Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
103. Mau tambah?


__ADS_3


...~~~~...


Diah tak bergeming, bahunya turun naik seiring dengan suaranya yang tertahan. Dia kini menyesali keputusannya. Seharusnya dia mendengarkan ucapan Alex agar mengatakan semuanya nanti setelah mereka menikah. Tapi sekarang, semuanya sudah terlanjur.


Hati yang polos itu telah memiliki banyak sayatan. Kenyataan jika dirinya memang terlahir dari anak seorang pembunuh ayahnya tak bisa dipungkiri. Dan jejak itu akan selalu ada dan membekas dalam darahnya.


Haruskah ku ambil cek itu lalu pergi dan memperbaiki hidupku sendiri? Ataukah, aku harus terus bergantung kepada seseorang yang orang tuanya tak merestui?


Diah benar-benar dalam keadaan tersudut sekarang. Rupanya hal yang di junjung tinggi oleh keluarga Armanto memang bukanlah harta seseorang. Melainkan asal usul dan juga akhlaknya. Lalu diah? Diah berakhlak baik, hanya saja kisah lalu keluarganya yang tak baik.


"Cepat ambil cek itu sekarang, lalu pergi!" Afeksi memancar dari matanya, Ayah Dhani begitu marah sekarang. Dia merasa di tipu habis-habisan. Seharusnya sebelum menjodohkan, Kakaknya, Tante Agustin bisa mengetahui fakta lebih dalam tentang kandidatnya. Bukan malah begini.


"Ayah, tenang jangan marah-marah." Bunda Winda menenangkan suaminya.


Sebenarnya jauh di dasar hatinya Bunda Winda juga kecewa. Dia juga tak begitu mengenal masa lalu Diah. Yang dia utamakan adalah putranya yang menginginkan calon istri penurut yang tak bersolo karir.


"Apa kurang bagimu? katakan berapa maumu!" Bentaknya lagi.


"Aku ingin 3 kali lipat dari itu Tuan. Kurasa anakmu lebih berharga daripada jajaran angka yang tertera." Ucap Diah kemudian.


Gadis itu telah membuat pilihan dalam keadaan tertekan. Dia memilih untuk pergi dan memperbaiki hidupnya yang mungkin saja dengan janin yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.


"See! do you see that?" Ayah Dhani mengguncang lengan istrinya, mencoba untuk menyadarkannya bahwa calon menantu yang pernah di pilihnya tak ada beda dengan wanita-wanita yang mendekati putranya sebelumnya.


Bunda Winda melemas, tubuhnya merosot begitu saja. Harapannya Diah akan memperjuangkan putranya dan membuktikan bahwa penilaian Ayah Dhani terhadapnya tidaklah benar. Tapi apa ini? Apakah Diah hanya benar-benar memanfaatkan kekayaan Alex?


Ayah Dhani kembali ke kamarnya, meninggalkan istrinya bersama Diah.


"Diah, aku tak pernah berfikir kamu akan memilih ini. Aku kira kamu akan memperjuangkan putraku. Tapi apa? kamu tidak ada bedanya dengan mereka..!" Bunda Winda meraung meluapkan kekecewaannya. Dia menangis tersedu-sedu.


"Ini! dan segeralah pergi! jauhi putraku!!" Ucap Ayah Dhani yang melemparkan sebuah cek ke wajah Diah.


Diah hanya bisa menangis dan menelan kepahitan ini. Dia kini harus memperjuangkan hidupnya sendiri. Mungkin inilah saat yang tepat baginya untuk memperbaiki hidupnya. Dia memungut cek yang tergeletak di lantai, lalu pergi meninggalkan kediaman mantan majikannya.


Tak membawa apapun, Diah langsung menuju ke Bank. Dia mencairkan cek senilai 300 juta. Tidak menunggu lama, hanya setengah jam dan pihak Bank telah memberikan konfirmasi kepada Ayah Dhani atas penarikan sejumlah uang tabungannya.


"Lihat Bun, baru 30 menit. Dia sudah mencairkannya. Dia tidak selugu yang kamu pikirkan." Ucap Ayah Dhani yang duduk dan kemudian memijit keningnya pelipisnya yang berdenyut.


