
...🦢🦢🦢...
Apa yang seharusnya terjadi maka terjadilah. Sesuatu yang seharusnya terjadi tidak dapat kita tunda atau hentikan barang sekejap. Semua itu sudah terangkai kedalam cerita hidup setiap manusia.
"Tenanglah, ini hanya mati lampu. Bukan kiamat kubro." Gino menarik perlahan telinga Dita.
Tubuh Dita bergetar dan malah semakin melakukan gerakan perlahan yang tak terduga dan membangunkan sesuatu yang berada di bawah sana.
" Sumpah pak, aku takut gelap." Tubuh Dita bergetar."
Gino merasakan Dita benar-benar ketakutan. Dia gemetaran dan nafasnya pun kian menderu menerpa, menghembus hangat di leher Gino.
Gino, merasakan sesuatu yang meletup-letup dan menggelitik di perutnya. Memberikan sengatan sengatan listrik di area tertentu. Membuatnya tak sadar sedikit mengerang.
"Emh..." Erangnya lirih. Membuat Dita meraba rahang tegasnya dalam gelap.
Sungguh setiap usapan dari jemari lentik sang istri membuat Gino semakin hilang kendali. Tangannya mengusap menyelinap masuk kedalam punggung sang istri dan kulit mereka yang saling bersentuhan.
Ada gelanyar aneh sewaktu kulit mereka bersentuhan. Dita merasakan desiran di dadanya. Jantungnya berdegup semakin kencang membuatnya merasakan kepanasan. Seakan udara kian menipis di sekitarnya.
Biarlah aku sudah cukup menahan selama ini. Dia juga sama sekali tak memberikan respon ataupun balasan hanya sebuah kecupan singkat yang mendarat di pipiku. Argh.... aku suami sahnya. Mengapa aku harus berlama-lama meminta hakku?
"Kau, tidak bisa diam dan sengaja melakukan ini?"
"Tidak, tapi aku takut gelap."Kata Dita menjawab pertanyaan dengan suara lirihnya.
Tak ada yang terlihat dan hanya gelap meremang di sekitar ruangan. Tapi Gino dengan sangat bisa merasakan setiap apa yang bergerak menggeliat di atas tubuhnya.
Tanpa banyak bicara dan menjelaskan apa maksud dan tujuannya kepada Dita. Gino langsung merengkuh tengkuk Dita dan membawanya semakin dekat. Mulut mereka saling bertaut dan bertukar Saliva.
Dengan mata terpejam, dan awal yang tegang, Dita memejamkan matanya. Tapi seiring dengan permainan Gino yang hangat dan lembut. Membuatnya terbuai dan menikmati setiap gerakan lembut yang Gino ciptakan.
" Bolehkah?"
" Apa? huhhhh...., hah....." Dita menghirup udara banyak-banyak sebelum Gino memulai lagi aksinya.
"Istriku, malam ini aku meminta Hakku sebagai seorang suami. Bolehkah?" Gino memperjelas hasratnya untuk memenuhi kebutuhan batin Dita.
__ADS_1
Bukan kebutuhan batin Dita, tapi haknya yang lama tak terpenuhi.
Ah, iya. Aku sudah terlalu lama menunda menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri. Tapi sekarang... Dita malah terdiam.
Diamnya Dita di anggap sebagai jawaban iya bagi Gino. Gino memulainya dengan begitu lembut tanpa paksaan dan Dita tanpa sadar menikmati apa yang mereka lakukan.
Ciuman dari kening saat meminta ijin, turun ke leher dan membuat sesuatu disana. Bermain lagi pada sesuatu yang kenyal lalu memulai menanggalkannya secara perlahan.
Gino ingin membasahi sesuatu yang belum siap dengan salivanya. Tapi, Dita menghentikannya. Dia masih merasa malu jika suaminya ingin bermain di tempat yang belum begitu siap untuk penyambutan. Ya.. taulah Dita belum mengubah rawa menjadi taman bunga. (khusus bagi yang faham saja).
Dita menangkup wajah Gino lalu dengan liar membalas serupa dengan apa yang tadi di terimanya. Nafas kian menderu, ranjang mulai sedikit berdecit di selingi ******* nikmat bercampur dengan rasa sakit nan perih panas sebab baru pertama kalinya Dita membuka lahan.
Demi kepentingan bersama, adenganya cukup sampai sini. Untuk seterusnya kalian imajinasikan sendiri.
...🦢🦢🦢...
Menyibak birai kabut pagi
Kicauan burung bersahutan menciptakan suasana tenang
Dua insan saling berpelukan dengan putih balutan
Seakan tak mengijinkan sedikitpun udara dingin menyentuh kulit cantiknya.
