Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
22. Demam


__ADS_3


Hohoho!


I'm coming!!


Akh.... weekend Tapi badan rasanya remuk redam. Lemes banget gitu dan males makan. Buat kalian, sehat-sehat ya, jaga makan, istirahat yang cukup dan keep your happiness!


Makasih buat jelly, yang udah bikin moodku balik.


Ayo sih kalian ramaikan komentar dan dukungannya, biar MiMi bersemangat gitu. Thanks for you jelly!!


Apa kabar tuh anak berdua yang habis liat hantu ya??


Kalau kalian abis liat hantu gimana gaish?


Pengalamanku dulu sewaktu di datangin mbak-mbak Kunti dalam mimpi yang dia menunjukkan wajahnya yang menyeramkan. Besok paginya aku langsung sakit dong, satu bulan yang ga jelas sakitnya. Beda dokter beda diagnosis alhasil sembuh setelah Almarhum Ayahku membacakan doa rutin selepas magrib.


huft....! Baru mimpi doang langsung tumbang.


kalo kalian gimana??


Boleh kok coret-coret dikit di kolom komentar.



...🌹🌹🌹...


Ayana terbangun setelah berkali-kali ponselnya tak berhenti berdering. Suaranya nyaring dan membuat fokusnya tertuju pada benda pipih yang menyala mati menyala mati.


" Oh, Alarm..." Pungkasnya yang kemudian kembali menarik selimut dan mengabaikan segala aktivitas rutinnya di hari Minggu.


Tubuhnya masih terasa sangat lemas setelah kejadian kemarin. Bertemu mahluk astral bukanlah hal yang menyenangkan. Terlebih lagi dia bukan manusia yang mempunyai kelebihan untuk menangkal energi negatif dari mahluk tak kasat mata.


Dia kembali terlelap dan tampak nyenyak. Sementara itu disisi lain, di suatu kamar yang bernuansa hitam dan abu-abu. Kamar khas laki-laki, ada seorang lelaki yang sedang kedinginan. Dia sangat kedinginan sampai giginya saling gemertak dan tubuhnya menggigil.


Jackie berjalan limbung dan menghubungi Dita. Tak menunggu lama, Dita segera mengangkat panggilan dari atasannya itu. Takut saja dia bila terlalu lama mengabaikan maka akan kena semprot.


' Ta, bisa kirimkan satu dokter kerumahku?' Tanya Jackie di sebrang sana dengan suara yang lirih dan berbeda dari biasanya.


' Pak, ada apa? apa anda sakit?' Dita benar-benar tak tau harus berbuat apa sedangkan Dita sendiri sedang berada di depan taman bermain dengan keponakannya.


Membingungkan, sedang asik bermain malah atasannya membutuhkan pertolongan. Belum sempat bertanya dimana alamat Jackie. Panggilan berubah bising terdengar seperti benda yang jatuh.


' Halo, Pak! Pak!!" Dita berubah panik.


Sejenak dia terdiam dan berpikir bagaimana caranya agar semua bisa teratasi dengan baik. Ayana, hanya satu. Ayana adalah sekertaris Jackie, sudah tentu dia tau dimana alamat bos-nya.


Dita kembali memencet benda pipihnya. Lama sangat lama bahkan sudah belasan kali.


Ayana mengerjapkan matanya, membuka sebelah matanya menyesuaikan cahaya yang masuk. " Astaga...! Siapa sih ini? Berisik.....!!" Ayana memekik geram lalu melihat layar ponselnya.


Sebelum mengangkatnya dia yang kesal serta frustrasi meremas rambutnya dan mengacak-acak rambutnya bak orang gila. " Astaga!!! rewel sekali!!" Dengusnya.


Sejenak dia terdiam melihat nama si pemanggil. " Kak Dita?" Gumamnya.


' Iya halo, Asalamualaikum..!' Sapanya dengan suara yang lembut lemah gemulai. Astaga kemana jiwa Mak Lampir tadi dia tinggalkan.


' Walaikumsallam. Ayana, bantu aku. Ini darurat, kau segeralah datang ke apartemen Pak Jackie. Kau tau alamatnya kan? Dia sepertinya... sepertinya....' Dita menggantungkan ucapannya. Sebenarnya dia juga bingung akan berkata apa mengingat dia juga belum tau banyak perihal kondisi Jackie yang menghubunginya barusan.


