
...🦩🦩🦩...
Suara tembakan terdengar dan beberapa orang tumbang. Tata memilih mengakhiri hidupnya setelah dia memastikan Ayah tirinya tak lagi bernyawa. Tata menembakkan proyektil tepat di kepalanya, dia juga sempat berucap maaf pada Alex yang tengah menangis tersedu memeluk tubuh Diah yang bersimbah darah.
"Bun, cepat panggil ambulan Bun! Darahnya banyak sekali...!" Teriaknya dengan suara bergetar dan mata yang memburam menatap wajah sang istri yang semakin pucat.
"Jangan menangis Mas, ini hanya sedikit sakit." Ujarnya dengan nafas yang tersengal-sengal dan tangannya yang semakin melemas meskipun berusaha untuk menggapai wajah sang suami.
"Ayah, lihat ini! Lihat bagaimana dia membuktikan bahwa dia tidak seperti apa yang kamu pikirkan! Dia menyelamatkan nyawamu. Dia melindungimu meski kamu membencinya!" Ucap Bunda Winda di sela-sela menghubungi rumah sakit, untuk meminta ambulance.
Ayah dhani hanya bisa mematung dan melihat semuanya. Di otaknya masih terngiang bagaimana tadi Diah langsung berlari mendorongnya dan peluru itu bersarang di dada sebelah kirinya.
Terlihat darah masih saja keluar merembes meski Alex telah berusaha untuk menekannya.
"Bertahan sayang, bertahan demi anak kita ya. Bertahanlah sayang, aku tau kamu kuat." Kata Alex yang tak bisa membohongi jika dirinya sendiri pun seperti sedang mengucapkan selamat datang pada malaikat maut yang hendak menjemput sang istri.
"Jangan di tekan Mas, sakit...!" Rintihnya lirih.
Dua mata pisau yang menghunus. Jika ditekan Diah merasakan kesakitan, tapi bila tidak di tekan, dia akan kehilangan banyak darah dan meninggal di tempat tanpa pertolongan.
"Bunda...., Maukah anda memeluk saya? Saya ingin merasakan pelukan ibu mertua saya sebelum saya pergi." Ucap Diah yang terdengar menyayat hati.
"Uhuk .....! uhuk.....!" Diah terbatuk-batuk dan menyemburkan darah.
Bunda Winda dan Alex semakin panik dan histeris melihatnya, suasana bertambah mengerikan kala tanah di sekitaran berubah menjadi merah karena darah dari kedua mayat yang tersiram air hujan.
"Iya sayang, Bunda akan memelukmu." Kata Bunda Winda yang dengan segera memeluk menantu sirinya.
Rupanya semua kejadian tadi di saksikan oleh para penggali kubur yang sedang beristirahat di bawah pohon yang tak jauh dari lokasi tersebut. Di sebuah gubuk tempat dimana biasanya di gunakan untuk meletakkan keranda mayat.
Ambulan datang, ialah ambulan yang sama dengan yang mengantarkan jenazah Nando beberapa jam yang lalu. Mereka semua yang datang menjemput di buat bingung. Pasalnya baru saja petugas dari rumah sakit itu mengantarkan jenazah dan ikut membantu proses pemakaman Nando yang juga melihat wajah-wajah orang yang sekarang bergelimpungan.
"Utamakan yang masih bisa tertolong!" Kata salah satu petugas dan mereka segera membawa Diah kedalam mobil ambulance.
Sedangkan para tukang gali kubur dan juga Ayah Dhani masih berada di sana untuk menunggu datangnya pihak kepolisian. Selama dalam perjalanan Alex hanya bisa menangis dan terus menggenggam tangan sang istri.
"Pak, tolong tangani istri saya dengan sebaik mungkin. Dia sedang hamil muda." Kata Alex yang membuat para petugas medis yang berada di dalam mobil terdiam beberapa saat.
Sedang luka parah dan dalam keadaan tengah mengandung? Ini merupakan penanganan yang lumayan rumit. Demi janin yang di kandungnya biasanya sang ibu harus bisa menahan sakit yang luar biasa karena pengurangan dosis pada obat tertentu.
Si petugas medis hanya mengangguk sebagai jawaban iya.
Sesampainya di rumah sakit, Alex harus bisa melepaskan genggaman tangannya dari sang istri yang semakin melemas. Diah yang juga sedikit paham dengan beberapa jenis obat dan penanganan medis dia mulai menitikkan air mata.
"Dok, sebelum peluru ini di keluarkan, boleh saya ditemani suami saya? Saya tahu kalian tidak akan menggunakan Anestesi." Kata Diah yang berbicara dengan nada yang kian melemah.
Sedikit informasi.
Selama kehamilan, ibu dan bayi terhubung melalui tali pusar. Tali pusar memberikan nutrisi pada bayi yang ada di dalam kandungan. Sehingga, apa pun yang Anda konsumsi dapat berdampak pada janin, termasuk obat bius. Obat bius memungkinkan masuk ke dalam janin melalui darah. Hal inilah yang dikhawatirkan dapat memberikan dampak buruk pada janin yang Anda kandung. Meskipun bius lokal dan total sama-sama dilakukan untuk mematikan saraf pengirim sinyal rasa sakit, tetapi pengaruhnya terhadap tubuh cukup berbeda karena cakupannya yang berbeda pula.
