Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
30. Lebih indah bila semuanya berakhir.


__ADS_3


...🌹🌹🌹...


POV Ayana.


" Auh, kepalaku." Aku menggumam dan melihat sekitar. Aku hanya bisa tersenyum miris sekarang. Tubuhku mulai menggigil kedinginan dan parahnya lagi tiada satupun manusia yang tau keberadaan ku. Satu nama yang kusebut, dan ku harapkan dia akan berlari dengan segera untuk menolongku. Gino.


Lirihku menyebut namanya. Aku masih saja tergeletak dilantai kamar mandi dengan tubuh yang sudah basah kuyup. Aku bertanggung jawab atas kegilaan yang dilakukannya. Aku bertanggung jawab atas segala perubahan prilakunya.


Aku tersenyum miris, berpikir untuk merayakan kedatangan malaikat maut yang akan menjemputmu di tempat yang sama sekali tidak elit. Ayana Jasmine, meninggal di kamar mandi. Uh, aku harus merangkak ke ranjang. Setidaknya dengan begitu kematianku agak sedikit berkelas.


Ditemukan meninggal di kamar hotel dengan epic Dan Cantik, seorang wanita muda sekretaris Jackie Putra Armanto. Setidaknya begitu judulnya. Hahahaha, aku menjadi gila di ujung nafasku.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dengan tergesa-gesa, berlarian dan semakin mendekat ke arahku. Benar saja, pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok hitam yang aku pun tak tau siapa dia. Penglihatanku kabur, tak jelas siapa dia. Ahh, mungkin itu Malaikat maut yang datang menjemput?


"Ay....." Gusar suaranya memanggilku dan menepuk-nepuk pipiku tanpa permisi.


Aku tidak suka dengan segala sentuhannya. Dia hanya memperlakukanku layaknya mainan.


Aku tak menjawabnya, tenagaku habis, tubuhku teramat lemas.


Tangannya meraba keningku. " Kau demam katanya." Dengan gurat kepanikan menghiasi wajahnya.


Bukanya kau membenciku Jackie? lantas mengapa kau masih mengkhawatirkan keadaan ku?


Aku benci ini, kau menggagalkan rencanku untuk mati dengan gaya epic diatas ranjang hotel.


Dengan serta merta, dia membopongku dan setengah berlari dia membawaku keluar meninggalkan hotel.


Aku hendak melawan, tapi tenagaku tak cukup kuat untuk menolak segala tindakannya.


Dan sekarang kami berada di dalam mobilnya. Awalnya aku memilih untuk memejamkan mataku. Kepalaku sungguh berdenyut hebat. Mataku terasa panas.


"Kenapa tidak bilang jika kau sedang sakit?" Katanya setengah membentakku.


Aku tak memiliki niatan untuk menjawab pertanyaannya, percuma saja bagiku. Apapun yang ku katakan dia akan selalu menampiknya dan menyudutkanku.


"Katakan apa yang kau rasakan, kau pusing? mual? atau apa?" Dia terdengar layaknya orang yang lembut dan baik saat ini. "Kau sudah makan?"


Aku tertawa getir didalam hatiku. Sudah makan katanya?


Kapan, kapan aku sempat makan? Dia selalu menyuruhku untuk ini dan itu. Bahkan aku sampai tak memiliki waktu untuk sekedar mengecap rasa makanan. Dan sekarang, cuih! dia sok baik padaku. Memuakkan sekali.


"Aku tidak apa-apa." Kataku malas.


"Tidak apa-apa katamu? tubuhmu panas dan kau terlihat pucat." Ujarnya sembari membagi konsentrasinya pada ramai jalanan malam.


"Heh, apa pedulimu? Bukanya kau sangat senang tadi saat mengurungku dikamar mandi?" Ketusku lemah tak berdaya.


"Aku tau sekarang, apa tujuanmu untuk menyetujui permintaan nyonya tentang pernikahan kita." Aku muak dan ingin memuntahkan segalanya sekarang.


"Kau bicara apa." Elaknya tanpa melihat wajahku.


Sumpah aku muak, Aku menggunakan sisa tenagaku untuk melawannya saat ini. Ya sekarang di dalam mobil yang melaju kencang. Malam ini, malam ini akan ku akhiri semuanya. Aku sudah lelah.


