Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
107. siapa?


__ADS_3

...~~~...



...🍁🍁🍁...


Ayana melemparkan sembarangan outletnya ketika ia sampai di rumah setelah datang ke kediaman Alex. Dia tak menyangka jika Alex melakukan hal bodoh itu hanya semata-mata untuk mendapatkan Diah tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkannya.


"Kenapa mukanya di tekuk begitu?" Tanya Jackie datar saat dia juga baru memasuki rumah.


"Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika Kak Alex yang ku kenal paling lembut dan hangat diantara kalian melakukan hal itu." Tuturnya tanpa penekanan dan lebih kepada tatapan mata yang hampa.


"Bagiku wajar saja, sebab kami manusia bukan malaikat. Setiap kita selalu punya sisi buruk kan?" Jackie menyahuti seraya duduk di sebelah Ayana.


"Enak ya, punya saudara. Selalu ada membela dan memberikan dukungan." Lirih Ayana menggumam tapi begitu jelas di telinga Jackie.


Jackie paham mengapa istrinya itu berkata seperti itu. Sebab dia terlahir sendirian tanpa memiliki saudara kandung. Apapun Masalahnya Ayana memikirkannya sendiri dan menghadapinya sendiri.


"Iya, harusnya begitu. Kamu juga punya kami kan? Kak Alex dan Kak Gino tidak akan pernah tinggal diam ketika kamu terkena masalah. Termasuk kemarin saat hubungan kita renggang. Kak Gino yang mengurusmu."


"Em... kau benar." Ayana mengangguk.


Memang sosok lelaki satu itu tidak akan pernah bisa lepas dari kisah hidupnya. Selalu dan selalu saja bertaut denganya. Andai bisa memilih, Ayana tentu tak ingin berada di posisinya sekarang. Dimana mantan suami dan adik kandung saling berdekatan. Itu bukan situasi yang mudah di hadapi. Ditambah lagi dengan Dita yang akhir-akhir ini dengan terang-terangan menyatakan kecemburuannya.


"Hari ini tolong bantu aku ya... Aku sibuk di kantor jadi, waktuku sangat sedikit. Ada sebuah proyek di kawasan xxxxxxx kamu datanglah kesana sekedar untuk melihat seberapa jauh garapannya. Nanti Fajar yang akan mengantarkan."


Aneh, biasanya juga hanya fajar sendiri. Tidak dengan aku yang juga harus ikut?


"Proyek apa, sampai memintaku untuk mengeceknya?" Tanyanya.


"Hemh, proyek kecil sih. Tapi ya lumayan membuat lelah... Pokoknya bantu untuk melihat seberapa jauh garapannya. Ya?" Ucap Jackie yang setengah memaksa sang istri untuk berkata Ya.


Hasil dari rembukan mereka bertiga siang tadi pada akhirnya adalah menunggu keputusan dan masukkan dari Gino si kakak tertua yang di kenal paling bisa menyelesaikan masalah.


Sedangkan mulai saat Dita mengungkapkan kecemburuannya, Ayana mulai memberikan jarak yang lumayan jauh antara dirinya dengan Gino. Bahkan mereka saling bertukar pesan kembali.


Dalam pesan tersebut, Ayana mengatakan yang sebenarnya, dimana Dita begitu mencemburuinya. Untuk itu Gino di harapkan agar tidak salah paham dalam menyikapi keadaan dimana Ayana akan lebih sering menghindarinya.

__ADS_1


"Oke, aku akan memeriksanya. Kapan Fajar menjemput?"


"Satu jam lagi." Ucap Jackie yang kemudian bangkit dan hendak bersiap.


Sementara itu, Ayana hanya menghabiskan satu jam waktunya untuk berbaring di sofa. Dia memikirkan semuanya yang sedang terjadi. Hubungannya dengan ketiga bersaudara yang dalam kesemuanya itu memiliki kaitan yang erat. Hanya saja sekarang dia harus membuat jarak karena kecemburuan suaminya.


"Aku berangkat ya?" Ucap Jackie yang sudah kembali setelah beberapa saat masuk kedalam kamarnya dan keluar sambil menenteng sebuah bungkusan.


"Ya... I love you!" Ayana berseru dengan niatan agar sang suami berhenti dan melakukan sesuatu yang terlewatkan.


"Hem!" Jawab Jackie tanpa berhenti dan terus melangkah.


" I love you!!" Ulang Ayana dengan suara yang semakin meninggi.


