
ππππππππππππππππ
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
...POV Dita....
Aku tak menyangka jika aku akan beralih profesi menjadi ibu rumah tangga seperti ini. Harus membersihkan rumah setiap hari. Padahal dulu, aku membersihkan rumah hanya satu minggu sekali. Tapi sekarang, hanya melihat sebutir nasi saja jatuh, aku sudah sangat ingin menggerakkan sapu dan kain pel.
Hum, apakah ini suatu pertanda jika jiwa babuku mulai tumbuh?
Aku sedang membersihkan rumah dan berhenti menatap fotoku dengan ibuku. Lalu aku mulai tersadar akan sesuatu dan mencari-cari benda tersebut. Benda itu memiliki beberapa batuan dan berbentuk melingkar berwarna-warni. Benda itu hadiah dari mendiang Nenek. Aku harus menemukannya agar tak menyesal tujuh turunan.
" Kamu mencari apa? semua laci di buka." Ketus atasanku berbicara. Ah, iya dia sekarang suamiku.
"Batuan warna warni." Jawabku dengan terus fokus mencari dimana keberadaan gelangku itu.
" Batu?" Dia terdengar terkejut tapi aku tetap tak menggubrisnya. aku memilih fokus mencari. Barangkali terselip. itu harapku. "Batu buat apa Dita?" Tanyanya dengan menekankan makanku. Itu suatu tanda jika aku harus menghampirinya dan berbicara dengan bertatapan mata.
Mengapa, mengapa lelaki harus selalu begitu? mengira wanita tidak mendengarkan pembicaraannya jika tatapan mata tak saling bertemu? Ah, nyatanya hal ini secara sains memang benar. Ada beberapa bagian otak lelaki yang beda dengan kaum wanita. Wanita itu multi tasking.
Kami bisa, sambil masak sambil nyanyi, sambil balas pesan juga dan sambil mengontrol mesin cuci tanpa terlupakan. Kalau lelaki? hanya bisa fokus pada satu hal untuk di kerjakan.
Seperti dia saat ini, dia ingin membantuku tapi karena saat berbicara tatapan mata kami tak bertemu, dia kira aku tak membutuhkan bantuannya.
Hemmmhhh, harus sabar banyak-banyak.
" Aku mencari gelang suamiku...., gelang itu pemberian dari almarhum Nenek. Bisakah kau membantuku?" Tanyaku dengan bahasa baku yang sebenarnya dia begitu risih mendengarnya.
"Biasa saja bicaranya. Gelangnya seperti apa?" Tanyanya yang meminta aku untuk mendeskripsikan bentuk sebuah gelang.
Aku membuka ponselku dan memilih galeri, lalu ku tunjukan padanya. " Ini seperti ini, kau lihat?" Tanyaku.
"Lihatlah jelas, apa kau tak tau aku sudah melek?" Jawabnya dingin dengan mata yang memelototi ku.
Padahal kan bukan lihat yang seperti itu maksudku, Ah sudahlah berbicara dengan dia selalu menghasilkan kalimat ambigu.
" Maksudku tau dimana, atau pernah tak sengaja melihat begitu." Cicitku yang kemudian kembali mencari di lemari dan tak buku. Siapa tau terselip kan?
Sampai siang hari, kami terus mencarinya. Hari ini dia tidak berangkat kerja. Entah apa yang membuatnya ingin berdiam diri di rumah. Dia sama sekali tak membicarakannya dengan ku.
"Jangan-jangan nanti tertinggal di apartemen lamamu?" Celetuknya yang membuatku sadar dan mengingat sesuatu. Mungkin ucapanya benar.
"Ah, iya kau benar. Bisa aku pulang?" Tanyaku meminta ijinya.
" Pulang?" Dia mengerutkan keningnya. " Rumahmu disini, mau pulang kemana?" Tandasnya dengan nada bicara yang angkuh. Jangan lupakan wajahnya yang sombong dan dingin. Ergh.... rasanya ingin sekali aku membawa teh di dekatnya agar menjadi es teh di siang bolong, lumayan kan? Untuk penyegar kerongkongan.
Aku menggigit bibir bawahku, ragu untuk berucap. " Pak~~~, Eh.... suamiku, Sayang...., bolehkan aku kembali ke apartemen lamaku untuk mencari gelangku?"
