Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
118. Balada jambu air.


__ADS_3

...🪴🌼🪴...


Marvin masih berdiri di hadapan Shaga dengan perasaan takut yang teramat sangat. Keringat dingin sampai menyembul di keningnya. Matanya tertunduk tak berani menatap Shaga.


"Ga! aku harus pergi!" Kata Reizu yang tiba-tiba saja mengacaukan sesi tanya jawab antara karyawan baru dan atasannya itu.


Shaga menoleh dan memberikan Reizu (istrinya) atensi. "Mau kemana?" Tanyanya datar.


"Aku di panggil Ibunda, Kamu mau pulang atau mau disini?" Tanya Reizu yang sudah mendekat dan mengusap pundak sang suami.


Shaga menatapnya teduh, "Ayo, kita pulang. Aku juga masih ingin membahas sesuatu." Katanya dengan lembut.


Sikap Shaga yang seperti inilah yang membuat Reizu mudah jatuh hati. Shaga, selalu memiliki cara untuk menyikapi wanita. Dia bahkan tak pernah meninggikan suaranya.


"Kembalilah bekerja." Ucapnya yang kemudian mengembalikan CV Marvin tanpa menatapnya lagi.


"Evan, kita pulang dulu ya! Jaga cafe baik baik." Kata Reizu yang sudah siap untuk mendorong kursi roda sang suami.


"Siap Nyonya!" Jawab Evan dengan menempatkan tangan di keningnya sebagai tanda hormat.


Shaga dan Reizu kemudian meninggalkan cafe dan kembali menggunakan mobilnya. Marvin dalam beberapa saat hanya bisa terdiam tertegun dan mematung. Melihat bagaimana takdir mengobrak-abrik akur hidupnya. Bagaimana bisa dia kembali di pertemukan dan bahkan di pekerjakan di tempat seseorang yang sudah ia tusuk dan bahkan orang tersebut sampai tak bisa berjalan kembali dan cacat seumur hidup?


Aku membuatnya jadi seperti itu? Dia orang baik dan aku... aku... aku Argh....! Seharusnya tidak ku jalankan rencana Lena. Dia malah membuatku menjadi seseorang yang tak bernurani lebih daripada seekor anjing. Jika anjing saja bisa setia pada yang telah memberinya tulang, lalu aku ini apa? yang malah justru membuat Ayana kehilangan bayinya, ibu angkatnya, dan juga aku membuat orang baik ini lumpuh dan menderita sepanjang sisa hidupnya. Sungguh aku menyesali semua ini. Harus dengan apa aku membalas kebaikan mereka ini?


Sementara itu, di dalam mobil.


"Besok lagi jangan bahas apapun mengenai rumah tangga kita di depan umum Zu." Ucap Shaga dengan nada bicara yang lembut.


Reizu hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Dia bahkan tak berani menatap balik atau bahkan sekedar mendongakkan kepalanya. Terlihat air mukanya begitu sendu dan agaknya dia sudah siap untuk menitikan air mata. Melihat itu, Shaga lalu merangkulnya dan menariknya hingga duduk mereka berdekatan di bangku belakang.


"Iya." Jawab Reizu dengan teramat lirih.


"Sudah, jangan menangis. Aku bahkan tidak membentakmu. Aku hanya berbicara pelan dan kau menangis. Dasar cengeng!" Ucap Shaga dengan tangannya yang mengusap lembut air mata Reizu.


Kamu berterus terang jika hatimu masih terpaut dengan Ayana. Dia istri orang Ga. Tapi, perlakuanmu padaku selalu membuatku nyaman dan ingin bertahan disini. Batin Reizu sedih.


"Aku tidak cengen." Reizu menampiknya Dan kemudian mengusap air matanya dia berusaha tegar di hadapan suaminya.


"Masih mau menangis?"Tanya Shaga sambil menatap wajah sang istri. Dan Reizu mengangguk perlahan. "Sini!" Kata Shaga yang melebarkan tangannya dia ingin membawa istrinya kedalam dekapannya.

