
...πππΌππ...
...πππΌππ...
Suasana semakin tidak mendukung. Jackie akhirnya lebih memilih membawa Ayana pulang.
Pasalnya setelah kejadian itu, Ayana menjadi murung dan enggan untuk berbicara.
Dia menjadi sosok yang dingin dan seolah mati rasa.
Untuk senyum saja sangat susah melihatnya dari wajah Ayana.
Di lobby, saat mereka sedang check out.
Seorang wanita memakai dress kurang bahan berwarna merah menyala juga tengah berdiri di depan resepsionis.
Wanita itu terlihat cantik dengan balutan dress yang terlihat berkelas. Dia menurunkan sedikit kaca mata hitamnya lalu melirik Jackie yang datang dengan menarik kopernya.
"Jackie?" Sapanya dengan antusias.
Jackie menoleh.
Sesaat Jackie terdiam lalu beberapa detik kemudian dia menatap wajah yang ada di depannya itu dengan berjuta makna.
"Denise?" lirihnya menyebut satu nama.
"Jackie? itu benar kau?" Denise memastikan.
Jackie diam tak menjawabnya. Siapa yang bisa menebak bila setelahnya si wanita cantik itu melonjak kegirangan dan memeluk Jackie dengan eratnya dan jangan lupakan budaya barat yang mencium pipi teman adalah hal yang lumrah.
Tak bisa mengelak ataupun menolaknya. Jackie hanya terdiam dan menepis perlahan tangan Denise yang melingkar di lehernya.
Tatapan mata Jackie tertuju pada istrinya yang tengah duduk di sofa dan menatap kearahnya tanpa berbuat apapun seolah membiarkannya begitu saja.
"Iya." Jawab Jackie kikuk.
"Wah, kita memang berjodoh ya? tak kusangka kita akan bertemu lagi disini. Padahal aku sama sekali tidak tau kontakmu. kamu ganti nomor?" Tanya Denise menerocos seperti burung Pipit.
"Ah tidak, hanya saja ku rasa sudah tidak ada yang penting diantara kita jadi aku memblokir nomormu." Jawab Jackie dingin.
Denise, wanita itu tetap saja berbicara dengan riangnya walaupun baru saja jawaban Jackie terdengar kasar dan seharusnya membuatnya malu.
"Kamu tega, kamu tidak lihat aku hamil sekarang." Katanya begitu bahagia dan memamerkan perut buncitnya.
Terdengar juga ditelinga Ayana dan membuat Ayana semakin serius menatapnya. Dia berpikir permainan takdir macam apa lagi sekarang?
"Aku lihat, aku tidak buta!" Sarkasnya menjawab dengan malas.
"Eh, tapi ini anak...." Belum selesai Denise berbicara, Jackie sudah menyambarnya.
"Sapa dulu istriku." Ujarnya yang lalu menunjuk pada Ayana dan Ayana membalasnya hanya sekedar anggukan perlahan tanpa senyuman.
Ayana mendekat dan melepaskan kaca mata hitamnya. " Lanjutkan pembicaraan kalian, aku tunggu di mobil saja. Jangan hiraukan aku. Senang bertemu denganmu Denise." Kata Ayana yang terkesan judes dan dingin.
"Ay... ay!!" Teriak Jackie memanggil Ayana yang sudah berjalan meninggalkannya dan menunggu di dalam mobil sewa.
"Jackie, jangan pergi dulu ya. Apa kamu tega sama wanita hamil?" Denise berbicara dengan nada manja dan sudah bergelayut di lengan Jackie.
Ayana yang melihat adegan itu dari kejauhan kemudian berdecih dan memandang remeh. " Itu yang dia bilang mencintaiku? Cih!! pembohong!!" Cibirnya seorang diri.
"Lepaskan!! Dengar ya, kita sudah tidak memiliki hubungan!! Jauhi aku dan soal kehamilanmu itu, jangan bawa bawa aku. Jelas-jelas kita tidak pernah bertemu." Kata Jackie dengan geram.
"Hahahaha!! Kamu lucu. Aku tidak membawamu dalam Maslah hamilku! it's ok aku hamil walau tanpa suami, memang aku yang menginginkannya. Aku bisa merawat anakku sendiri." Denise berbicara dengan wajah yang tertawa bahagia.
Ayolah mungkin wanita ini gila.
"Jackie, aku hanya sedang ngidam dan ingin sekali bertemu denganmu. Hanya itu, tidak lebih." Kata Denise yang menghentikan langkah kaki Jackie.
