Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
81. Tolong


__ADS_3

...🦢🦢🦢...


Temaram lampu penerang sebagai lentera dikala malam


semburat tipis remang hitam membuat suasana tenang.


Sepasang suami istri tengah berada di atas peraduan,


bukan untuk bercinta tapi hanya sekedar membagi kisah dan jalan hidup bersama.


"Ay, apa perutmu baik-baik saja? kapan kita akan kontrol lagi?" Jackie bertanya sambil menciumi perut istrinya yang mulai membuncit.


Lembut dan sayang Ayana mengusap kepala lelaki yang dahulu merupakan satu-satunya mantan pacarnya.


Laki-laki yang dahulunya sempat membencinya karena kesalahpahaman.


Laki-laki yang tak bisa mengontrol emosi karena kecemburuan.


"Em...dua hari lagi kita kontrol. Kenapa?"


"Baiklah. Jam berapa?" Jackie kembali bertanya sambil memainkan ponselnya.


"Jam 11 siang." Jawab Ayana yang juga sibuk membaca artikel tentang nama-nama bayi.


Siapa sangka jika pria bertubuh kekar bergigi kelinci itu ternyata tengah memasang pengingat di ponselnya untuk menemani sang istri memeriksakan kehamilannya. Dia begitu senang, ternyata keadaan istrinya baik-baik saja walaupun dokter memberikan vonis yang kejam.


Begitulah, terkadang apa yang di khawatirkan manusia malah baik-baik saja, dan apa yang tak dianggap sebagai suatu ancaman justru itulah uang bisa membuat karam.


"Kenapa, mau ikut?" Ayana bertanya dengan lembutnya, tangannya masih memainkan surai lelakinya.


"....." Jackie mengangguk lalu mengecup punggung tangan sang istri.


Aku ingin kita tetap harmonis seperti ini sampai rambut kita memutih. Menua bersama dengan melihat tawa anak dan cucu kita.


Jackie menatap teduh kedua netra yang terlihat indah.


" Mengapa melihatku seperti itu? apa ada yang salah di wajahku?" Ayana memegangi wajahnya. Dia meraba dan mengira ada sesuatu yang menempel di wajahnya.


"Kemarilah ku ambilkan." Kata Jackie yang kemudian duduk dan mendekatkan wajahnya mengikis jarak semakin tipis dan semakin dekat.


Ayana mendekat. dan.....


CUP!


Kecupan hangat mendarat mulus di keningnya. Ayana terkikik geli setelah mendapatkannya.


" Kau jadi manis begini pasti meniru adegan di salah satu drama ya?" Tebak Ayana masih sambil tertawa.


"Hahaha! siapa? tidak aku tidak begitu. Aku hanya ingin bersikap manis saja. Nak, lihat bunda mu ini, dia selalu meragukan Ayah." Adunya kepada calon bayi mereka.


"Ih, dasar tukang ngadu." Ayana memutar bola matanya malas dan kemudian mengusap perutnya. " Nak, nanti di saat kau lahir jadilah seperti Ayahmu ya. Dia kuat dan berpendirian, jangan seperti Bunda. Bunda ini cengeng dan mudah di bodohi."

__ADS_1


"Itu karena kau yang terlalu baik sayang." Jackie mencubit gemas hidung sang istri lalu mereka tertawa bersama. Sungguh pemandangan yang indah kan? suami istri akur dan saling berbagi.


emmm so Sweet...🤗.


Semenjak ada Bu Sri, rumah tak lagi sepi. Kini Ayana punya teman untuk mengobrol, dia tak lagi terlalu stres dan keadaannya pun kian membaik tidak sebegitu lemah saat seperti di awal kehamilan.


Kini Ayana sudah bisa berjalan-jalan seperti biasa setelah selama 5 bulan hanya full bed rest. Kini waktunya untuk dia bisa menghirup udara segar.


Tepat sore hari saat matahari mulai menunjukkan pesona jingganya. Ayana dan Bu Sri memutuskan untuk berjalan-jalan. Mereka memesan taksi dan memutuskan untuk sekedar memutari area taman dekat apartemen.