__ADS_1


Reizu, hatinya begitu lembut, dia mudah tersentuh dan menitikkan air mata. Bahkan melihat anak ayam yang tertinggal induknya pun, Dia bisa menangis sedih dan apalagi ini, suaminya memberikan nasihat dikala dirinya salah dengan cara yang teramat lembutnya.


Dasar cengeng, apa apa menangis. Tapi Zu,qu bagaimanapun kamu, aku sudah tidak bisa lagi menolak takdirku. Sesungguhnya mulai saat ini aku akan belajar untuk menerimamu dan mencintaimu. Maafkan aku yang tak bisa langsung mengungkapkannya padamu, aku masih ingin melihat sejauh mana ketulusan dan rasa cintamu padaku. Batin Shaga yang masih mengusap perlahan punggung sang istri yang menangis di dalam dekapannya.


Adem ayem Weh, liat pasangan ini. Tapi... di sisi bumi yang lain, di pojokannya....


"Yang mana sih?" Tanya Gino dengan membawa sebuah galah panjang menjuntai berusaha menggapai sebuah jambu air.


Dita bertugas sebagai komandonya, dia hanya memberikan arahan dan menunjuk nunjuk saja tanpa tahu bagaimana rasa pegal sudah menjalar di bahu lebar sang suami.


"Yang itu! Yang Atasmu pas Mas!" Ucapnya setengah berteriak karena merasa gemas sebab Gino belum juga tau jambu mana yang di inginkan oleh istrinya.


"Ah, udahlah! kamu turun aja, biar aku manjat sendiri!" Ucap Dita yang benar-benar merasa terpanggil jiwa kemonyetannya setelah lama menunggu proses pemetikan jambu yang kunjung mendapatkan hasil.


Gino yang kesal lalu melemparkan galahnya ke tanah. Dia kemudian turun dari pohon, dan berkacak pinggang di depan sang istri. "Apa? mau apa kamu? mau manjat?" Cecar Gino yang sudah bersungut-sungut!


"Eh, kamu ini sedang hamil ya! mau manjat segala, kamu ini manusia! bukan monyet. Apa apaan mau manjat? tidak ada acara seperti itu!" Tukas Gino final.


"Abisnya, metik gitu aja ga bisa-bisa." Cicit Dita.


Gino memainkan bibirnya dan rahangnya mengeras, menahan emosi menghadapi sang istri yang sedang banyak mau. "Susah Dita, itu tinggi!! galah panjang saja tidak sampai." Ucapnya yang tak habis fikir dengan kemauan sang istri yang setiap hari selalu ada-ada saja.


"Pak!" Gino memanggil si pemilik pohon jambu yang bahkan kebun dan pohonnya sudah di sewa olehnya.


"Iya Pak?" Si pemilik kebun mendekat dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa?" Tanyanya.


"Tebang saja pohon ini, bisa kan? saya tambah uangnya." Ucapnya emosi.


"Loh, kok di tebang? Kan aku maunya makan rujak di bawah pohon Sayang, terus kamu yang metik, kenapa mau di tebang? Jangan dong!" Dita merengek dengan mengguncang lengan sang suami yang sudah di buatnya kesal.


Bagaimana tidak kesal? sebenarnya ada buah yang lebih rendah untuk di petik, tapi Dita menginginkan buah yang paling atas dengan alasan, buah tersebut terlihat lebih enak. Apakah masuk akal? Tapi ya, memang ibu hamil itu kemauannya selalu aneh-aneh.


"Biarkan, di tebang saja sekalian biar kamu puas metik sendiri dan bawa pulang semuanya sama batang batangnya!" Ketus Gino yang benar-benar marah saat ini.


"Jangan dong, jangan ya?" Ucap Dita memohon.


"Pak, tidak usah Pak. Jangan di tebang." Ucapnya pada si pemilik kebun.


"Terus? kita pulang saja nih!" Ketus Gino yang sangat kesal karena lelah memanjat dan sekujur tubuhnya sudah berpeluh keringat.

__ADS_1


"Enggak," Kata Dita mendayu-dayu. "Kita makan rujak di bawah sini ya, yang pendek itu juga ga apa-apa." Ucapnya kini seolah tak ada drama yang sebelumnya terjadi.