"Berhenti!!" Seruku dengan menatapnya tajam.


"Tidak sebelum kita sampai kerumah sakit."


"Berhenti!! aku tidak ingin perhatianmu!! aku bisa mengurus diriku sendiri!!" Sahutku menolak segala bentuk kepeduliannya.


"Tidak usah kau pedulikan aku lagi. Aku sudah lelah dengan hidupku ini!!"


"Berhenti atau aku akan meloncat sekarang juga." Aku tidak mengancam, tapi ini merupakan bentuk keseriusanku dalam upaya mengakhiri semuanya.


Dia tertawa kecil yang aku tau maknanya, dia tak yakin aku akan serius dengan ucapanku. Tapi....


BRUGH....!


Aku terlempar keluar dan menyentuh aspal yang hitam legam dan bertekstur kasar. Aku benar-benar melompat dari mobilnya. Aku berharap trucuk bermuatan berat dibelakangku akan melindasku dengan segera.


Bapak, Ibu, Ayana rindu.


...POV Author....


Ayana, dia terbaring lemah dengan kaki yang sudah terbalut perban putih dengan posisi kaki yang terikat pada gips yang sudah terpasang.


Ayana perlahan mengerjapkan matanya. Silau, putih, dan asing. Telinganya bising dengan riuh suara orang-orang yang berlalu-lalang.


Dia berharap kini dirinya sudah menjadi bagian dari penduduk langit.


"Kau sudah bangun?" Segera Jackie mendekat dan bertanya dengan lembut pada Ayana satu tangannya terulur dan mengusap lembut Surai panjang Ayana.

__ADS_1


"Ah, aku masih hidup. Kenapa aku harus hidup, kenapa tak mati saja?" Lirih Ayana berbicara dengan memalingkan wajahnya dari Jackie.


Jackie bungkam. Dia diam, dia masih tak sadar jika dirinyalah penyebab Ayana merasa lelah dalam menjalani kehidupan.


"Jaga bicaramu! bersyukurlah aku masih menolongmu." Ucapnya dingin yang lalu melepaskan tangannya dan menatap kesal wanita yang pernah menjadi kekasihnya.


"Jangan pedulikan aku. Akan lebih indah bila semuanya berakhir. Aku lelah dengan hidupku!!" Ayana berbicara dengan afeksi yang terpancar dari matanya. Satu tangannya dengan cepat menarik paksa selang infus yang menancap di tangan kirinya membuat darahnya mengalir lancar.


"Hei!! kau gila?" Jackie dengan segera berusaha menghentikan laju darah Ayana yang mengalir dengan menekannya.


"Lepaskan! Lepaskan aku!! aku lelah!!"Ayana memberontak dan berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Jackie dari tangannya.


Tak berhasil, tentu saja. Dia kalah tenaga dengan Jackie.


cepat-cepat Jackie menekan tombol darurat dan dokter segera datang.


" Kenapa ini?" Tanya dokter kala melihat Ayana yang terus memberontak dalam dekapan Jackie.


"Dia ingin kabur dan melepas paksa infusnya Dok." Jawaban Jackie membuat dokter terkejut.


Pasien patah tulang di bagian kaki, ingin kabur? Bagaimana caranya? apa Ayana mau ngesot? Agaknya beban dikepalanya mengalahkan logikanya. Dia bahkan belum menyadari jika kakinya terluka parah.


"Biarkan! biarkan saja!" Ujar Dokter yang membuat Jackie tergelak tak percaya dan Ayana langsung diam seketika.


"Dokter, kau ini bagaimana? pasienmu ingin kabur. Dan apa tadi katamu? biarkan?" Jackie memandang heran sang dokter.


" Larilah jika kau ingin! tentunya jika kau bisa." Dokter berbicara santai dengan ujung dagunya yang menunjuk kaki Ayana.


Ayana melihat kakinya yang berbalut perban dan kini terasa mati rasa. Dia bahkan belum bisa menggerakkan kakinya yang masih terpengaruh oleh obat bius pasca operasi.


"Kakiku?" Ayana terkejut bukan main.


