
...🌿🌿🌼🌿🌿...
...🌿🌿🌼🌿🌿...
"Nduk, kenapa kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Bu Sri kepada Ayana yang sedang duduk dan menonton televisi bersamanya setelah menikmati soto buatannya.
Ayana tersenyum kecil, lalu memandang teduh wanita paruh baya yang telah banyak menolongnya itu.
"Bu, Nana minta maaf ya sama ibu kalau Nana banyak salah, sudah banyak merepotkan ibu." Kata Ayana yang setiap katanya membaur pekat dengan nuansa sedih.
Tangan yang telah keriput itu terulur dan mengusap Surai putri angkatnya.
"Nduk, ada apa kamu tiba-tiba bicara seperti ini?" Tanyanya yang masih tak bisa menebak kemana arah pembicaraan putri angkatnya.
Ayana memilih tak menjawabnya dan kembali fokus memandang televisi. Meski dia beberapa kali menunduk dan menyembunyikan air matanya yang jatuh, Bu Sri tetap tau jika pelupuknya sudah tak sanggup lagi menampung air mata Ayana.
"Jangan menangis, tak baik untuk bayimu." Celetuk Bu Sri dengan lembut dan tangannya menggenggam erat tangan Ayana seolah meyakinkan Ayana bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ayana terdiam dia merenung, sedari tadi kedatangannya dia sama sekali tidak menyinggung perihal kehamilannya. Bagiamana mungkin Bu Sri bisa tahu? Begitu batinnya dengan mata teduhnya dia menatap wajah Bu Sri.
"Bu, darimana ibu tau?"
Bu Sri tersenyum. " Apa kamu lupa? kalau ibumu ini bisa melihat apa yang sudah dan akan terjadi pada orang lain?" Tandasnya dengan senyum simpul yang penuh makna.
Ayana mengangguk beberapa kali diselingi dengan senyum getirnya dan bulir air matanya jatuh begitu saja.
"Iya Bu, aku hamil. Tapi..... Bu....." Gumam Ayana meragu.
"Tapi apa? Katakan saja pada ibu Nduk." Pintanya dengan menyalurkan kehangatan dan kelembutan sari setiap usapan ke punggung Ayana.
Ayana melihat sekilas ke kamar tempat Jackie masuk tadi. Kamar tamu yang telah disiapkan oleh Bu Sri untuk mereka berdua.
"Bu, ........ ......" Ayana mengatakan semuanya dengan berbisik lirih di telinga Bu Sri.
Tentu saja kejujurannya kali ini begitu menyakitkan baginya mengingat fonis dokter begitu kejam.
Bagaimana tidak kejam, disatu sisi ada kebahagiaan dengan datangnya satu calon anggota baru bagi keluarga kecil mereka.
__ADS_1
Namun, disisi lain satu nyawa juga harus direlakan sebagai penebusnya. Apakah itu adil?
Bu Sri terdiam setelah mendengarkan pengakuan dari Ayana. Dia tau kini mengapa putrinya terlihat murung.
"Nduk, jangan mendahului takdir. Tapi... ibu hanya bisa mendukung keputusanmu. Selagi itu menurutmu baik maka lakukanlah." Kata Bu Sri mencoba untuk menenagkan jiwa putrinya yang gundah.
"Terimakasih Bu." Ucap Ayana dengan tersenyum pias.
"Nduk, sekarang tidurlah. Ini sudah malam, suamimu juga sudah menunggumu di kamar."
"Iya Bu." Ayana mengangguk dan mencoba tersenyum manis setelah sisa air matanya terhapus tak bersisa dari pipinya.
Ayana bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar tamu. Bu Sri hanya terdiam menatap punggung sang putri hingga menghilang di balik pintu kamar tamu.
" fonis dokter itu memang banar, Tapi... disini aku melihat juga dia akan hidup.... Ah sudahlah. Takdir mereka sudah terikat dan bagaimana pun jalannya kurasa tak ada yang bisa diragukan." Bu Sri terdiam menatap penuh arti kepergian Ayana.
Di dalam kamar tamu.
Ayana memasuki kamar tamu dengan perlahan, dan dilihatnya Jackie sudah terlelap.
Pria bergigi kelinci itu tertidur setelah kekenyangan menyantap soto buatan Bu Sri.
Disni, sebenarnya yang mengidam siapa?
Jackie atau Ayana?
"Kekenyangan ya?" Gumam Ayana yang duduk di tepian ranjang dan mengusap lembut rambut suaminya.