Sebuah studi oleh American Journal of Public Health mengungkapkan bahwa dibius saat hamil dapat menyebabkan banyak komplikasi dan bahkan membahayakan bayi Anda, terutama selama trimester pertama. Ibu yang menerima anestesi di usia kehamilan awal dapat melahirkan bayi dengan kecacatan sistem saraf pusat.
Selain itu, bayi juga berisiko terkena katarak kongenital dan cacat lainnya seperti hidrosefalus. Oleh sebab itu, jika prosedur bius dibutuhkan biasanya akan menunggu hingga kehamilan memasuki trimester kedua.
"Bu, yang santai ya. Beruntung lukanya tidak terlalu dalam dan meleset. Sepertinya yang menembak masih amatiran." Kata si Dokter yang masih bisa bercanda di kala pasien sudah meringis kesakitan. "Panggilkan suaminya. Suruh masuk!" Kata sang Dokter.
Alex sempat bingung mengapa dia di haruskan untuk masuk dan menemani istrinya. Tapi seorang perawat yang membantunya mengenakan baju operasi kamar atau yang lebih di kenal dengan OK menjelaskan padanya bahwa istrinya harus melewati prosedur pengambilan proyektil tanpa di bius/Anestesi demi janin yang di kandungnya.
Alex masuk sudah dengan air mata yang membasahi pipinya. Wanita kecilnya harus mengalami hal buruk ini dan pasrah begitu saja.
"Mas.. !" Rintih Diah yang masih tersadar dengan selang infus dan juga oksigen di hidungnya.
__ADS_1
"Sayang..., kamu yakin?" Tanyanya dengan mata yang memandang iba.
"Yakin, aku hanya perlu menahan sakitnya kan?" Tanya Diah yang seolah olah di ambil proyektil tanpa di bius adalah hal yang kecil.
"Oke, kamu bisa." Kata Alex yang sejatinya juga tengah menguatkan dirinya sendiri dan juga istrinya sekaligus.
Erangan, rintihan, dan tangisan berulang kali terdengar di telinga mereka semua. Bagaimana seorang Ibu menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan mengabaikan dirinya sendiri. Alex sungguh tak bisa berhenti menangis. Baginya, setiap rintihan kecil istrinya sudah seperti tikaman belati yang menusuk jantungnya.
"Kenapa dia sampai berteriak-teriak seperti itu?" Tanya Ayah Dhani yang baru sampai di rumah sakit setelah mengurus laporan dengan pihak kepolisian.
PLAK!!
Satu tamparan mendarat di pipinya. 50 tahun hidup bersama, dan ini adalah kali pertama seorang Winda mengamuk seperti itu. Ayah Dhani langsung terdiam tak berkutik.
"Kenapa katamu? Dia sudah melindungimu! Dia tidak bisa di bius karena sedang mengandung cucu kita! Kamu bisa bayangkan bagaimana rasa sakitnya, mendapatkan tindakan media tanpa pembiusan? Bisa Huh?"
"Dia yang kamu hina sebagai anak pembunuh itu nyatanya berhati mulia!" Ucap Bunda Winda dengan nada yang kian meninggi.
"Tapi kan seharusnya memakai bius...." Belum selesai dan sudah di sambar lagi oleh Bunda Winda.
"Ayah, coba buka matamu! ini rumah sakit daerah, mana ada bius seperti itu disini? Untuk dokter spesialis saja harus menunggu satu Minggu dua kali baru bisa bertemu!" Bunda Winda sungguh meluapkan segala kemarahannya sekarang.
"Bapak, Ibu... harap tenang ya. Ini Rumah sakit." Tegur salah seorang dokter yang kebetulan lewat.
"Kebetulan ada Dokter. Saya mau cek tekanan darah saya Dok." Kata Bunda Winda yang merasakan kepalanya berdenyut-denyut tak karuan.
"Iya, Bisa Bu. Mari ikut saya. Tapi tetap antre ya Bu." Kata si Dokter.
"Iya Dok." Jawab Bunda Winda yang kemudian pergi tanpa mau melihat wajah sang suami lagi.
Berita kematian Tata pun dengan cepat beredar di media massa elektronik. Semua stasiun televisi menyiarkannya. Jackie dan Gino sangat tercengang mendengarnya . Belum lagi nomor Alex yang tak bisa hubungi.
"Tidak, aku menunggu kabarnya saja di sini. Kamu tahu kan Kak Dita masih hamil. Aku tidak mau kalau dia nanti salah paham dengan aku yang juga ikut." Kata Ayana.
"Salah paham bagaimana?" Tanya Jackie yang tengah mengganti bajunya.
Pasalnya kala mendengar kabar tersebut, Jackie sedang menikmati waktu santainya bersama sang istri di hotel.
