
...πΆπΆπΆ...
Suara jerit tangis bayi terdengar untuk pertama kali setelah sekian lama di dalam keluarga Armanto.
Cucu pertama mereka telah lahir ke dunia tepat sesuai dengan prediksi Dokter. Dita melahirkan bayi laki-lakinya ditemani dengan sang suami. Ayana malam itu begitu senang kala mendengar kabar kelahiran dari keponakan barunya.
"Jack, bangun! Lihat ini Bunda memberikan kabar." Ayana menyodorkan ponselnya yang menunjukkan sebuah gambar bayi mungil nan tampan.
"Wah benarkah?" Jackie yang sudah tertidur segera terduduk. "Woah...! keponakanku begitu tampan. Dia menggemaskan sekali sayang." Kata Jackie dengan mata yang seketika memancarkan keceriaan.
Ayana, jauh di dalam hatinya dia ikut bahagia tapi juga teriris penuh luka. Dia sedih saat meraba sendiri akan dirinya yang belum bisa memberikan keturunan sedangkan suaminya begitu menantikan.
"Iya, Dia tampan. Sangat mirip dengan Ayahnya." Kata Ayana.
"Ayahnya itu mantan suamimu kan?" Celetuk Jackie.
"Em... maaf Jack bukan seperti itu Maksudku. Aku hanya berkata jujur jika keponakan kita ini memang mewarisi garis wajah dari Ayahnya." Ayana tergugup menjelaskan ucapannya. Dia takut jika suaminya akan salah mengartikan.
Jackie mengangguk dan kembali berbaring. "Kamu kenapa?" Tanyanya tiba tiba.
Ayana ikut berbaring dan menempatkan kepalanya diatas Dada suaminya. Dia mendengarkan irama detak jantung suaminya dan terisak disana. "Jack, apa kamu marah?" Tanyanya.
"Tidak, buat apa aku marah? Ya bagus kan kalau keponakanku mewakili ketampanan Ayahnya itu berarti dia benar-benar produk orisinil dari Kak Gino. Aku jadi sedikit cemas malah jika anaknya mirip aku." Jawabnya sambil mengusap rambut lurus sang istri.
"Kamu.." Ayana bercicit dengan tawa yang tertahan bercampur dengan air mata.
"Sayang, maaf... aku belum bisa memberikan keturunan buatmu. Kita sudah sangat sering mencobanya dan dengan berbagai cara. Dalam satu tahun ini kita sudah 4 kali pergi berbulan madu." Kata Ayana.
"Aku merasa gagal menjadi istri yang baik." Dia berbicara dengan tangis tersedu. "Kau bisa meninggalkanku jika kau mau dan lanjutkan hidupmu." Kata Ayana yang terbata-bata.
"Hey!" Jackie langsung menepuk-nepuk dan memeluk erat tubuh sang istri yang sudah bergetar menangis sedih. Bahunya turun naik dengan suara sumbangnya.
"Jangan bicara yang tidak masuk akal Ay. Kita sudah membicarakan hal ini. Tanpa anak pun aku akan tetap bersamamu, mencintaimu dan menjadi suamimu. Tidak ada pembahasan lain lagi Oke?" Disini, Jackie mendengarkan bahwa dia tak suka dengan sikap sang istri yang cenderung berputus asa dan mudah menyerah.
"Setiap orang itu, punya waktunya masing-masing. Ada yang sukses, punya rumah tangga di usia muda, tapi kemudian dia juga mati di usia muda. Ada yang bermalas-malasan, rumah tangga berantakan, tidak punya rumah, tapi akhirnya dia bisa hidup kaya raya di usia tua. Intinya, dari setiap kita ini memiliki waktu tersendiri untuk bahagia ataupun menangis. Jadi..., kamu.... cantikku...., jangan bersedih ini memang waktu kita untuk bersabar dan lebih giat berusaha. Ada aku disini." Jackie mengakhiri ucapannya dengan memberikan kecupan di pucuk kepala sang istri.
"Terimakasih." Kata Ayana.
Tapi, apa kamu paham sebagai wanita beban mental seperti apa yang aku tanggung saat wanita seumuranku sudah memiliki momongan sementara aku belum? Apa kamu paham, bagaimana rasanya selalu melihat orang lain tertawa bahagia dengan buah hatinya sementara aku tidak punya? Aku juga menginginkannya...! Ayana hanya bisa menjerit di dalam hatinya.
