Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
29. Kamar mandi.


__ADS_3


...🌹🌹🌹...


Ayana masih bekerja seperti biasanya. Tak ada yang istimewa, meskipun berita tentangnya telah ramai beredar.


"Wah, aku sama sekali tidak menyangka Mbak, kalau Mbak akan menjadi istri dari pak Jackie." Ujar Ratih dengan mulutnya yang sibuk memakan eskrim.


"Iya, pak Gino juga sampai tanya kepadaku berulang kali, dia takut salah informasi." Sambung Dita yang juga sedang memakan eskrim.


"Em... aku juga tidak mengira. Tapi kesempatan baik tidak boleh dilewatkan kan?" Ayana berbicara seolah tiada pemaksaan di dalam hubungannya dan terkesan dia yang akan banyak mendapat keuntungan.


"Dasar kau ini. Pantas saja awal bertemu langsung pingsan. Ternyata pak Jackie mantanmu kan?" Cetus Dita yang sudah tau semuanya dari Gino.


" Kau tau darimana?" Ayana mengernyit heran.


"Em, ya jelas Kakaknya lah. Pak Gino bilang dia ikut senang atas pernikahan kalian. Akhirnya kalian bisa bersama kembali." Ujar Dita yang kelepasan bicara. Dia merutuki kebodohannya sendiri dalam hati.


"Oh, iya. Aku senang akhirnya aku bisa berbaikan dengan Jackie setelah lama salah paham denganya."


" Salah paham? tentang apa? apa itu penyebab kalian putus dulu?" Ratih memberondong dengan sejumlah pertanyaan.


"Em, itu privasi kami. Maaf aku tidak bisa banyak cerita. Aku duluan ya, takut dicari calon suami." Ujar Ayana yang seolah sangat bahagia dengan hubungannya.


Ayana baru selesai dari makan siang bersama teman-temannya. Dia cukup merasa lega saat Jackie tengah menemui klien dengan dewan direksi. Yah, rapat besar dan Ayana tak boleh ikut. Entah atas alasan apa, yang jelas Jackie sangat melarangnya.


Ayana memasuki ruangan dan sudah disambut tatapan sinis dari Jackie.


"Begitu kerjamu?" Tegurnya dingin.


"Em... maaf Pak. Tadi saya makan siang di bawah dan tidak tau kalau Bapak sudah di kantor." Ayana menunduk lesu tak berani menatap Jackie.


"Enak makan siangnya?" Tanya Jackie yang berjalan mendekati meja.


Enak? tentu saja tidak. Hari ini sebenarnya Ayana sedang merasa tidak enak badan. Mulutnya tidak merasakan kenikmatan dari makanan yang di makanya. Untuk siang tadi, Ayana tidak makan nasi sama sekali. Dia hanya ingin makan eskrim.


" Enak pak." Ayana tergugup dan mengangguk lemah.

__ADS_1


" Bagus!! kamu enak-enakan makan siang dengan teman-temanmu sembari ngerumpi, sementara saya harus menahan lapar karena menghormati klien yang sedang berpuasa." Jackie menatap dingin Ayana.


"Ikut saya sekarang!" Kata Jackie memerintah tanpa melihat reaksi dan sahutan Ayana.


Ayana mengekor di belakang Jackie dengan berjalan menunduk.


BRUGH...! Ayana menabrak punggung Jackie.


" Ma... maaf Pak. Maafkan saya." Gugupnya dengan tangan yang reflek mengusap punggung Jackie yang barang kali kotor terkena make-upnya.


"Oh, aku lupa." Jackie berkacak pinggang dan satu tangannya yang lain memijit keningnya.


Ayana mendongak melihat wajah Jackie. Dia ikut tertular kebingungan. "Ada apa Pak? apa ada yang ketinggalan?"


"Sini mendekat!" Titah Jackie.


Ayana maju beberapa langkah. dengan kasar Jackie lalu menggandeng tangan Ayana.


" Tunjukkan bila kau sangat bahagia dengan hubungan kita sekarang." Tegas Jackie berbicara dengan wajah datar dan tanpa senyuman.


"Jangan coba-coba melepaskannya sebelum kita duduk di dalam mobil."


Banyak pasang mata melihat penuh dengan rasa takjub. Tapi semua itu berbanding terbalik dengan apa yang Ayana rasakan. Ingin sekali Ayana menyudahi hidupnya tapi dia takut akan dosa. Hukum di dalam agama yang di anutnya sangat jelas melarang bunuh diri. Oleh sebab itu, Ayana berpikir mungkin hidup tertindas seperti sekarang lebih baik dari sekedar menjadi pecundang yang mengakhiri hidupnya.


