Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
96. Mis A


__ADS_3

...🌼πŸͺ΄πŸͺ΄πŸŒΌ...


Semilir angin berhembus dan Ayana masih berdiri di balkon ruang tamu. Dia melihat kesekitar, tinggi bangunan menjulang dan atap-atap gedung yang saling tindih satu dengan yang lainnya.


Berseliweran pengendara jalanan yang berlalu lalang menambah ramai suasana malam. Berderit berseling dengan suara klakson saling bersahutan.


"Sudah malam, ayo tidur." Jackie sudah menguap karena lelah yang amat sangat.


Ayana bergeming dan hanya meliriknya sesaat. " Duluan saja, aku mau melihat bintang." Sahutnya lirih tanpa penekanan.


Jackie, dia terus saja melihat tampilan belakang sang istri yang hanya mengenakan baju tidur pendek dan terpaan semilir angin malam yang membuatnya bergelombang tak tentu arah.


"Ayo tidur." Jackie tiba-tiba sudah berada di belakang Ayana. Mendekapnya menularkan ketenangan dan kehangatan. "Mikirin apa?" Tanyanya lembut dengan tangan yang membelai rambut sang istri.


Ayana, dia tak bisa berkutik jika suaminya sedang dalam mode hangat begini. Tapi... memangnya kapan Ayana bisa melawan atau menandingi Jackie?


Dia yang selalu mengalah selama ini. Memang dia kepribadian yang saling bertolakbelakang. Satu si keras kepala yang harus di iyakan. Satu si lemah lembut yang hanya bisa mengiyakan.


Bukankah seperti itu jodoh?


Saling melengkapi kekurangan dan memperbaiki kesalahan. Jika satunya menangis maka satunya harus bisa menghibur.


"Memikirkan kehidupanku selanjutnya. Jack... jujur saja aku bosan harus terus berada di rumah sendirian." Keluhnya.


Jackie mengeratkan pelukannya. " Lalu, kau mau bagaimana? mau bekerja? jadi sekretaris ku saja." Ucapnya.


"Tidakkah itu akan mengurangi kredibilitas dan juga wibawamu di hadapan para karyawan? Itu bukan pilihan bagus. Aku ingin membuka usaha saja."


"Usaha apa?"


"Emm... sepertinya membuka sebuah toko perlengkapan bayi cukup bagus prospeknya." Celetuknya.


Jackie memutar tubuh Ayana lalu menangkup wajahnya. Ada tipis kabut kesedihan disana. " Ay, apa kau ingin membuka toko itu karena ingin menyembuhkan hatimu dari kehilangan anak kita?"


Ayana mengangguk lalu memeluk erat tubuh suaminya. "Aku masih belum sepenuhnya merelakan. Aku.... Aku ..."


Ayana tak mampu lagi berkata-kata jiwanya selalu rapuh kala mengingat janin yang gugur, bukan hanya satu, tapi keduanya. "Aku juga tau kamu menyembunyikan kebenaran dari Dokter, dokter bilang kemungkinan ku untuk hamil lagi sangat kecil kan?" Ayana tergugu dalam dekapan suaminya.


"Jack, kalau aku tidak bisa hamil lagi. Jangan buang waktumu bersamaku. Kau bisa melanjutkan hidupmu dengan yang lainnya, yang lebih baik dan pantas dariku."


Sakit menusuk kalbu saat sebuah ucapan mampu menyayat bak sembilu. Ayana berbicara dengan bibir yang bergetar menahan tangisnya. Dia begitu remuk hingga tak berbentuk.


"Hei, sayang. Jangan bicara seperti itu. Sudah ku katakan, ada atau tidak ada anak bukanlah masalah. Cukup ada kamu sayang." Jackie berusaha untuk meyakinkan istrinya, membesarkan hatinya dan memberikan pemahaman bahwa bukan hanya anak yang menjadi kunci kebahagiaan suatu hubungan pernikahan.


"Itu ucapanmu saat ini. Tapi bagaimana dengan 20 tahun yang akan datang? kamu akan memandang iri teman-temanmu saat mereka membanggakan anak-anaknya." Ayana berbicara tanpa berani menatap netra sang suami. Dia begitu takut, memandangnya lama, itu berati melihat jauh kedalam lubang kesedihannya.


"No... no..... I'm happy with you. Just you okay." Jackie memeluk erat dan menciumi pucuk kepala Ayana.

__ADS_1


"Kamu mau buka toko perlengkapan bayi kan? Aku akan mengurusnya. Apapun asalkan kau tidak sedih begini. Dokter hanya berkata untuk kita agar lebih santai menunggu proses penyembuhan mu saja."


"Berapa lama? berapa tahun Jack?" Ayana menodongnya, kali ini tatapan mata mereka bertemu.


Ayana mencari kejujuran dari sana. Dari kedua netra yang begitu indah baginya. " Jujur padaku."


Jackie memainkan bibirnya, dia sendiri tidak tau berapa lama mereka harus bersabar.." 5 tahun, kamu akan sembuh dan kembali normal setelah 5 tahun. "


"Ah, aku harus mengulang dari awal lagi rupanya."


" Maaf, itu semua karena aku." Ucap Jackie. Tak Masalah baginya penundaan selama 5 tahun itu. Dia akan lebih takut lagi jika nyawa Ayana yang menjadi taruhannya.


