
ππππππππππππππ
"Di, aku mohon, jangan pergi lagi."
"Aku berbeda denganmu, jadi tolong jangan ganggu hidupku lagi." Dih memberontak dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Alex.
Sia sia, usahanya sungguh sia sia dan hanya membuatnya menyerap hawa panas dan berpeluh ria. Pada akhirnya ALex lah pemenang sejatinya.
"Aku sadar tuan aku ini hanya anak pembunuh. dan benar apa yang ayahmu katakan. Jadi tolong, jangan buat hidup kami menderita."
Alex, dahinya mulai berkerut dengan matanya yang memicing menuntut penjelasan lebih dalam.
"Kami? katakan kami siapa yang kau maksud? apa benar yang Bunda katakan kau sedang hamil?" Cecar Alex mencari kejujuran.
Tadi, sewaktu Bunda Winda datang untuk menemui Alex, Dia memberikan kabar tentang keberadaan Diah.
Ternyata apartemen yang di sewa oleh Diah adalah apartemen milik anak dari teman arisan Bunda Winda. Oh, dunia yang begitu sempit dan semuanya bisa serba kebetulan.
Bukan kebetulan, tapi semuanya sudah Takdir Tuhan Sang pencipta alam.
Seharusnya tak ada yang rahu perihal kehamilan Diah, Tapi lagi lagi tangan Tuhan yang bermain. Dia menggerakkan seseorang untuk berjiwa kepo dan bertanya pada apoteker tentang apa yang di beli Diah.
Siapa lagi jika bukan si pemilik flat? Darinya juga lah yang turut dalam kegiatan acara arisan sang Mama mengetahui tentang kemungkinan Diah hamil.
Semuanya terangkai dan terhubung layaknya benang kusut. Tapi itulah realitanya hidup. Semuanya saling terhubung meski tanpa ujung.
Diah bercucuran air mata, baru saja bersama dan menerima luka dengan bahagia, dan kini ALex datang kembali. satu yang diah takutkan, Alex dan keluarganya hanya menginginkan anaknya saja dan bukan dengan dirinya juga.
__ADS_1
"Tuan, aku mohon, tinggalkan aku dan anak ini. Aku tidak memiiki siapapun selain dia. Kumohon, biarkan aku lepas dan bahagia
bersamanya."
Sakit sungguh sakit, Perih teramat perih. Hati Alex remuk mendengarnya. Seharusnya Diah mengiba meminta pertanggung jawaban, tapi dia justru ingin mebesarkan anaknya meski tanpa sosok Ayah.
Tak cukupkah Dia hanya pergi lalu kembali bersama? tanpa membuat sayatan atau goresan luka yang terendap dalam kata?
"Tidak! Dia bukan anakmu, Tapi ANAKKU!!" Alex menekankan kata ANAKKU yang daam artian menunjuk pada makna keegoisan seorang lelaki yang enggan berbagi.
Diah menangis kian menjadi. Tubuhnya merosot ke lantai lalu memeluk kaki Alex. Bukan harga diri lagi yang Dia pikirkan, Tapi sebuah asa di masa depan dimana Dia dan anaknya bisa hidup bersama.
"Aku mohon Tuan Alex, kasihanilah aku, Aku berjanji tidak akan pernah muncul di hadapanmu ataupun keluargamu lagi. A... aku...." Belum selesai Diah berbicara, Alex sudah ikut berlutut dan memeluknya lalu ikut menangis dan menciumi wajah sembab calon ibu dari anaknya.
"Dia bukan hanya anakmu sayang, tapi anak kita...!" Seru Alex menaikkan nada bicaranya degan emosional lalu memeluk Diah begitu eratnya. "I LOVE YOU Di...." Ucapnya sangat emosional.
Alex menatap lekat netra yang memburam karena air mata. Netra yang selama ini sangat di rindukannya.
Diah menggeleng cepat dan melepaskan pelukan Alex. "Tidak!! tidak!! kita tidak boleh bertemu seperti ini, aku sudah mengambil uang dari Ayahmu." Diah berbicara dengan tatapan hampa, terlihat sekali dia sangat ketakutan.
