Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
95. Membingungkan.


__ADS_3

...🌼🌼🌼...


"Kamu akan jadi Ayah." Jawab Dita.


Gino terbelalak sempurna, wajahnya berbinar bahagia dia begitu senang, sepertinya ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik di perutnya.


" Wah, aku akan jadi Ayah? iya?" Gino menangkup wajah sang istri dan mencari jawaban dari kedua netra yang saling bersitatap.


Dita hanya menunduk dan mengangguk. Bukankah seharusnya berbahagia bersama, lantas mengapa Dita justru tersedu tak berkesudahan?


"Kamu kenapa nangis? ga mau punya anak dari aku?" Celetuk Gino membuat hati dita tersentil.


Dita lalu terdiam dan satu tangannya melayang memukul lengan Gino. " Bukan begitu!" dia memekik kesal lalu memutar tubuhnya dan berbaring di sofa.


"Lalu?" Gino ikut berbaring.


"Bukankah ini terlalu cepat? kita sekali melakukan dan langsung..." Dita berbicara dengan tangannya yang bergerak perlahan mengusap sendiri perutnya yang masih rata.


"Bagus dong! itu tandanya ini adalah bibit unggul." Celetuk Gino ngawur membuat Dita menatapnya serius.


"Aku, belum terlalu siap menjadi ibu." Kata Dita.


JLEB!


CEPLAK!!


Wajah Gino seperti tertampar keras saat Dita mengatakan hal tersebut. Dia sudah dalam keadaan hamil tapi berkata belum siap?


Apakah ini merupakan suatu sinyal akan berulangnya suatu kejadian yang tidak mengenakkan dalam hidup Gino? Kehilangan lagi anaknya. Tidak Gino sungguh tak ingin hal buruk itu.


"Kamu boleh benci aku, atau ga suka sama aku, tapi tolong sayangi anak ini, kamu hanya butuh waktu saja. Aku yakin kamu bisa jadi ibu yang baik Dit. Jangan bilang yang aneh-aneh." Ucap Gino dengan kekhawatiran yang tak dapat di sembunyikan.


Dita berjalan dan duduk di bibir ranjang. "Mas, kemarilah."


"Apa kamu benar-benar menginginkan keturunan dariku? Aku hanya belum siap, bukannya tidak mau. Aku sendiri masih ragu akan pernikahan kita."


"Ragu? ragu bagaimana?" Gino tidak mengerti. Yang dia tahu dia sudah mencoba semuanya. Tapi reaksi dari Dita tetap saja hambar.


Dita menelan ludahnya perlahan, tanda bahwa dia sulit menyampaikan hal ini kemudian. Seolah menelan getirnya kenyataan. "Mas, aku selalu ingin mencintaimu dan memiliki keluarga yang hangat dan harmonis. Tapi apa aku boleh jujur?"


Gino mengangguk memberikan jawabannya.

__ADS_1


Dita menggigit bibir bawahnya ragu. Dia menatap Gino yang sudah tegang menunggu perkataannya selanjutnya.


"Em... aku sebenarnya masih tak percaya padamu."


"Tak percaya apa lagi Sayang? Kita sudah menikah, tinggal serumah dan sekarang kau mengandung anakku. Apalagi yang membuatmu ragu?"


Memang pernikahan mereka terjadi bukan karena kemauan keduanya tapi melainkan hanya karena kerjasama yang kebablasan. Tak mudah bagi Dita untuk berada di dalam satu keluarga dimana ada mantan istri dari suaminya juga disana.


Rasa was-was, rasa curiga, selalu saja menghampiri wanita bertubuh sintal itu. Pikirannya selalu saja berkelana tak tentu arah manakala dia mengingat akan hubungan rit suaminya sendiri dengan Ayana. Ada perasaan tak rela tapi Dita sendiri belum bisa meraba dan menempatkannya. Dia masih belum tau itu perasaan macam apa.


Apakah perasaan cemburu?


Ataukah hanya sebatas merasa terancam oleh situasi?


"Setiap kali keluarga kita berkumpul bersama, aku merasakan was-was yang luar biasa. Kamu dan Ayana pernah memiliki bahtera bersama. Bagaimana aku tidak was-was akan hal itu?"


"Apa yang kamu cemaskan? dia adalah istri adikku sekarang. Lalu aku bisa apa? adikku begitu mencintainya melebihi perasaanku padanya dulu. Tapi itu dulu Dit, dulu!"


Dita mendongakkan kepalanya berusaha menahan bulir air matanya yang jatuh namun sia-sia. " Aku takut, kau masih mencintainya."


