Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
119.


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Awan cerah menggelayut, berbaris rapi seolah tertata indah tanpa penyangga. Sepasang suami istri masih bergelung di dalam selimut tebalnya.


"Tidak pergi bekerja Pak, em...." Diah tertegun berhenti berucap saat sadar dia belum mempunyai panggilan yang baik untuk suaminya.


Alex bergeming, dia hanya menyipitkan matanya mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam pupilnya. "Pagi, istriku." Ucapnya yang tersenyum manis.


Ah..., Dia. Dia sekarang sudah menjadi suamiku. Rupanya Malaikat mendengarkan perkataan ku sewaktu aku bercanda dengan Bu Ayana. Tapi..., tidak seperti ini jalannya yang aku harapkan. Menikah tanpa restu. Batin Diah yang masih tenggelam dalam balutan selimut sampai setinggi dagu.


Semalam mereka melakukan penyatuan. Tentu Alex berani melakukannya terhadap istri sahnya setelah dia mencari tau banyak informasi dari sudut pandang agama.


"Panggil apa gitu selain Pak, serasa seperti satpam atau gurumu aku Di." Ucap Alex sambil tersenyum dan mengecup pipi sang istri.


Diah memainkan bibirnya, sungguh dia tidak tahu harus memanggil apa Ayah dari janin yang di kandungnya ini. "Em .. apa ya? Kamu maunya di panggil apa?" Tanyanya malu-malu.


Alex mendekat, mengikis jarak dan membawa sang istri kedalam pelukannya. "Apa ya, aku juga tidak tahu." Alex berbicara lirih dengan menempelkan bibirnya tepat di pipi Diah hingga pergerakan bibirnya dapat Diah rasakan.


Sebaiknya aku berkata jujur padanya, sebelum dia mengetahui hal ini dari media masa.


"Di, aku ingin berkata jujur padamu. Tapi tolong kau jangan memberikan reaksi yang berlebihan. Kasihan bayi kita." Ucap Alex tanpa merubah posisinya. Dia seolah sengaja mengunci pergerakan istrinya.


"Apa itu?"


"Kamu masih ingat Tata?"

__ADS_1


Diah terdiam Dia sangat mengingat Tata. Wanita yang di jodohkan dengan Alex setelahnya. Wanita yang berbeda kasta dengannya dan lebih segalanya daripadanya. "Tentu aku ingat. Kenapa?"


Alex mengecup pipi Diah lagi dan menarik nafasnya perlahan sebelum memulai kejujurannya. "Dia juga memiliki hubungan yang sama seperti kita, hubungan yang tak direstui dan di tentang oleh kedua orang tuanya." Diah terdiam menyimak cerita yang Alex sampaikan.


"Tapi, Ayah tirinya sangat jahat Di. Dia tega mencelakai pacar Tata hingga fatal dan, sekarang Pacar Tata di kirim ke Singapura untuk melakukan pengobatan." Alex terhenti sejenak dan kembali menciumi leher sang istri.


"Lalu?" Tanya Diah. Ada apa ini, kenapa perasaanku mendadak jadi tidak enak seperti ini?


"Pengobatan itu tidak gratis Sayang, Tata harus membayar mahal dengan menjual kebahagiaannya." Kata Alex yang membuat Diah tak mengerti.


Mengapa, selalu saja ada hal seperti ini? Selalu ada yang lemah dan tertindas sepertiku? Batin Diah bergemuruh terbawa cerita.


Alex kembali menciumi Pipi Diah. " Jangan terkejut, Ayah tiri Tata membuat kesepakatan dengan Ayah ku. Mereka mau menolong pacar Tata dan menyelamatkan nyawanya jika Tata dan aku menikah. Dan aku... aku tak punya pilihan. Jika aku menolak, maka keselamatan kalian juga akan menjadi taruhannya. Aku tidak bisa memilih sayang. Maafkan aku." Alex berbicara sudah dengan air mata yang jatuh berderai.


Diah merasa basah di pipinya dan itu bukan air matanya. Itu air mata suaminya, Alex sudah mengunci rapat pergerakan Diah hingga dia sama sekali tidak dapat berkutik. Diah ikut menangis, sayatan itu tepat menggores hatinya.


