
...🌼🌼🌼...
"Seharusnya setelah ini akan ada berita pertengkaran yang muncul. Atau tidak mereka akan saling menjauhi." Gumam seseorang dengan kaca mata hitamnya mengawasi depan lobi apartemen.
Sialnya, apa yang dia harapkan tak berjalan sejalan dengan keinginan. Dari lobi apartemen, terlihat Ayana dan Jackie yang saling berpegangan tangan berjalan bersama sebelum akhirnya keduanya menaiki mobil mereka.
"sial! Bagaimana bisa? Aku sudah merencanakan hal seperti itu dan masih saja mereka terlihat akur?" Seseorang dengan kaca mata hitam tersebut meninju stir mobilnya.
Ayana dan Jackie pergi meninggalkan apartemen dan menuju ke kediaman Alex. Ayana tak enak hati sebagai adik ipar tak memberikan respon yang berarti saat kakaknya sedang terluka.
Setelah mereka berbaikan, Ayana mengajak Jackie untuk mengunjungi si Kakak yang katanya sakit lumayan parah tapi nyatanya malah menyakiti anak orang dengan lumayan parah.
" Jack, Mau makan dulu? aku lapar." Celetuk Ayana yang baru saja mengoleskan lipstik di bibirnya dan menyimpan kaca riasnya.
"Cantik tidak warnanya?" tanyanya meminta pendapat snag suami yang sedang mengemudi. Seketika Jackie langsung mencari tempat untuk menepi.
"Cantik." Kata Jackie yang mengangguk lalu melepaskan sabuk pengamannya. "Tapi terlalu tebal." Sambungnya lagi lalu melakukan sesuatu yang tidak Ayana kira.
Jackie ******* bibir istrinya dengan rakus di dalam mobil. Dia mengabaikan hiruk-pikuk jalan yang ramai.
Ayana memberontak dan melepaskan ciuman sang suami. " Jack! kita di mobil." Protesnya.
" Lalu?" Jimmy menaikkan sebelah alisnya.
" Malu lah." Ayana clingukan mengamati sekitarnya dan memainkan bibirnya karena was-was.
Tapi siapa sangka jika aksi was-was nya malah mengundang selera seseorang untuk kembali mengecap rasanya. Jackie kembali ******* bibir Ayana.
" Hemph..." Ayana kehabisan nafas dan mendorong tubuh Jackie untuk menjauh. " Sayang, sudah jangan di mobil."
"Aman, ribenya gelap 70% samping dan 40 persen depan. Tak akan terlihat jelas." Jackie berbicara dengan santainya setelah mengelap bibir Ayana dengan selembar tisu karena sisa salivanya yang menempel di sekitar bibir mungil sang istri.
"Aku mau menuntut sesuatu pada istriku." Celetuk Jackie tiba-tiba sambil kembali mengemudi.
Ayana bingung, tadi tiba-tiba mencium dan setelahnya malah ingin mengajukan tuntutan? apa-apaan ini?
"Tuntutan? Menuntut soal apa?"
"Soal apa?" Jackie berdecih. "cih!" Jackie mencubit gemas paha sang istri.
__ADS_1
" Auh! sakit ...." Ayana mengaduh dan mengusap bekas cubitan Jackie. " Ada apa sih?"
"Aku mau menuntutmu karena telah menelantarkan aku, SUAMIMU semalaman tidur di sofa dan menuntut akan kewajibanmu sebagai seorang istri yang tak memperhatikan kualitas tidur juga makanan suami." Kata Jackie dengan sangat lancar tanpa hambatan dan matanya yang tetap fokus mengemudi.
Ayana terkikik geli. " Jadi ceritanya masih merajuk?" jarinya mentoel dagu suaminya.
"Jangan marah, sayang. Itu kan karena aku cemburu. Kamu mau punya istri yang tidak cemburu? tidak cemburu, tandanya tidak cinta."
"Pokoknya, nanti malam pijitin semuanya." Ketus Jackie merajuk manja. Tapi di balik itu dia menyimpan seulas senyuman manis.
Ayana tertawa. " Pijit?"
"Iya!" Ketus Jackie.
" Semuanya? nanti kalau salah pegang gimana?" Ayana sengaja menggoda suaminya. Dia memasang wajah imut sambil tersenyum manis.
"Sayang Ah... jangan centil begitu. Tau masih belum boleh menggarap sawah dan ladang untuk bercocok tanam. Malah kamu tu ya...." Jackie mencubit gemas hidung Ayana.
Keduanya lalu terkikik geli bersama.
Memang terkadang, setelah datangnya badai, bahtera akan terlempar semakin dekat ketujuan. Sama dengan kedua insan ini yang semakin lengket setelah badai menghantam rumah tangga mereka.
...🌼🌼🌼...
Setelah keputusan akhir di ambil dan tanggal pernikahan juga sudah mereka tentukan. Satu bulan dari sekarang akan menikah tapi semuanya masih di rahasiakan dari keluarganya, Alex ingin merancang sendiri tema pernikahannya. Lebih tepatnya dia ingin mengbulkan mimpi Diah tentang pernikahan impian.
