Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
88. buket


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


...POV Jackie....


"Terimakasih Pak, untuk perkembangan kasus ini selanjutnya, saya harap Bapak bisa segera menyelesaikannya." Kataku pada polisi yang memanggilku sore ini untuk memberikan sedikit petunjuk dan perkembangan atas kasus penusukan yang terjadi di pinggir jalan kemarin.


"Siap pak! Kami sebagai pengayom masyarakat akan bekerja dengan semaksimal mungkin. Untuk hal yang lebih rinci, biar pengacara anda yang menjelaskannya." Kata si polisi.


"Iya. Terimakasih Pak. Saya permisi." Kataku yang kemudian berlalu meninggalkan kantor polisi bersama dengan Dewa, pengacaraku yang menangani kasus yang menimpa istriku.


Kasus ini membuatku pusing. Si penusuk bak hilang ditelan bumi. Ciri-ciri fisik dari si pelaku juga sangat sulit ditemukan. Belum lagi kejadian yang begitu cepat hanya sepersekian detik.


Ah..., sungguh kepalaku terasa akan meledak. Belum juga tentang seseorang yang mengirimkan hadiah jam tangan padaku juga tulisan itu. Sial...! sepertinya ada yang ingin membuat hubunganku berantakan. Tapi siapa?


"Dewa, apa kasus ini akan berjalan lama?" Tanyaku pada pengacaraku yang asik sendiri dengan pemikirannya.


Dia mengangguk dengan wajah seriusnya. "Agak lumayan lama dan kau harus bersabar."


Bersabar? bersabar katanya? Cih! Kurang sabar apalagi aku mengatasi semua ini? belum lagi menghadapi kemarahan istriku yang tak jelas. Dia menuduhku berselingkuh, Sumpah demi apapun, aku tidak pernah melakukannya.


"Kenapa? istrimu masih marah padamu? mau ku bantu menjelaskan padanya?"


Tawarnya yang terdengar menggiurkan. Tapi tidak, Istriku bukan tipe wanita yang mudah percaya begitu saja. Dia pasti akan menduga aku membayar dewa dan bersekongkol dengannya.


"Tidak usah, itu akan memperburuk keadaan. " Jawabku yang teramat pusing dan memilih untuk melihat keluar jendela.


"Fajar, belikan buket bunga untuk Nyonya Ya. Mawar putih, pokoknya minta bunga yang melambangkan ketulusan cinta." Kataku yang mungkin saja dengan bunga, dia akan sedikit melunak.


"Baik Pak!" Jawab Fajar.


"Jack, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada rumah tanggamu? apa kau punya hubungan dengan wanita lain? jujurlah padaku. Siapa tau aku bisa membantumu." Ujar Dewa dengan mudahnya menyebut Wanita lain. seolah aku ini benar-benar berselingkuh.


PLAK!!


Aku menepuk kepalanya dari belakang. Dewa juga merupakan temanku saat kami kuliah dulu. Aku sudah mengenalnya dengan baik, juga termasuk istri dan anak kembarnya.


"Kita sudah kenal lama kan? kita juga kuliah bersama dan tinggal dalam satu Apartemen yang sama sewaktu kuliah. Aku mana ada wanita? Kau tau sendiri aku sangat susah melupakan Ayana sedari dulu walaupun sudah putus bertahun-tahun dengan cara yang menyakitkan."


"Lalu Denise?" Celetuknya membuatku mengingat sesuatu yang menyebalkan dari wanita yang bernama Denise.


"Denise? dia kan awalnya menyukaimu, tapi setelah melihatku dia jadi mengejarku. Dan aku hanya menganggapnya sebagai teman." Kataku.


"Ah, tapi kau sering membantunya. Kau sering meminjamkan uang padanya. Belum lama kau juga memberikan uang padanya kan? untuk membayar persalinan?"


"Astaga!! Dewa!! itu karena aku tak mau banyak urusan. Ku beri uang, dan beres. sudah itu saja. Lagian dia salah siapa tak bisa menjaga diri dan hamil lalu ditinggal pergi." Terangku yang juga kesal akan sikap Denise yang suka merepotkan.


"Walaupun bertato begini tapi kan hatiku lembut. Mana tega aku melihat wanita yang hamil besar terlunta-lunta di pinggir jalan. Kau banyak bicara, tapi kau juga sama. Kau juga membantunya kan?" Cibirku padanya yang diam-diam juga membantu Denise dengan memberikan hunian gratis.


Dewa tertawa dan meledekku. " Tapi kan aku berbeda, aku melakukannya dengan ijin Istriku dan juga anak-anakku. Kau tau malah sekarang mereka seperti adik dan kakak. Denise banyak membuka aibku di hadapan Istriku. Dan kau tau?" Ucapan Dewa terhenti dan menatapku bingung.