"Kenapa? kenapa tidak leher atau kepalaku saja yang terluka parah? setidaknya semua itu membuatku lupa akan masa laluku!!" Teriaknya yang kemudian melemah karena dokter menyuntikkan obat penenang dan membuat Ayana menutup matanya perlahan-lahan.


"Kau pacarnya? atau kakaknya?" Tanya dokter melihat Jackie yang sedari tadi terus mengamati aktivitas sang dokter saat menangani Ayana.


" Aku calon suaminya."


" Oh, baiklah. Mari ikut keruangan saya." Sang dokter mengajak Jackie untuk berbicara empat mata dengannya.


...Di ruangan dokter....


" Ada apa Dok?" Tanya Jackie sembari menarik kursi untuk tempatnya duduk.


"Jackie, nama saya Jackie."


"Calon istri anda ini mengalami depresi yang sangat menekan jiwanya. Membuatnya ingin mengakhiri hidupnya. Sebenarnya, ada masalah apa antara anda dan calon istri anda?" Tanya sang dokter yang tepat sasaran membuat Jackie gelagapan.


"Tidak ada apa-apa Dok. Hanya saja menjelang pernikahan, kami sering sekali bertengkar." Jawabnya berkilah. Tak mungkin juga bila Jackie membongkar semuanya di depan dokter. Bisa-bisanya 7 hari 7 malam dia bercerita.


Sang dokter mengangguk beberapa kali. " Berbaikanlah dan mengalah saja bila anda benar-benar mencintai calon istri anda. Mengalah di hadapan wanita, tidak akan membuat turun wibawa kita. Malah sebaliknya, kita akan semakin terlihat berkharisma."


"Em .. akan saya coba Dok. Tapi... apakah ada penyakit serius dengan calon istriku dok?"


"Tidak, hasil lab menunjukkan dia baik-baik saja."


Jawaban dokter membuat Jackie merasa tenang.


Jackie lantas kembali ke kamar rawat Ayana.


Ayana masih terlelap karena pengaruh obat penenang. Jackie menaiki ranjang lalu memeluk Ayana erat.


"Maaf, caraku salah. Tapi, ini adalah caraku untuk menutupi rasaku yang sesungguhnya." Gumam Jackie lirih.


benda pipih di sakunya tiba-tiba bergetar. Menunjukkan sang Bunda menghubunginya.


Masih malam tapi belum larut, masih pukul 11 malam.


'Hallo Bun.'


'Halo, bontotnya Bunda. Bagaimana bisnisnya, lancar?'


'Lancar Bun, semuanya baik. Besok Jack pulang.'


'Oh, iya? Wah pas sekali. Besok kalian fitting baju pengantin. Bunda minta sore sih. Bisa kan?'


Fitting baju?


Apa bisa? mungkin setelah ini Ayana akan susah berjalan berbulan bulan lamanya. Bagaimana bisa akan menjalani pesta pernikahan dengan kondisi Ayana yang seperti saat ini? Jackie memutar otak, dia tidak mau membuat kekhawatiran orang tuanya.


'Bun, bila Jackie jujur tentang sesuatu apa bunda akan marah?'


'Apa dulu sesuatunya?'

__ADS_1


'Sebenarnya Jackie dan Ayana, kami sudah tinggal satu atap.'


'Kalian kumpul kebo?'


'Bu... bukan Bun, bukan begitu. Tapi kami sudah menikah secara siri.'


'Jack!! Apa apaan kamu? kenapa berita bahagia seperti ini tidak dibicarakan dulu dengan ayah dan Bunda?'


'Maaf Bun, awalnya aku takut Ayah dan bunda tidak akan menyetujui pernikahan kami. Dan aku berencana akan memberitahu kalian Setelah kami memiliki anak.'


'Gila kamu Jack!! Bunda tidak pernah mendidikmu untuk main kucing-kucingan seperti ini!'


BRAK!!


bunda Winda menutup Panggilan dengan kasar.


"Ada apa Bun?" Tanya Gino santai dia tengah duduk dan menggarap pekerjaannya di laptop. Fokusnya masih terarah ke layar laptopnya.


" Jackie, adikmu. Dia sudah menikah siri dengan Ayana."


Jawaban dari bunda Winda sontak membuat tangan Gino berhenti mengetik dan terdiam sementara itu, di Alex yang juga masih bermain game langsung menoleh dengan serta-merta dan membuat dirinya kalah dalam permainan.


