Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
68. Gino ( Hadiah kecil )


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


Suara televisi menyala menjadi penonton si manusia yang terlelap dalam damainya.


"Kenapa harus aku sih? apa saudara atau kerabatnya yang lain tidak ada yang tau kalau dia sakit? padahal kan Bu Ayana juga di rawat disini." Diah mendumel perlahan sambil memainkan ponselnya.


Alex dia berbaring dan menyunggingkan senyum liciknya. Tidak ikhlas? atau terbakar cemburu? Batinnya senang. Tanpa Diah sadari.


"Kalau bukan karena Bu Jihan juga punya poin untukku, aku tidak mau di tugaskan untuk menjaga pacarnya yang rewel ini." Diah menatap malas Alex yang pura-pura memejamkan matanya.


"Hoamz....! lebih baik aku tidur." Ucapnya seorang diri dan mulai mencari posisi nyaman untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya.


Wanita lain berebut untuk menjadi nyonya Alex. Tapi kau gadis kecil?


kau malah menolakku padahal aku tau keadaan ekonomimu sedang sulit. Alex menerawang menatap jauh kedalam gurat lelah Diah.


Alex terjaga dan mengotak-atik gawainya. Ia sibuk mencari tuntunan dalam menaklukkan hati wanita yang angkuh.


Tapi..., satu hal yang harus dia pahami. Diah bukan wanita angkuh, tapi Diah adalah wanita pekerja keras yang menjunjung tinggi harga dirinya.


Baginya uang bukanlah segalanya.


" Harus bersikap manis dan memberikan perhatian kecil contohnya seperti membersihkan sisa makanan yang menempel di bibir, membenarkan rambutnya atau memberikan makan dan minuman saat dia kehausan." Alex membaca tips yang terdapat pada sebuah laman.


"Ini kenapa lebih mirip dengan menjadi pengasuhnya? memberikan makan dan minum, membenarkan rambut? Ah.... tidak, tidak," Alex menggeleng beberapa kali mengusir pikiran anehnya sendiri.


"Dekati secara alami dan berikan bunga." Bacanya lagi.


"Bunga?" Alex terdiam menerawang memikirkannya. "Kalau perhiasan saja ditolaknya apalagi bunga?" Pikirnya lagi.


"Aku Alex Putra Armanto berjanji akan menaklukkan kau si gadis kecil pembangkang!!" Lirihnya menggumam sambil menunjuk Diah yang tertidur lelap.


...🍁🍁🌼🍁🍁...


"Puas?" Tanya Dita dengan tatapan matanya yang menghakimi Gino yang tengah duduk di hadapannya dengan raut wajah suram.


"Kalau tidak ada yang perlu di bicarakan lagi... bolehkah aku pergi?" Tanya Shaga sambil berdiri dan mengibaskan tangannya untuk merapikan ujung kemejanya.


Dita sungguh tak enak hati, lebih tepatnya dia malu akan sikap suaminya yang terlalu mudah menjuri tanpa mengamati. Kedekatannya dengan Shaga hanyalah sebatas mengenal nama dan tak lebih.


"Oh iya, silahkan. Apa kau akan menjenguk Ayana?" Tanya Dita sekedar memastikan.


Shaga tersenyum dan mengangguk jangan lupakan tatapan matanya yang teduh penuh keyakinan.


"Jangan lama-lama! kau tau kan JK kalau cemburu seperti apa?" Seru Gino yang tiba-tiba ikut berbicara setelah sekian lama terdiam setelah kemarahannya salah sasaran.


Dita seketika memandang jengah suaminya dengan bibir yang mengatup erat dan matanya yang tajam seakan dia sedang berteriak dalam hati. Please...!! Hentikanlah...!!


"Ah, JK.... dia jauh di bawahku." Desis Shaga meremehkan dan berlalu pergi.


Dita kembali menatap Gino meminta pengertiannya agar mengurangi sikapnya yang kekanakan.


"Apa? Apa?" Cecar Gino sambil menaik-turunkan alisnya seakan tengah menantang Dita untuk berduel.


"Cih...!" Dita berdecih lalu memutar bola matanya malas. "Kekanak-kanakan!" Ejeknya kesal.