Aku menggeleng tak mengerti. Apa yang kutahu dari hubungan mereka jika baru kali ini aku bertemu lagi dengan Dewa. itupun karena dia menjadi pengacaraku.


"Istriku menyukainya. Dia begitu menikmati setiap aibku yang di ceritakan oleh Denise." Dewa terlihat kesal.


"Apa jangan-jangan yang mengirimkan paket itu Denise?" Tebakku.


"Em..., bisa jadi. Dia kan agak random anaknya." Jawab Dewa yang membuatku berasumsi bahwa mungkin pelakunya adalah Denise.


"Kita temui saja dia." Kata Dewa.


" Maaf Pak, tapi kapan kita akan pulang? Ini nyonya mengirimkan pesan. Dia bertanya kapan anda pulang." Ujar Fajar.


"Katakan padanya kita kan terlambat satu jam lagi."


*Ah, dia masih sangat marah rupanya. seharian ini dia sama sekali tidak menghubungiku dan pesanku juga tak di balasnya.


...🌼🌼🌼*...


...POV Author....


"Ah, rupanya dia sedang sibuk dan akan pulang terlambat. Tapi.... tidak apa-apa malah akan pas saat jam makan malam." Gumam Ayana yang sibuk memasak.

__ADS_1


"Benar kata Ratih, jika di kantor dia begitu disiplin. Tapi kalau keluar, siapa tau? dan aku bertanya pada Fajar, sudah pasti fajar akan menutupi segala kesalahan bosnya." Ayana kembali berbicara dengan otaknya sendiri mengira-ngira sesuatu yang belum tentu terjadi.


Masakan sudah siap, Ayana memang seharian hanya menyibukkan diri untuk mengusir kejenuhan dan ingatannya yang selalu berpaut pada janinnya yang telah gugur.


Ah, terlalu sibuk dia sampai melupakan obatnya. Ayana kesepian sekarang, dia begitu kosong dan sendirian. Suaminya sudah harus bekerja dan dia benar-benar sendirian.


"Shaga, apa dia sudah membaik? kapan Dia pulang?" Ayana menggumam dan kemudian menata buah dan bubur untuk Shaga.


"Masih ada waktu kan, dua jam lagi." Ayana melihat jam tangannya.


Sore itu sebelum suaminya sampai di, Ayana memutuskan untuk menjenguk Shaga meski keadaannya sendiri belum begitu kuat.


Ayana menuju kerumah sakit dan siapa yang sangka jika dia akan di berikan pemandangan yang membuatnya terkejut bukan main.


Di tempat yang sama, Jackie, Dewa, dan Fajar, Juga beserta Denise dan anaknya mereka duduk di sebuah meja di kantin rumah sakit. Ayana menuju ke kantin rumah sakit saat baru sampai karena dia ingin membeli sendok plastik. Dia membawakan makanan tapi melupakan sendoknya.


Apa yang Ayana lihat membuatnya meradang. Dia cemburu, sungguh cemburu. Bagaimana tidak, Jackie duduk di sebelah Denise sambil memangku anak Denise. Bayi cantik yang baru saja bisa duduk. Jackie terlihat begitu bahagia saat menimang putri Denise.


"Say, Daddy!" Ucap Denise yang mengajarkan putrinya untuk memanggil Jackie dengan sebutan Daddy.


"Daddy, Daddy!" Jackie mendengus kesal. " Eh, Denise! bisa tidak kau merubah sifatmu yang menyebalkan itu? jangan asal bicara mulutmu!! Istriku bisa salah sangka." Kata Jackie yang tak terima dengan panggilan Daddy.


Sayangnya saat penolakan dan rasa tak terima itu muncul, Ayana sudah berlalu pergi dengan berlinang air mata. Dia mengira benar ada hubungan antara Denise dan Jackie, itu terbukti dengan putri Denise yang diajarkan untuk memanggil Daddy dan Jackie pun terlihat begitu bahagia.


"Den, jika kau terus seperti itu, maka kami akan menghentikan sikap baik kami ya. Kami akan berhenti membantumu." Kata Dewa mengancam.


"Ouh, Daddy dewa marah. Dewa, kau tau kan, putriku hanya ikut berceloteh saja memanggilmu sama dengan anak-anakmu memanggilmu. Lagian istrimu juga tidak keberatan." Kata Denise yang tak mau kalah.


Jackie menyerahkan putri Denise kembali. " Denise, berhenti bermain-main. Aku ingin bertanya padamu. Apa kau yang mengirimkan paket sialan itu?"


" Paket apa?" Jawab Denise yang terlihat kebingungan.


" Paket, jam tangan dan kartu ucapan." Ucap Jackie.


