
...πππΌππ...
...πππΌππ...
"Auh, ini sakit. perutku sakit..." Ayana mengerang kesakitan dan mencengkeram kuat seprei.
Dia sendiri sekarang, tanpa siapapun yang tau. Tangannya mulai bergerak-gerak mencoba meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Berusaha sekuat tenaga menggunakan sedikit tenaga yang tersisa.
Sungguh permainannya tadi bersama sang suami membuatnya kewalahan dan mengakibatkan perutnya kram. Seharusnya dia lebih berhati-hati dalam hal ini.
Satu Panggilan yang dilakukannya, menghubungkannya dengan Dita. Satu-satunya harapannya kini. Orang yang sudah mengetahui perihal kehamilannya.
Tapi, sayang teramat sayang. Dita tidak mengangkat panggilan dari Ayana.
Malang.
Itulah mungkin satu kata yang tepat untuknya kini. Merintih kesakitan menanggung resiko dari suatu hal yang sengaja ia rahasiakan. Apakah itu sepadan?
Di sisi lain.
" Ah.... leganya." Dita mengusap-usap perutnya setelah membuang semua yang sudah tak lagi dibutuhkan oleh tubuhnya.
Dita baru saja selesai membuang hajat dari kamar mandi. "Em.. mau ngapain ya?" Dita menggumam lalu meraih ponselnya mencoba mencari kesibukan yang lain setelah suaminya pergi.
Rumah terasa begitu sepi tanpa kehadiran Gino. Untuk pertama kalinya setelah menikah, Dita merasakan kehampaan akan ketiadaan Gino.
"Si rewel pergi agak lama, rumah jadi sepi begini." Dita menggumam memikirkan Gino.
"Ah sudahlah mungkin aku hanya mulai terbiasa dekat dengannya." Dita menyingkirkan segala pemikiran aneh yang hinggap di otaknya.
"Eh, Ayana? dia menghubungiku?" Dita memeriksa daftar Panggilan masuk.
Dita balas menghubungi Ayana. Tapi.... tak membuahkan hasil. Tak satupun dari sekian panggilannya di angkat. Dita mulai cemas. Tanpa berpikir panjang, dia segera bersiap dan menuju ke apartemen Ayana.
Membelah jalanan kota yang ramai bertepatan dengan jam kerja usai, menambah gusar Dita.
"Arghh....! sial!! kenapa harus macet segala!" Dita memukul-mukul stir dengan gelisah.
Tak ada pilihan lain kecuali menunggu hingga jalanan kembali ramai lancar. Dita hanya bisa berdoa dan berharap yang terbaik.
"Ayolah angkat Ay!!" Dita berharap-harap cemas menatap layar ponselnya. Dia kembali berusaha untuk menghubungi Ayana. Nihil. tetap tak ada jawaban.
"Inilah yang ku takutkan, kau begitu keras kepala. Tapi aku juga tak bisa menyalahkanmu. itu hakmu, Itu instingmu sebagai seorang ibu untuk melindungi calon anakmu." Dita merenung dan menerawang kejadian lalu saat dirumah sakit.
"Tuhan, lindungi dia dan bayinya. Aku juga ingin menjadi Tante." Ucap Dita bermonolog berbicara dengan kaca jendela mobilnya.
Tak sabar Dita sempat menekan klakson beberapa kali, berharap semua yang ada di hadapannya akan segera menyingkir dan memberikan jalanan seutuhnya padanya.
Satu jam berjuang melawan kemacetan, akhirnya Dita bisa mengurainya dan segera menuju ke apartemen Ayana.
__ADS_1
Tak sengaja saat tengah memasuki lift, dia bertemu dengan Shaga.
"Nona?" Sapa Shaga dengan gummy smilenya.
"Ah, iya?" Dita menoleh lalu meneleng, dia mencoba untuk mengingat sesuatu.
"Siapa ya?" Tanyanya yang masih belum menemukan daftar nama yang tersimpan atas wajah manis ini.
"Aku Shaga, pasti nona lupa. Aku barista di cafe depan kantormu dulu." Katanya mengingatkan.
Dita mengangguk paham. " Iya... iya aku ingat."
" Kau tinggal disini juga?" Basa-basi Dita bertanya.
"Oh, tidak. Aku hanya sedang akan berkunjung ke salah satu unit disini. Untuk membicarakan bisnis dengan rekanku." Jawabnya.
"O...." Dita hanya ber O ria dan kemudian lift berhenti dimana lantai unit Ayana berada.
Shaga, dia juga ikut keluar melangkahkan kakinya. " Kau juga di lantai ini?" Tanya Dita heran.
