
...πππΌππ...
...πππΌππ...
...POV Ayana....
Dengkurannya terdengar menggelitik di telinga membuatku susah terlelap dengan sempurna. Tapi, aku suka. Aku suka mendengarnya bagiku ini adalah lulaby. Nyanyian dari orang tersayang kita sebelum kita memasuki alam mimpi.
Jk, Suamiku Kau kenapa? Sedari kau datang tadi kau tak bicara apapun selain bilang rindu. Jujur saja, sikapmu yang seperti ini membuatku cemas tak menentu.
Apa yang sebenarnya kau simpan?
Tanganku tak bisa lagi untuk tetap diam. Ku usap lembut surainya terlihat keningnya sedikit berkeringat.
"Sayang, lihat hidung Ayahmu. Dia begitu mancung. Bunda harap nanti, kau akan memiliki hidung sepertinya." Aku menggumam perlahan, sangat pelan agar dia tak mendengarkan apa yang ku katakan.
Aku harus menunggu beberapa hari lagi sampai usia kandunganku menginjak 4 bulan. Setidaknya di usia itu, kau sudah tak bisa lagi untuk di gugurkan anakku.
Bukankanya aku ini manusia keras kepala yang melawan takdir. Tapi, aku hanya ingin berjuang demi nyawa Anakku.
Sedih dan hancur saat mengingat ini, aku dulu tumbuh tanpa kasih sayang ibuku. Dan.... apakah sekarang anakku juga harus merasakannya juga? Hanya tumbuh besar bersama Ayahnya?
"Eungh...," Kudengar lirih suaranya. Lelakiku dia menggeliat dan mengeratkan pelukannya di perpotongan bawah dada.
"Kau bangun?" Dedisku bertanya padanya yang belum membuka mata. Dia hanya menggeliat lalu menguap.
Itulah kebiasaannya. Walaupun sudah tertidur cukup lama dia masih akan menguap dalam tidurnya. Lucu saja bagiku melihat wajahnya yang seperti itu.
"Eungh...!" Lagi dia hanya melengkuh perlahan sambil menggerakkan dagunya yang berada di pundakku. ! Nafasnya menderu menerpa pipiku membuat bulu halus ku meremang.
"Sudah baikan?" Tanyaku padanya yang tanpa kulihat aku tau jika ia sedang tersenyum.
"Baikan? Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu Ay." Jawabnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Aku baik-baik saja." Jawabku yang sebenarnya hanya tak ingin dia mengetahui yang sebenarnya.
Dia duduk bersandar pada bantal yang diletakkannya sebagai bantalan punggung. " Kalau kau baik-baik saja mengapa ada disini dan tidak memberitahuku? Dan ini..., selang-selang infus ini? sampai dua begini?" Dia berbicara dengan nada suara lembut tanpa penekanan ataupun ancaman.
Nada bicaranya sungguh nyaman terdengar di telingaku. Tapi.... aku malah merasa semakin aneh. Bukankah seharusnya dia marah-marah?
"Aku tau kau sedang bekerja, aku tak mau mengganggumu. Kau sudah lelah bekerja dan aku tak mau menambah beban mu lagi." Sanggah ku memalsukan yang sebenarnya terjadi.
Dia merangkul pundakku lalu mengecup pucuk kepalaku memberikan kehangatan yang berbeda dari yang biasanya.
Seharusnya aku senang, tapi aku malah mencapurkan kesenanganku dengan kegalauan. Dia berbeda.
__ADS_1
" Kau ini istriku, kau bukan bebanku. Apapun itu seharusnya kau memberitahuku." Ucapnya berhasil menyentil kebohonganku yang sudah kututupi rapat-rapat sejauh ini.
"Iya." Jawabku yang hanya sebatas mengiyakan tapi tetap menjalankan kebohongan.
"Sayang, kau turunlah nanti kalau ada petugas kita akan kena tegur." Kataku memintanya untuk segera turun.
Jangan lupakan dimana kita berada saat ini. Kita masih berada di rumah sakit. Dia bersikeras untuk naik ke ranjang dan tidur sambil memelukku semalaman tapi hasilnya aku malah tak bisa tidur karena dengkurannya.
"Biarkan saja. Kapan kau bisa pulang?" Tanyanya sambil menatapku tanpa bertanya apa sakitku. Dia terkesan tak mau tau apa penyebab aku berada disini.
"Tinggal menunggu hasil dari pemeriksaan nanti sore saja. Kata mereka dokternya sedang ada kepentingan."
"Oh." Dia hanya ber oh ria tanpa bertanya lagi.
Sumpah, dia sangat berbeda. Dia... apa dia sedang ketempelan?
"Hoamzz... !" Aku menguap di hadapannya. Sumpah aku sangat mengantuk sekarang.
" Kau mengantuk?" Tanyanya dengan menatapku lembut.
"Iya. Tadi aku belum bisa tidur. Mungkin bawaan...., em..." Aku seketika mengatupkan mulutku yang lancang ini. Hampir saja aku salah ucap.
"Bawaan apa?" Tanyanya penasaran.