Tegas garis wajah tersaji di depan mata membuat Dita mengulum senyumnya. Matanya terus menatap sang pria tanpa berkedip dan sengaja mengaguminya.
"Kau dulu bosku. Aku jadi panitia di saat pernikahan pertamamu. Dan sekarang aku berbagi ranjang denganmu. Sungguh takdir ini tiada yang tahu." Dita berbicara dengan perlahan.
Ah, rupanya dia sudah bangun. Batin Gino yang berpura-pura masih terlelap.
"Apa kau tau, aku menaruh hati pada saat pertama bertemu denganmu di hari aku pertama masuk kerja? Saat itu aku tidak pernah tau kalau kau itu adalah kakak dari temanku." Lagi Dita berbicara dengan lembutnya.
Ah, begitu rupanya,? Jika aku tau kau sudah menyukaiku sejak awal, mungkin aku malah akan menjauh darimu.
Tangan Dita mengusap-usap rambut Gino. "Rambut ini" Dita menyentuh rambut suaminya.
"Hidung mancung ini." Dita menyentuh hidung Gino.
__ADS_1
"Dan bibir ini." Ibu jari Dita mengusap perlahan bibir kenyal dan hangat Gino.
Sebenarnya saat Dita menyentuh bibirnya, Gino sudah merasa geli dan ingin segera bangun. Tapi dia lebih ingin tahu lagi apa yang akan di lakukan oleh istrinya.
"Nanti, semuanya turunkan pada anak kita ya? Aku mengagumi wajah tampanmu. Tapi aku lebih mengagumi kepribadianmu." Kata Dita.
Gino sungguh merasa berbunga-bunga atas segala pujian yang istrinya sematkan. Dia begitu senang hingga menarik sudut tajam di bibirnya membuat kurva yang sangat kentara mata.
"Katakan saat aku membuka mata. Jangan katakan saat aku menutup mata, sebab aku tak tau akan sampai kapan aku ada di dunia." Ucap Gino yang terasa romantis tapi juga terdengar miris. Ucapanya menyinggung kematian.
Dita mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia masih terkejut saja dengan Gino yang tenyata tak benar-benar tertidur lelap. Dita yang malu kemudian membenamkan wajahnya kedalam selimut. Tapi sungguh di sayangkan.
Karena tingkahnya yang membenamkan kepalanya ke dalam selimut, membuatnya melihat dua pemandangan yang kembali membuatnya gelagapan dan tersipu malu mengingat kejadian semalam.
"Apa yang kau cari di dalam sana? Kau menginginkannya lagi?" Gino menyinggung perihal kegiatan mereka semalam yang lumayan menguras energi.
BLUSH...!
Pipi Dita memerah dan dia kembali memunculkan wajahnya dari balik selimut dengan perlahan.
"Tidak aku tidak mencari apapun. Aku hanya malu, dan juga tidak menyangka bisa menjadi istrimu melalui jalur yang tak terduga." Kata Dita dengan polosnya.
Gino mengangguk dan kemudian entah bagaimana caranya, dia bisa membuat Dita berada di atasnya. Mereka saling bertukar pandang dengan pipi Dita yang bersemu merah merona.
"Pak!" Dita memekik kaget.
Gino tak suka dengan panggilan Pak terlebih setelah mereka menikah. itu terkesan Gino bergitu tua.
"Apa kau menyadari sesuatu?" Gino berbicara sambil menatap wajah istrinya dan merapikan anak rambutnya.
"A... apa? kau kecewa ya? Ah, iya aku sudah tidak perawan lagi. Ibuku pasti sudah memberitahu padamu soal kejadian dimasa kecilku kan?" Tebak Dita dengan nada kecewa.
Gino tertawa di buatnya. Bagaimana bisa istrinya sepolos ini? Ini tandanya selama ini tidak ada yang berhasil memerawani Dita baik itu ranting pohon ataupun jari jemarinya sendiri. Dita teramat polos dalam hal ini.
"Kau ini. Lihat itu!" Dengan cepat Gino menyibak selimut dan memperlihatkan sesuatu yang mungkin saja membuat keduanya merasa bangga.
Terlihat bercak darah di sprei dan selimut membuat Dita terbelalak. " A... aku masih perawan? Dan kau....? Ah~~~Pantas saja sakit sekali."
__ADS_1
Gino mengulum senyumnya. "Terimakasih, sudah menjaganya untukku. Sebagai gantinya aku akan menurunkan rambut, mata, hidung dan wajah tampan ku ini pada anakmu." Kata Gino mengulang apa yang tadi Dita ucapkan.
" Yak!! Anakku itu anakmu juga!! Kita membuatnya bersama!!"