Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
84. Tidak kehilangan sendirian.


__ADS_3

...🌼🌼🌼...


Ayana terbangun dalam diamnya dia menatap wajah sang suami yang masih memeluknya dengan sangat erat. Jackie memeluk, mengikis jarak, seolah Ayana tak boleh bergeser ataupun sedikit berjarak darinya.


Jemari lentiknya terulur perlahan, mengusap lembut wajah yang masih merapatkan matanya. Dengkuran halus, masih lirih terdengar.


"Maafkan aku, aku sudah gagal menjaga anak kita." Lirih Ayana menggumam dalam suasana pagi yang sejuk dan tenang.


Sang suami menggeliat lalu merenggangkan pelukannya, dia menyambut pagi dengan senyuman yang terkhusus untuk sang istri.


"Pagi sayang." Ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur dan kembali memejamkan matanya sejenak.



"Pagi, kau sudah bangun?" Lirih Ayana berbicara dengan setengah berbisik.


"Em..." Jackie menggeliat dan kembali memeluknya dan dia sengaja menyatukan ujung hidung dengan Ayana.


"Kapan aku bisa pulang?" Tanya Ayana dengan mata yang berkaca-kaca. Dia memendam sesuatu yang terlampau berat menghimpit dadanya.


Jackie menatap lekat kedua manik yang mulai basah secara perlahan. " Apa kau mau melihatnya?" Jackie mengusap bulir bening yang jatuh dari pelupuk mata sang istri.


Ayana mengangguk perlahan dengan kabut kesedihan yang menyelimutinya.


"Cepatlah sembuh, nanti kalau kita sudah pulang. Aku akan membawamu untuk melihatnya."


"Maafkan aku yang tak bisa menjaga bayi kita." Lirihnya sambil terisak beriringan dengan penyesalan terdalamnya.


"Hussst! stop Sayang. Jangan limpahkan semua kesalahan pada dirimu. Kau tidak bersalah, ini semua sudah kehendakNya. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Aku pun sedih, aku juga kehilangan. Tapi tolong, kau harus tetap disisiku, menemaniku." Jackie mengecup kening sang istri.


"Jika kita tak dapat berkumpul di Dunia, kelak kita akan berkumpul bersama di surga. Kau ibunya, selalu doakan dia. Aku pun akan selalu mendoakan putraku." Kata Jackie.


Ayana menatap lekat manik Jackie seolah menuntutnya untuk menjelaskan sesuatu.


"Putra? dia laki-laki?" Ayana menitikkan air matanya yang tak terbendung lagi.


Jackie mengiyakan dengan anggukan. Ayana semakin terisak dalam dekapan hangat sang suami. Dia hanya menangis sedih dan tak mampu mengutuk atau menuntut siapapun.


"Putraku, Maafkan Bunda Sayang." Lirih Ayana berbicara dengan suara yang bergetar dan bahunya turun naik menahan isakan.


Jackie menelan kepahitan, dia sampai menggigit bibirnya agar tangisnya tak pecah. Jackie sebagai seorang Ayah pun merasakan hal yang sama. Dia begitu kehilangan. Dan dia ingat pesan dokter agar tak berpura-pura kuat di hadapan istrinya.


"Hussst.... Sayang, sudah. Putra kita anak yang baik Eoh." Jackie menangkup wajah Ayana dan menatap lekat kedua netra sang istri. "Putra kita tak menyalahkanmu. Dia sangat menyayangimu, dia tahu bagaimana perjuanganmu untuk menjaganya."


Sepasang suami istri itu menangis dalam hening pagi. Keduanya meratapi kepergian sang anak.


"Ibu Sri?" Ucap Ayana lagi dengan tatapan mata yang penuh dengan kesedihan.


Jackie kembali menangis di hadapan wanitanya. " Dia, tak tertolong. Dia meninggal di tempat bersama sopir taksi." Jawab Jackie.