"Menikah?" Alex melongo dengan mulutnya yang menganga menatap Bunda Winda yang duduk dan memijit keningnya frustrasi.


"Bunda tidak menyangka adik kalian melakukannya secara diam-diam dan akan jujur setelah memiliki anak."


Perkataan dari Bunda membuat Gino tertusuk ribuan duri beracun. Rasanya dia ingin menghantam sesuatu sekarang juga. Dia marah tapi juga tak mau percaya begitu saja. Otak dan nalurinya saling memungkiri.


"Jackie pasti hanya bercanda." Ujar Alex yang terkesan ingin menampik apa yang didengar oleh Bundanya.


"Alex! Bercanda atau serius, bunda merasa tidak dihargai sebagai orang tua sekarang. Apapun keputusan kalian, apapun masalah kalian. Tolong, tolong...., lihat Bunda. Panggil Bunda, ajak bunda bicara, Bunda masih hidup. Dan untuk sebuah keputusan besar seperti pernikahan, seharusnya kalian melibatkan Ayah dan Bunda." Bunda berbicara dengan terisak dalam pelukan Alex yang tak tahan melihat Bundanya menangis sedih.


"Iya Bunda, Alex akan selalu meminta pendapat Bunda. Bunda jangan bersedih lagi ya?" Ujar Alex dengan kakinya hang menendang lutut Gino meminta Gino untuk menenangkan sang Bunda juga.


Gino tertegun, dia ingat kesalahannya dahulu yang juga tak meminta ijin dan restu kedua orang tuanya untuk menikahi Ayana. Maafkan Gino juga bunda.


"Sudah Bun, jangan bersedih. Kami akan selalu melibatkan Bunda. Kami sayang bunda."


...Di rumah sakit....


"Sudah kau mengarang cerita?" Desis Ayana tepat di samping telinga Jackie yang memeluknya.


"Kau dengar?"


"Aku dengar semuanya. Sejak kapan kita menikah?" Ayana memutar bola matanya malas. " lepaskan tanganmu!" Ayana mengangkat tangan Jackie yang melingkar di perutnya.


"Aku mengarangnya agar Bunda tidak mengetahui keadaanmu yang seperti ini." Jawab Jackie yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Auh! sakit..." Ayana mendesis menahan nyeri saat rengkuhan Jackie menggores luka lecet di pinggangnya.


"Kenapa?"Jackie segera terduduk dan memperhatikan Ayana.


"Sakit, pinggangku lecet sepertinya."


"Sini aku lihat."


"Tidak perlu!" Tolak Ayana menangkis tangan Jackie.


" Pergilah dari sini, aku bisa mengurus diriku sendiri."


"Mengurus? bagaimana bisa? kau duduk saja tidak bisa sayang."


"Stop! don't call me like that. Aku tidak suka."


"Dengar kau calon istriku dan berhentilah bersikap jual mahal!" Jackie mencium bibir Ayana tanpa permisi.


"Brengsek!!" Ayana kini marah dia sangat tidak suka.


"Marah? aku suka melihatmu bernyawa seperti ini. Janga. menjadi patung lagi Oke! berikan respon terhadapku apapun itu selain diam."


"Cih!!"


Kenapa kau masih membiarkanku hidup Tuhan?


"Jangan berharap kematianmu. Hal itu tidak akan terjadi tanpa ijin dariku."Celetuk Jackie yang seolah tau isi kepala Ayana.


" beberapa bulan ini, sampai kau sembuh, tinggallah denganku."


" Tidak! Pecat aku saja. Aku tidak akan bekerja selama beberapa bulan. Jadi pecat aku saja." Ayana berharap Jackie akan mengakhiri hubungan kerja mereka.


"No!! siapa kau mengaturku dalam memperkerjakan karyawan?"


"Sak karepmu!!" Kata Ayana jengkel yang kemudian memalingkan wajahnya dan berusaha untuk memejamkan matanya.

__ADS_1


Alih-alih tersinggung, Jackie malah senang dengan reaksi Ayana. Setidaknya bonekanya kini kembali bernyawa dan bereaksi tidak mematung lagi seperti saat yang lalu.


__ADS_2