"Aku tidak aka punya apa apa lagi jika nantinya dia menuntut dan meminta kembali uangnya. Tolonglah mengerti aku." Diah sampai menangkupkan kedua tangannya seolah menyembah.
Alex sangatlah kacau dan semakin saat saat mendengarkan pengakuan Diah pasal uang yang diterimanya untuk menjauh selama-lamanya. Alex yang mulai kalut lalu meraup dan ******* bibir Diah dengan begitu kasarnya.
Diah terperanjat lalu mencoba untuk mendorong Alex. Tapi nihil, si pemegang sabuk hitam di sebuah perserikatan ilmu beladiri itu nyatanya lebih kuat dari segala sisi.
Diah bergeming, Dia lemas, hanya saja kini bahunya yang turun naik menyiratkan dalamnya sayatan hati yang tengah ia rasakan.
__ADS_1
"Kita kawin lari. Aku tidak mau mendengar sisi egoismu lagi. Dia juga anakku, dan aku tak akan bisa berpisah dari kalian. Malam ini juga kemasi barang mu, besok pagi kita menikah."
"Jangan, jangan seperti ini. Tuan hanya akan menderita jika bersamaku. Aku ini pembawa sial!" Diah semakin menjadi dalam tangisnya.
Baru satu bulan yang lalu dia mulai menata semuanya dan kini harus berantakan lagi? Tak bisa ku bayangkan bagaimana kacaunya dai sekarang. Sungguh Diah si gadis yang malang.
"Aku tidak mau Tuan menjadi buruan Tuan besar."
BLAM!!
Ucapan Diah membuat Alex tersadar. Hampir saja Dia menjadi rugi dalam segala sisi. Jika Dia tergesa gesa, sudah pasti hal itu akan menarik perhatian sang Ayah. Kini berkat Diah, Alex menemukan suatu cara yang lembut dan sangat hati hati, juga minim resiko tapi tinggi peluang kesuksesan.
" OK!! FINE!!" Terimakasih DI... teguranmu membuatku memiliki ide baru.
"Tapi tetap, besok Kita akan menikah." Ujar Alex.
"Tapi aku sedang hamil." Diah menatap sendu Alex, kini ir matanya perlahan surut. Tapi belum dengan isakkannya.
"Kita akan menikah Dua kali, yang pertama untuk mengakui anak ini." Alex mengusap perut rata Diah. "Dan yang kedua setelah anak ini lahir. Yaitu dimana aku benar benar akan menikahimu setelah selesai masa nifasmu."
Diah terdiam sejenak. Dala hidupnya tak ada pilihan bagus sama sekali, yang ada hanya perjuangan dan pertarungan untuk menuju akhir yang bahagia.
"Menikah saat ha dalam islam memang sesuatu yang rumit. Pernikahan harus terjadi dua kali yaitu untuk menikahi sang anak dan kemudian sang ibu. Dan sebelum selesai masa nifas, maka mereka sama sekali tidak boleh melakukan penyatuan. Katanya sih itu juga. Nanti aku cari tahu lagi." Kata Alex sambil mengusap pipi Diah. Tangannya kemudian memainkan benda pipih ajaibnya dan menemukan satu artikel.
Dalam artikel tersebut ternyata menjelaskan ada banyak perdebatan akan hal ini. Dan Alex mengambil jalur mudah untuk segera menghalalkan Diah.
[Pernikahan tersebut diperbolehkan menurut mazhab syafiiah selama pernikahan tersebut memenuhi syarat nikah dan adanya ijab kabul. Ulama syafiiah juga berpendapat bahwa wanita menikah saat hamil tidak memiliki masa iddah.
__ADS_1
Pendapat tersebut hampir sejalan dengan pendapat Ulama hanafiyah bahwa pernikahan wanita saat hamil hukumnya sah apabila ia menikah dengan pria yang menzinainya dan memenuhi syarat maupun akad nikah.
Ulama Hanafiyah berpendapat demikian karena mengacu pada ayat Al qurβan bahwa wanita yang hamil bukanlah salah satu wanita yang haram untuk dinikahi. Hal ini disebutkan dalam Al qurβan surat An Nisa ayat 23].