
...πππΌππ...
...πππΌππ...
"Ayah, kita pergi ke rumah Jackie yuk.., Aku sangat merindukannya." Bunda Winda berucap dengan nada manja dan bermain di dada suaminya. Menggerakkan jarinya secara abstrak dan membuat si empunya terkikik kecil.
Tidak berubah, hubungan mereka tetap saja harmonis meski uban sudah mulai tumbuh menyelingi warna hitam rambut mereka.
"Bun, kamu itu ya. Baru berapa bulan tidak bertemu dengannya sudah berisik sekali. Jangan terlalu sering, nanti kau mengganggu pekerjaannya."
"Mengganggu? Ayah, kita hanya sekedar berkunjung. Bagaimanapun aku ini ibunya aku sangat rindu pada anakku. Dimataku seberapapun besar anak-anakku mereka tetaplah kecil."
Ya, memang begitulah manusia. Naluri seorang ibu yang baik dia tak akan pernah rela dan bisa berjauhan dari anak-anaknya. Dimatanya, sang anak tetaplah anak kecil yang membutuhkan kehangatan dan kasih sayang. Tak perduli seberapa besarnya mereka tumbuh dan tua.
"Iya, iya. Hemhh....!" Ayah Dhani mendengus menghela nafasnya. " Hanya kerumah Jackie?" Tanyanya memastikan.
"Tentu tidak Ayah, ke rumah Gino juga." Jawab sang istri tersenyum senang.
"Ayah, Bunda, Aku pulang!!" Seru Alex yang memasuki rumah tanpa binaran kebahagiaan.
"Ouh....! Anak Bunda sudah pulang. Bagaimana kerjanya? Kamu lapar? mau makan apa? Apa sudah makan?" Terus saja Bunda Winda mencecar anaknya dengan sederet pertanyaan dan segunung perhatian.
"Bun, aku sudah makan. Kerjaku juga baik." Jawab Alex dengan sopan dan tenang sambil merangkul pundak sang Bunda dan mencium sekilas pipinya.
Sementara Ayah Dhani hanya bisa menggeleng. Dia bersyukur keluarganya selalu dilimpahi rasa sayang dan kehangatan. Terlihat jelas dari bagaimana anak-anaknya mampu bersikap sopan dan menghargai orang tua.
"Tapi, wajahmu terlihat sebaliknya. Ada apa? cerita sama Bunda." Bunda Winda menarik tangan Alex dan membawanya duduk di sofa.
Terlihat dengan jelas kabut hitam berkelibat di sekitaran putranya membuatnya lesu dan layu.
Bunda Winda duduk dan Alex dengan seketika menempatkan kepalanya di atas pangkuan Bunda Winda. Sejurus kemudian tangan sang Bunda mengusap perlahan rambut sang putra. Sungguh pemandangan yang menenangkan hati dan menyejukkan mata seolah kedamaian dunia telah terjaga sempurna.
"Bun, Apa aku jelek?"
"Tidak, tentu tidak. Mana ada putra bunda jelek? Kau itu manis nak, baik, dan bersikap hangat." Jawaban sang Bunda selalu mampu membesarkan hati anak-anaknya. Memberikan ketenangan dan kedamaian.
Sementara itu Ayah Dhani masih sibuk dengan berita terbaru pantauan harga saham di ponselnya. Tapi, jangan abaikan telinganya yang juga mendengarkan perbincangan antara ibu dan anak itu.
"Lalu, mengapa Diah menolakku Bun? Aku tidak pernah merasakan sakit yang sesakit ini sebelumnya." Ucapnya sedih.
Tentulah tidak pernah. Mana ada sebelumnya dia di tolak wanita? Malah mereka semua mengejarnya seperti orang gila demi uang.
"Hahahaha!" Bunda Winda tertawa kencang sebelum dia sadar atensi suaminya tertuju padanya sekarang. " Ups!" Dia lalu menutup mulutnya dengan kikuk.