Sayang, Di... sungguh aku tidak ada pilihan. Aku melakukan ini demi masa depan kalian.


"Hhh...., rupanya ini yang mau kamu sampaikan? Lalu apa aku punya pilihan juga?" Diah seolah benar-benar kehabisan kata-kata. Lehernya tercekat dan matanya memanas.


"Sayang, Di... apa kamu tidak marah?" Alex melonggarkan pelukannya dan menatap lekat wajah sang istri yang menangis tanpa suara.


"Marah, sedih, kecewa, putus asa, itu yang ku rasakan saat ini. Tapi aku bisa apa? Mungkin memang aku di takdirkan untuk hidup menderita. Sedari kecil aku di hina, dan sekarang aku harus berbagi suami." Ucapnya dengan bibir yang bergetar menahan kelu.


"Sayang, Di... maafkan aku. Aku juga tidak menyangka jika Ayah akan seperti ini." Kata Alex.

__ADS_1


"Sifat manusia, tidak ada yang bisa menetap selalu sama. Sifat dan sikap akan berubah sesuai keadaannya." Kata Diah yang mengusap air matanya.


Diah menatap lekat kedua manik sang suami lalu mengecup keningnya. "Aku percaya padamu, Lakukanlah apa yang menurutmu itu baik. Jangan cemaskan aku. Sebab apapun itu yang akan terjadi hanya aku yang akan menanggung lukanya. Walaupun kamu tidak menikah dengan Tata, aku tahu akhirnya Kau juga akan meninggalkanku karena orang tuamu."


Alex tertegun dan Dia semakin menjadi dengan tangisnya dan memeluk erat sang istri yang berhati lapang. Bukan lapang, tetapi putus asa.


"Di... Sayang. I Love you..." Ucapnya dengan suara yang bergetar menahan tangis.


"Sudah, jangan menangis lagi. Ini sudah jalan kita. Cepat atau lambat kita juga akan berpisah. Jika tidak secara hidup maka secara maut." Kata Diah yang terdengar teramat memilukan.


"Jangan seperti itu sayang, aku berjanji apapun itu, aku akan memperjuangkan masa depan kalian. Dukung aku dan terimakasih untuk kepercayaan yang telah kamu berikan." Kata Alex.


Diah kembali mencium kening sang suami. "CUP!!" Diah tersenyum. "Aku percaya padamu Papa.." Ucapanya dengan menirukan suara anak kecil membuat Alex tersenyum dengan air mata yang terus mengalir.


Mereka berdua berusaha tersenyum dalam luka, berusaha terlihat baik-baik saja meski hati memendam lara. Keduanya saling berpelukan dengan ratusan pedang yang menghujam jantung dan hati mereka secara bersamaan. Terluka tapi tak berdarah, itulah kiasan keduanya saat ini.


Sementara itu di sisi lain.


"Hoek! Hoek!" Tata memuntahkan seluruh isi perutnya.


Ya, Tata tengah mengandung anak dari pacarnya yang saat ini tak tau dimana keberadaannya yang sesungguhnya. Masih hidup, ataukah sudah mati. Dan, semua pembicaraan mengenai pengobatan itu bisa jadi hanya tipu daya dari Ayah tirinya.


"Argh...!" Tata melemparkan alat test pack yang telah di pakainya dan bergaris dua ke lantai. "Nando, aku hamil sayang kamu harus tahu ini...!" Ucap Tata merintih sembari mengusap perutnya dengan tangan yang bergetar.


Di kepala Tata saat ini, Dia mengingat kembali masa kebersamaan dengan kekasihnya. Masa dimana keduanya merencanakan masa depan, dan semuanya terjadi tepat setelah Nando melamar Tata secara romantis di sebuah hotel.

__ADS_1


"Tata! Tata...!" Sang ibu mengetuk pintu dan juga memanggil manggil nama putrinya.


Tata Diam dan hanya bergeming di tempatnya dengan menatap tajam arah suara. Kamu Ibuku, Ibu kandung ku. Seharusnya kamu melindungiku dan mengutamakan kebahagiaanku. Tapi semenjak bersamanya, kamu mengabaikan perasaan ku. Mengabaikan putrimu. Lalu, apa masih pantaskah aku memanggilmu ibu?


__ADS_2