Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
32. Perlahan.


__ADS_3


"Huhu Huhuhu...! Aki kotor, aku hina." Desis Dita yang menangis terisak meratapi ciuman pertamanya.


"Dita, maaf. Itu hanya ciuman sekilas, bukan ciuman yang sebenarnya." Kata Gino dengan mengusap perlahan lengan Dita.


"Jangan sentuh, aku sudah ternoda." Lagi cicit Dita meratapi nasibnya.


"Oh, astaga! Dita Andini, aku hanya menciummu bukan memperkosamu!!" Gino merasa gemas sampai sampai dia berbicara dengan menggertakan giginya.


"Ta... Tapi, itu ciuman pertamaku. Hua....! Hua...!"


"Arghh...! astaga!!" Gino meremas rambutnya sendiri. Dia frustrasi. Bagaimana bisa seorang wanita yang sudah berumur cukup matang sama sekali belum pernah merasakan yang namanya ciuman. "Ya sudah akan ku tambah lagi bayaran nya kau Mau berapa?" Gino bertanya menyinggung soal uang yang telah dibayarkan yang kemungkinan akan ditambah nya lagi.


"tidak mau Pak, Aku bukan wanita yang suka open bo" lagi Dita semakin terisak menangis sejadi-jadinya.


"masa iya hanya karena aku menciummu lalu kamu minta aku bertanggung jawab untuk menikahi mu?" Gino mengerutkan keningnya dia tidak habis pikir dengan ditayang terus menangis.


"iya bukan begitu juga aku hanya menyesal ciuman pertamaku terjadi dengan orang yang tidak ku cintai." Dita mengutarakan keluh kesahnya yang terpendam.


"lalu aku harus apa? Aku bisa gila jika kau terus begini orang-orang akan berfikir bila aku telah melakukan kekerasan atau pelecehan terhadap mu." Gino mengerang kesal dia meremas setir mobil.


"Aku mau es krim." Cicit Dita dengan suara yang lirih sambil terisak.


"Oh Ayolah, dia ini gadis dewasa umurnya sudah cukup matang dan kulihat selama ini dia bukan gadis yang cengeng tapi kenapa sekarang sampai seperti ini dia menangisi sebuah ciuman?" Gino membatin dan menatap Dita heran.


"Jangan lihat aku seperti itu Aku bukan zombie sekarang hanya belikan aku es krim saja aku hanya mau es krim." Dita merengek layaknya anak kecil yang menangis karena permintaannya ditolak.


masih dengan rasa bingung yang mengelilinginya Gino berbicara. "kau memang tidak seperti zombie tapi kau lebih mirip dengan Kunti lihat rambut panjangmu berantakan dan sekarang maskara mu luntur hitam ke mana-mana."


"Iya Kau benar." Sahut Dita lesu dan kemudian menghapus seluruh make-upnya.

__ADS_1


Gino melajukan mobilnya dan pergi menuju ke toko es krim untuk membelikan es krim yang Dita mau dia tak ingin urusan dengan wanita menjadi semakin runyam bila dia terus mengulur waktu.


...di dalam apartemen Jackie. ...


langit sudah berubah menjadi gelap tirai hitam di angkasa mulai turun perlahan dalam bentuk kabut yang menghapus bayangan. Ayana masih saja berada di sofa dia tidak bergeser sedikitpun dia hanya duduk terdiam melamun menatap kosong pada kakinya yang cedera.


"makanlah aku sudah memesan makanan." kata Jackie dengan suara datar nya Dia kemudian duduk di sebelah Ayana dan membukakan makanan yang baru saja tiba.


"aku tidak lapar." jawab Ayana dengan suara yang lemah lesu dan terkesan acuh.


Jackie lantas menatapnya tajam dia sungguh kesal perhatiannya begitu saja diabaikan berani sekali wanita di depannya ini mengabaikan bentuk perhatiannya. Apakah wanita ini tidak tahu jika di luaran sana banyak wanita yang mengantri bahkan rela menyerahkan dirinya hanya untuk bersama seorang Jackie?


"makanlah aku tidak mau ada bangkai di dalam apartemenku ini itu merepotkan." kata-kata dari Jacky terdengar sungguh sarkastik menyayat hati dan pilu di telinga menusuk tajam hingga ke dalam dada.


"cih! bangkai? itu terdengar lebih menyenangkan." kata Ayana dengan cueknya tanpa menatap Jackie sedikitpun dia benar-benar mengacuhkan Jackie dan membuat Jackie bertambah kesal.


"makan sekarang juga kataku!" ucap Jacky dengan tangan yang serta merta menjejalkan sesendok nasi ke dalam mulut Ayana secara paksa.


Tak diam saja kali ini Ayana membalasnya dia menyemburkan nasi yang telah masuk ke dalam mulutnya dan sontak saja semua nasi itu beterbangan menghambur menempel di wajah Jackie yang tepat berada di hadapannya.


Jackie sungguh marah kali ini wajahnya menjadi merah padam dengan serta merta dia mencengkram kuat bahu Ayana sampai Ayah na meringis kesakitan.