"Psst...! Kemarilah Bunda akan memberitahukan sesuatu buang penting buatmu. Siapa tau kau mau mencobanya." Ucap sang Bunda dengan hati-hati.
"Apa itu?" Sahut Alex dengan berbisik dan duduk seketika.
"Ayo ikut Bunda." Ucapnya lalu berdiri. "Ehem...ehem...! Alex, bisa kau antarkan bunda berbelanja? Bunda ingin membeli sesuatu sebelum mengunjungi adikmu." Ucapnya dengan sengaja menaikkan nada bicaranya agar suaminya mendengar.
__ADS_1
" Mau beli apa sih Bun?" Tanya sang suami menaruh atensi dan menghampirinya.
"Sesuatu untuk oleh-oleh." Jawabnya sambil tersenyum senang dan seketika menarik tangan Alex.
Sejujurnya Alex masih seperti keledai disini dia hanya plangak-plongok tidak mengerti kemana Bundanya akan mengajaknya.
Mereka berhenti di sebuah taman dan membeli es krim. Keduanya lalu duduk bersama di sebuah taman di bawah pohon rindang.
"Bun, katanya mau belanja?" Celetuk Alex dengan polosnya.
"Haduh... haduh....!" Bunda Winda terkikik geli melihat kepolosan anaknya ini. Dia terlampau manis untuk menjadi penipu. Berbeda dengan Gino dan Jackie yang bisa bergerak cepat dalam menangkap kerjasama dengan kode sandi macam begini.
"Itu hanya alasan Bunda, agar bisa keluar bersamamu dan membicarakan sebuah rahasia." Ucapnya sambil setengah berbisik.
"Rahasia?" Alex tertegun.
"Ehem~~." Bunda Winda mengangguk sambil menyantap es krimnya dengan santai.
"Katakan Bun apa rahasianya?" Pinta Alex dengan wajah penuh harap.
Bunda Winda tersenyum tipis lalu mengusuk pucuk kepala putaranya. " Kau ingat sewaktu Kakakmu tertangkap basah di kamar dengan Dita?"
Alex mengangguk dengan wajah polosnya.
"Itu bunda yang menyutradarai." Jawab Bunda dengan entengnya sambil terus memakan es krimnya.
Alex tercenung, tak habis pikir dia bahkan tak bisa menduga sampai sejauh ini rupanya sang bunda menjadi dalangnya.
"A... apa? Bunda yang......?"
"Tapi bukankah itu cara yang licik?"
"Tidak ada yang licik dalam urusan cinta. Semuanya fair. Sebab apa?" Tanya Bunda balik dan Alex menggeleng.
"Sebab datangnya cinta dan jodoh itu tak jelas arahnya. Kau hanya perlu berusaha sekuat tenaga." Ucapnya yang terdengar antara memotivasi atau menjerumuskan.
Alex tersenyum licik dan di balas dengan seringai dari sang Bunda. " Apa bisa di terapkan pada Diah?" Tanya Alex.
"Jelaskan dulu seperti apa Diah di matamu." Ucap Bunda meminta keterangan tentang karakter Diah.
Alex menjelaskan semuanya, tentang Diah yang keras kepala dan angkuh. Bunda Winda mengangguk paham.
"Apa kau siap untuk sedikit berkorban?" Tanyanya sebelum memulai lagi kegiatannya menyutradarai kisah cinta anaknya.
"Sedikit kan?" Alex hanya memastikan sebab dia juga tau bentuk pengorbanan apa yang akan di terimanya nanti.
Bersiaplah kau gadis angkuh, kau akan luluh dan jatuh kedalam pelukanku. Tak akan kulepaskan. Sudah ku tandai kau. Gumamnya dalam lamunan.
PLETAK!!
jitakan mendarat di keningnya dari snag Bunda. " Melamun saja." Omelnya kemudian.
__ADS_1
" Ayo antarkan Bunda ke Mall. Bunda ingin membelikan sesuatu untuk adikmu. Bunda Winda sudah berjalan mendahului Alex yang masih berseringai kecil merayakan awal permainan barunya.