"Gelang seperti itu banyak Dita, kau bisa memborongnya dari penjual aksesoris dan mainan anak-anak. Dia berbicara dengan acuh sambil fokus melihat televisi.
Aku kecewa, ternyata tanggapannya akan benda berhargaku sangat minim. Dia bahkan tak bertanya mengapa benda itu istimewa bagiku. Mengapa rasanya begitu sakit sekarang?
Padahal dulu dia lebih dingin padaku saat aku menjadi sekretarisnya. Dan sekarang dia sudah menjadi suamiku, panggilannya juga sayang padaku. Tapi mengapa sedikit saja dia mengabaikan aku membuatku ingin menangis?
__ADS_1
...POV Author....
Dita menunduk lesu lalu masuk kedalam kamarnya dan menangis sambil tengkurap. Dia menyembunyikan wajahnya kedalam selimut. Gino yang melihat Dita pergi begitu saja lalu menyusulnya.
Mendapati istrinya yang menangis sambil tengkurap membuatnya kebingungan. Apa ada yang salah dengan ucapanku? Gino menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Dita, kenapa kau?" Tanya Gino masih dengan anda bicara yang datar dan dingin.
Ah, iya. Mereka menikah tanpa kemauan dan tanpa bibit cinta sebelumnya. Berbeda dengan Jackie dan Ayana , meski saat menikah Jackie hanya berniat untuk mempermainkan Ayana, tapi jauh di dasar hatinya dia masih memiliki benih cinta.
Sementara Gino? Dia terpaksa menikah karena jebakan ibunya sendiri. Bunda Winda, tolong lihat hasil karyamu ini Gino anak sulungmu yang menikah karena jebakanmu sampai saat ini belum bisa saling mencintai. Bahkan benih cinta belum tumbuh diantara keduanya. Kalaupun sudah mungkin hanya sepihak. Tapi siapa?
"Jangan hiraukan aku bang!" Ucap Dita yang tiba-tiba menjadi dramatis.
Gino terdiam.
"Jangan kau hiraukan aku bang! Pergi sana, aku kesal!!" Dita mengerang berbicara dengan suara yang terserap kedalam selimut yang berperan sebagai peredam suaranya sekarang.
Gino menggaruk ujung alisnya. " Ssshhh....! kebanyak nonton drama nih anak." Dengusnya yang kemudian ikut berbaring dan memeluk tubuh Dita yang berbalut selimut.
" Ya sudah tidur saja." Kata Gino yang siapa sangka malah memancing emosi dari Dita.
Dita membuka selimutnya, menunjukkan wajahnya dengan ekspresi kesalnya. " Dasar tidak peka!!" Umpatnya di depan wajah Gino.
" Eh, kenapa lagi? salah apa lagi aku loh?" Sumpah Gino bingung bukan kepalang.
"Harusnya tuh tau gitu, atau tidak bilang, Ya udah, kita ke apartemenmu dan cari siapa tau masih ada disana. Begitu!" Kata Dita.
" Oh, ya bilang saja langsung. Suamiku, ayo bantu aku mencari gelangku ke apartemen lama. Bisa kan? Tidak harus main tebak kata, tebak ekspresi. Memangnya aku panorama yang bisa tau isi hatimu!" Ketus Gino berbicara.
" Ah, iya itu maksudku." Gino tertawa. " Ya sudah ayo kita cari." Gino lalu bangkit setelah sebelumnya menepuk-nepuk pantat Dita uang berbalut selimut layaknya pantat bayi.
*Dia tadi menepuk-nepuk pantatku?π³ Dia pikir aku ini bayi?
πππππππππππππ
Sedikit kotor dan berdebu, ruangan di apartemen Dita jarang terpakai bahkan sudah tidak pernah di pijak setelah dia menikah.
Dita dan Gino lalu mencari-cari keberadaan gelang tersebut*.
"Dimana ya?" Dita bermonolog sambil terus membuka laci, lemari dan tumpukan baju yang masih ada disana.
" Dita, apa gelang itu sangat penting untukmu?" Tanya Gino yang juga ikut membantu mencarinya.
"β¦β¦" Dita mengangguk tanpa melihat ekspresi wajah Gino.
" Lalu aku?" Tanya Gino yang tidak nyambung kemana arah pembicaraannya. Antara gelang dan dirinya itu jauh berbeda.
Dita mencerna pertanyaan suaminya yang lagi-lagi bersifat ambigu.
" Jawab." Celetuk Gino lagi sambil menatap punggung Dita.
