
...πππΌππ...
"Ah, bosan sekali aku. Hanya makan, tidur dan berdiam di rumah. Huft.....!" Ayana bermonolog dan menatap jenuh gedung-gedung tinggi dari lantai unitnya.
Beberapa bulan berlalu, dan Ayana masih dengan kejenuhan yang sama. Terkurung dalam sebuah apartemen dengan kaki pincangnya. Walaupun ada perawat yang selalu mengurus segala kebutuhannya, tetapi layaknya manusia normal lainnya, Ayana ingin mandiri dalam mengurus dirinya.
"Mbak, sudah bersih-bersihnya." Kata Ayana menatap datar si perawat.
Perawat yang bernama Diah itu hanya tersenyum lalu mendekat dan duduk bersimpuh di lantai tepat di dekat kaki Ayana." Nona, aku disini dibayar bapak untuk mengurusmu. Tapi anda selalu menolak apa yang aku lakukan, jadi ya... daripada aku memakan gaji buta, lebih baik aku bersih-bersih rumah ini saja." Ujarnya sesuai fakta.
Ayana mengulum senyumnya, Benar sekali dia seperti istri durhaka saja. Selama berbulan-bulan selalu bersikap dingin dan menolak apa yang Jackie berikan. Meski begitu, Jackie tak patah semangat Dia selalu saja memberikan perhatian penuh kepada istrinya ini.
Itulah mengapa, Diah yang hanya orang luar saja sangat mengidolakan sosok majikannya itu.
"Nona, nona itu sangat beruntung."
"Beruntung? dengan kondisiku ini?" Ayana mengerutkan keningnya tak percaya.
"Bukan" Diah menggeleng. "Beruntung karena memiliki suami yang sangat baik seperti Bapak." Ujarnya dengan tangan yang bergerak aktif memijit kaki Ayana.
Ayana hanya diam menyimak celotehan Diah sembari tersenyum pias manakala ada rasa getir bercampur dengan rasa bersalah yang semakin pekat.
"Suami Nona, Em.... maksud saya Bapak. Beliau sering menghubungi saya saat malam hari." Diah berbicara dengan ragu-ragu.
Kenapa saat malam suamiku malah menghubungi perawatku?
Atau jangan-jangan dia menyukai diah? Ah tidak... pikiran macam apa ini.
"Beliau menghubungiku untuk menanyakan keadaan Nona seharian. Menanyakan tadi bagaimana makannya, bagaimana waktu tidurnya dan bagaimana perkembangan nona. Aku heran, mengapa kalian tak saling berkomunikasi langsung? saling memberi kabar dan berucap rindu." Celoteh Diah panjang lebar.
"Rindu..." Lirih Ayana menggumam tetapi tertangkap jelas di telinga Diah.
"Iya, Bapak sangat merindukanmu Nona."
"Ah, sudah pijitnya." Ayana beringsut.
"Oh, maaf Nona jika saya terlalu lancang dan banyak bicara." Diah menundukkan kepalanya.
Ayana lantas menepuk pelan bahu Diah. "Tidak apa-apa, tidak usah merasa tidak enak begitu. Lagipula kamu juga sudah tau bagaimana dinginnya hubungan kami kan?"
Diah mengangguk perlahan. "Maaf saya terlalu lancang."
Ayana menggeleng.
__ADS_1
"Nona, apa bapak tidak punya saudara laki-laki atau kakak mungkin?"
Pertanyaan dari Diah membuat Ayana memicingkan matanya. Apa maksudnya tiba-tiba menanyakan soal saudara laki-laki? Apa Jackie juga memberitahukan masa lalu Ayana dan Gino?
"Punya, dia punya dua kakak." Jawab Ayana secukupnya.
Diah tersenyum senang. Terlihat sekali dia sampai tersipu-sipu." Bisa kenalkan aku dengan saudaranya Nona. Aku tau mungkin ini terlihat tidak sopan, tapi aku juga mau mencoba peruntungan."
"Peruntungan?"
"Emm~~~, aku setelah melihat betapa baiknya Tuan Jackie, jadi merubah cara berpikirku bahwa tidak semua lelaki itu ba****an. Mungkin yang bejad hanya ayahku saja."
"Ayahmu? kenapa memangnya dengan Ayahmu?" Ayana tertarik dengan cerita hidup Diah.
"Ayahku, dia seorang pengangguran. Dia suka berjudi dan minum-minuman keras. Ibu yang selama ini membanting tulang untuk mencukupi segala kebutuhan kami. Hingga pada suatu hari, mereka cekcok karena masalah ekonomi." Diah tertunduk lalu bahunya turun naik dan bergetar. Gadis itu menangis mengulas masa lalunya.
"Mereka bertengkar dan berakhir dengan ibuku yang terbunuh dan ayahku yang bunuh diri setelahnya." Tak sanggup lagi berbicara Diah lalu menangis terisak.