"Lalu Shaga? bagaimana keadaannya?" Ayana masih dengan mata yang basah dengan air mata.


"Dia selamat. Nanti ku antar kau mengunjunginya ya, dia berada di ujung lorong." Jawab Jackie kemudian merapikan rambut sang istri.


Jackie merasa ini merupakan waktu yang tepat baginya untuk menggali informasi perihal kejadian naas tersebut. Menurut pengakuan Shaga, sebelum kejadian kecelakaan tunggal itu terjadi, dia telah tertusuk belati. Jackie tak mau menelan pernyataan sepihak. Dia ingin juga mendengar pernyataan dari istrinya.


"Ay, apa benar sebelum kejadian kecelakaan ada yang berusaha untuk menusukmu?"


"Aku ingat saat itu. Aku berjalan-jalan bersama dengan Bu Sri. Tak sengaja aku bertemu dengan Shaga dia baru saja pulang dari bekerja. Lalu saat aku menunggu taksi di pinggir jalan, tiba-tiba ada yang mengendarai sepeda motor dengan kencang dan Shaga tiba-tiba berlari lalu memelukku."


"Apa! dia berani memelukmu?" Jackie memekik keras.


" Jangan cemburu, dia melakukan itu hanya untuk melindungiku dan bayi kita. Karena kejadian itu dia tertusuk. Ah bukan hanya tertusuk tapi punggungnya robek." Kata Ayana. menahan kesal karena kecemburuan suaminya.

__ADS_1


"Setelah itu, aku dan Bu Sri. kami membawanya kerumah sakit. Saat dalam perjalanan, awalnya semuanya baik-baik saja. Hingga tiba-tiba perutku mengalami kontraksi hebat. Semuanya panik, Shaga yang tadinya berada di pangkuanku ikut panik. Dia begitu ketakutan."


"Apa! kau memangkunya? Apanya yang kau pangku?" Lagi Jackie memekik membuat Ayana meremas ujung bibirnya.


"Hussst! diamlah jangan berlebihan. Aku hanya balas menolongnya, bukan berselingkuh!" Ujar Ayana.


"Ya tapi tidak harus dengan memangkunya." Jackie menyayangkan apa yang Ayana lakukan.


" Lalu apa? bagiamana? taksinya kecil dan sempit sayang. Di depan sudah ada Bu Sri dan sopir. Tidak ada pilihan, Bu Sri takut darah, dan aku tak bisa memintanya untuk duduk dengan luka menganga seperti itu. Pahamilah kondisi kami saat itu." Ayana memohon agar sang suami mau mengerti.


"Sedari pertama bertemu dengan Shaga, Bu Sri sudah ketakutan. Dia menjadi pucat." Celetuk Ayana membuat Jackie terdiam memikirkan sesuatu.


Jackie ingat akan kemampuan istimewa yang di miliki oleh Bu Sri. Jackie berpikir mungkin yang membuat Bu Sri takut dan pucat adalah gambaran sebelum kecelakaan menimpa mereka?


"O.... Oke. Aku mengerti." Sahut Jackie kemudian turun dari ranjang.


"Apa kau mau mandi? em... maksudku aku akan mengelap tubuhmu." Ucap Jackie mengalihkan topik pembicaraan. Dia tak ingin istrinya semakin larut dalam kesedihan. Membicarakan hal ini saja sudah membuat Ayana terisak berulang kali. Jackie tak tega melihatnya.


"Mau....~~~😒." Jawab Ayana dengan sisa air matanya.


Jackie dengan telaten mengelap tubuh sang istri dan menyemprotkan parfum miliknya.


"Sudah, kau sudah cantik." Ucap Jackie memuji sang istri meski tanpa polesan makeup dan hanya tampil dengan wajah pucat.


"Makasih." Sahut lirih Ayana.


"Dari ceritamu tadi, aku sudah merekamnya. Aku akan membuat laporan atas tindakan penusukan yang menyebabkan kecelakaan tunggal." Kata Jackie yang mencuci tangannya di dalam kamar mandi.