"akan lebih mudah jika kau mengeratkan nya di leherku bukan di bahuku." kata Ayana Yang seolah menantang afeksi yang tengah menenggelamkan Jackie. Yq kalimat itu menandakan bahwa dia ingin tercekik sekarang, dia ingin mengakhiri hidupnya Ayana benar-benar putus asa.


"Argh...!" marah dengan Ayana Jackie lalu melampiaskan kemarahannya dengan menendang meja yang ada di depannya hingga terlontar beberapa meter dari tempatnya duduk.


Ayana tak bergeming bahkan kaget pun tidak wajahnya datar tatapannya kosong seolah tak menampilkan reaksi apapun atas apa yang dilakukan dan hal itu semakin membuat Jackie kesal.


Jackie pergi meninggalkan Ayana sendirian. Jackie pergi keluar dan membanting pintu keras-keras.


Ayana mematung dengan air mata yang jatuh berderai tanpa suara tangis. Dia menangisi hidupnya.

__ADS_1


"Seharusnya aku mati saja tadi." Lirihnya berbicara tanpa membuka mulutnya dan menggertakan giginya.


Kini dia hanya bisa menangis dan menangis sampai kelelahan dan tertidur di sofa.


Lewat tengah malam, Jackie pulang. Dia pulang dengan bau alkohol yang menyengat menempel setiap diseluruh pakaiannya. Ada sesuatu yang beda, ada sesuatu yang baru.


Ayana berjalan pincang keluar dari kamar mandi saat itu dia berpapasan dengan Jackie yang berjalan tanpa menggunakan baju. Jackie hanya mengenakan celana tidurnya ada sesuatu yang baru di lengannya yang masih berwarna kemerahan itu adalah tato baru juga telinganya terlihat masih menunjukkan sensitifitas yang tinggi dengan warna kemerahan di kulitnya.


"kau mentato tubuhmu lagi?" tanya Ayana dengan gurat kesedihan dan tangannya terulur spontan meraih lengan Jackie.


"Jangan disentuh ini masih gatal dan tak boleh sembarangan disentuh." kata Jackie dengan tangannya yang perlahan melepaskan genggaman tangan Ayana dari lengannya yang bertato.


"kau senang melakukannya?" tanya Ayana dengan matanya yang sudah menggembung pelupuk matanya dia siap untuk menangis lagi saat ini. Entah mengapa saat bersama Jacky dia menjadi wanita yang begitu cengeng.


"Iya tentu saja aku senang melakukannya daripada aku melampiaskannya dengan memukulmu atau merusak barang-barangku yang lain Bukankah ini lebih baik menyakiti diriku sendiri berbalut seni." jawaban Jackie yang terdengar sangat berkelas membuat Ayana menangis ayah anak ini menangis dia sedih harus berapa kali lagi karena ulahnya Jacky melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri.


"kau juga menindik telinga mu lagi?" tanya Ayana dengan pipinya yang sudah basah matanya mengamati telinga Jacky yang kini bertambah di kanan dan kirinya memiliki lubang baru.


" Ehem" Jackie mengangguk lalu mengabaikan Ayana dan hendak melewati nya begitu saja.


Namun siapa sangka suasana yang tadinya mencekam itu seketika berubah kala Ayana dengan tiba-tiba memeluk Jackie dari belakang.


"jangan goresan tinta apapun lagi di tubuhmu Aku tidak suka."


"suka atau tidak suka dirimu itu tidak berpengaruh pada hidupku Jangan berpikir karena aku mau menikahimu lalu setiap ucapanmu akan ku dengarkan." kalimat yang terlontar dari mulut Jackie sangat menyayat hati Ayana apa maksudnya ini? baru Tadi malam dia memperhatikan. Dia meminta Ayana untuk makan dan sekarang dia berbicara seperti ini?


"Aku berencana menikahimu bukan semata-mata karena aku menyayangimu. Pasang telingamu baik-baik, aku menikahimu karena aku ingin kau merasakan apa yang dulu Kak Lena rasakan Aku ingin kau tahu bagaimana rasanya menjadi istri yang diabaikan. Aku ingin kau merasakan sakit yang sama. Bukankah menjadi orang terdekat itu memiliki peluang yang lebih besar untuk menyakiti orang terdekatnya"


JLEB....!


Apa yang dikatakan oleh jecki sangat menghancurkan sisi tegar Ayana dia runtuh saat ini benar-benar tak berbentuk. "ternyata ini penyebab dia yang tiba-tiba mau mengajakku menikah dia hanya ingin lebih mudah untuk mempermainkan hidupku." dalam pilu Ayana membatin tidak menyalahkan tapi dia lebih menyalahkan dirinya sendiri bagaimanapun juga semua ini terjadi karena dia yang memulai dia yang terlebih dahulu mengubah malaikat yang kini menjadi iblis itu.

__ADS_1


Kau bahkan melampiaskan kemarahan mu dengan membuat tato di tubuhmu. Jujur aku merasa bersalah atas tindakan yang kau ambil itu. mengapa, mengapa, kau menambahkan beban yang begitu berat di dalam hidupku ini Jackie?


__ADS_2