Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
94. Ketakutan yang menjalari


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Ting tung!!


Suara bel pintu berbunyi membuat Alex yang masih menggelayut di punggung Diah seketika bangun.


"Di, coba lihat siapa itu." Titahnya pada Diah yang sedang menikmati santap siangnya.


Belum sempat Diah berdiri, Alex sudah meralat ucapannya. Dia menarik perintahnya. "Oh, Jangan! biar aku saja. Kau habiskan makanmu ya Sayang." Alex bangkit lalu mengecup kening Diah sebelum berjalan.


Diah masih begitu asing dengan perlakuan Alex padanya. Lelaki yang saat marah bersikap kasar dan dingin, tapi saat suasana hatinya baik dan Diah mau menurut padanya, Maka dia berubah juga menjadi lelaki yang begitu lembut dan penyayang.


Dilihatnya perawakan lelaki yang telah berhasil merenggut mahkotanya itu. "Dia.... sosok yang begitu hangat. Berbeda dengan Ayah. Aku hanya harus tunduk dan patuh padanya, maka semuanya akan baik-baik saja." Diah menggumam dalam hatinya.


"Hoah! kalian sudah datang?" Alex menyambut adiknya dengan begitu bersemangat.


"Iya Kak." Jawab Jackie.


"Wah sudah sembuh ya?" Tanya Ayana yang melihat cervical collar di leher Alex sudah tak ada lagi.


Alex mengulum senyumnya.." Iya, sudah di lepas kemarin." Jawabnya.


"Mari, duduk. Keadaanmu bagaimana? sudah pulih?" Alex merangkul Ayana di pundaknya dan berbicara dengan intens, membuat Jackie yang berada di belakangnya merengut.


"Yang adikmu itu aku, bukan dia! Jaga jarak dia istriku!" Kata Jackie yang kemudian menerobos dan memisahkan antara kakak dan suaminya sehingga dia yang berada di tengah di antara keduanya.


Alex tertawa terbahak-bahak. Lucu saja baginya melihat keposesifan adiknya yang semakin meningkat. Ayolah, suami mana yang tak cemburu melihat istrinya berdekatan dengan pria lain sekalipun itu adalah kakaknya sendiri?


Alex mencandai Jackie. " Tapi kau menikahinya atau tidak, dia tetap akan menjadi adikku. Adik Perempuanku satu-satunya." Ujar Alex penuh keyakinan.


"Nyonya, selamat datang." Kata Diah yang ikut mendekat dan menyapa Ayana.

__ADS_1


" Eh, Di? kamu disini? Padahal Kak Alex sudah sembuh kan?" Ayana melihat Alex dan Diah secara bergantian. Tatapan Ayana sungguh menyiratkan banyak makna.


Diah menunduk malu. Dia masih butuh waktu untuk menyesuaikan dirinya dengan situasi canggung seperti ini. " Em... aku..." Gugupnya yang meremas ujung bajunya.


Melihat kegugupan Diah, Alex dengan sigap menggenggam tangannya. "Dia calon kakak ipar kalian. Jadi Ay, jangan hanya sebut Nama dan kau Di, jangan panggil dia Nyonya."


Jackie dan Ayana keduanya melongo menatap tak percaya. Secepat ini? padahal tadinya bersikeras menolaknya. Sungguh jalannya takdir tak ada yang tahu.


"Apa kau terpaksa Di?" Tanya Jackie yang tiba-tiba berbicara.


"Eh!" Alex menepuk kepala Jackie. " Yang sopan, dia calon Kakak iparmu! Panggilan Di itu panggilan sayangku. Kau jangan ikut ikutan!" Alex melirik Jackie.


Ayana yang tak terima suaminya mendapatkan tepukan di kepala langsung mendekat dan mengusap kepala suaminya. "Ih, Kak! jangan seperti itu dengan suamiku! dia bukan anak kecil lagi. Kalau ada apa-apa dengan kepalanya bagaimana?"


"Ay, sakit." Jackie merengek dengan kedua matanya yang membulat sempurna dan pipinya yang di buat sedikit menggembung.


Sungguh perpaduan sempurna antara kedua pasangan yang lebay.


"Ay, aku hanya menepuknya bukan meninju kepalanya. Berlebihan sekali..." Alex berjalan dengan kedua tangannya yang berada di dalam saku celana dengan di ikuti Diah di belakangnya.


"A... aku buatkan minum ya?" Gugupnya yang kemudian memilih untuk pergi ke dapur dan membuatkan minuman untuk para tamunya saat Alex kembali duduk.