Jackie mengulum senyumnya dan terus berjalan. "Ya!"


Dia sengaja mengerjai Ayana.


"I Love.... you .....!" Ayana semakin menjadi, suaranya sudah naik beberapa oktaf.


Tak mendapatkan respon sama sekali, Ayana kemudian berlari mengejar Jackie sampai menarik jaketnya. " I love you....!" Ayana berteriak dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


"I love you Kataku!!" Ulangnya lagi dengan bersungut-sungut.


"I love you too... sayang. Orang aku hanya ingin mengambil Hape dulu. Ketinggalan di mobil loh... udah nangis aja." Ucapnya berbohong.


Padahal dia sengaja, sangat sengaja malah untuk mengerjai Ayana Agar terus meneriakkan kata-kata cinta.


"Menyebalkan!" Ketus Ayana berbicara yang kemudian di ikuti dengan lirikan tajam dan afeksinya. "Dasar gigi kelinci!!" imbuhnya lagi sambil mengerucutkan bibirnya.


Ada kesenangan tersendiri bagi Jackie saat dia berhasil mengerjai Ayana. Senang saja dia saat melihat wajah cemberut istrinya. Menggemaskan, itu istilahnya.


"Tapi kamu sayang kan?" Jackie sengaja menggoda sambil mencubit gemas pipi Ayana.


"Enggak!" Ayana menyanggahnya lalu melepaskan pelukan hangat Jackie.


Jackie mengulum senyumnya lalu kembali menggoda istrinya. "Oh, okay! Sepertinya aku masih pantas jika menggandeng anak SMA." Celetuk Jackie.

__ADS_1


"Yak!! awas saja sampai kamu berani melakukannya!! Aku juga bisa!!" Bala Ayana yang berjalan meninggalkan suaminya sambil menghentakkan kakinya.


Jackie mendelik mendengar sahutan dari istrinya yang terkesan menantang dan mengibarkan bendera perang. " Apa katamu tadi? coba ulangi!"


"Aku juga bisa!!"


"Awas saja ya kamu sampai berani... kamu berani Eoh? sini kamu...!" Jackie memanggil Ayana dengan menggerakkan tangannya maju mundur.


Ayana bergeming dan malah melanjutkan langkahnya menuju ke kamar. "Apa dia marah sungguhan?" Gumam Jackie melihat punggung snag istri yang kian menjauh.


"Ay...!" Panggilnya.


"Hem...!" Sahut Ayana sangat lirih.


"Ay!" Panggil Jackie dengan setengah berteriak karena Ayana mengabaikannya.


"Apa?" Ayana menyahut tanpa suara ataupun membalikkan badannya. Dia masih tetap berjalan lurus dan menghitung mundur. Dia yakin suaminya akan menyusulnya." 3, 2, 1...."


Dan benar saja, si gigi kelinci yang bertubuh kekar itu langsung menyusulnya dan memeluknya erat. Tangan kekarnya melingkar di perut Ayana dengan sedikit melonggarkanya tanpa membuat tekanan.


"Jangan marah." Ujarnya sambil memeluk tubuh sang istri.


Ayana terkikik geli, begitu mudah baginya untuk menarik si bungsu dari keluarga Armanto itu untuk melekat padanya. "Siapa yang marah? Aku tadi menjawab kok. Begini, Apa?" Ulangnya lagi pada hal yang baru saja dia lakukan dan itu membuat Jackie tertawa.


Belum apa-apa dia sudah sebegitu takutnya jika akan ada masalah yang muncul diantara mereka.


"Aku paling tidak suka kalau kita marahan." Ujar Jackie.


"Aku juga, itu sebabnya kan aku selalu mengalah denganmu?"


"Hem, aku tahu. I Love you sayangku." Ucapnya yang kemudian mengecup kening sang istri.


Sedang berpelukan, dan sesuatu yang bergetar di ponsel Jackie mulai beraksi. Entah siapa yang menghubungi, tapi Jackie lebih memilih untuk mengabaikannya tanpa perduli apa kepentingan si pemanggil.


"Siapa?" Tanya Ayana.


Jackie mematikan ponselnya lalu memasukkannya kedalam saku celana. "Tidak penting."

__ADS_1


Ayana mengerutkan keningnya, Suaminya ini terkesan menyembunyikan si pemanggil darinya.


Siapa yang menghubunginya, mengapa dia terlihat tidak ingin aku mengetahuinya?


__ADS_2