Tak lupa, Ayana juga membawa rujak dan beberapa camilan. Dia menikmati perjalanan sederhananya.


"Nak, bagaimana sudah menemukan nama untuk calon bayimu?"


"Em..." Ayana mengunyah rujaknya. "Belum Bu, itu sangat susah. Semuanya bagus-bagus Aku sampai bingung." Ayana kembali mengunyah rujak buah.


Saat keduanya masih saling berbincang, Shaga yang entah darimana datangnya kemudian menyapa Ayana dengan sumringah.


" Ay!!" Serunya yang melambai dari kejauhan dan tersenyum lebar.


Dengan menggunakan setelah serba hitam Shaga kemudian berdiri di depan Ayana. Ayana pun menyambut senang, sebab jika waktu itu tidak ada Shaga, maka entah bagaimana nasib Ayana dan kandungannya.


Tapi ada yang berbeda saat Shaga menyapa Bu Sri.


" Bu.." Sapa Shaga sambil tersenyum.


"I... iya..." Wajah Bu Sri menjadi pucat pasi. Dia seolah ketakutan melihat Shaga.


Ayana yang sadar akan hal itu kemudian menepuk pundak Bu Sri. " Ibu, ada apa? ada apa? kenapa Bu?" Ayana mengguncang perlahan lengan Bu Sri.


" Hai, Ay. Apa kabar? lama ya kita tidak bertemu. Bagaimana kandunganmu?" Tanya Shaga begitu antusias saat bertemu dengan Ayana.


Ayana mengulurkan tangannya dan mereka berjabat tangan. " Aku Baik Ga. sedang apa disini? dengan siapa?" Tanyanya sambil memperhatikan sekitar.


Takdir yang rumit. Ay, ibu doakan semoga kamu kuat menjalani takdirmu. Batin Bu Sri menatap Ayana dan Shaga yang masih berjabatan tangan.


"Ooh, aku hanya kebetulan sedang lewat saja. Kau?" Shaga menaikkan kedua alisnya.


Ayana tersenyum lalu mengusap lembut perutnya. " Hanya sedang mengajaknya pergi jalan-jalan. Aku sudah lebih baik sekarang."


Jika ku pikir-pikir banyak sekali kebetulan yang melibatkan dia. Pertama secara kebetulan kami bertemu di rumah sakit, lalu aku menang undian dan kedua dia yang menolongku saat aku sedang pingsan. Dan sekarang? Apa ini mengapa aku merasa tidak enak? aku takut akan ada hal buruk yang menimpaku sebentar lagi? Saat Ayana masih membatin, Bu Sri lalu mengusap punggungnya. seolah menenagkan.


Ay, jika ku katakan sekarang, mungkin kau tidak akan sanggup. Jadi lebih baik aku diam dan tak mendahului takdir. Aku hanya berdoa untuk keselamatanmu dan juga suamimu. Semoga hanya yang terbaik yang menghampirimu. Bu Sri hanya mampu berucap dalam hatinya.


Mereka berbincang ringan dan kemudian hari sudah semakin sore. Ayana memutuskan untuk pamit dan Shaga masuk duduk di bangku taman. Dia seolah tengah menikmati kesendiriannya.


" Aku duluan ya, Bye!!" Ayana melambai.


" Iya, bye...!" Balas Shaga.


Saat Ayana sedang menunggu datangnya taksi, Shaga dia tiba-tiba berlari dan memeluk Ayana dengan eratnya.

__ADS_1


" Shaga! kau.. ! tidak sopan sekali!!" Ayana mengomel dia sangat marah tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.


Shaga hanya tersenyum dan kemudian jatuh tersungkur karena Ayana yang mendorongnya. Dan Bu Sri, wanita paruh baya itu masih sangat terkejut. Dia berdiri mematung dan seakan kehabisan suara bahkan untuk sekedar berteriak meminta tolong.


Saat Shaga ambruk tertelungkup, barulah Ayana tau apa yang terjadi. Dia melihat sebuah belati kecil menancap di pinggang Shaga mengukir luka menganga membuat darah segar mengalir di atasnya.


"Shaga!!! Tolong!! tolong saya!!" Ayana berteriak meminta tolong dia begitu panik. Dan seketika orang-orang berlarian menghampirinya memberikan pertolongan.