__ADS_1


"Apa katamu? kekanakan?" Gino berdiri seketika lalu berkacak pinggang dan bersiap untuk menceramahi istrinya.


"Eh, aku begini karena kau istriku! Kalau kau itu hanya sekretaris ku maka tak akan aku khawatir sampai sejauh ini. Apalagi yang kau anggap teman baru itu adalah Shaga em... maksudku adalah Yogi."


"Apa tadi katamu? kau khawatir?" Dita mengulang apa yang Gino ucapkan.


Wajah Gino menjadi tegang lantaran kelepasan bicara. " Iya..., kenapa memangnya?" Cetusnya menaikkan nada suara untuk menutupi kegugupannya.


Dita tersenyum senang, dia berjingkrak lalu memeluk Gino. " Apa kau sedang cemburu? Kau mencemburuiku?" Tanyanya dengan wajah menggoda.


Ah, apa apaan dia bertingkah sok imut begini.


Dan apa itu kenapa matanya mengedip seperti itu? Apa dia sakit mata? Batin Gino.


Gino menepis pelukan Dita. "Biasa saja!" Ketusnya kemudian kembali duduk di tempatnya semula. " Jaga sikapmu, lihat banyak orang disini!" Lagi Gino memperingati.


" Kenapa?~~~" Desis Dita dengan suara mengayun dan menaikkan alisnya. Sungguh wajah yang minta di tonjok.


"Apa salahnya berlagak sok imut di hadapan suami?"


" Tidak ada yang salah! Aku yang salah!" Ketus Gino yang malas memulai perdebatan dan memilih menyalahkan diri sendiri. Bukankah memang seharusnya begitu? Wanita memang selalu benar?


"Baguslah kalau kau tau." Cicit Dita yang kemudian duduk di hadapan Gino.


Saat Dita duduk, Gino segera bangkit dan berjalan meninggalkannya. "Mau kemana?" Seru Dita setengah berteriak.


" Pulang! aku lelah!" Sahut Gino tanpa menoleh dan berbalik badan.


...🍁🍁🌼🍁🍁...


...POV Ayana....


Sungguh membosankan berada di ruangan ini sendirian. Kemana perginya mereka? bahkan Diah juga tak menjengukku.


Bosan? tentu aku bosan apalagi dengan ponselku yang tertinggal dan itu semakin membuatku kekurangan alat untuk mengurai kesetresan.


Apa yang kulakukan di saat bed rest begini selain makan, istirahat dan minum obat? Jawabannya tidak ada!


Tidak ada yang bisa kulakukan selain itu. Dikepalaku saat ini, hanya bergelut dengan bagaimana, bagaimana, dan bagaimana.


Bagaimana jika suamiku tau yang sebenarnya?


Bagaimana bila benar nantinya aku akan pergi untuk selamanya?


Bagaimana nantinya nasib anakku tumbuh dan berkembang tanpa sosok ibu?


Sederet pertanyaan dan bayang-bayang itu terus menyeretku untuk tenggelam dalam kubangan kesedihan.


Apa yang ku khawatirkan sejatinya belum tentu akan terjadi. Tapi.... kekhawatiran itu terus menyelimuti seperti malam yang berselimut pekatnya hitam birai tak berwujud.


Tanpa ketukan pintu, tanpa kata permisi, sesosok laki-laki sudah berdiri di ambang pintu dan memanggil namaku.


"Ay....?" Serunya dengan suara yang serak dan berbeda.


Dia adalah suamiku. Ya.... orang yang berdiri dengan wajah sendu dan tatapan sayu itu adalah suamiku. Ada apa dengannya? mengapa wajahnya terlihat begitu sedih?


"Sayang?" Tuturku sedikit terbata juga terkejut pastinya.


Dia tak bicara setelahnya, tapi hanya menghambur dan memelukku dengan begitu eratnya. Aku tak mengerti mengapa dia bersikap begini.

__ADS_1


Bukankah seharusnya kau marah?


Seharusnya kau marah karena aku telah berbohong. Jackie yang ku kenal, dia akan mengomeli ku habis-habisan dan melakukan hal-hal yang di luar dugaan saat marah.