Denise tertawa terbahak bahak. " Paket apa? Alamatmu saja aku tidak tau sayang, Lalu aku mau kirimkan kemana? Kalaupun ada uang, itu akan lebih baik kugunakan untuk membeli susu anakku." Jawab Denise yang terdengar masuk akal.


Denise benar, setelah dia di buang dari keluarganya, dia jadi hidup terlunta-lunta dan kini dia bekerja di cafe milik ibu dari Sisi istri Dewa. Untuk membeli susu dan perlengkapan bayi cukup saja Denise sudah sangat bahagia.


"Tak mungkin juga aku akan membuangnya, Aku sudah disini dan mengucapkan terimakasih pada orang yang sudah menolongku. Hem..... huft....!" Ayana berjalan sambil memegangi tembok, dia merambat di dinding. Tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas dan kesedihan merongrongnya.


Sampai di depan pintu kamar rawat Shaga, Ayana menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dia mencoba mengatur degup jantungnya yang berdetak kencang setelah kemarahannya terpacu melihat kedekatan antara Jackie dan wanita lain.


Ayana mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam. " Masuk!" Seru Shaga menyahut.


Terlihat Shaga tengah duduk dan menikmati semburat jingga di langit yang cerah.


"Ay.." Sapanya pada tamu yang baru saja datang.


" Ga, bagaimana keadaanmu?" Tanya Ayana yang kemudian meletakkan bungkusan yang di bawanya.


Shaga membalas dengan seulas senyuman manisnya dan menatap teduh Ayana. " Aku, lihat aku sudah bisa duduk. Luka tusuknya lumayan dalam, jadi kata dokter aku akan lama menggunakan bantuan kursi roda ini Ay." Katanya yang tak bermaksud menyinggung soal kejadian nahas yang lalu.


"Maaf ya, karenaku kau jadi seperti ini." Ayana tertunduk menyesali yang terjadi.


"Bukan, Ay. Bukan!" Shaga mendekat dengan bantuan kursi rodanya. Dia lalu menggenggam tangan Ayana. "Ay, semua ini sudah terjadi dan kita selamat. Sudah, jangan kau ingat lagi. Aku tidak apa-apa."


"Ga, Terimakasih!" Ayana menangis dan air matanya jatuh mengenai tangan mereka yang saling menggenggam. " Aku berhutang Budi padamu."


Shaga tersenyum senang. " Hutang Budi?" Ulangnya dan Ayana mengangguk.


"Baiklah kau harus membayarku." Kata Shaga yang hanya bercanda.


"Membayar dengan apa Ga?" Ayana kebingungan dengan permintaan Shaga.


Mana ada di dunia ini hutang Budi di bayar instan?


"Dengan kebahagiaanmu Ay. Berjanjilah kau akan hidup dengan bahagia lebih dari hari ini ataupun kemarin. Berjanjilah padaku." Ujar Shaga dengan seulas senyuman yang menghiasi sudut bibirnya.


Ayana mengangguk dengan menitikkan air matanya. Ternyata sosok baru yang di kenalnya memanglah sosok yang sempurna. Ayana tak tahu saja jika sebelumnya Shaga memendam rasa cinta padanya.


" Makan ya, aku membawakan bubur dan juga puding buah." Ayana mengalihkan topik pembicaraan dan melepaskan genggaman tangan mereka.


"Tapi kita makan bersama, aku tak suka makan sendiri." Ucap Shaga sebelum mereka akhirnya menikmati makanan yang Ayana bawa.

__ADS_1


Mereka bercengkrama dan berbicara santai dan tak jarang saling tertawa hingga muncul sosok wanita cantik nan anggun yang berdiri di ambang pintu.


"Zu? masuklah." Kata Ayana mempersilahkan.


" Kalian begitu asik berbincang, aku mengganggu ya?" Tanya Reizu yang meras sungkan.


Shaga menggeleng. " Tidak, mana ada tunangan ku mengganggu." Celetuknya asal.


Ayana tersenyum sambil menata kembali wadah yang tadi di bawanya. " Iya kalian sudah bertunangan." Katanya.


"Tidak, belum! baru mau!" Kata Reizu.


"Ah, kau terdengar begitu antusias, pasti kalian sangat mencintai. Aku doakan semoga semuanya lancar ya. Dan kau Shaga, jangan lupa berikan kabar pernikahan padaku ya!" Kata Ayana sebelum berpamitan pulang.


" Semoga saja bisa." Jawab Shaga lirih.


Kenapa semoga? kenapa tak langsung menjawab iya?


Apa kalian lupa, jika Shaga dan Reizu itu keturunan kerajaan? Mana ada resepsi pernikahan anggota keluarga kerajaan yang di ekspos dan di hadiri khalayak ramai? Tidak ada. Mereka juga memikirkan segala dampaknya.