"Apa hubungannya denganku?" Geram Jackie.
"Hihihi...!" Denise tertawa kecil lalu mendekat pada Jackie. Dan,
Tiba-tiba dia mencium bibir Jackie sekilas. Jackie sampai melotot lalu mengusap bekas ciuman dari Denise dengan kasarnya seolah merasa jijik. Sayangnya waktu Jackie menyeka mulutnya, Ayana sudah mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Apa apaan? Jaga sikapmu!! " Jackie sangat marah juga sekaligus malu di buatnya.
"Hei, aku mengidam ingin menciummu kau tau?" Denise membela dirinya.
"Sudah ya Nak, jangan banyak mau yang aneh-aneh lagi. Mama mu ini sampai pusing dengan keinginanmu yang aneh. Bilang makasih sama Om ya." Kata Denise yang berbicara pada perut buncitnya.
"Makacih om!!" Cicitnya menirukan gaya bicara anak kecil.
"Dasar gila!!" Umpat Jackie kesal bukan main. Tak sedikit dari pengunjung hotel yang membicarakan mereka. Dikiranya pasangan romantis kali ya?
"Ini untukmu!!" Denise merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar cek.
"Argh....! Denise!! kamu pikir aku ini lelaki bayaran?? Ah sudahlah dasar gila!! Simpan saja itu untuk bayimu!!" Seru Jackie meninggalkannya.
"Kau membuat istriku marah!" Kesal Jackie menatap tajam Denise.
"O~~~!" Denise hanya ber O ria seolah tak perduli.
"Aku membencimu wanita gila!!" Teriak Jackie memaki Denise yang justru tersenyum lebar padanya.
"I Love you Jack!!" Teriak Denise yang kemudian kembali mengusap perutnya.
"Thank you Om, we love you very much!!" Ucapnya sambil tersenyum menatap Jackie yang pergi meninggalkan hotel.
...πππΌππ...
Di dalam mobil.
Suasana menjadi begitu canggung. Ayana hanya diam menatap keluar jendela, sedangkan Jackie juga menatap keluar jendela yang sebaliknya.
"Jangan salah paham, tadi itu hanya teman lamaku." Kata Jackie berusaha untuk menjelaskan berharap istrinya mau menerima deretan keterangan.
"Aku tidak bertanya." Balas Ayana acuh.
...POV Ayana....
Sesak sekali rasanya saat melihat pasangan kita bersama wanita lain meskipun aku sendiri masih meragukan rasaku tapi melihat hal semacam ini membuatku sesak.
Kenapa juga harus bertemu dengannya saat bersamaku. Tidak bisa kalian melakukannya di belakangku agar tidak sesakit ini?
Entahlah tapi aku rasa dia bohong saat mengatakan wanita tadi hanyalah teman lamanya.
Tadi saja, dia mencium bibir suamiku. lalu berteriak lantang I Love you Apa ada teman yang semacam itu?
Dan tadi perutnya, dia sedang hamil.
Jangan-jangan itu anak dari suamiku? Oh Tuhan, apalagi ini?
Aku baru saja memuntahkan uneg-uneg yang tertimbun dan sekarang sudah ada lagi bahan baru?
Jika di bandingkan denganku, memang wanita tadi lebih dari segala.
Dia cantik, tubuhnya sexy Dan proporsional.
Sementara aku?
Dadaku kecilπ.
Aku lebih pendek dari diaπ.
Dia blasteran Eropa π
Dan aku??
Tak pernah sekalipun dalam hidupku menebak akan jalan takdirku yang seperti ini.
Cinta, apa itu cinta?
Cinta itu sedih dan lara. Jack, apa kamu benar-benar mencintaiku? Atau...
Ah, entahlah aku mulai gila.
...POV Author....
Selama di dalam pesawat hanya diam dan tertidur tanpa saling bicara. Dan akhirnya mereka tiba di apartemen.
__ADS_1
Masih saling diam dan tidak berkata apapun. Ayana langsung duduk di dapur dan Jackie langsung memasuki ruang kerjanya.
Meski begitu, Ayana tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Dia tetap memasak untuk makan siangnya.
"Makan dulu." Kata Ayana dingin pada Jackie yang tengah melintas dari Raung kerja menuju ke kamarnya.
"Hem" Jawabnya tanpa menoleh ataupun ada sambungan kata lainnya.