"Oh, maafkan aku. Sudah jangan kau lanjutkan lagi jika itu hanya membuat luka hatimu."
Diah menggeleng. "Tidak apa-apa Nona. Semua itu sudah 15 tahun berlalu. Semua itu terjadi saat aku masih duduk di bangku SD. Dari saat itu aku menjauh dari laki-laki aku benci laki-laki. Tapi...." Ceritanya berhenti saat iya menghela nafasnya.
"Tapi apa?" Ayana penasaran.
"Kau ini. Dia ada Kakak yang masih singel namanya Kak Alex. Dia Manusia termanis yang pernah ku kenal." Ayana menerawang sosok Alex.
"Oh, benarkah? berarti lebih gentleman lagi dong yaπ."
"Singkirkan wajah germomu itu Diah kau terlalu kecil untuknya!" Ayana menoyor kening Diah.
Bagaimana tidak terlalu kecil? sedangkan Diah dan Alex berbeda usia 14 tahun. Hemh, bisa dibilang pedofil nanti si Alex.
"Tapi dia tidak pernah kesini?" Tanya Diah semakin tertarik dengan sosok Alex.
Ayana menggeleng. "Dia itu orang sibuk, dia sangat bertanggungjawab atas pekerjaannya."
Tanpa sadar mereka berdua semakin dekat dari waktu ke waktu dan banyak berbagi cerita.
JEGLEK!
Pintu terbuka dan keduanya menoleh ke arah suara. Sesosok lelaki bertubuh tinggi tegap berdiri di ambang pintu dengan membawakan beberapa paper bag.
"Aku pulang!" Seru Jackie yang kemudian masuk dan langsung menuju kepada Ayana dan mengecup kening Ayana tanpa ada rasa risih dilihat oleh Diah.
Oh, so sweet...! Batin Diah mendamba dengan wajahnya yang berbinar.
__ADS_1
"Ya." Sahut Ayana lirih.
Tak pernah sebelumnya Ayana membalas sapaan Jackie. Tapi kali ini?
Apa mungkin, sesi berbagi cerita tadi membangkitkan sisi kesadarannya?
Dia tersadar bila dia beruntung mendapatkan suami seperti Jackie. Suami yang tetap bersikap baik dan tak seperti Ayah Diah yang Dia ceritakan tadi.
"Sudah makan?" Tanya Jackie yang kemudian menaruh paper bag di atas meja.
Tanpa menunggu jawaban dari Ayana, Jackie kembali memerintahkan Diah untuk pergi. "Diah, kau boleh istirahat. Biar Nona aku yang jaga." Kata Jackie.
Diah menurut saja.
"Saya permisi, Tuan, Nona." Diah menunduk sopan.
Keduanya hanya mengangguk perlahan dan tersenyum tanda keduanya mengijinkan.
Tumben sekali dia mau menjawab dan berbicara denganku walaupun hanya sebatas kata Ya. Jackie menggaruk sebelah alisnya bingung lalu mendudukkan bokongnya di sisi sofa yang kosong di sebelah Ayana.
"Aku sudah makan." Singkat Ayana berbicara.
"Bagus, nanti malam..." Jackie mulai sibuk mengeluarkan seluruh barang belanjaannya. "Kita harus datang ke acara pesta ulang tahun Ayah. Kau harus tampil cantik Ay."
"Jack, bukankah baju dan perhiasanku masih banyak? kau setiap bulan selalu membelikannya untukku."
"Iya, dan kau tidak pernah memakainya sama sekali. Aku pikir kau tidak suka, itu sebabnya aku membelikan yang baru." Kata Jackie yang masih fokus membuka apa yang tadi di belinya.
"Hihihi, mereka terlihat lebih baik dari kemarin." Diah mengintip dari dapur kedua majikannya saling bercengkrama.
Tiba-tiba Jackie bersimpuh dan mendekap kedua lutut Ayana yang masih duduk di sofa. Jackie memasang wajah imutnya.
"Kenapa seperti itu?" Ayana menatap aneh suaminya yang bersikap manis.
"Aku rindu." Jackie berbicara tulus dari dalam hatinya lalu mendaratkan kepalanya di atas paha Ayana dengan tubuhnya yang terduduk di lantai.
"Rindu? kita setiap hari selalu bertemu kan?"
"Iya. Tapi baru kali ini kau mau berbicara banyak denganku. Aku senang sekali Ay. Aku merindukanmu, kamu yang dulu pernah mencintaiku. Bisa kau usap kepalaku istriku?" Kata Jackie lirih dan terdengar begitu sedih.
"Ah~~, maaf aku terlalu banyak mau. Tak apa bila kau tak mau." Kata Jackie yang hendak mengangkat kepalanya.
Tapi...., terhenti karena Ayana menahan kedua bahunya.
Ehem....! kira-kira di elus-elus ga ya kepala suaminya????
__ADS_1