"Cepat!" Lagi Bunda berteriak memberikan aba-aba.
...πππΌππ...
"Ah, Bunda mau datang ya?" Ayana menggumam sendirian di dalam dapur. Suaminya tengah bekerja dan dia tanpa asisten rumah tangga kini mulai kesulitan untuk membereskan segala pekerjaan rumah tangga.
"Aku pesan makanan dari restoran saja." Gumamnya lagi lalu mulai memesan. Yang dia lakukan hanyalah merias diri agar tak terlihat pucat di hadapan mertuanya.
Ayana, dia tak mau bila nantinya akan menjadi beban pikiran mertuanya jika tau kondisinya yang sebenarnya.
Sebenarnya yang dirasakannya akhir-akhir ini adalah sering sekali kram perut walau hanya berjalan sebentar.
Juga kepalanya sering terasa pusing seperti berputar, tapi dia...
Dia tak mau merepotkan orang-orang disekitarnya termasuk suaminya.
Jika Jackie bertanya, dia hanya akan bilang Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.
Selalu dan hanya kata itu yang terus terucap bak mantra ajaib.
Saat Ayana tengah merias diri tanpa di sadarinya, Jackie berdiri di depan pintu kamarnya dengan sedikit celah terbuka dia mengamati mimik sang istri.
Terlihat saat Ayana meringis kesakitan bahkan sampai mengusap air matanya yang jatuh begitu saja saat menahan sakitnya.
Begitu sakit dan kau selalu berkata baik-baik saja? Oh, aku harus kuat dan seolah tak tau akan hal ini. Dia ingin terlihat kuat kan? maka aku harus lebih kuat darinya.
Bagaimanapun, dia begini juga karena kebodohanku. Batin Jackie menyesali segala kebodohannya.
Kebodohan dimana dia memaksa sang istri untuk tidak mengonsumsi pil pencegah kehamilan lantaran dia mengira jika Ayana tak mencintainya dan tak ingin memiliki anak darinya.
Kebodohan karena bersikap egois dan menutup telinga dari segala penjelasan istrinya. Kejujuran yang selalu di anggapnya sebagai bualan semata.
Kini apa yang ada? Ya hanya penyesalan.
"Ay, kau cantik sekali mau kemana?" Tanya Jackie yang datang dan mencium pucuk kepala Ayana sebagai salam.
Ayana, dia menyajikan senyuman terbaik dan termanisnya meski sekarang rasa sakit itu menjalar hebat di rahimnya. " Tidak mau kemana-mana, bunda dan Ayah mau datang jadi aku bersiap." Jawabnya berusaha setenang mungkin tanpa menunjukkan ekspresi kesakitan.
"Oh, kau sudah menyiapkan makanan?" Tanya Jackie yang sebenarnya hanya berbasa-basi.
"Aku malas. Aku hanya memesan dari restoran."
Ah, malas ya? Bukan karena sakit?
Ay, aku mohon... jangan berlagak kuat di depanku. Aku rapuh melihatmu terus begini. Terus tersenyum di atas rasa sakitmu. Batin Jackie menatap nanar sang istri.
" Malas?" Jackie lalu melingkarkan tangannya dan merengkuh Ayana yang masih duduk kedalam dekapannya dengan tubuhnya yang condong dan dagunya berada di pundak snag Istri.
Jackie lalu tersenyum hangat. " Tak apa, mungkin itu bawaan bayi kita. Lakukan saja apa yang membuatmu senang. Aku tidak mau bayi kita kelelahan. Juga kau, terutama kau."
__ADS_1
Maaf aku membohongimu. Aku tidak mau mengatakan yang sesungguhnya bukan karena aku keras kepala. Tapi.. aku tak mau menjadi bebanmu. Aku tak mau kau mengkhawatirkan keadaanku dan terus menyalahkan dirimu. Keputusanku sudah bulat dan aku akan berjuang hingga akhir. Batin Ayana menatap pantulan dirinya dan Jackie.
Kau wanita yang hebat Sayang. Batin Jackie yang kemudian mengecup pipi sang istri.