Ayana yang tengah asik makan kemudian di kejutkan dengan suara benda jatuh. Oh tidak lebih tepatnya terhempas dari kamarnya. Dia langsung berlari dan meninggalkan makanannya.
Di kamar, keadaan sudah berantakan dengan isi tas Ayana yang berhamburan juga lemari pakaian yang berantakan.
"Ka... kau kenapa?" Tanya Ayana tercengang.
"Apa pedulimu? Acuhkan saja aku terus!! Masalah kita ini tidak akan pernah ada ujungnya jika kita saling diam!!" Suara bariton Jackie menggema di udara membuat Ayana bergidik ngeri.
"Tentu saja aku peduli. Kau suamiku." Ayana mendekat dan meraih tangan Jackie yang entah tergores apa, tapi sudah berdarah.
"Suami? aku suami yang tidak kau anggap. Dihatimu selalu saja ada Kakakku!!" Ujarnya penuh emosi.
"Kau boleh marah padaku, tapi jangan sakiti dirimu begini? Aku minta maaf, tak seharusnya aku bersikap seperti kemarin pada suamiku." Ucap Ayana yang dengan cepatnya sudah menutup luka Jackie dengan tisu.
Jackie menatap sayu menerawang jauh kedalam mata Ayana. "Apakah aku tidak salah dengar? kau minta maaf?"
Ayana mengangguk lalu memeluk Jackie dengan eratnya. Mencium leher dan pipinya berkali-kali. Seolah dia benar-benar menyesal telah merusak acara bulan madu mereka tempo hari.
"Jangan sakiti dirimu lagi ya? Jangan..." Ayana berbicara dengan ketakutan.
"Kau hanya menghiburku! bukan benar-benar menganggapku layaknya suami." Suara rendah Jackie menyapa Indra pendengarannya.
"Tidak!" Ayana menggeleng dengan matanya yang sudah basah.
CUP!!
Satu kecupan mendarat di bibirnya.
"Aku bersungguh-sungguh. Aku lelah terus bertengkar denganmu." Kata Ayana.
"Kau bersungguh-sungguh? lalu untuk apa kau menyimpan obat-obat pencegah kehamilan itu jika kau bersungguh-sungguh? kau hanya mempermainkanku!" Jackie mengurai pelukan mereka.
"Selama kau terus bersikap kasar begini, selama itu juga aku tidak yakin kau bisa menjadi ayah yang baik!!" Seru Ayana berbicara dengan suara yang bergetar dan tangis yang tertahan.
Tadi, selama Ayana diam. Dia memikirkan semuanya. Dia merenungi jalan hidupnya. Bukan waktunya lagi baginya untuk uterus berkubang dalam trauma.
"Sejak kapan kau mengonsumsinya?" Tanya Jackie.
Ayana mendongak dan menatap kedua manik coklat Jackie. "Belum lama, baru beberapa hari." Jawabnya jujur.
"Sejak kita berbaikan?" Tebak Jackie.
Ayana mengangguk.
Pupus sudah harapan Jackie yang ditimbunnya beberapa hari lalu. Semenjak berbaikan, yang di harapakannya hanyalah anak, anak, dan anak.
Jackie berpikir, mungkin saja jika ada malaikat kecil diantara mereka maka hubungan mereka akan terjalin lebih erat dan kuat.
Tapi, dia tak menyangka bila istrinya memiliki pemikiran seperti itu.
"Apa hari ini kau juga meminumnya?" Desak Jackie dengan berjalan dan memojokkan Ayana hingga terbentur dinding kamar.
" Belum." Sahutnya lirih tanpa berani menatap mata nyalang Jackie.
Tanpa dia kira, Jackie kemudian mengangkat tubuh Ayana dan melancarkan aksinya. Aksi penyatuan tanpa persiapan, bahkan Ayana meringis nyeri menahan sakit karena belum siap sama sekali.
Tak ada pembukaan bung manis dan halus yang menumbuhkan gelanyar dan denyutan di titik awal membuat Ayana menitikan air matanya.
Tapi suaminya yang masih emosi sama sekali tidak perduli. Bahkan dia menghentak kasar di lantai tanpa alas sama sekali.
Author : " Jackie, jangan begitulah."
Jackie : " Shut up!!"
Author : " Ya tau sih pengen cepat punya anak, tapi ya ga pemaksaan gitu lah. itu namanya memperkosa istri sendiri."
Jackie : " What the ****!!"
__ADS_1
Author : " Beh, lha kok ngamuk??"