Ayana tak mengerti. " Sayang, aku tidak memiliki musuh, lalu siapa yang menginginkan sesuatu yang buruk terjadi padaku?"


"Entahlah, tapi banyak kemungkinan di belakang kita. Aku harus tahu, siapa yang berani berbuat buruk padamu dan membuat nyawa putra kita melayang." Jackie berbicara dengan rahang yang mengeras menahan amarahnya.


Ayana menahan pedih melihat kilatan kebencian dan dendam di mata sang suami. Kilatan seperti ini juga yang dulu kerap menyambutnya setiap kali bersua.


"Sayang, jangan mendendam." Ucap Ayana dengan lembutnya.


Di lain tempat.


Berita tentang sadarnya Ayana langsung memenuhi laman gosip dan juga berita online dan offline. Tak ayal juga Lena yang di dalam sel tengah tertawa puas mendengar berita kematian janin di dalam perut Ayana.


"Kerja bagus Marvin." Pujinya pada Marvin, sosok yang mencelakakan Ayana.


Si pengendara motor itu adalah Marvin. Dia menerima perintah Lena dan menjalankan aksinya. Uang yang Lena janjikan pun telah di rauknya.


"Kini aku tak menyesal meski akan membusuk di penjara. Setidaknya kau sudah tidak bisa hamil lagi Ayana Jasmine." Gumam Lena saat melihat berita siang hari dari tv kecil yang tergantung di tembok aula lapas.


"Lihatlah, aku masih sanggup mengacaukan kebahagiaan keluarga Armanto." Lena bersorak-sorai di dalam hatinya. Dia begitu senang saat ini.


Sementara itu di sisi lain.


"Ah~~uang uang inilah sahabatku sekarang. Aku harus menghasilkan lebih banyak uang lagi. Keluarga Armanto.... mereka terlihat begitu kaya." Marvin menengguk minuman keras yang masih berada di dalam botol.


"Aku harus berterimakasih atau apa? Keluarga kalian telah menyingkirkan Kakakku yang super sempurna itu dari muka bumi ini. Dan kalian juga yang mempertemukan aku dengan gadis manis si pemberi plaster itu." Marvin menangis tergugu seorang diri di kamarnya yang gelap bak gudang penyimpanan.


"****!! bahkan aku tak tau harus bersyukur atau menyesal sekarang. Dasar sialan!!" Marvin memekik meluapkan kekecewaannya dan melemparkan botol minumnya ke dinding.


Di lain tempat pada sore harinya.


" Kau berjanji dari pagi. Dan kau baru mengantarku sekarang. Kenapa? kau cemburu?" Tanya Ayana pada Jackie yang terkesan selalu mengulur waktu untuk membawa Ayana bertemu dengan Shaga.


"Tidak, aku to! cemburu. Aku juga harus mengucapkan terimakasih padanya kan? karena telah menyelamatkanmu."


"Em... baguslah. Aku percaya, suamiku ini orang baik, penyabar, dan ramah. Iya kan?" Ayana melontarkan pujian yang berlandaskan paksaan agar sifat prianya semakin baik karena sindiran.

__ADS_1


Jackie mendorong kursi roda yang di tempati oleh Ayana dengan sangat hati-hati. Berkali-kali dia memastikan bahwa keadaan Ayana baik-baik saja.


"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.


"Iya, aku baik-baik saja. Jangan khawatir." Kata Ayana sambil tersenyum manis.


Saat mereka berkunjung ke kamar rawat Shaga nampak Reizu si gadis ayu tengah mengelap keringat dingin Shaga.


Ayana mengira jika wanita yang berada di dekat Shaga adalah adik Shaga.


" Shaga?" Panggil Ayana dengan suara lirih.


Meski lirih, Shaga yang masih tengkurap itu mampu mendengarnya dengan baik.


