
" pikirkanlah, aku menunggumu. " Sejumput kata kata yang menjadi frasa itu bak kalimat mantra yang sakti mandra guna. Membuat Ayana kacau dalam menjalani rutinitas dalam kesehariannya.
" Ada apa Nak, kamu sedari tadi melamun saja." Tanya Pak Pras lembut. Matanya terlihat letih dan sayu.
Ayana menggeleng dan memberikan senyuman terbaiknya. Dia tak mau Ayahnya menanggung beban pikiran lagi dan mengakibatkan turunnya ketahanan tubuhnya. " Tidak Pak, hanya sedikit lelah saja. Di rumah nyonya tadi banyak kerjaan." Bohongnya agar Bapaknya tidak berfikiran negatif.
Bagaimana bisa jujur? Setalah Ayana sendiri adalah juru kunci yang paling tau akan keadaan apa yang di maksudkan oleh Lena dan Gino.
Bapaknya. Pak Pras mengalami bocor jantung sudah 5 tahun terakhir, dan sekarang semakin diperparah dengan fisiknya yang semakin menua. Ayana hanya belum siap jika Bapaknya pergi meninggalkannya begitu saja.
" Kapan kamu melakukan yudisium?" Pak Pras kembali bertanya dan rasanya sangat aneh, bukanya dia tau jika masih dua semester lagi? tapi mengapa dia bertanya seolah olah tak ada waktu?
Ayana masih dengan mengunyah makanannya. " Masih lama Pak, sekitar dua semester." Jawabnya sopan.
" Oh, lama sekali. Dua semester...." Pak Pras menggumam. " Tidak bisa dimajuakn?"
" Tidaklah Pak, aneh-aneh saja bapak ini. Kalau maju, Nana yang kewalahan pak, bagaimana menyusun skripsi dalam waktu yang singkat? Lama saja Nana harus banyak revisi, banyak ini itu." Nana malah mendumel tak karuan. mengeluh betapa pusing kepalanya menyerap banyak materi dari para dosen dan profesor yang terkadang bicaranya seperti gerombolan lebah madu. Cepat dan tak jelas dan di padukan dengan sikap galak dan tulisan yang tampak seperti benang kusut. Ah, lengkaplah sudah...
Di kampus.
" Nana!" Seru Yofie melambaikan tangannya dengan senyuman khas dari bibirnya.
Yofie adalah teman baik Nana hasil dari pilihan Jackie. Ya, semua yang dekat dengan Ayana selalu ada turun tangan Jackie di dalamnya. Yofie adalah kutu buku, itulah yang membuat Jackie percaya jika Yofie tidak akan berani macam-macam dengan Ayana selagi dia pergi melanjutkan studi.
" Hai!" Nana mendekat dan membalas senyum Yofie.
" Ini, semuanya sudah ku tulis kau tinggal menyalinya saja. Setidaknya walaupun aku yang mengerjakannya, dosen pembimbing tidak harus tau jika itu kerja kerasku kan?"
" Hemh..." Ayana memutar bola matanya malas. " Ini semua pasti perintah dari Jackie."
" Oh, tentu pacarmu itu bahkan membayarku mahal. Dia tidak ingin kau kelelahan dan aku juga di tugaskan untuk menemanimu selama kau di area kampus." Tuturnya.
" Serius? " Ayana berdecak tak percaya.
__ADS_1
Dia diperlakukan seistimewa ini oleh manusia bergigi kelinci yang super jahil itu?
" Oh, dia berlebih. Aku harus menghubunginya sekarang juga." Ayana mulai merogoh saku celananya.
Belum sampai tersambung, Siska dan Yuna juga mendekat ke arahnya. Siska dan Yuna adalah teman duduk yang terdekat dari bangku Ayana. Mereka tak begitu dekat sebelumnya tapi saat ini?
" Ay! Eh, Nana!!" Sisca menyeru memanggilnya.
" Apa Jackie membayar mereka juga?" Ayana berbisik dan mencondongkan tubuhnya mendekat kepada Yofie.
Yofie tersenyum dan mengangguk penuh keyakinan. " Pacarmu itu sungguh hebat. Aku tau dia kaya, tapi tak mengira akan memperlakukanmu bak berlian begini. "
" Aish, diamlah. " Ayana tersipu malu.
" Na, pulang kuliah mau kemana?" Tanya Yuna.
" Tidak kemana-mana, aku banyak pekerjaan dan ayahku juga sedang tidak begitu sehat."
" Oh, Bapakmu sakit?" Sisca memastikan.
" Tumben, kamu bertanya agendaku?" Ayana mengernyitkan dahinya dia tidak tau mengapa teman-temannya yang semula jauh kini seolah sangat peduli dan menyayanginya.
Siska dan Yuna tersenyum menggelikan. " Apalagi, ini semua perintah dari tuan muda Jackie tersayangmu itu. Beruntung sekali kau mendapatkan kekasih yang amat sangat perhatian dan amat snagat tampan." Antara menyindir dan memuji memang sangatlah beda tipis, itulah yang Yuna ucapkan dengan mengangkat satu alisnya menggoda Ayana.
