelum datang dia mengira jika Ayana akan menolaknya dan terus-terusan meminta cerai seperti saat terakhir mereka bertemu.
" Jangan takut ada aku disini." Gino mencium kening Ayana.
Ayana bisa bernafas dengan lega sekarang. Suaminya, satu-satunya miliknya yang paling berharga di dunia sedang memeluknya erat dan menenangkannya.
" Kau sudah makan?" Gino sedikit merenggangkan pelukannya untuk melihat wajah pucat istrinya.
Kekhawatiran yang di pendamnya benar ternyata. Jangankan untuk makan dan minum obat. Ayana sampai tak berani mandi karena pulang kemalaman. Hasil dari membodohi Alex adalah dia harus memutar rute dan tentu saja dengan berjalan kaki karena semua dompet dan ponselnya raib saat kejadian itu.
" Belum.., aku tak ***** makan." Jawabnya jujur.
Gino kembali memeluknya lalu mengusap perlahan perut istrinya. " Untuk menjaga ini, kau harus menjaga kesehatanmu juga. Aku tidak mau terjadi hal-hal buruk padamu. Tolong jaga dirimu dengan baik Eoh....?" Katanya sangat lembut membuat Ayana merasa nyaman dan luluh.
" Obat dari dokter harus kau habiskan. Semuanya untuk kesehatanmu dan juga rahimmu. Aku buatkan makanan ya?" Gino kembali mencium kening Ayana.
Ayana mengangguk.
Bukanya tenang, Ayana kembali tergugu selepas kepergian Gino yang membuatkan makanan untuknya. Rasa bersalah karena telah bermain api. Kini dia berpikir mungkin saja Lena melakukan balas dendam dengan cara yang manis. Mungkin saja yang dia cemburui selama ini adalah kedekatannya dengan Gino, bukan karena salah Gino di masa lalu.
__ADS_1
Ayana makan dengan baik dan Gino kemudian memberikan obat padanya.
" Kak, malam ini tidur denganku ya? Aku masih takut." Katanya jujur, tak perduli lagi bila Gino akan menolaknya.
" Hem.." Gino mengangguk cepat lalu naik ke ranjang.
Mereka mengatur posisi dan Ayana berbaring dengan Gino yang tidur menghadapnya. " Setelah ini, apa rencanamu? "
" Tidak tau, otakku tak bisa berpikir." Ayana menatap langit-langit kamar.
" Lanjutkan kuliahmu kau bisa kembali masuk meski masa cutimu belum berakhir. Nanti aku yang akan mengurusnya." Kata Gino memandang wajah pucat Ayana. Dia iba melihat istrinya yang kini sebatang kara.
" Benarkah?" Ayana membalas tatapan Gino.
Gino mengangguk lalu memeluk Ayana dengan sangat hati-hati dia takut menyakiti Ayana yang masih lemah.
Mereka akhirnya terlelap dengan saling memeluk dan membagi kehangatan.
...🌹🌹🌹...
Pagi buta, di kediaman keluarga Armanto.
Jackie datang dan membuka pintu dengan kunci serep yang dimilikinya.
Entah kebetulan atau memang sudah Lena rencanakan, sebelum Jackie bertemu dengan keluarga yang lain Lena terlebih dahulu menghadangnya.
" Jackie... kau pulang?" Dia bertanya seolah lugu.
" Eh Kak, iya aku pulang. Aku minta cuti.." Jawabnya bersemangat.
" Mata Kakak kenapa, seperti habis menangis? Kakak bertengkar?" Tebak Jackie.
" Kemarilah, ini tak seharusnya kuberitahukan padamu, tapi.. aku sudah tak sanggup menahan ini sendirian. Tapi sebelumnya aku mohon jaga rahasia kita ini." Lena menatap lemah manik Jackie seolah meminta perlindungan.
" Aku tadinya tidak menyangka ini. Aku benar-benar...." Lena menunjukkan foto pernikahan Ayana dan Gino.
Wajah Jackie langsung memerah padam dan meremas ponsel Lena.
" Katakan, ini sejak kapan?" Desak Jackie.
Lena menggeleng. " Aku tidak tau pastinya kapan, tapi ini digunakan Ayana untuk memerasku. Aku hanya ingin keluargaku utuh Jackie, dimana lagi ada lelaki yang mau menikahiku selain Kakakmu? Aku akan mempertahankannya apapun kesalahanya. Dia hanya khilaf aku bisa memaafkannya, yang tak habis pikir Ayana ternyata tak sepolos dan sebaik yang kukira. Dia hanya menginginkan uang Kakakmu. Tapi Kakakmu tidak percaya dan lebih memilih wanita itu." Ujar Lena mengadu domba.
" Lalu Kakak tau dimana mereka?" Tanya Jackie masih dengan kemarahannya.
" Tapi tolong, rahasiakan hal ini setidaknya demi kesehatan ayah dan Bunda Jackie. Kakak percaya padamu Kakak yakin kau bisa Kakak andalkan. Kakak hanya memintamu untuk menasehati Ayana karena kulihat kau sangat dekat dengannya. Jangan ada kekerasan. " Lena mengusap air mata palsunya.
" Kakak meminta tolong padamu karena Kakak tak sanggup melihat wajah mereka berdua yang sudah menghianati Kakak." Lagi Lena mengusap perlahan air matanya.
" Berikan padaku alamatnya aku akan mengurusnya." Kata Jackie penuh afeksi.
" Ini. Aku sudah mengirimkannya ke ponselmu. Jangan ada keributan, bicarakan baik-baik dengan kakakmu dan dia. Ini juga adalah apartemen yang Kakakmu belikan untuknya. Kau lihat betapa dia sangat berpengaruh bagi Kakakmu sekarang." Lena menghasut dengan cara yang manis dan bersih. Membuat Jackie semakin yakin jika Lena adalah korban.
Yah, korban yang dimana adalah seorang wanita cantik yang cacat yang di sia-siakan dan dikhianati oleh suaminya sendiri. Sungguh perbutan yang membuat Jackie murka. Belum lagi yang menjadi pelaku adalah pacarnya sendiri.
Pantas saja kau gencar meminta putus dariku, sebab aku tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kakakku.
Aku tidak menyukai wanita sepertimu yang merusak rumah tangga orang lain seperti ini, terlebih ini adalah keluargaku.
Aku akan membuat perhitungan dengan apa yang telah kau lakukan! Batin Jackie geram yang kemudian bergegas pergi.
Melihat punggung Jackie yang kembali menghilang di balik pintu, membuat senyuman iblis milik Lena kembali terbit.
Bermainlah kalian bertiga dan setelah itu akan ku permainkan kalian semuanya. Lena tertawa puas dalam hatinya.
__ADS_1
Ada gitu Mimi bikin modelan karakter kayak Lena yang bikin emosi gini🤯🤯🤯.