"Wah, senangnya yang di kunjungi pujaan hati?" Reizu meledek Shaga sambil berbaring di ranjang pasien.


"Tentu, aku sangat senang. Kau iri kan?" Celetuk Shaga.


"Aku iri? tentu saja Ga. Aku di lahirkan dan hidup bersahabat dengan setumpuk aturan. Aku harus menurut, tunduk, dan patuh. Tak ada pilihan. Bahkan nanti setelah menikah denganmu pun, aku tak berhak meminta perpisahan. Harus bertahan menjadi ratu sampai akhir walaupun sebenarnya posisiku sudah di gantikan dengan beribu selir." Reizu berbicara sambil menatap langit-langit kamar.


" Andai saja aku bisa menjadi pembangkang sepertimu. Tentu aku akan segera lari menjauh dan memilih jalan hidupku sendiri." Ucapnya penuh asa.


Shaga mendekat pada Reizu dan mengusap kening calon tunangannya itu. " Kau berfikiran seperti itu?" Shaga lalu meraih tangan Reizu dan meletakkan pada pipinya." Aku pun sama, tapi tidak bisa. Kita hidup enak dan tak perlu bekerja. Tapi kita di takdirkan untuk menjaga kemurnian darah biru. Yang itu artinya harus memaksakan perasaan kita."


" Nantinya jika kita menikah, entah itu hambar atau pahit, kita harus menelannya bersama." Kata Shaga.


" Kau enak, akan punya banyak selir sebagai selingan? tapi aku? aku dipaksa untuk bersikap setia pada Rajanya." Kata Reizu yang terdengar miris.


"Itu tradisi, tapi soal hati sudah beda lagi. Nanti aku yang akan mengaturnya untukmu. Katakan padaku lelaki mana yang kau cintai. Aku akan mencari cara agar kau bisa memiliki waktu berdua dengannya. Ya... setidaknya kita sama." Kata Shaga mencoba bernegosiasi.


"Betapa, sialnya aku Ga! Aku mencintaimu si saat pertama kita bertemu. Apakah kau bisa menepati perkataanmu barusan? aku rasa tidak." Kata Reizu dan Shaga hanya terdiam.


...🦢🦢🦢...


Di sebuah apartemen, Makanan sudah tertata rapi di atas meja. Sajian yang menggugah selera menjadi dingin karena jam makan yang tertunda. Jackie yang awalnya mengatakan akan terlambat satu jam, nyatanya sampai jam 7 malam dia baru pulang.


Ayana pun sedang berada di ruang baca dengan earphone yang menyumpal telinganya sampai dia tak menyadari kedatangan suaminya.


" Selamat malam sayang." Kata Jackie yang dengan perlahan mengecup kening sang istri dan menyodorkan buket bunga di hadapannya.



Ayana terlonjak kaget dan mendongak melihat kehadiran Jackie yang sudah tersenyum lebar padanya.


Ayana masih sangat marah pada Jackie setelah melihat kejadian sore tadi. Dimana suaminya memangku bayi kecil dan wanita lain yang menyebutnya Daddy.


Ayana tetap diam dan hanya menerima, lalu memindahkan buket bunga ke samping agar tak menghalanginya untuk membaca. Siapa sangka Jackie justru berbaring dan menempatkan kepalanya di atas pangkuan snag istri hingga Ayana tak bisa berkutik. Ingin rasanya Ayana memukul kepala manusia yang malah tersenyum lebar padanya seolah tanpa dosa.


" Kamu marahnya lama banget sih Sayang?" Kata Jackie yang merajuk memeluk erat dan menciumi tangan Ayana.


"Awas, aku ngantuk." Ayana beringsut dan berusaha mengurai pelukan Jackie tapi sia-sia.


" Ngantuk, masih jam segini. Sayang masih marah soal bingkisan itu? Sumpah aku tidak tahu siapa itu Katy."


" Tapi kau tau kan tentang bayi cantik yang diajarkan untuk memanggilmu Daddy?" Ayana menaikkan satu alisnya.


Jackie tertegun dan masih bingung mencerna apa yang terjadi. " Apa kau melihatnya? kau ada disana?" Cecar Jackie.


" Iya, kenapa terkejut? aku melihat betapa bahagianya kau dengan wanita dan juga putri kecilmu. Ini yang kau sembunyikan dariku? selama aku hamil? ini Jack!!"


PLAK...!


satu tamparan keras mendarat. Kira-kira siapa yang di tampar nih?


cuman mau ngingetin, Jan lupa tinggalkan jejak love, komentar, dan juga like nya ya.


Happy redding!

__ADS_1


__ADS_2