Ayana bahkan sampai melupakan keadaannya yang baru saja membaik. Dia begitu panik dan ikut mengantarkan Shaga ke rumah sakit.


Selama dalam perjalanan Shaga di tempatkan di bangku tengah dengan Ayana yang memangku kepalanya. Shaga hanya bisa berbaring dengan posisi miring.


" Ay, jangan panik. Aku belum mati. Ini hanya luka tusuk." Kata Shaga dengan begitu entengnya seolah sudah biasa baginya mendapatkan luka seperti itu.


Ayana memukul lengan Shaga dengan refleks. Bisa-bisanya mulutnya berkata seperti itu di saat genting seperti ini?


Bu Sri, dia segera mengabari suami Ayana. Dia menceritakan semua kejadian bagaimana ada motor yang melesat cepat dan kemudian dengan sengaja menghunuskan belati kecil. Sangat jelas sasarannya adalah Ayana dan untungnya Shaga datang di waktu yang tepat. Meskipun itu membuat pinggang bagian belakangnya robek.


"Ah, mulutmu itu! kau begini karena aku!" Ayana berdecak kesal. Tak lama kemudian Ayana mengerang kesakitan.


"Ga, perutku sakit ga.." Rintihnya sambil meremas tangan Shaga yang di genggamannya saat menangis melihat keadaan Shaga tadi.


Shaga panik, tapi juga dia tak lebih baik bahkan kini dia mulai merasakan sakit yang menjalar bahkan walau hanya sedikit membuat pergerakan.


"Pak, cepat antarkan kami kerumah sakit!!" Shaga berteriak pada sopir taksi.


" Pak, cepat...!" Bu Sri menangis sejadinya dan meminta sopir menambah kecepatan.


Sungguh malang, saat menambah kecepatan kendaraan, sopir yang ikut panik menjadi hilang kendali. Dia menabrak beton pembatas jalur. Kecelakaan tak terelakkan.


Klakson mobil terus berbunyi bersamaan dengan asap yang mengepul dari kap depan mobil.


Disini, hanya Shaga yang masih bisa bergerak. Dia memeriksa keadaan yang lainnya dengan susah payah.


Pertama kali yang dia periksa adalah Ayana dan matanya langsung tertuju pada kaki Ayana yang sudah bersimbah darah. Setelah menabrak, mobil sempat terguling dan terpelanting dua kali hingga ringsek.


Sungguh, sehebat-hebatnya manusia, tak ada yang sanggup mengubah takdir. Bu Sri dan sopir sudah tak memiliki detak nadi lagi. Shaga yang pandangannya juga kabur tertutup cairan merah kemudian merangkak dan mendekati Ayana. Diperiksanya dan di dapati wanita pujaannya masih bernyawa.


" Terimakasih Tuhan, kau masih memberikan kami keselamatan." Lirih Shaga menangis sambil memeluk dan mencium Ayana.


Persetan dengan status, persetan dengan istri orang. Baginya Ayana tetaplah wanitanya. Shaga keluar melalui jendela yang sudah tak berkaca. Perlahan dan berlomba dengan waktu, dia berusaha mengeluarkan Ayana.


Tak ada satupun orang yang berani mendekat dan menolongnya, sebab percikan api sudah mulai nampak dan kian membesar.


" Tolong aku!! apa kalian buta?" Shaga berteriak memaki orang-orang yang hanya melihat dan bahkan sebagian merekamnya dari kejauhan.


Inilah hebatnya tekhnologi, jika ada yang membutuhkan pertolongan maka usahakan merekam yang di utamakan. Bukankah begitu kawan-kawan?


Shaga mengabaikan rasa sakitnya. Dia berjalan dengan terseok-seok, dengan mulut dan kepala yang berdarah tapi dia tetap membopong Ayana.


Tepat beberapa menit setelah Ayana berhasil di selamatkan mobil taksi yang ringsek itu kemudian meledak dan terbakar hebat.

__ADS_1


Dan ambulance juga polisi tiba setelahnya.


Agak-agak kasih action dikit lah ya, biar ga flat🤭.


__ADS_2