Ayana tertular kepanikan karena berita yang tak lengkap dari Dita. Dia panik dan menggigiti ujung kukunya.' Ada apa dengan beliau?'


' Dia tadi menghubungiku meminta agar mengirimkan dokter. Kurasa dia sedang sakit dan tak bisa pergi kerumah sakit sendirian. Kau urus dia ya. Aku juga tak bisa meninggalkan keponakanku. Orang tuanya sedang ada acara.' Terangnya tanpa berbohong.


Ayana yang panik sudah membayangkan yang tidak-tidak. ' Oh, iya aku segera kesana.' Jawabnya singkat yang kemudian mematikan Panggilan tanpa permisi.


Bergegas tanpa mandi dan persiapan matang. Ayana yang kusut segera berlari menuju ke apartemen milik Jackie.


Selama dalam perjalanan dia terus saja merapalkan doa meminta agar sang bos baik-baik saja.


Membutuhkan waktu satu jam hingga akhirnya Ayana sampai di apartemen Jackie. Apa yang ditakutkan benar terjadi. Jackie ditemukan tergeletak di ruang tamu.


" Astaga, Jack!!" Spontan dia berteriak memanggil nama Jackie tanpa embel-embel Pak.

__ADS_1


Ayana yang panik dengan sebisanya dia mengangkat tubuh Jackie dan meletakkannya di sofa. Penuh usaha untuk mengangkat tubuh yang gempal berotot itu untuk sekedar merebah di sofa.


" Dia ini makan apa, berat sekali?" Ayana menggerutu sembari menarik bahu Jackie.


" Ya Allah, kau makan batu?" Cerocosnya lagi yang keberatan mengangkat tubuh besar itu.


" Huft..." Ayana menyeka keringat dari keningnya.


" Huh... huh....!" Ayana ngos-ngosan dan terduduk di samping Jackie. Tepatnya di dekat kakinya.


Ayana berpikir dan kemudian menghubungi Dita. meminta Dira agar mengirimkan dokter ke alamat yang di kirimkan.


Sembari menunggu Ayana yang kelaparan lantas memasak bubur ayam instan yang ada di lemari pendingin.


Selesai membuat dan Dokter pun datang memeriksa Jackie. Sebenarnya dokter menyarankan agar Jackie di rawat di rumah sakit. Tetapi Ayana menolak karena dia takut salah mengambil keputusan. Setau Ayana dulu Jackie adalah lelaki yang takut jarum dan rumah sakit.


Selesai memeriksa dokter berpamitan Setelah sebelumnya menitipkan banyak pesan kepada Ayana agar memperhatikan pola makan dan juga jam istirahat Jackie. Dia pikir Ayana salah istri dari Jackie.


" Eungh...," Jackie mengerang saat Ayana tengah menikmati bubur ayam buatanya.


Ah, dia bangun. Batin Ayana yang menoleh ke arah Jackie yang beringsut memiringkan tubuhnya.


Cepat-cepat Ayana mendekati Jackie. Tatapannya banyak tanya dan juga prihatin juga cemas. " Pak... Sudah bangun?" Ayana memastikan bila kesadaran Jackie sudah pulih benar.


Jackie memicingkan matanya dan memperhatikan Ayana. Masih bingung saja dia, seingatnya tadi yang di hubunginya Dita bukan Ayana. Masih menyimpan kekesalan sebab di awal pagi menjelang, orang pertama yang dimintai pertolongan adalah sekertarisnya ini. Tapi malah ditolak begitu saja.


" Hemm!" Deheman mewakili segalanya.


Ish, Sudah baik aku memperhatikannya sampai sejauh ini. Tapi dia malah hanya berdehem saja. Ah, tapi mungkin dia memang masih tidak mood. Batin Ayana.


" Mau makan?" Ayana berlutut di hadapan Jackie mensejajarkan tingginya dengan Jackie yang masih berbaring.


Jackie hanya diam saja dan tak bergeming. Tak menunggu jawaban, Ayana lantas mengambilkan bubur instan yang tadi di buatnya. Dia masih belum sadar akan penampilannya yang super berantakan. Rambut acak-acakan, dan baju tidur yang mengkerut di sisi kanan dan kiri.