" Sudah pilih yang bagus?" Tanya Alex yang tak lepas memeluk Diah dari setelah mereka mandi.
Diah tetap merasa malu meski Alex sudah menatap seluruh tubuhnya yang polos. Perbedaan usia yang lumayan jauh juga melatar belakangi sikap mereka dalam melakukan kegiatan penyatuan.
Diah masih butuh banyak wawasan dan bimbingan. Sementara Alex sudah seperti sang maestro dia begitu lihai memanjakan Diah.
" Belum Tuan." Ucap Diah yang masih sangat malu dengan sikap Alex yang begitu manja padanya.
Alex sudah seperti stiker kulkas saja, menempel dimana dia suka. Kali ini dia memeluk Diah dari belakang dengan tangannya yang terus mengusap perut calon istrinya.
"Tuan? aku ini pacarmu sekarang dan dalam hitungan hari akan menjadi suamimu." Protesnya tak suka di panggil TUAN.
"Iya Mas, maaf." Diah mengalah kali ini Diah berbicara dengan nada lembut. " Aku bingung, semuanya bagus Mas." Ucapnya yang kemudian memberikan ponsel pada Alex.
"Pilihlah yang mana kau suka, tinggal beberapa hari lagi kita akan menikah. Yah, walaupun akan di gelar secara tertutup sesuai dengan permintaanmu tapi tema yang bagus tetap akan berkesan selamanya." Kata Alex.
__ADS_1
Diah memang meminta agar pernikahan hanya di hadiri beberapa tamu penting dann juga keluarga saja keluarga inti tanpa harus melibatkan pers. Alex tak ingin Diah syok dan terpuruk saat membaca beberapa artikel yang tentunya akan merendahkan dirinya.
"Iya, walau tertutup aku yakin pasti tetap akan banyak yang menghujat ku. Apa kau siap Mas, dengan hinaan dari teman atau kolega mu nanti karena menikah dengan orang biasa sepertiku? Aku takut kau hanya berani di awal dan setelahnya kau takut lalu meninggalkan ku sendirian."
"Tidak sayang tidak. Yang terpenting adalah keluarga inti. Keluarga kita sebelumnya mendukung perjodohan kita kan?" Kata Alex.
" Tapi kemudian aku menolakmu dan Bunda terlihat marah dan tak suka padaku di saat terakhir kita bertemu." Diah menunduk lesu.
"Tidak usah takut. ada Aku. Bunda marah padamu tapi tak akan bisa marah pada cucunya. Maka segeralah hadirkan cucu untuk meredam kemarahannya."
Itu sih bukan maunya Bunda Winda, tapi maunya Alex saja.
Diah merenggangkan pelukan Alex dan bangkit tapi dengan segera Alex kembali menariknya hingga kembali duduk. " Mau kemana?" Tanya Alex.
" Ambil minum Mas, aku tidak akan kabur." Sahut Diah kesal karena sedari tadi Alex selalu melekat padanya.
"Duduk saja, biar aku ambilkan." Alex segera berdiri dan berlari kecil menuju ke dapur.
" Astaga orang itu!" Diah menggumam melihat Alex yang bertingkah lucu. " Aku belum hamil dan hanya berkata tentang kemungkinan hamil cepat. Tapi lihat tingkahnya. Dia begitu yakin jika aku akan segera hamil."
"Ini minumlah." Alex menyodorkan segelas air putih di hadapan Diah.
" Apa kau selalu begini Mas?"
" Begini?" Tanya Alex tak mengerti dan dia kembali pada posisinya yang semula. Memeluk dengan begitu posesif dan menciumi pundak Diah.
"Iya begini. Bersikap manja pada mantan-mantan mu terdahulu?" Diah sedikit khawatir jika Alex bersikap begitu manis pada setiap wanita maka tidak menutup kemungkinan akan ada kisah masa lalu yang bisa kembali kapan saja.
"Oh, begini maksudmu kan?" Alex menciumi pipi Diah dengan sayang layaknya mencium pipi anak kecil.
" Iya." Diah mengangguk.
" Tidak!" Jawab Alex.
" Cih! tidak mungkin." Diah berdecih tak percaya.
" Kenapa? aku hanya begini dengan calon ibu dari anak-anakku tidak dengan yang lain." Alex membela dirinya. Memang itulah dia, saat hanya sebatas pacaran dia akan sangat menghormati wanitanya. Bahkan satu-satunya gadis yang bisa membuatnya sangat tak sabaran adalah Diah.
" Jangan over thinking, nanti bayi kita ikut stres." Celetuknya asal.
"Astaga! aku belum hamil Mas. Aku hanya mengatakan kemungkinan besarnya saja." Diah memekik kesal.
__ADS_1
" Sama saja." Alex kembali menciumi pipi Diah.
Begini ya, rasanya di sayang pasangan. Mas, aku harap ini tak hanya manis di awal. Aku harap kau tak seperti mendiang Ayahku.