Sabar, sabar semua demi anakku. Kenapa tidak dari tadi sih? Drama banget! Gino hanya bisa mengumpat dalam hati dan dia kembali menggulung lengan kemejanya.


Dia sang Ayah siaga, rela cepat cepat pulang dan memanjat pohon lantaran istrinya berkata ini maunya dedek. Padahal, entahlah itu maunya siapa apakah si dedek sungguhan atau malah ibunya dedek yang banyak kemauan?


Selesai memetik, tak sampai disitu semuanya berakhir. Dita masih memaksa Gino untuk ikut makan rujak dengannya yang mana bumbu rujak buatan sang istri tidak seenak rujak buatan mamang pinggir jalan.


"Enakkan?" Tanya Dita dengan penuh harap dia bertanya sambil menaikkan kedua alisnya.


Astaga...! ini rujak jambu atau apa? Rasanya asin banget... Ini pabrik garam pindah ke cobeknya dia. Oh Tuhanku..., berikanlah hambaMu yang ganteng ini kesabaran jutaan kali lipat. Gino menelan rujak jambu tersebut dengan susah payah.


Halah, habis ini rusak ginjalku🥲. Batin Gino tersiksa.


"Mau tambah?" Tanya Dita menawari.


"Oh, tidak! Sudah sudah, sudah kenyang." Tolak Gino yang sebenarnya di dalam kepalanya sibuk mencari alasan untuk menolak pemberian rujak jambu super duper asin itu.


"Bapak mau juga kan? Ini buat bapak." Dita menyodorkan rujak buatannya pada si pemilik kebun yang sedari tadi tengah sibuk membantu memetikkan jambu.


Si pemilik kebun menerimanya dan dalam satu suapan pertama dia memejamkan matanya dengan ekspresi wajahnya yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata.


"Enak kan pak? enaklah..., buatan istri saya. Habiskan ya pak." Kata Gino dengan mengedipkan sebelah matanya yang kemudian di angguki oleh si pemilik kebun.


Dita merasa sangat senang hari ini, keinginannya tersampaikan. Dia bahkan sampai tersenyum dalam setiap kali suapan rujak mematikan itu masuk kedalam mulutnya. Dan Gino, tak ingin mencari masalah lagi. Dia lebih mencari aman dengan membahagiakan sang istri agar drama perujakan ini segera tamat dengan happy ending.


Selesai dengan rujaknya, Dita mulai membereskan dan mencuci mangkuknya di sumur yang letaknya lumayan jauh. Dan saat itulah kedua pria yang berbeda usia itu mulai bergunjing.


"Asin ya pak tadi?" Tanya Gino.


"Iya pak, asin banget.. Kalau tidak karena Bapak, sudah saya muntahkan tadi." Jawabnya.


"Hahahaha!" Gino terbahak-bahak dia tertawa sambil memegangi perutnya. "Jangan lupa minum air banyak banyak ya Pak setelah ini. Kasihan ginjal bapak." Ucapnya merasa senang sebab bukan dirinya saja yang terkena jebakan Batman.


"Masih mending ini mah Pak, ngidamnya masih normal. Dulu istri saya waktu hamil anak pertama. Dia ga mau makan, saya sampai pusing di buatnya. Setiap hari hanya muntah terus. Eh, sekalinya mau makan malah minta makan pakai ayam hutan. Dan itupun dia harus lihat sendiri ayam hidup dulu dan baru mau memakannya. Haduh.., saya sampai menginap 3 hari di hutan." Si pemilik kebun menggeleng menceritakan kisahnya.


"Tapi ya, saya senang setelah anak saya lahir, wajahnya mirip saya. Di rahim ibunya dia cuma numpang lewat saja. Hehehe...!" Si bapak terkikik geli.


*B*ukan numpang lewat kali Pak, memang gen nya itu gen dari bapak. Coba kalau gen nya sumbangan dari tetangga. Ya mirip tetangga. Batin Gino yang menggeleng perlahan sambil tertawa.

__ADS_1


"Ada apa nih, kayaknya seru?" Tanya Dita.


__ADS_2