"Aku minta kamu diam akan hal ini. Aku hanya ingin menjauhkan benalu dari putraku. Jika sampai Alex tau tentang ini, maka lihat apa yang akan aku lakukan pada gadis itu." Ucap Ayah Dhani menghardik istrinya.


...~~~...


Diah membaca pesan dari transaksi perbankan miliknya. Tak pernah seumur hidupnya dia melihat jajaran angka begitu rapi berbaris dengan nominal yang cukup untuk memulai hidup baru. 300 juta, bagi Diah sudah sangat besar nilainya. Andai dia tau, bagi Alex jumlah itu hanya setara dengan harga jam tangannya.


Maafkan aku. Aku lebih memilih uang ini daripada kamu. Aku tersadar bahwa kita memang hanya di takdirkan untuk bertemu, bukan bersatu. Ucapan Ayahmu benar, apa jadinya bila kamu bersamaku? Aku hanya akan merusak citra baikmu. Predikatku adalah anak seorang pembunuh.

__ADS_1


Diah menangis selama dalam perjalanan. Dia begitu sakit atas hinaan orang tua Alex, tapi apa dayanya? Memang semua itu adalah fakta. Menampiknya tak akan membuahkan apa-apa.


Semoga saja aku tidak hamil. Tapi.... hari itu bertepatan dengan tanggal suburku. Ini sudah lebih dari 3 hari, menggunakan obat penangkal pun pasti sudah tak akan bisa. Hhhh.... Tuhan maafkan dan ampuni kesalahanku.


Tapi, setidaknya jika aku hamil. Aku akan memiliki seseorang yang berarti dalam hidupku yang akan menjadi penguat bagiku. Pikirnya.


...~~~...


"Kapan pulangnya?" Tanya Ayana melalui sambungan telepon. Dia sedang berbaring seorang diri di ranjang empuknya.


"Kamu, betah banget disana. Jangan-jangan ada em... em... ya?" Celetuknya mencandai suaminya.


"Em... em... apasih Ay? liat tuh batangan semua!" Jackie menyorot kamera ke arah Alex dan Gino yang tengah melakukan hal yang sama dengannya yaitu bertelfon ria.


Hanya saja Alex yang murung, sedari tadi dia kebingungan karena ponsel Diah tidak bisa di hubungi.


"Ha-ha-ha, batangan. Bisa main pedang pedangan dong?" Ucap Ayana frontal yang seketika membuat Jackie membelalakkan matanya.


"Ish, pikiranmu Ay.. siapa yang ngajarin?"


" Kamulah ..! Kamu kan si otak mesum." Jawab Ayana terbahak-bahak.


"Em, halal kan mesum sama istri sendiri?"


"Tapi kamu mesumnya dari sebelum kita Halal Jack." Sanggah Ayana mengingat memang sedari dulu sering sekali Jackie tiba-tiba memeluknya atau melakukan skinship layaknya sepasang kekasih. Ya, walaupun akhirnya membuatnya mendapatkan ketukan di kepala dari Ayana yang marah dengannya.


"Kamu ga minta temenin Kak Dita gitu Ay?" Tanya Jackie.


"Oh, kok Kak Gino ga bilang apa-apa?"


"Kata Kak Dita sih tunggu sampai kandungnya besar dulu. Pamali katanya." Jawab Ayana bersungguh-sungguh.


"Pamali? terus Bumali nya kemana Ay?"


"Bu malinya lagi main sama Pa Pati. Soalnya tadi Bu Pati tanya ke aku Jack, nyariin suaminya dia."


"Aish...." Jackie tertawa. "Ay...." Panggilnya.


"Iya sayangku ada apa tayang?" Ayana menggodanya dan menaiki ranjang dengan mengenakan pakaian tidurnya.


Kebiasaan Ayana saat tidur adalah, dia tidak akan memakai dalaman apapun. Dan sekarang saat dia menaiki ranjang terlihat dengan jelas pergerakan sesuatu yang bergelayut kesana kemari.


Jackie matanya jeli mengamati dan mengulum senyumnya. Kemudian masuklah satu pesan di ponsel Ayana dan dia memeriksanya.


*Ay, kamu sengaja vc sambil ga pake daleman🤔?*


Ayana membalasnya. Kini mereka saling menghadap ke layar tanpa suara seolah sedang dalam kondisi mute tapi sebenarnya tidak. Mereka akan saling menatap setelah membalas pesan dan menunggu reaksi dari lawan bicaranya.