Dia jengah, dia kesal. Mengapa Jackie memperlakukan dirinya secara berlebihan? tidakkah itu membuat Ayana merasa kecil? Tentu saja, Ayana merasa kecil dan lemah. Sehingga apapun itu hanyalah berasal dari keluarga Armanto.
Mereka melanjutkan obrolan tak pentingnya sembari berjalan melewati koridor kampus. Entah mengapa seharian Ayana hanya gelisah saja. Kepalanya selalu memikirkan akan tawaran dari Gino. Ini salahnya, seharusnya kemarin dia langsung saja mengungkapkan bahwa dia dan Jackie sedang menjalin hubungan. Tapi tidak, Asanya terbelenggu menunduk lemah di hadapan rasa malu. Ayana malu, tak seharusnya anak tukang kebun memiliki hubungan dengan anak majikannya.
Huft..., dunia ini sungguh membingungkan. Dimana cinta harus menemukan frekuensinya, tetapi strata harus menemukan derajatnya.
Apakah itu adil?
Tentu, si kaya dengan si kaya dan si miskin dengan si miskin. Ini realitanya dimana rasa malu mengalahkan rasa cinta.
... 🌹🌹🌹...
__ADS_1
Malam hari di rumah sakit.
" Bagaimana, ini saat yang tepat bukan untukmu menerima tawaran kami?" Gino berbicara seolah dia tak memiliki hati. Dimana Ayana tengah menangis melihat ayahnya berada di dalam bilik operasi.
Ayana marah, matanya memerah, dia menatap nyalang Gino penuh afeksi. " Kak, aku tidak pernah tau sisi burukmu ini. Aku tengah bersedih kau tau! kau tidak lihat bagaimana keadaanku saat ini? Tidak bisakah mulutmu diam dan meredam keadaan?"
Pertama kali di dalam hidupnya, Selama mengabdi dengan keluarga Armanto Ayana mengamuk dan membentak Gino, si kakak tertua keluarga yang kaya raya tersebut.
" Heh, dengar ya! Aku melakukan ini bukan lantaran aku sangat menggilai mu atau aku ingin menduakan istriku." Gino membalas bentakan dengan ucapan penuh penekanan sampai-sampai giginya gemertak geram.
" Lalu karena apa? katakan!"
Gino mengulurkan tangannya mengusap lembut rambut Ayana. Perlakuan hangat setelah berbicara dengan nada penuh afeksi. " Tidak sekarang, suatu saat aku akan memberitahu semuanya. Ku harap kau mengerti Nana." Bicaranya lembut dan membuat Ayana bingung dengan tindakan dan perilaku Gino yang mudah berubah.
" Kau dengar apa yang dokter tadi katakan? Seharusnya kau bisa lebih cerdas menyikapinya dan kau juga tau apa yang harus kau lakukan demi ayahmu? Juga, sebaiknya kau tidak menambah hutang pada keluarga kami. Aku rasa kau seharusnya punya sedikit rasa malu." Ucap Gino lembut, tenang tapi menusuk. Membuat Ayana tercabik-cabik sampai ke ulu hati.
Kini matanya basah dan berair. Dia hanya mampu menunduk dan menitikkan air matanya. Sentuhan Gino bukan sentuhan yang menenangkan bukan juga sentuhan dengan kehangatan. Tapi lebih menjurus pada sentuhan dengan penekanan keharusan atau lebih mudahnya paksaan. Ayana bisa merasakannya, sentuhan yang menghentak terus dan terus di pucuk kepalanya seolah memberikan sugesti kepadanya untuk menuruti kemauan Gino.
Dengan berat hati dan ketidak ikhlasan Ayana mengangguk setelah tangan besar itu menepuk-nepuk pucuk kepalanya seakan memaksanya untuk mengangguk. " Baiklah aku setuju." Ucapnya lirih.
" Apa?" Gino mendekatkan kepalanya.
" Aku menerima tawaran dari kalian." Ulang Ayana dengan perlahan.
Gino menarik sudut bibirnya membentuk suatu kurva yang hampir tak tertangkap mata. " Apa coba ulangi lagi?"
" Aku Ayana Jasmine, bersedia menerima tawaran darimu Gino Putra Armanto untuk menikah denganmu." Ayana berbicara dengan bertekuk lutut. Dia sudah menggadaikan harga dirinya yang sebelumnya kukuh dia pertahankan setinggi langit. Kini membumi sudah harga diri itu bersamaan dengan lututnya yang menyentuh dingin lantai lorong rumah sakit.
Gino berdiri dan memasukkan tangannya kedalam saku celananya. " Berdirilah, tak harus melakukan drama seperti itu." Dia melihat sesaat Ayana yang masih tertunduk. " Akan kutransfer uangnya setelah kau menandatangani surat perjanjian kita. " Gino berlalu pergi dan menghilang di ujung jangkauan mata menatap gelap malam.
Maafkan aku Jack, aku harus mengakhiri hubungan kita saat ini juga. Ayahku lebih penting dari sekedar perasaanku. Dia lebih berharga.
Ayana bangkit dan mengusap kasar air matanya. Dia menahan tangis dan mengigit bibir bawahnya.
__ADS_1