"Tentu kau juga sangat berharga bagiku. Kau suamiku."
" Tapi sikapmu tidak menunjukkan itu. Selama aku pergi dalam urusan bisnis. Kau sama sekali tidak mengirimkan pesan atau menghubungiku terlebih dahulu." Lirih Gino berbicara dengan kabut suram di wajahnya.
__ADS_1
Dia kenapa? Mengapa tiba-tiba suasananya jadi serius begini? Dita merasakan aura berbeda dari suaminya.
"Pak, em... sayang."
"Stop!! jangan panggil dengan sebutan itu jika hanya sekedar keluar dari mulutmu dan bukan hatimu."
Deg! Dita tertegun dengan perkataan Gino. Bagaimana bisa tiba-tiba tercipta suasana yang menegangkan begini?
"Sudah beberapa bulan kita menikah, dan kau sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada hubungan ini. Selalu aku yang mendahului."
Dita menjadi tak enak hati melihat raut wajah suaminya. Entah mengapa tangannya tiba-tiba terulur dan berani mengusap lembut Surai Gino.
" Ada apa? kau tiba-tiba begini?" Dita menatap lekat kedua manik Gino yang tertunduk lesu terduduk di tepi ranjang sedangkan Dita berlutut di lantai sambil mendongak menatapnya.
" Hhhh..." Gino hanya mendesah dan tak berbicara apa-apa lagi. Dia juga tak mau menatap mata Dita.
Dita semakin mendekat dengan kaki yang berlutut di lantai, dia lalu mendekap Gino dengan hangat hingga kepalanya berada di dalam dekapan sang suami. Dita bisa merasakan degup jantung dan juga bisa menghirup aroma tubuh Gino. Wangi ini, aku suka. Batin Dita yang tanpa tersadar merasakan ketenangan dan kenyamanan saat memeluk Gino.
" Kalau ada masalah, cerita." Dita berucap dengan lembutnya. Tangannya bergerak perlahan mengusap-usap punggung Gino.
" Masalahku itu Kau." Kata Gino. " Aku bisa mengatur banyak karyawan dan membuat mereka mengerti akan maksudku. Tapi kau?"
" Aku kenapa?" Dita melongok dengan wajah polosnya.
" Kau....!" Gino sangat kesal. Rupanya Dita memang nihil pengalaman dalam memahami pria. Dan dia jauh lebih tidak peka di banding dengan Gino.
CUP!!
Gino mengecup bibir istrinya.
" Ayo kita pacaran, kau belum pernah pacaran kan?"
" Pacaran?" Dita mengernyitkan keningnya. " Tapi kita sudah menikah resmi kan?"
Oh, sungguh sangat naif kau ini Dita.
" Maksudku, kita ulang semuanya dari awal."
" Dari awal? dari beberapa tahun lalu saat aku lulus interview?" Dita masih tak paham.
" Yak!! aish...! kau bodoh atau apa? Ah, bagaimana nasib keturunanku nanti jika ibunya dungu begini?" Gino melengos setelah mengumpat.
"Hahahaha! Aku bercanda. Iya aku paham maksudmu suamiku. Sudahlah jangan suka marah-marah." Dita tertawa.
" Jangan marah ya, sekarang bantu aku mencari gelangku." Kata Dita. " Kalau di drama sih, seorang pacar itu sikapnya sellau manis. Kau juga kan?" Dita kembali memeluk Gino.
Ah, sial! mana posenya begini, sedari tadi dia menggesekkan sesuatu di bawah sana. Belut ku sudah menggeliat dan dia masih tidak peka? Belutku maafkan tuanmu ini. Liangmu belum siap huni. Gino berbicara dari hati ke hati dengan belut yang bersemayam diantara kedua pahanya.
TEK!!
Lampu padam seketika. Ruangan berubah gelap. Dengan serta merta Dita langsung menubruk tubuh Gino hingga mereka berdua berbaring di ranjang.
" Aaaaaaaaaaaaaaa! mati lampu." Dita mendumel.
Sial! apalagi sekarang? cobaan apalagi ini? Sudah belum siap huni, malah mulai banyak tingkah begini. Nanti kalau aku huni paksa dia pasti nangis. Mati lampu ini menyiksaku. Dita berhenti bergerak atau aku akan ....
__ADS_1
"Tenanglah, ini hanya mati lampu. Bukan kiamat kubro."