__ADS_1


*Astaga, bisa-bisanya tuduhanmu itu. Iyalah aku ga pake daleman. Bukanya memang aku tidur selalu begini🌚?*


*Ay, sumpah tutup dulu pake selimut. Otakku nge-heng liat kamu begitu jadi kemana-mana ini. Tolonglah ay, jangan siksa aku😫.* Klik pesan terkirim.


Ayana tertawa membacanya. * Siapa yang menyiksa? memang aku selalu begini kan🤪?*


Ayana malah semakin menggoda suaminya dengan menyorot kamera ke pangkal paha dengan membuka sedikit kain sutra dari chemise yang dikenakannya.


*Astaga Ay... siapa yang ngajarin begitu😲?* Balas Jackie geram tapi jujur saja dia mulai terangsang.


Ayana lalu membalut tubuhnya dengan selimut dan kembali berbicara dengan normal. " Sudah ya sayang, good night. Love you!" Ucapnya kemudian mematikan Panggilan tanpa menunggu balasan.


Jackie hanya bisa mengusuk kepalanya gusar. Si dedek sudah terlanjur bangun dan tak ada pelampiasan. Jackie kemudian memilih untuk melakukan push up untuk meredakan has*atnya yang membutuhkan pelampiasan.


"Kamu kenapa malam-malam push up?" Tanya Gino yang hendak menuju ke kamar mandi.


"Ga papa, biar strong!" Jawab Jackie asal.


"Halah, nanti berubah jadi kangguru kamu. Liat badan udah 0ada berotot kayak gitu." Celetuk Alex yang duduk dan menata bajunya di dalam koper.


"Sudah siap? Mobil sudah menunggu di bawah." Ucap Gino menginterupsi adik-adiknya.


"Iya ayo." Jawab Alex datar.


"Let's Go!" Jackie terlihat begitu bersemangat dan berapi-api dia sudah tak sabar ingin membuka hidangan di rumah barunya.


Pukul 3 dini hari. Jackie menghubungi Ayana berulangkali. Hingga yang ke 12 kali, Ayana baru terbangun dan membukakan gerbang. Ayana masih dengan muka bantalnya dan mengenakan chemise di dalam kimono satinnya. Sungguh tampilan yang menggugah selera.


Ayana memiliki kebiasaan mengenakan parfum sebelum tidur. Baginya aroma parfum yang melekat di tubuhnya akan memberikan relaksasi tersendiri dan membuatnya lebih nyenyak.


Ayana membuka gerbang dan di lanjutkan dengan membuka garasi dengan sedikit berlari. Kini dia di kerjai balik oleh suaminya.


"Tin!" Jackie sengaja memencet klakson dan membuat Ayana berjingkat kaget.


"Iya, sabar!" Seru Ayana yang kemudian mendekat pada mobil Jackie dan membukakan pintunya. Dia ingin menyambut kedatangan sang suami di rumah baru mereka.


"Kamu pulang lebih awal satu jam?" Tanya Ayana yang malah mendapatkan tarikan tangan dan membuatnya terjerembab dalam pangkuan suaminya.


" Di dalam mobil?" Tanya Jackie dengan satu alis yang terangkat menantang dan mengingatkan sesuatu yang mungkin Ayana audah lupa.


"Ah...." Tak.sadar ayana mendes*h kala sesuatu sudah merayap di dalam pahanya. " Jack, sekarang?" Tanyanya yang kembali mengingat ucapannya terdahulu.


Tak menjawab, Jackie lebih memilih bergerak cepat mengabsen setiap jengkal kulit tubuh sang istri dengan bibirnya. " Kamu sengaja menggodaku kan tadi? sekarang... terima pembalasan dendam ku." Ucap Jackie yang menyeringai dan mendapatkan kecupan singkat di bibirnya dari sang istri kesayangan.


"Ah~.. !" Ayana melengkuh di titik terakhir membuat si pemilik keperkasaan menyeringai puas.


"Aku mau tambah." Kata Jackie.

__ADS_1


"Ta.... tambah?" Ayana melongo.


Hayohh loh, yang pulang kerja laper tuh Ay. Minta tambah🤭🤭🤭.


__ADS_2