Keraguan itu selalu ada, siapa yang tau akan isi hati manusia yang sesungguhnya? Disini, Dita merasa posisinya terancam, sementara suaminya merasa sudah benar-benar bisa melupakan. Dua sisi yang saling memunggungi menciptakan suasana yang sulit dipahami.


Dia membawa Dita kedalam dekapannya. "Dengarkan aku, mungkin semua ini aneh bagimu, semua ini masih begitu ambigu buatmu. Tapi aku sungguh-sungguh dengan rumah tangga kita ini." Gino menjeda ucapannya lalu mengecup kening Dita.


Malam berakhir dengan Dita yang berdiam diri dan menarik jarak antara dirinya dengan suaminya. Mungkin ini bukan apa-apa dan hanya sebatas perubahan hormonal saja.


...🪴🪴🪴...


Pagi harinya, semuanya masih sama, Dita hanya diam meskipun menjalankan semua kewajibnya dari memasak, menatakan baju suami, bahkan dia juga yang menyusun semua berkas dan file yang akan dibawa Gino.


Gino yang baru selesai mandi tidak mendapati istrinya di dalam kamar, dia sengaja keluar dengan baju yang belum dikancingkan serta dasi yang hanya ditentengnya.


"Dit...!" Seru Gino menghampiri wanita yang tengah mengandung benih darinya tersebut.


"Hemm!" Hanya gumaman yang di tangkap oleh rungu Gino dan tidak ada apapun lagi setelahnya.


Gino memeluk Dita dari belakang lalu menghujani tengkuk sang istri dengan ciuman..


"Kenapa sih? ngambek?" Tanya Gino dengan menyesap leher Dita yang membuatnya kegelian.


"Enggak ngambek kok, sumpah aku tuh males aja liat kamu..!" Cetus Dita mengatakan yang sesungguhnya ia rasakan.

__ADS_1


Gino melepaskan pelukannya dan terdiam. Dia mengamati punggung sang istri yang masih menuntaskan pekerjaannya. Dita berbalik dan melihat kancing baju yang masih berantakan, lalu dia mengancingkan satu persatu setiap mata kancing.


"Aku tidak tau, moodku sangat berantakan. Semalam tiba-tiba saja aku meragukanmu, dan sekarang aku tidak suka melihatmu. Hawanya jengkel banget....!" Katanya.


Dibilang seperti itu jelas saja membuat Gino lesu. " Apalagi sih salahku, sampai kamu tuh aneh begini padaku? Apalagi...? kamu mau apa...? Jengkel sama aku tuh juga karena apa?" Gino berbicara sambil menggerakkan tangannya, penuh penekanan dan rasa keingintahuan.


"Enggak negerti mas, ngak ngerti... pengen aja gitu jengkel sama kamu." Kata Dita yang tangannya beralih membuat simpul dasi.


"Tapi enggak marah kan?" Gino memastikan setidaknya istrinya itu tidak menyimpan kemarahan padanya.


Dita menggeleng.


Enggak marah tapi curigaan terus jengkel tanpa alasan. Apa lagi sih ini?


"Dah rapi, Ganteng sekarang." Puji Dita yang setelah memuji lalu memakaikan celemek pada suaminya.


Gino melongo mendapat perlakukan aneh dari istrinya. " Sayang, aku mau kerja loh, kenapa malah di pakein ini?" Gino mengekor di belakang sang istri.


"Aku lapar dan pengen banget kamu yang buatin telur mata sapi setengah Mateng, 3!" Dita menyunggingkan senyumnya di akhir kalimatnya.


Melihat wajah istrinya yang tak lagi cemberut dan sudah lebih ceria, Gino tak kuasa untuk menolak kemauannya, Hanya membuat telur mata sapi apa susahnya?


"Baiklah." Gino menurut lalu mulai membuatnya. Sementara itu Dita memutuskan untuk mandi.


Selesai dengan mandinya, Dita kembali ke meja makan dan kali ini dengan wajah yang begitu ceria, matanya tertuju pada hasil masakan sang suami si telur mata sapi.


Hanya dengan menambahkan nasi putih dan saus sambal di atasnya sudah cukup membuat Dita makan dengan lahapnya.


"Apakah enak?" Tanya Gino yang menunjukan atensinya pada sang istri.


"Enak." Dita mengangguk cepat.


Hanya telur goreng apakah seenak itu?


Selesai dengan sarapan bersama, Gino berpamitan dan siapa sangka terjadi drama sebelum keberangkatannya.


"Aku berangkat." Kata Gino yang sudah siap beranjak dari tempat duduknya.


Dita seketika mencekalnya. "Jangan!"


Jangan kenapa lagi sih? ada apa? salah apalagi aku?

__ADS_1


__ADS_2