"Iya." Shaga melihat ponselnya seperti sedang melihat alamat yang di kirimkan padanya. " Benar kok lantai ini." Ucapnya lagi setelah memeriksa alamatnya.
Sungguh kebetulan.
Mereka berpisah dan Dita masuk kedalam apartemen Ayana. Sesaat kemudian terjadi kepanikan.
Pada saat itu, bertepatan juga dengan Shaga yang ternyata sudah berada di lift. Shaga yang melihat Dita berlari dan menghentikan pintu lift yang nyaris tertutup.
" Oh kau?" Ucap Dita dengan suaranya yang memburu. Tanpa banyak bicara Dita langsung menyeret Shaga.
Au ah, orang tampan begitu main di seret aja ya macam kambing.π€§
"Nona... ada apa ini?" Shaga kebingungan. Dia tidak mengerti akan situasi yang terjadi.
Tadi saat bertamu, ternyata aku datang di waktu yang salah. rekan Bisnisku sedang bertengkar dengan istrinya.
Dan sekarang?
Aku diseret dengan wanita bar-bar ini. Ada apa ini?
Apakah ini hari sialku?
Shaga hanya bisa menggerutu dalam hati.
"To... tolong temanku. Ah bukan, bukan. dia adikku. Tolong bawa dia sampai kebawah." Panik Dita berbicara.
" Ah! tidak tidak!" Dita menggerakkan tangannya juga kepalanya.
"Tolong antarkan kami kerumah sakit, adikku dia sedang hamil dan pingsan juga berdarah." Kata Dita dengan paniknya dan masih menarik pergelangan tangan Shaga.
__ADS_1
Kepanikan membuat keduanya menjadi amnesia. Dita lupa statusnya sebagai kakak ipar, sedangkan Shaga lupa jika adik ipar Dita adalah Ayana. Sosok wanita yang memiliki tempat spesial di dalam hatinya.
"Di... dia?" Shaga mematung berdiri di ambang pintu Setelah sebelumnya dia menyebut nama Ayana.
"Ayo cepat!!" Kembali Dita menarik paksa Shaga.
Entahlah ini berkah atau musibah.
Tapi bisa sedekat ini denganku tak akan ku lupakan seumur hidupku.
Takdir begitu jahat dan membuatku melewatkan keberadaan mu Ay.
Mungkinkan kau adalah jodohku yang terlewat?
Shaga membatin senang dan sedih sambil berlari membopong dan membawa Ayana untuk turun ke basement.
" Kau pangku dia, biar aku yang mengemudi." Kata Shaga yang kemudian mengambil alih kemudi setelah menempatkan Ayana di bangku tengah bersama Dita.
...πππΌππ...
Shaga berdiri dan bersandar di dinding dengan satu kakinya yang tertekuk menapak di dinding. Nampaknya dia ikut tertular kecemasan dan kepanikan.
Dita dia hanya duduk dan menggigit bibir bawahnya serta tangannya yang sling terkait menggenggam erat menyiratkan kekhawatiran akan keadaan Ayana.
Setengah jam berlalu dan dokter keluar.
"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Dita sambil berlari kecil mengimbangi langkah kaki sang dokter.
Dokter berhenti sejenak lalu, " Apa anda keluarganya?"
Dita mengangguk cepat.
"Ikut saya." Ajak sang dokter wanita sambil menepuk perlahan pundak Dita.
Shaga hanya terdiam menyimak semuanya.
Sesampainya di ruangan dokter.
Pekat dan kental dengan nuansa putih dan aroma khas obat-obatan rumah sakit yang menguar bercampur hawa dan suhu ruangan yang tertiup membaur bersama hembusan dingin air conditioner, Dita mengamati sudut ke sudut ruangan sebelum dia duduk tepat di hadapan sang dokter.
"Anda ini....?" Tanya dokter.
" Saya... saya Kakaknya Dok. Suaminya sedang dinas keluar kota. Bagaimana keadaan adik saya?" Cecar Dita tanpa rasa sabar.
Sang dokter menghela nafasnya dalam-dalam. Tatapannya berubah haru saat menatap mata Dita seakan menyiratkan kesedihan yang bercampur dengan kekecewaan.
"Ada apa Dok? adik saya baik-baik saja kan?" Dita bertambah panik Setelah melihat reaksi dari sang dokter. Pikirannya sudah kalang kabut entah kemana.
"Tadi... semaksimal mungkin kami sudah berusaha,...." Dokter berhenti berbicara lalu menengguk air putih yang tersedia di mejanya.
Ea... ea... ea... nungguin ya?
__ADS_1
Tar dulu napa, Mimi mau istirahat sebentar..π₯±.