"Besok pagi kita pulang, kita kunjungi langsung keponakan baru kita ya? jangan bersedih lagi. Anggap saja dia juga anakmu." Kata Jackie.
"Tapi ibunya tidak akan mengijinkan ku bahkan untuk sekedar menyentuhnya. Kamu juga tahu itu kan, bagaimana dia sangat membenciku saat hamil?" Ayana semakin terisak dalam dekapan sang suami.
Iya, aku tahu dan aku tidak bisa mengambil sikap atas hal ini. Apa yang harus ku lakukan jika dia sudah berkata bahwa itu adalah kemauan bayinya? Aku juga tidak mengerti mengapa dia yang awalnya biasa saja sekarang begitu membencimu? Apa kamu dan Kak Gino pernah terpergok melakukan sesuatu? Jujur saja hatiku juga selalu mengganjal jika memikirkan hal ini.
__ADS_1
"Hemmh....!" Jackie mendengus. "Abaikan, abaikan saja bersikaplah berani jika kamu tidak salah. Apa salahnya mengunjungi keponakan dan memberikan hadiah? perkara dia mau membuangnya atau menghancurkan hadiah pemberianmu, ikhlaskan saja. Apa yang sudah diberikan sudah sepatutnya kita relakan." Kata Jackie menasehati dengan bijaksana.
"Makasih .." Ayana mendekap semakin erat dan menyembunyikan wajahnya. " I love you." Katanya.
"I love you too...!" Balas Jackie.
Sementara itu di Rumah sakit bersalin.
"Cucu Oma... gantengnya Oma...!" Bunda Winda menimang sang cucu dengan sangat bahagia.
Kebahagiaan itu juga disaksikan oleh Alex dan Diah, juga Ayah, Gino serta Dita.
"Sudah Sayang, nanti lagi. Biarkan dia tidur jangan di gendong terus. Ingat kata dokter, jangan banyak di ayun jika ingin perkembangan otaknya baik." Kata Ayah Dhani menasehati.
"Ah, Ayah... bilang saja iri karena Ayah tidak bisa menggendong bayi kan?" Celetuk Bunda Winda yang kemudian meletakkan bayi mungil yang terlelap itu di samping Ibundanya.
"Kak lihat, Dia sangat mirip denganmu." Kata Alex berniat untuk memuji.
"Apanya?" Tanya Gino.
"Jenis kelaminnya." Jawab Alex sambil terbahak-bahak.
"Ish...! dasar kau ini!" Gino menjitak kepala adiknya itu. "Si bontot belum pulang?" Tanya Gino kemudian.
"Belum, dia sedang berusaha. Kita doakan saja." Jawab Diah sambil mengusap perutnya dan kemudian menunduk lalu mencium pipi bayi mungil itu.
Diah mengangguk. " Iya Kakak ganteng, ini adikmu perempuan. Doakan semoga nanti lancar ya.." Diah menjawab dengan menirukan suara balita.
Kedua paruh baya itu kini tengah berbahagia menyaksikan anak dan cucunya berkumpul bersama meskipun masih kurang komplit.
"Berapa Minggu lagi nak?" Tanya Ayah Dhani yang semenjak hari itu lebih memprioritaskan Diah dan menjadikannya sebagai menantu kesayangan.
"6 Minggu lagi Ayah." Jawab Diah sambil tersenyum dan duduk sebab perutnya sudah sering membuatnya menjadi sesak dan susah bernafas.
"6 Minggu lagi kita punya cucu lagi? Wah ini suatu rejeki yang berlimpah." Kata Bunda Winda yang teramat senang.
"Mau diberi nama siapa?" Tanya Alex yang tangannya terus saja mentoel pipi bayi Gino hingga si bayi terusik dan membuka mulutnya seolah sedang mencari ASI.
"Alex..! kau mengganggunya!" Geram Gino.
"Dia lucu Kak. Aku masih takjub ada mahluk hidup hasil perbuatan tidak senonoh kita di dalam perut mereka." Alex berseloroh sesuka hatinya sambil terkikik sendirian.
