
...ππΌπΌπ...
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Langkah kakinya lebar dan setengah berlari. Jackie dengan bersungut-sungut mendatangi Ayana yang masih berada di Taman Bougenville sendirian. Padahal, waktu sudah petang. Galau mendera, saat matanya melihat tiga wanita tak beres masuk kedalam ruangan Jackie.
"Pulang!" Seru Jackie memerintah istrinya yang malah tersenyum simpul kepadanya.
Ayana tak menggubrisnya, dia hanya tersenyum lalu kembali membuang pandangannya mengamati bunga yang berwarna-warni.
Tanpa bicara dia lalu berdiri dan berjalan melewati Jackie begitu saja. Jackie semakin geram. Keberadaannya, hanya di anggap angin lalu.
"Kamu marah?" Jackie mengejar dan menyamai langkah kaki Ayana.
Ayana tertawa kecil. "Yang marah itu siapa? aku atau kamu? Yang tadi di telfon mengomel tidak jelas siapa?" Ayana berbicara dengan santai tapi sindirannya mantap pas kena jantung.
"A... Aku. Habisnya, kamu kenapa ke kantor tidak bilang? Dan malah pulang begitu saja."
"Memang harus bilang? biar apa? biar kamu bisa bersiap-siap untuk mengkondisikan wanita-wanita tadi?"
JEDUARRRR...β‘β‘β‘...!!!!
Jackie terperanjat, dia menjadi deg-degan sekarang. Sudah pasti akan terjadi hujan badai, halilintar, angin ribut ini. Dia yang tadinya bersungut-sungut karena istrinya mengabaikannya dengan langsung pulang tanpa menemuinya, kini tertunduk lesu. Dia tau apa penyebab Ayana marah.
Astoge!! Peperangan telah di mulai. Lihat saja kubu siapa yang akan menang? kubu pendiam (Ayana) atau kubu meledak-ledak (Jackie).
"Wanita tadi?" Jackie tergagap dan berkeringat dingin. "Me... mereka hanya meminta bayaran."
Ayana tertawa kencang dalam tangisnya lalu menghentikan langkahnya dan menatap Jackie tajam. Tatapan mengintimidasi dan membuat Jackie mengkerut. " ME-MA-LU-KAN!" Ayana mengeja penuh dengan penekanan.
"Jadi setelah memakai mereka kau lupa membayar? Oh Astaga!! Suamiku sungguh menjijikkan. Jadi kau sudah jajan lalu berhutang?"
"Bukan bayaran itu...."
"Eh, cukup ya! Aku tidak bodoh, aku ingat wajah-wajah mereka. Mereka yang dahulu kau ajak bermesraan di dalam kantor kan? Saat kau memamerkan kegiatanmu yang....." Ayana tak sanggup lagi berbicara. Kesal dan sesak menghimpit dadanya membuatnya sulit menghirup udara.
"Ay...! Bukan seperti itu. Ini tidak seperti yang kamu pikir!!"
"Terserah!! terserah apa maumu!! aku tidak akan peduli. Semua memang salahku yang tak bisa memenuhi keinginanmu hingga kau membeli jajanan di luaran." Afeksi tertera dan mata merah menyala menguasai merongrong jiwa yang rapuh.
"Kau cemburu?" Jackie malah bertanya.
Author: "Au ah Jackie, kamu tuh bego apa gimana? Udah tau bini ngambek, ngamuk masih juga di tanya. Mikir Napa mikir. Dirayu kek, apa gitu biar ga ngambek."
__ADS_1
Jackie: " Ya elah Thor, bukanya othor sendiri yang bikin alur, pas waktu itu aku mempekerjakan para wanita itu hanya untuk memanas-manasi Ayana. Tapi kan aku tidak berbuat hal senonoh Thor. Cuman emang karena sibuk mengurus pernikahan, aku lupa bayar gaji mereka."
Author: " Emang aku yang nulis alur. Tapi kan yang ngutang siapa? Kamu kan? Yasudah...., atasi saja istrimu sendiriπ."
Jackie:" Othor-nim!!! Kumohon bantu akuπππ. Kalau marahan terus, kapan aku uwu-uwuan??"
Author:" Serah deh kapan, yang jelas eksistensi dari Toya saktimu dan juga produktivitas dari kedua bola-bola manjamu akan menurunπ€£π€£π€£π€£."
Jackie:" Thor, apa yang kamu lakukan ke aku itu JAAHAADDD!!!π«π«π€¬π€¬π‘π‘π€¬π !!"
...,πΊπππΊ...
Ayana terus berjalan dan masuk lalu duduk di bangku tengah. Seharusnya dia duduk di bangku depan menemani sang suami. Tapi... berhubung dan terhubung sedang marah ya... Apa boleh buat? Jadilah Jackie sopir pribadi.