"Kak Dita kan tahu tentang masa lalu pernikahan kami. Jadi Dia cemburu jika melihat aku berada dalam radius beberapa meter dari suaminya." Kata Ayana menjelaskan semuanya pada Jackie.
Jackie mengangguk. " I see, itu sebabnya kamu selalu menghindarinya?"
"Iya, aku menjauhi keributan. Aku juga sudah mengirimkan pesan pada Kak Gino agar tak salah sangka jika aku menjauhinya."
"Good girl! Oke, aku berangkat dulu." Kata Jackie yang berdiri lalu mengecup pucuk kepala Ayana. "I Love you." Katanya.
"I love you too!" Ayana malah mendongakkan wajahnya dan mengerucutkan bibirnya berharap sesuatu yang kenyal mendarat di atasnya.
Dan benar saja, Jackie mengabulkannya.
"Muach!"
Senyum terpancar dari keduanya beriringan dengan tangan yang saling melambai.
Jackie pergi, sementara Ayana dia merasa bosan di hotel sendirian dan memutuskan untuk pulang. Selama arah pulang Dia tiba-tiba teringat dengan Shaga seseorang yang menyelamatkan nyawanya.
Ayana memutuskan untuk menuju ke Cafe Shaga. Dia hanya ingin menyapa dan melihat keadaan lelaki penyelamatnya.
"Selamat datang Di..." Kata Marvin/Dino yang menggantung kala melihat wajah Ayana.
"A...?" Cetus Dino saat memastikan bahwa tamunya adalah Ayana.
__ADS_1
"Iya, Di.... Dino ya?" Tanyanya.
"Iya. Ku kira kamu bakalan lupa sama aku." Kata Dino dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nyonya Jackie Armanto! Apa kabar?" Tanya Evan yang baru saja keluar dari dapur belakang.
"Van? aku sehat. Kamu?"
"Sehat Dong." Jawab Evan sambil tersenyum.
"Mau pesan apa?" Tanya Dino.
"Em.... Bos mu ada? Aku dengar dia sudah menikah ya?" Tanya Ayana.
"Kebetulan atau janjian? Si Bos sedang di belakang dengan istrinya. Sebentar lagi pasti kemari. Hanya memeriksa beberapa persediaan." Kata Evan.
"Oh, Aku mau vanilla latte saja." Kata Ayana yang kemudian menunggu pesanannya.
Ayana sama sekali belum tahu jika nasib Shaga harus berakhir di kursi roda karena kejadian itu. Yang dia tahu Shaga baik-baik saja. Karena mereka jarang berkomunikasi melalui video call dan hanya sebatas bertanya kabar melalui chatting saja.
"Wah, Bos! Ada tamu istimewa di depan." Kata Evan yang mengambil krimer di dapur belakang.
"Siapa?" Tanya Shaga Datar.
"Nyonya Jackie Armanto." Jawab Evan.
"Ayana maksudmu?" Ulang Shaga yang tidak dapat menyembunyikan senyumannya.
Sesenang itukah kamu saat mendengar namanya? Batin Reizu bergemuruh.
"Zu, Ayo ku kenalkan pada cinta pertamaku." Kata Shaga tanpa rasa berdosa.
Gila si Bos. Menyebut cinta pertama di hadapan istrinya. Edan....! Sakit banget pasti tuh Nyonya.. Batin Evan.
Tak merubah sikapnya, Reizu tetap mendorong kursi roda Shaga dan menghampiri Ayana meski dengan kesedihan yang menumpuk setelah penyebutan cinta pertama.
"Ay!" Seru Shaga memanggil Ayana yang tengah menyesap vanilla latte miliknya.
"Eum, Ga!" Sahut Ayana yang sepersekian detik kemudian malah mematung saat melihat Shaga yang tengah terduduk di atas kursi roda.
"Ka... kamu?" Ayana menatapnya sendu.
"It's Ok, Aku ga apa-apa Ay. Hanya sedikit lelah saja menggunakan kruk. Oh, Iya. Kenalkan, ini istriku. Reizu namanya."
Hati Reizu merasakan kehangatan kala Shaga menyebutnya sebagai istriku. Seketika pipinya memerah merona.
Tak apa, setidaknya kamu sudah mengakuiku di hadapannya. Statusku lebih kuat daripada sekedar mantan cinta pertama. Batin Reizu.
"Riezu."
"Ayana."
Mereka lalu berbincang bersama dalam meja bundar.
Dan dari belakang meja kasir ada Evan dan Dino alias Marvin yang tengah bergosip.
"Lihat itu, sakti mandraguna kan Bos kita? Dia bisa bisanya mengenalkan istrinya dengan mantan cinta pertamanya." Kata Evan.
"Uhuk...! Uhuk...!" Marvin sampai tersedak ludahnya sendiri saat mendengarkan penuturan dari Evan.
Mantan cinta pertama? Jadi mereka pernah menjalin hubungan? A... ternyata memang kamu orang baik. Terbukti dimana tempat kamu selalu memiliki sisi untuk di istimewakan. Batin Marvin.
__ADS_1