Harus memutar otak untuk mencari alasan terbaik agar tak memancing rasa penasarannya. " Bawaan ini loh, obat." Jawabku sambil meringis menutupi kepandaian ku dalam berbohong.
Dia mengangguk-angguk beberapa kali sambil memainkan bibirnya seolah sedang menelan keterangan tanpa rasa penasaran.
Sore hari.
"Siapa?" Tanyaku pada Jackie yang masih mengupas buah apel untukku.
"Entah." Dia menggidikan bahunya dan bangkit dari tempat duduknya.
Kulihat, tubuh kekarnya berjalan mendekati pintu, membukanya dan tertawa setelahnya.
"Masuk Bu, masuk!" Ucapnya pada seseorang yang belum terlihat siapa dia.
Terlihat wanita paruh baya yang terlihat berjalan dengan gesture yang sangat akrab di mataku. Ah iya benar itu ibu angkatku. " Ibu..." Ucapku memanggilnya.
"Nana... anak ibu. Bagaimana kabarmu Nduk? sehat? Dia...." Pertanyaannya terhenti ketika menatap perutku dan aku mengerti kemana arah pertanyaannya tertuju.
" Baik Bu. Baik semuanya." Jawabku yang kemudian tersenyum dan memeluknya hangat.
Beginikah rasanya di khawatirkan oleh seorang Ibu? Aku suka perasaan ini. Rasanya berbeda dari yang Bapak berikan.
"Ibu, darimana Ibu tau aku ada disini?" Tanyaku padanya ketika pelukan kami terurai.
__ADS_1
Dia tersenyum menatapku dan kemudian mengusap suraiku. Menyelipkan anak rambut kebelakang telingaku. " Tentu saja dari suamimu. Dia begitu mencemaskan mu." Ucapnya.
Tatapan ku beralih pada Jackie. Aku seolah menuntut penjelasan darinya.
"Terbalik, bukankah ibu yang memberitahuku kalau Ayana dirawat disini?" Jawabnya.
Sungguh jawabannya membuatku bingung. Bagiamana bisa malah ibu Sri yang tau tentang keadaanku dan dimana aku berada? sedang aku saja sama sekali tak memberitahunya. Aneh!
"A... Apa maksudnya Jack?" Tanyaku penasaran dan menuntut penjelasan.
Suamiku lalu mendekat dan memelukku di hadapan Bu Sri. Dia seolah ingin menenangkan diriku juga berbagi kehangatan di cuaca dingin saat hujan begini.
" Sudah jangan banyak pikiran. Kasihan bayi kita nanti." Lirihnya berbisik di telingaku dan kemudian mengurai pelukannya lalu beralih menatap Bu Sri.
" Ibu bawa apa?" Tanyanya yang kemudian membuka bungkusan yang di bawa Bu Sri.
Apa tadi katanya?
Kasihan bayi kita? Sejak kapan dia tahu aku sedang mengandung? Apa... aku harus apa sekarang?
"Ah ini Soto. Aku tau kalau kalian sangat suka soto buatanku kan? Ini ibu bawakan. Makan yang banyak biar cepat pulih." Ucapnya tersenyum padaku. Juga suamiku. Mereka berdua tersenyum melihatku.
Ji... jika dia sudah tau. Lalu mengapa dia tidak bertindak apapun?
Dia tidak marah atau menceramahi ku? Apa Bu Sri yang memberitahunya?
Ah sudahlah lebih baik aku nikmati saja dulu makanan yang ada di depanku ini.
Walaupun sekarang aku sedang banyak pikiran tapi bukan berarti aku langsung tak doyan makan. Aku butuh makan demi bayiku juga.
Mereka berdua bercengkrama dan terlihat sangat akrab.
...πππΌππ...
"Hemhh....! Aroma ini. Aku sangat merindukannya. Kasurku...! aku merindukanmu." Ucapku ketika memasuki kamar kami dan langsung merebah dengan asal-asalan di kasur empuk yang kurindukan.
" Hati-hati Ay! Awas perutmu!" Ucapnya yang setengah berlari saat melihatku merebah sesuka hati dan tak perlahan.
Dia terlihat sangat cemas.
"Hati-hati ya. Ingat kau masih hamil muda."
"Jack, Darimana kau tau tentang kehamilanku ini?" Aku bertanya karena tak kuat lagi dengan rasa penasaranku.
"Bu Sri. Dia menggunakan kekuatannya untuk memberitahukan ku semuanya tentang mu. Ay... berjanjilah padaku untuk terbuka padaku. Dan apapun yang terjadi, kita hadapi bersama ya." Ucapnya lembut sambil berbaring di sebelahku dan membawaku kedalam dekapannya.
"Kau tidak marah?" Tanyaku memastikan.
__ADS_1
" Tidak, untuk apa? Kau melakukan dan memilih apa yang membuatmu bahagia. Bukankah seharusnya aku mendukungmu? Aku yakin kita akan bisa melaluinya bersama." Ucapanya syarat akan makna yang tersirat.
Erat, dan hangat. Dia memelukku dan memberiku kehangatan. Jack you gimme hugs. you warm me up.