Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
97. Membayar semuanya


__ADS_3

...🪴🪴🌼🪴🪴...


"Sayang, aku nanti ikut ya? sekalian berbelanja. Bahan makanan kita sudah mau habis." Ucap Ayana yang sedang sibuk memasak dan Jackie tengah berjalan dengan membawakan dasi dan juga kemejanya yang masih di hanger.


" Astaga! kenapa dibawa kesini sih?" Protes Ayana saat melihat suaminya hanya memakai bokser dan menentang setelannya di hanger kesana-kemari.


Jackie terkekeh geli. " Abisnya mau kamu yang pakein Ay. Aku malas pakai sendiri."


"Biasanya juga pakai sendiri kan?"


"Tapi hari ini malas Ay." Rengeknya lagi. Lama bersama membuat keduanya menghapal kebiasaan satu sama lainnya. Jackie yang pantang menyerah akan tetap disana dan berdiri jika Ayana tak menuruti.


"Ok, iya. Kemari bayi besarku. Uluh.... uluh...." Ucapnya menggoda sang suami yang malah tertawa lepas.


"Tinggal berapa hari lagi?"


"Apanya?" Ayana tak mengerti dan masih memakaikan baju Jackie.


"Dari dua Minggu itu tinggal berapa hari lagi?"Tanyanya memperjelas apa maksud dan tujuannya.


"Sehari ini. Lalu?" Ayana mengulum senyumnya dan menepuk-nepuk dua kali pundak Jackie karena telah selesai memakaikan dasinya.


"Yes!! Bisa nge charge dong nanti malam?" Tanyanya bersemangat.


Ayana mengangguk. "Iya, aku udah Konsul ke Dokter juga. Tapi ga boleh heboh, pelan-pelan saja katanya dan pakai gaya klasik." Ucapnya datar menasehati.


"Boleh nambah kan asalkan pelan?"


"Boleh, tapi dikit." Ucap Ayana menggoda.


Sepanjang dari sarapan sampai dalam perjalanan, Jackie terus saja tersenyum senang membayangkan kegiatan yang akan diselenggarakan nanti malam.


"Mereka masih saja terlihat akur, tidak ada drama atau pertengkaran?" Marvin membuntuti dari belakang.


" Aku kerja ya, kamu hati-hati nanti biar fajar yang jemput kamu. Telfon aku kalau sudah selesai belanjanya." Ucap Jackie yang kemudian berlalu meninggalkan Ayana.


Ayana menggeleng. " Begitu senangnya kalau mau di charge." Dia mengulum senyumnya.


Saat berbelanja tak sengaja troli belanja Ayana berbenturan dengan troli milik Marvin. Ayana yang tak mengenali Marvin hanya menunduk sedikit lalu meminta maaf.


"Maaf, saya tidak sengaja." Ucapnya kemudian.


"Tidak apa-apa." Sahut Marvin sembari tersenyum dan merapikan belanjaannya.


Kamu melupakanku A? kau tidak ingat aku? Maaf A, seharusnya aku mengamati dulu lebih teliti tentang siapa kamu. Jika aku tahu yang di maksud si Lena adalah kamu. Tentu aku tidak akan melakukannya A..


"Permisi." Ayana menunduk dan meminta agar Marvin sedikit bergeser agar Ayana bisa lewat.


"Kau tidak mengenalku A?" Tanya Marvin tiba-tiba.


"Si... siapa ya?" Ayana benar-benar tak mengingat siapa Marvin bahkan namanya saja dia tidak tahu.


Marvin membuka topinya dan menunjukkan luka jahitan di sudut keningnya. " Luka ini, kau yang pertama kali mengobati. Apa kau lupa?"

__ADS_1


Ayana masih terdiam mematung. Ingatannya kembali menerawang jauh ke masa lalu. Sudah sangat lama, kejadian itu terjadi ketika Ayana duduk di bangku kelas 10. Ayana samar-samar mulai ingat.


"Apa kau pencuri itu?" Tanya Ayana memastikan.


Marvin mengangguk. "Iya, itu aku A... m Maaf aku tidak tau namamu yang kutahu saat itu ayahmu memanggilmu dengan panggilan A.."


"Namaku Ayana, Bapakku memanggilku dengan Ay, bukan A. Apa kabarm u? setelah itu kau tidak mencuri lagi kan?"


Marvin menggeleng. "Tidak." Dan itu semua berkatmu Ayana. Aku bisa merubah cara berfikirku.


Mereka mengingat kembali masa dimana malam menyeramkan itu terjadi.


FLASHBACK ON.


Langit bergemuruh, angin bertiup kencang. Saat itu Ayana di rumah sendirian sebab Ayahnya sedang menemani Tuan Dhani untuk berkunjung ke makam kedua orang tua mereka di kampung.


Sebenarnya Ayana diminta untuk menginap di rumah besar. Tetapi Ayana menolaknya sebab dia juga memiliki tanggungjawab berupa hewan peliharaan tetangga yang dititipkan padanya karena si tetangga sedang pergi untuk beberapa hari.


GRASAK...!


GRUSUK!


Ayana mendengar suara aneh dari samping rumahnya dan suara itu menghilang di telan derasnya hujan. Ayana ketakutan saat petir yang menggelegar bersahutan dan menciptakan kilatan menyala di langit.


Embek...! Kambing yang berada di kandang terus saja mengembik seolah gelisah. Ayana semakin takut tapi dia mencoba memberanikan diri untuk melihatnya.


Saat hujan berangsur reda, Ayana mendekati kandang kambing dan bukannya mendapatkan kambingnya yang sedang kelaparan atau apa. Tapi, ayana justru melihat tubuh manusia yang tergeletak di samping kandang kambing.