Tapi ini? dia malah memelukku? dan tangannya tak berhenti mengusap suraiku. Ada apa? sungguh aku bingung di buatnya. Tak tau harus sedih atau senang sekarang.


"Ada apa?" Tanyaku memberanikan diri dengan berbicara sambil menangkup wajahnya. Aku ingin melihat jauh kedalam matanya akan apa yang sebenarnya tengah dia rasakan. Mengapa dia terlihat begitu sedih?


Masih saja dia bungkam dan hanya menatapku teduh berkabut kesedihan.


"Ada apa?" Tanyaku lagi. Hatiku ikut gusar dan gelisah saat dia seperti ini. Dia menularkan hawa tak nyaman sekarang.


"Tidak...." Jawabnya singkat lalu menggeleng dan tersenyum menatapku. " Aku hanya merindukanmu."


Tunggu, tunggu dulu.


Dia ada disini bersamaku dan mengatakan rindu?


Siapa yang memberitahukan keberadaan ku padanya. Dan juga dia sama sekali tak bertanya sakitku apa?


Bagaimana bisa?


Siapa yang mengantarkan? Apa dia sudah tau semuanya? Sumpah aku jadi semakin was-was sekarang.


...🍁🍁🌼🍁🍁...


Di kediaman Gino.


"Marah, marah tidak jelas. Padahal si Shaga itu orang baik mau dia bernama Yogi, yoga, Yoyo atau apalah tak penting! Yang penting orangnya baik. Ti……tik." Berisik Dita berbicara sendiri sambil membereskan koper Gino.


Tangannya berhenti kala menyentuh sesuatu, suatu benda yang menarik perhatiannya. " Apa ini?" Dita bertanya kepada dirinya sendiri. Tentu saja tidak tau, kalau mau jawaban ya tanya dengan suamimu saja langsung.


"Suamiku……! Yuhu………! Suamiku……!" Dita memanggil Gino yang tengah bersantai di depan TV.


"Apa?" Ketus Gino menyahut sambil memindahkan cenel siaran.


" Tatap mata saya." Ucap Dita menirukan gaya bicara seorang pesulap bercirikan kepala pelontos. Dita mendekat tepat di hadapan Gino dan membuat Gino otomatis melihatnya.


"Cek...!" Gino hanya berdecak lalu menggeser duduknya. " Menganggu ah!" Cibirnya.


"Suamiku..., apa ini?" Tanya Dita yang pantang menyerah.


"Tidak lihat itu gelang platinum?" Tandasnya kesal. Rasa kesalnya masih awet walaupun sudah berselang beberapa jam setelah perdebatan siang tadi.


"Em.... Tapi ini gelang wanita kan? Untuk siapa?" Lagi Dita bertanya dengan wajah penuh harap.


Gino berbaring dengan berpindah posisi dan kini kakinya ada di belakang pinggang Dita. " Aku punya istri, ya tentu untuk istriku. Itu hadiah saat aku memenangkan game kemarin. Kalau kau suka pakailah, kalau tidak buang saja. Kotak sampahnya disana!" Ketusnya berbicara tanpa melihat lawan bicaranya dan menunjuk kotak sampah di akhir frasa.


"Gelang sebagus ini masa iya mau ku buang. Apa ini asli?" Terlihat binar kebahagiaan di wajah Dita.


"Hem!" Jawab Gino tanpa ekspresi.


"Ah, makasih Bapak.." Cicit Dita yang kemudian memindahkan kaki Gino hingga berada di pangkuannya lalu memijatnya sambil tersenyum senang.


Gelang.


Kenapa kau harus memilih gelang? Dari hadiah pasti banyak pilihan. Aku sudah hapal karena aku juga dulu merupakan bagian dari panitia. Setiap hadiah pasti memiliki dua opsi. Untuk pria atau wanita.


Tapi kau memilih ini untukku dan dari hasilmu bertanding di game?

__ADS_1


Kya....! Apa kau mulai menyukaiku Pak?


Hadiah kecil ini menggetarkan hatiku.πŸ₯°. Batin Dita berbunga-bunga.


__ADS_2