" Ay...." Sahutnya yang juga dengan sangat perlahan.


" Hai, Yogi!" Ucap Jackie dengan ketus.


"Yogi?" Ayana mengernyitkan keningnya. Tapi dia tak mau terbawa akan provokasi dari suaminya.


"Ga, gimana keadaanmu?" Tanya Ayana yang semakin mendekati Shaga.


"Dia baik, perkenalkan aku Reizu. Aku calon tunangannya Shaga." Kata Reizu yang mengulurkan tangannya pada Ayana.


Apa yang di lakukan oleh Reizu, nyatanya membawa angin segar tersendiri untuk Jackie. Jacki mengulum senyumnya dan memilih untuk duduk di sofa. Dia tak mengira jika Reizu akan melakukan hal tang berbanding terbalik dengan dugaannya. Jackie mengira, Reizu akan menghalangi Ayana untuk mendekati Shaga. Tapi nyatanya?


Reizu mendorong kursi roda Ayana hingga begitu dekat dan mepet dengan ranjang Shaga.


" Bagiamana lukamu?" Tanya Ayana yang meraih tangan Shaga.


" Aku masih belum bisa berbaring. Sebentar, aku akan miring dulu." Ijin Shaga sebelum bergerak.


Shaga kemudian dengan susah payah bisa beralih posisi. Dia miring menghadap Ayana.


"Aku turut berdukacita atas kepergian ibu dan anakmu." Yang Shaga tahu, Bu Sri adalah ibu kandung Ayana.


"Iya, terimakasih. Aku sudah tidak apa-apa. Aku tidak kehilangan sendirian. Suamiku juga begitu kehilangan." Ucapnya membuat Shaga melirik Jackie yang fokus menatap ke arahnya.


"Maaf ya, karena aku kau jadi sakit begini." Ayana.


"Oh, tidak apa-apa. Aku ikhlas melakukannya. " Ucap Shaga dengan menampilkan senyum simpulnya.


Reizu terdiam menyimak percakapan antara Ayana dan calon tunangannya. Sedangkan Jackie, dia sudah gerah menahan kecemburuan.


"Ga, cepat sembuh ya." Ayana meraih tangan Shaga dan menggenggamnya erat.


Melihat hal itu, Reizu memilih untuk meninggalkan ruangan dengan beralasan keluar untuk membeli sesuatu. Tak lama setelahnya Jackie juga menyusul Reizu.


Jackie sampai berlari mengejar Reizu.


"Rei! tunggu!!" Jackie menarik pundak Reizu.


"Kenapa memangnya? aku lapar, aku ingin membeli sesuatu. Melelahkan sekali harus melihatnya seharian ini." Keluh Reizu.


"Tidak seharusnya kau meninggalkan mereka berdua. Kau calon tunangannya." Kata Jackie.


" Lalu?" Reizu melipat tangannya ke dada. " Aku tak ingin mengekangnya, kami sudah punya kesepakatan kerjasama. Jadi sudahlah, urus saja istrimu. Aku takut dia akan terpikat oleh sikap manis Shaga. Apa kau mau kalah darinya untuk kesekian kalinya?" Kata Reizu yang kemudian melenggang pergi.


Jackie terbengong tidak percaya. Reizu gadis yang dulunya terkenal paling perfeksionis dan berkelas kini merelakan sesuatu yang akan menjadi miliknya memiliki kebebasan? sungguh sulit di percaya. Apakah matahari sudah terbit dari barat?


"Ah, sial! aku malah meninggalkan istriku." Jackie kembali masuk ke kamar rawat Shaga.


"Darimana?" Tanya Ayana saat Jackie kembali.

__ADS_1


"Mengejar Reizu." Jawab Shaga singkat.


Jawaban singkat dari Jackie membuat Ayana penasaran dan memiliki banyak pertanyaan. Ada hubungan apa antara Shaga, Reizu dan Jackie?


__ADS_2