Suasana begitu hangat dan mereka berbincang ringan bersama dengan Diah yang masih merasa begitu canggung hanya diam menyimak. Alex yang memperhatikan air muka Diah kemudian mengusap punggung Diah dimana duduk mereka bersebelahan.


" Jangan gugup, mulai sekarang kau ini Kakaknya mereka." Ujar Alex menjelaskan posisinya yang secara otomatis akan menjadi Kakak ipar dari keduanya.


Jackie dan Ayana tersenyum menatap Diah. "Iya, biasa saja. Kami tidak akan menindasmu."


"Tapi aku sangat malu Nyonya. Aku pernah bekerja dengan kalian. Lalu sekarang aku menjadi lebih tua secara panggilan." Diah merasa malu saat mengatakannya. Dia begitu tak enak hati.


Ini baru bertemu dengan yang muda seperti Jackie, bagaimana Diah jika bertemu dengan Bunda Winda? Secara yang Diah tau, Bunda Winda menaruh kebencian padanya tepat setelah kejadian pengeroyokan beberapa Minggu yang lalu.


"Tidak apa-apa, biasa saja dengan kami. Kami tidak menaruh pikiran buruk atau apapun lainya padamu. Santai saja." Ucap Jackie menambahkan.

__ADS_1


Tak mampu berbicara lebih banyak lagi, Diah hanya bisa mengiyakan dengan anggukan. Apa yang akan terjadi maka terjadilah, Diah sidah memutuskan pilihan dan sekarang tibalah saatnya untuk menjalankan semua ketentuan.


Setiap manusia memang memiliki sisi yang berbeda dalam mendalami setiap makna kehidupan yang tersirat. Termasuk juga Diah. Trauma dimasa kecilnya menyebabkannya menjadi begitu ketat dalam memilih pasangan. Kebimbangan menjadi poin utama dalam problematika yang di hadapinya. Antara Iya dan tidak keduanya saling bersinggungan keras.


...🌼🌼🌼...


Malam hari, selesai dengan pertemuannya dengan sang calon adik ipar, Diah kini sibuk membereskan ruang tamu dan dapur setelah acara jamuan makan. Yah, meskipun makanannya hanya sebatas memesan dari resto.


Diah merenung sendirian setelah mengelap meja marmer di pantry. Tatapannya hampa dan mematung sempurna mengabaikan setiap derit suara. Sampai-sampai, Alex yang semakin mendekat padanya pun, tak di sadarinya.


"Apa yang kau pikirkan Di?" Tanya Alex yang memeluk wanita bertubuh kecil yang belum sempat mandi itu.


Diah menggeliat mencoba melepaskan pelukan Alex yang sengaja menempatkan dagunya di pundak mungil Diah.


"Tidak Ada Tuan, Eh Pak .. Eh, Kak." Diah terbata-bata dalam berbicara. Dia begitu gugup dan tak tau cara mengurainya.


"Jujurlah, kau terlihat termenung dari semenjak mereka pulang."


" Tidak, aku hanya merasa canggung, juga gugup. Tidak pernah aku seperti ini, menerima tamu dari kalangan kaya dan berada seperti kalian. Tapi bukan itu Masalahnya,..." Diah menunduk.


"Aku teringat tentang penolakan yang ku lakukan pada ibumu. Sungguh aku kehilangan muka di hadapannya. Bagaimana bisa setelah menolakmu lalu kita bersama seperti ini?"


Alex memeluk Diah dan mencium pucuk kepalanya. "Jangan terlalu di pikirkan, biar besok aku yang membujuknya. Dia itu tidak benar-benar marah padamu." Ujar Jimmy meredam kegelisahan Diah.


Seolah menjadi dewa penolong, Alex tampil begitu kuat dan perkasa di hadapan Diah. Siapa yang tau bahwa ternyata ibu dan anak itu saling bersekongkol untuk meluluhkan hati calon anggota baru?


Memang, tak ada peraturan dalam urusan Cinta. Semuanya halal, semuanya bisa. Diah ketakutan akan pertemuannya dengan calon ibu mertua. Dia takut bagaimana caranya dia akan menjelaskan semuanya. Karena cepat atau lambat mereka akan bertemu untuk meminta restu.


"Kalau Ayah dan ibumu tidak merestui kita bagaimana? sementara aku takut kau meninggalkanku sendiri......"


Hayoh loh!, Alex. Udah di garap sawah dan ladang, taunya terhalang restu..


Kan kasihan yang hamil terus di tinggalkan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2