"Jalan pak!" Titah Ayana tanpa ada tawa atau kata pemanis lain sesudahnya.
"Ay! ayolah jangan marah!!" Jackie merengek dan berlutut lalu memegang tangan Ayana.
Ayana mengambil sebotol air mineral lalu membukanya dan membasuh tangan Jackie. Yang di cuci tangannya hanya melongo. Dia masih sangat bingung akan tindakan Ayana.
"Kalau habis jajan, jangan lupa cuci tangan yang bersih! siapa tau jajanmu tidak higienis." Sindirnya.
Bukanya kesal, tapi Jackie malah langsung menubruk tubuh Ayana dan menindihnya, mengungkung Ayana di bawahnya.
"Aku tadinya sabar menunggumu. Sabar untuk tidak melahapmu. Tapi... ternyata kau bisa cemburu juga padaku. Itu membuktikan kalau kau mencintaiku." Katanya yang kemudian mengecup bibir istrinya.
"Ngambek lagi, aku cium ya!" Hardik Jackie iseng dia masih gemas akan reaksi Ayana yang ternyata sedang cemburu.
"Berani menciumku akan ku gigit." Kesalnya.
Benar saja, Jackie ******* bibir istrinya rakus. Dan....
"Atuh.... athuh.... Ampun iya ampun!!" Jackie mengaduh saat Ayana menggigit bibirnya.
"Jangan marah, besok akan kujelaskan. Ada buktinya Sayang." Jackie mengusap lembut Surai Ayana yang menatapnya tajam, setajam silet!
Sebab adegan ngambek tadi, alhasil mereka sampai di apartemen sudah malam. Jackie kelaparan, tadinya dia mau mengajak istrinya untuk mampir makan. Tapi, melihat ekspresi wajah Ayana yang tak suka membuat Jackie mengurungkan niatnya. Dia malas berhubungan dengan media, wartawan, dan netizen.
Jackie tak mau ada berita liar yang bergulir tanpa Kendali menjual namanya.
Sampai di apartemen.
"Ay, masakan aku sesuatu. Aku lapar." Jackie merengek manja.
"Masak sendiri!"
__ADS_1
"Kenapa, kamu lelah? Ya sudah besok aku Carikan teman untuk membantu meringankan pekerjaanmu ya."
"Kamu mau cari pembantu?"
" Bukan." Jackie menggeleng.
"Lalu?"
"Aku Carikan madumu ya? biar bisa bagi tugas, jadi kalau kamu lagi cuci piring atau sibuk, aku ada yang Nina boboin." Tentu saja si gigi kelinci hanya bercanda dan menggoda istrinya.
"Jackie Putra Armanto!! Apa kamu belum akrab dengan berita dimana istri memangkas habis ******** suaminya? Kalau belum aku juga bisa menunjukkan bakatku itu." Kata Ayana datar dan mengerikan.
"Makanya masakin." Jackie kemudian memeluk Ayana dan mencium lehernya. " Aku hanya bercanda sayang. Sumpah tidak punya niat untuk seperti itu sedikitpun."
"Terserah!!" Ayana lalu bangkit dan membuatkan makanan.
Apakah rasa kesal ku ini merupakan rasa cemburuku?
Tak pernah sebelumnya aku begini, Mengingat kejadian tadi sungguh membuatku kesal. Kenapa aku masih marah?
Apa aku sudah memiliki tempat khusus di hatiku untuknya?
...πππ...
Pagi, siang, malam telur dadar, telur dadar, dan telur dadar. Menu makanan yang paling Jackie benci. Itulah yang tersaji di meja.
Kamu tidak berubah, Kalau marah pasti apa yang kubenci itu yang kamu berikan padaku.
Teruskan saja begini marahmu, maka aku akan bisulan!π.
Malam harinya.
"Ay, besok mau masak apa?"
"Tau ah gelap!!" Sahutnya yang kemudian memejamkan matanya.
"Ish! awas saja kamu kalau hanya masak telur."
"Terserah padaku lah." Jawab Ayana dengan enteng.
"Apa? telur dadar lagi?" Jackie mendengus kesal.
Lalu....
Anak terakhir dari keluarga Armanto itu melancarkan aksinya. Dia melepas celana Ayana menariknya d kebawah dengan cepat lalu mulai bermain di bawah sana sesuka hatinya.
__ADS_1
Ayana masih takut banyak bergerak hanya bisa menahan dan menjambak rambut suaminya yang terbenam diantara dua paha.
Kalian bayangkan sendiri. Othor mau bobo!!π΄π΄π΄.