Ayana menggeleng. " Tidak, harusnya aku bisa melawanmu saat itu. Tapi tidak, kau suamiku. Aku harus melayanimu sekalipun masih berada di atas kendaraan." Jawabnya menuturkan sepenggal ilmu fiqih yang ia ketahui tapi justru mendapatkan tanggapan lain.


Jackie tersenyum jahil. "Benarkah? aku akan mencobanya lain kali. Di atas kendaraan sepertinya asik." Dia sungguh senang.


" Mesum! itukan hanya perumpamaan. Bukan juga wajib di jalani."


"Ah, pokoknya mau coba."


" Terserah!" Kesal Ayana yang kemudian berlalu meninggalkan suaminya yang masih berimajinasi seorang diri.


"Ay, kalau begitu apa perlu kita pergi ke suatu tempat untuk mencobanya?" Pekik Jackie.


" Iya, kita harus memiliki rumah yang besar dan ada garasi yang luas sehingga kau bisa melakukannya di dalam mobil di pekarangan rumah kita sendiri tanpa takut dengan polisi." Ucap Ayana ngawur yang hanya malas meladeni pikiran nakal sang suami.


Ayana meletakkan gelasnya setelah meminum obatnya. Dia kemudian menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya.


Jackie langsung melompat kegirangan dan masuk kedalam selimut lalu membuka beberapa kancing baju Ayana. Tangannya sudah mulai menggeramang di segala sisi menyentuh sesuatu yang sintal.


"Ga bosen Jack?" Tanya Ayana pada sang suami yang sudah berada pada posisi ternyamannya.


"Em.... em..." Jackie menggeleng sedangkan tangan dan mulutnya sudah mulai bekerja aktif meraba dan menyesap sesuatu yang telah menjadi hak miliknya.


"Aku suka, inikan salah satu impianku sedari SMA." Ucapanya tanpa sadar.


"Apa?" Ayana melotot tak percaya. "Jadi sedari kamu SMA aku sudah termasuk kedalam objek fantasimu?"


Jackie tak menjawabnya tapi gayanya yang cengengesan mewakili segalanya. "Hehehehe!" Dia meringis tanpa dosa.


"Kenapa? tidak apa-apa kan? toh juga sekarang kamu jadi istriku."


"Iya... iya terserah itu juga sudah berlalu. Puas puaskan saja ya sebelum nantinya kamu bakal berebut sama anakmu." Celetuk Ayana.


"Tidak dong, aku yang kanan baby yang kiri." Cicitnya.


" Kalau anakmu kembar bagaimana?"

__ADS_1


" Em... bagaimana ya? Ah mereka minum susu formula saja." Jawabnya enteng.


"Egois, tidak mau mengalah!" Ayana berdecak kesal lalu hendak menutup bajunya.


"Ah, ah... jangan... Sekarang masih jatahku kan sampai 5 tahun?" Rengek Jackie.


"Hemh....! iya!" Ayana hanya bisa pasrah mengikuti kemauan suaminya.


Dalam hatinya dia menikmati semuanya. Kini dia mengerti mengapa Tuhan belum mempercayainya untuk memiliki momongan. Mungkin salah satunya karena ini. Tuhan tak mau anak Ayana tak kebagian susu.πŸ˜†.


...πŸͺ΄πŸͺ΄πŸͺ΄...


Pagi hari.


Apa yang kau cari saat bangun tidur?


Ayana : "Ponsel lalu melihat jam."


Jackie :" Istriku lalu sedikit bermanja-manja denganya sebelum memulai aktivitas lainnya."


Benar, sama seperti pagi ini dimana Ayana sudah sibuk mencari bajunya tapi Jackie masih menahannya.


"Mau kemana?" Jackie menahan pergerakan Ayana dengan merengkuh pinggangnya.


"Mau masak, kamu mau makan apa?" Ayana bertanya dengan tangannya yang terulur mengusap lembut lengan sang suami.


Memang begitu maunya dan begitu kebiasaannya. Jackie akan uring-uringan jika saat quality time nya terganggu di pagi hari.


"Sandwich sama jus jeruk." Jawabnya.


" Oke, sekarang bangun. Aku akan membuatkan." Jawab Ayana yang masih bertelanjang dada.


Tangan snag suami masih melekat pada salah satunya. " Charger sebentar boleh?"


"2 menit." Ujar Ayana memulai negosiasi.


" 7 menit." Jackie meminta kelonggaran.


"4 menit deal!" Final Ayana mengecup tangan Jackie.


Keduanya lalu kembali bergelung dengan saling tertawa geli. Rutinitas pagi yang selalu di jadikan sebagai afirmasi terbaik untuk menarik rejeki yaitu keharmonisan suami istri.


Di suatu tempat yang lain.


"Aku harus mencari cara untuk mendekati Wanita itu." Marvin menggumam berbicara pada tangannya yang saling berkait.


"Mis A... aku hanya mengingat itu. Awalan nama depanmu dan ternyata itu adalah kamu Ayana Jasmine. Kamu yang sudah menolongku. Satu-satunya manusia yang menolongku di saat mereka semua ingin membunuhku karena aku mencuri selembar uang untuk makan."

__ADS_1


"A... Aku ingin bisa bertemu denganmu. Tapi aku tak suka dengan suamimu.. Harus dengan apa aku menyingkirkan suamimu?"


__ADS_2