" Orang? Si ... siapa dia?" Ayana menyenggolnya dengan kakinya.


"Apa ini? hantu atau apa... matilah aku ...." Ayana memejamkan matanya dia ketakutan bukan main.


"Tolong...." Rintih suara minta tolong menyapa Indra pendengarannya.


"Ah, manusia?" Ayana lalu berjongkok dan melihat keadaan orang tersebut.


Wajahnya bengkak dan membiru juga sudut keningnya yang berdarah. Ayana panik, dan kebingungan dia juga takut. Normalnya dia ketakutan jika orang tersebut akan melakukan hal jahat padanya.


"Tolong aku..." Rintih Marvin lagi.


Ayana yang memilih menolong dan mengabaikan rasa takutnya lalu mengobati luka Marvin sebisanya dan membawanya masuk ke dalam rumahnya. Mereka saling diam dengan Ayana yang fokus mengobati luka Marvin. Tangan dan tubuh Marvin bergetar kedinginan.


"Kamu lapar?" Tanya Ayana dan di angguki oleh Marvin.


Dengan lauk seadanya Ayana memberikan makanan pada Marvin. Tapi sayangnya Marvin tidak bisa menggerakkan tangannya yang terluka.


"Aku suapi ya?" Kata Ayana yang kemudian menyuapi Marvin dalam diamnya.


"Kenapa sampai seperti ini?" Tanya Ayana dengan ketakutan.


"Aku... aku kabur dari rumah dan kehabisan uang. Aku mencuri dan ketahuan. Lalu mereka menghajar ku." Jawab Marvin lirih.


Ayana menatapnya iba lalu merogoh saku celananya. " Ini, untukmu. gunakanlah untuk membeli makanan besok. ini uangku, upahku dari menyetrika di rumah majikanku. Tapi berjanjilah padaku untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi. Kau masih muda. Kau bisa melakukan pekerjaan lain daripada mencuri." Ucap Ayana panjang lebar kemudian menyelipkan uang empat ratus ribu di kantung baju Marvin.

__ADS_1


"Terimakasih, suatu saat aku akan membalas kebaikanmu ini." Ucap Marvin berjanji.


Ayana hanya tersenyum dan mengangguk. Entah mengapa tak ada ketakutan lagi setelah keduanya sedikit berbicara.


" Ay....!" Seru Bapak Ayana yang baru saja datang.


" Ada Ayahku, kau pergilah. Pergunakan uang ini sebaik mungkin. Ikuti saja jalan setapak di samping kandang kambing itu nanti kau akan menyebrangi sungai dan tembus ke jalan raya." Kata Ayana yang membantu Marvin kembali berdiri dan berjalan tertatih menahan lara sekujur tubuh.


"Terimakasih A.." Lirihnya dan kembali berjalan menelusuri jalan setapak di tengah hujan lebat.


Flashback off.


"Aku, ah.. aku baik. Tapi siapa namamu?" Tanya Ayana yang juga tidak mengetahui nama Marvin. Dan Marvin ingi menyembunyikan identitasnya dari Ayana. Dia hanya ingin tahu apa penyebab sebenarnya Lena sampai memintanya untuk membuat istri dari mantan adik iparnya terluka dan kehilangan janinnya.


"Aku, namaku Dino." Marvin mengulurkan tangannya.


Ponsel Ayana berdering dan Ayana menjeda obrolan mereka.


"Halo sayang," Ayana.


"…………"


"Iya, minta fajar untuk menjemput 30 menit lagi ya. ini baru mau selesai. Kamu mau aku masakin apa?"


"……………"


"Oke, Bye sayang. Love you." Ayana mengakhiri panggilan dengan senyuman merekah indah.


Marvin yang melihatnya ikut merasakan kehangatan dan segelintir penyesalan itu muncul dalam dirinya. Mengapa dia sampai begitu tega menyakiti Dewi penolongnya?


Alangkah bodohnya Marvin ini yang mau menjadi alat balas dendam oleh Lena.


"Maaf, aku sepertinya harus segera pulang. Aku juga harus kerumah sakit untuk memeriksakan kesehatanku." Kata Ayana.


"Apa kau sakit Ayana?" Tanya Marvin.


"Aku, keguguran beberapa Minggu lalu karena sebuah kecelakaan dan sekarang harus rutin memeriksakan kesehatan di rumah sakit." Jawab Ayana singkat.


DEG!!


Ini semua karena ulahmu Marvin, kau penyebabnya. Hati Marvin bergemuruh menyesali perbuatannya.


...🪴🌺🪴...


Di rumah lawas Alvin kakak dari Marvin.


"Argh....! Sia*!! Aku mencelakainya." Marvin melempar sebuah botol minuman hingga membentur dinding dan pecah berhamburan.


"Harusnya yang aku lukai dan habisi itu Lena." Olehnya lagi merutuki semua yang telah terjadi.


Hari dimana dia menjadi pencuri dan hampir mati di hajar masa kala itu adalah hari dimana dia datang kerumah sang Kakak untuk meminta bantuan dan uang. Tapi Lena mengusirnya mentah-mentah.


Marvin yang buntu hanya bisa berpikir picik untuk mencuri demi membuat perutnya kenyang. Dan siapa sangka dia tertimpa si*l dan Ayana yang menyelamatkannya.

__ADS_1


"Lena! kau harus membayar semua ini!! aku akan membuat hidupmu menderita, kau membuatku mencelakainya." Marvin merobek foto Lena yang berada di album foto milik almarhum kakaknya Alvin.


__ADS_2