Mereka berjalan berdua dan memasuki lift.


Ayana memasang wajah datarnya dan itu membuat Jackie tidak suka.


CUP!!


Tiba-tiba saja Jackie mencium pipi Ayana ketika pintu lift sudah tertutup. Jackie heran, Ayana tidak menolak dan juga tidak menerima bahkan pipinya pun tidak memerah lantaran tersipu malu.


"Ekspresimu datar, Oh.... aku paham, kau sudah terbiasa melakukan aktivitas seperti ini dengan sugar Daddy milikmu kan?" Lagi dan lagi Jackie selalu merendahkan Ayana dan sekarang dia tak sadar jika dia merendahkan calon istrinya sendiri.


"Iya aku sudah terbiasa dengan sugar Daddy ku, dan aku juga tak menyangka jika selera seorang yang terpandang sepertimu hanyalah wanita bekas dari sugar Daddy. Em .. bukankah itu menjijikkan?" Ujar Ayana yang tersenyum manis bersamaan dengan pintu lift yang terbuka dan Ayana langsung meraih lengan Jackie yang masih terperangah dengan balasan Ayana.


Dia pandai melawan sekarang. Gumam Jackie dalam hati.

__ADS_1


'Wah, romantisnya'


'*Beruntung sekali Kak Ayana ya?'


'Lihat wanitanya cantik dan prianya sungguh tampan dan gagah. Pasangan yang ideal.'


'Iya, aku jadi ingin*.'


Sayup-sayup terdengar suara bisik-bisik para karyawan yang berpapasan dengan mereka yang berjalan bergandengan.


Masih duduk dengan nyaman di mobil, ponsel Jackie berdering. Dia berbicara di telfon dan meminta sopir untuk putar arah.


"Ambil berkas dimeja, kutunggu di mobil. 5 menit tidak ada penawaran." Kata Jackie datar dan kemudian memekik " Cepat!!!"


Ayana tak menjawab tapi segera berlari kembali masuk ke kantor Jackie. Ayana sampai melepas high heels miliknya. Tepat 5 menit dan mereka kembali meluncur membelah jalanan kota yang padat merayap.


Di hotel.


Malam tiba dan rapat di undur saat malam hari. Ayana yang tidak enak badan ketiduran saat menunggu Jackie rapat. Dengan sangat tega, Jackie yang mendapati Ayana ketiduran lalu menariknya kasar dan mengguyur Ayana dengan air dingin.


" Aku mengajakmu lemari untuk bekerja!!! bukan malah enak-enakan tidur dan mengukur mimpi!!"


"Maaf Pak, tapi saya sedang tidak enak badan." jawab Ayana jujur dengan menggingil kedinginan.


" Bohong!! kau pembohong!! kau selalu suka membohongiku!" ketus Jackie yang lagi mengguyur tubuh Ayana.


Ayana hanya pasrah kali ini, kepalanya begitu pusing untuk sekedar beradu argumentasi. Dia memilih diam dan memeluk lututnya. Air matanya sempurna bercampur dengan guyuran shower.


Lakukanlah sesukamu, mungkin ini caraku mati karena hipotermia. Ayana menangis dalam hati.


Ayana yang tak membawa baju ganti hanya bisa tersenyum miris saat Jackie meninggalkannya ke kamarnya. Ayana yang menggigil ingin membuka aplikasi belanja online untuk membeli baju ganti. Dia tidak membawa baju ganti, sebab tadinya menurut agenda hanya sampai jam 20. Dan sekarang sudah jam 23:23. Sudah terlalu malam untuk pulang dengan jarak yang jauh.


" Ah sempurna sekali caraku mati." Gumam Ayana yang melihat ponsel yang berada di dalam sakunya ikut basah dan tidak bisa digunakan lagi.


Ayana menggigil kedinginan sampai jatuh pingsan di dalam kamar mandi. Jackie justru enak-enakan tidur dengan lelapnya.


Ayana merangkak dengan tubuhnya yang lemas, dia berusaha membuka pintu tapi tidak bisa sebab Jackie mengunci dari luar. Dengan kata lain Jackie yang memegang kunci pas kamar Ayana.

__ADS_1


Jahatnya Jackie....


__ADS_2