"Ah, dia berkeringat." Ayana kembali menyeka keringat Jackie lalu diambilnya buku yang sudah tak terpakai untuk mengipasi suaminya.
Ayana tersenyum tapi juga sekaligus sedih. Dia berpikir, bila mungkin ini saat saat terakhirnya bersama dengan suaminya.
Ayana mengecup kening Jackie perlahan. Sentuhan lembut dari bibirnya membuat Jackie menggeliat dan setengah membuka matanya. " Eungh.... Ay? Kamu darimana jam segini?" Tanya Jackie sambil terduduk berbicara dengan suara seraknya dan juga satu matanya yang mulai terbuka sedikit lebih lebar.
"Aku dari kamar mandi sayang." Jawab Ayana berbohong.
" Eungh.... hoamz!!" Jackie melengkuh dan menguap. " Ayo cepat tidur. Besok pagi-pagi aku harus bekerja." Ucapnya yang kemudian menarik perlahan tangan Ayana dan membawanya untuk berbaring di sisinya.
Ayana langsung memeluk Jackie dan mencium sekilas bibir suaminya. Jackie yang mendapatkan perlakuan hangat itu hanya tersenyum senang menerima perlakuan manis istrinya.
__ADS_1
"Sayang, jangan terlalu dekat. Aku berkeringat." Ucap Jackie yang mencoba sedikit merenggangkan pelukan istrinya.
Ayana menggeleng. " Aku suka bau keringatmu Yang, sudahlah ayo tidur! aku mengantuk." Balasnya yang seolah tak menggubris keluhan suaminya yang sudah basah dan berkeringat.
"Tapi aku gerah." Protes Jackie yang memang dia kegerahan karena di kamar Bu Sri tidak mempunyai sistem pendingin layaknya kipas angin atau AC.
Ayana menatap suaminya lalu tersenyum, jari manisnya bergerak lentik satu persatu melepaskan kancing baju kemeja putih yang di pakai suaminya.
Dengan tatapan mata yang menggoda, berbaur lembut dalam suasana remang lampu temaram. " Ay kamu mau ngapain?" Tanya Jackie penuh dengan kecurigaan.
Oh ayolah, lelaki di raba? fix otak Jackie sudah mulai mengembara.
Tapi, istrinya justru terkikik geli dia begitu menikmati wajah tegang dan gelisah suaminya.
"Otakmu jangan aneh-aneh berpikirnya. Aku tidak akan melakukan hal tidak senonoh itu di kamar ini Sayang. Aku hanya ingin membantumu membuka bajumu." Ucap Ayana sembari menahan tawanya.
Jackie tertangkap basah berpikir jorok. " O...Oh.... aku kira." Katanya Malu-malu lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kamu tadi kekenyangan setelah makan soto kan, sampai ketiduran dan belum cuci muka." Ayana mengomeli suaminya dengan tangannya yang sudah mencubit gemas hidung Jackie.
"Belum gosok gigi." Lagi Ayana mencubit gemas pipi Jackie.
"Belum ganti da**man juga." Mata Ayana melirik ke area bawah yang berada diantara dua paha.
Jackie tergugup antara senang dan malu. Ternyata istrinya ini begitu memperhatikannya meskipun hanya dalam bentuk perhatian kecil.
"Habisnya enak Ay. Pantas saja kamu begitu ingin dan kangen soto buatan Ibu. Ternyata memang sungguh enak." Kata Jackie mengakui kelezatan soto buatan Ibu angkat istrinya.
Ayana merasa lega dan juga senang. Ternyata tak sia-sia dia merengek mengajak suaminya untuk pergi berkunjung ke rumah Bu Sri.
"Enak kan? aku tadinya sampai terbayang-bayang Yang." Kata Ayana yang berbicara sambil menepuk-nepuk perut Jackie.
"Lihat perutmu!" Ucapnya. " Tiga mangkuk soto, dua mangkuk nasi. Ohhh.... ini perut atau penampungan?" Ledeknya dengan tangan yang tak berhenti menepuk-nepuk.
"Padahal aku yang mengidam tapi kamu yang begitu...." Ucapnya terhenti ketika salah menyebutkan tentang sesuatu.
Mata mereka seketika beradu ketika telinga Jackie menangkap sesuatu yang lama di harapakannya.
Apa tadi telingaku tak salah dengar?
__ADS_1
Dia menyebutkan tentang mengidam? Apa istriku sudah mulai hamil dan menyembunyikannya dariku?