Gino menepuk kening adiknya. "Eh, mulutnya ya! Inget sebentar lagi jadi Ayah! hati hati ngomongnya. Tidak senonoh... Mesum lebih tepatnya." Kata Gino yang juga sambil tertawa.
Ayah dan Bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya sedangkan Diah hanya membatin. Amit amit jabang bayi..., jangan kamu tiru kelakuan Ayahmu... Amit amit...
__ADS_1
Mon maaf nih anak kalo ga biru bapaknye mo biru sape? tetangge?
...π£π£π£...
"Ayolah ikut turun, di dalam juga Adah Ayah dan Buna, Kak Dita juga pasti tidak akan merespon macam-macam." Jackie yang sudah sampai di depan lobby rumah sakit masih membujuk Ayana.
"Jack, kamu saja ya yang masuk dan berikan ini. Aku sebaiknya pergi saja. Katakan saja jika aku sedang banyak pembeli di toko." Kata Ayana yang malah memindahkan paper bag yang di bawanya ke tangan sang suami.
Disaat yang bersamaan, Gino juga sedang melintas di lobby dia akan meninggalkan rumah sakit untuk membelikan baju ganti Dita. Dia melihat pemandangan bagaimana adiknya berusaha merayu Ayana untuk menemui Dita dan mengucapkan selamat.
"Ya sudah kalau itu keputusanmu. Hati hati menyetirnya." Kata Jackie yang kemudian langsung masuk kedalam ruangan tempat Dita di rawat.
Ayana dengan wajah sendunya kemudian kembali masuk kedalam mobil dan segera di ikuti oleh Gino yang dengan tiba-tiba duduk di kursi belakang.
"Kak Gino?" Ayana sangat terkejut.
"Jalan!" Kata Gino tak banyak bicara tapi Ayana masih Diam saja. " Jalan kataku!" Ulangnya.
"I... iya..." Ayana menurut.
Gino terdiam dan menahan sesuatu yang sedari lama begitu bergejolak di dalam dirinya. Sesuatu yang kali ini sudah tak bisa di bendungnya lagi.
"Stop!" Kata Gino menginterupsi.
Ayana menginjak pedal rem sesuai permintaan Kakak iparnya. Ayana berhenti tak jauh dai pusat perbelanjaan.
"Kenapa kamu begitu menjauhiku? Apakah hanya karena rasa cemburu Dita?" Tanya Gino dengan tatapan mata yang tertuju pada Ayana melalui kaca spion dalam.
Ayana membalas tatapan tersebut dengan sendu. "Iya. Aku tidak mau salah paham itu terjadi dan semuanya menjadi semakin runyam. Jadi tolong mengertilah." Kata Ayana.
"Mengerti? tidak... aku tidak bisa mengerti. Aku menghormatinya sebagai istriku tapi aku juga menyayangimu, apa kamu juga bisa mengerti kemauanku?"
DEG!! MENYAYANGI?
"Kak, kamu sadar akan ucapanmu?"
"Iya!"
"Kita sudah lama berakhir! kita jalani hidup masing-masing sekarang.? jadi tolong, jangan seperti ini. Aku menghormatimu sebagai Kakak iparku." Ayana membalikkan badannya dan menatap Gino dengan segenap keberanian.
"Terimakasih sudah menghormatiku. Tapi soal rasaku itu adalah hakku dan urusan pribadiku. Aku tidak memintamu untuk bertanggung jawab ataupun membalasnya. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisimu disini dengan siapapun termasuk Dita." Kata Gino yang menunjuk dadanya.
Inilah yang Ayana takuti selama ini. Gino adalah pecinta dalam diam yang ulung. Sedari dulu Ayana masih bisa merasakan itu dari tatapan matanya. Hanya saja Gino berusaha mengalah demi adiknya.
"Jangan balas atau lakukan apapun. Bersikaplah seperti biasa terhadap kami. Rasa ini selalu ada dan kusimpan rapi entah sampai kapan, hanya kita yang tahu." Kata Gino yang kemudian dengan tiba-tiba mengecup bibir Ayana.
__ADS_1
Dia turun begitu saja setelah selesai dengan ucapannya dan menaiki taksi sesudahnya. Meninggalkan Ayana yang hanya mematung dalam diam sambil memegangi bibirnya.
Apa aku sudah berselingkuh dari suamiku dengan kakaknya sendiri?