" Bapak makan dulu ya. Biar saya ke apotik untuk menebus resepnya." Kikuk Ayana berbicara tanpa ada jawaban sama sekali.


" Ambilkan dompetku di kamar, di lemari samping ranjang." Ketusnya meski lirih tapi nada bicaranya menunjukkan ketidak sukaan.


Maklum dan paham. Itulah yang tertanam dalam benak Ayana kala mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari Jackie. Semua tak akan begini kalau bukan karena kesalahannya.


" Ini." Ayana memberikan dompet Jackie.


Jackie menerimanya dengan mengomentari gerakan Ayana yang dinilainya sangat lamban untuk sekedar menemukan sebuah dompet saja. " Lamban!" ketusnya yang kemudian memberikan kartu kreditnya.


" Tebus obatnya dengan ini dan sekalian kau belanja untuk kebutuhan dapur. Terserah mau beli apa saja aku tidak perduli yang aku mau ada bahan makanan yang layak. Cepat." Titahnya panjang lebar membuat Ayana tercenung. Pasalnya sedari tadi diam dan sekarang menyemburkan banyak pertanyaan.


" Cepat!! apa kau tuli?" ketusnya lagi.


" I... iya pak.." Ayana mengangguk dan segara pergi.


Dua jam, dan Ayana kembali.


Dia kesusahan membawa banyak belanjaan dan juga obat Jackie.


" Pak bangun, ini obatnya." Ayana meletakkan obat Jackie di meja.


" Astaga dia panas sekali." Gumam Ayana lirih dan terdengar jelas di tengah sunyi ruangan yang hanya berisi dua orang manusia.


" Yang panas itu tanganmu!" Sahut Jackie membuat Ayana terlonjak kaget dan segera menyingkirkan tangannya dari kening Jackie.


" Suhu tubuh bapak yang tinggi. Panas sekali."


" Tanganmu lebih panas kau tau!!" Jackie bangkit dan berusaha duduk tapi kepalanya semakin berdenyut ketika bergerak.


Malas berdebat Ayana lantas mengambil termometer yang ada di kotak obat dan memeriksa suhu tubuhnya juga suhu tubuh Jackie.


" 38.5 ° Kita sama-sama demam." Ayana berbicara dengan termometer.


" Ini minumlah, jaga makan, istirahat juga yang cukup." Kata Ayana sembari mengupas obat-obatan milik Jackie.


" Terimakasih sudah perduli dan perhatian padaku." Ucap Jackie yang mengira apa yang Ayana sampaikan adalah bentuk kecemasannya.


" Aku hanya menyampaikan pesan dokter. Dokter kira kau adalah suamiku tadi." Celetuk Ayana yang kelepasan dan lancang karena sudah banyak bicara.

__ADS_1


Reflek dia menepuk-nepuk mulutnya sendiri sembari berbalik dan membawakan mangkuk kotor bekas bubur.


Jackie tersenyum miring melihat Ayana salah berucap. Astaga mulut sialan!! bisa jaga bicara tidak sih!! aku tidak mau nanti dia mengira aku ini wanita murahan yang suka menggoda lewat kata-kata. Ayana membatin lalu mencuci mangkuk kotor sembari berkomat-kamit merutuki kebodohannya sendiri.


Ayana berdiri meski kakinya sangat lemas sekarang. Tadi dia belum sempat sarapan dan juga suhu tubuhnya sama tingginya dengan Jackie.


" Kenapa berdiri disitu?" lirih Jackie yang merendahkan nada bicaranya.


Tau terimakasih, itulah ungkapan yang sedang Jackie praktikan. Tadi Ayana yang datang dengan panik menolongnya dan kini dia hanya berusaha bersikap baik layaknya manusia yang tau balas Budi.


" Em, tidak apa-apa Pak. Aku disini saja. Maaf tadi karena panik aku menginjak dan juga menduduki sofa mahal Bapak." Ucapnya menunduk menahan pusing yang tiba-tiba menyerang.


" Tidak apa-apa. Memang kubeli untuk di injak dan di duduki kan? Duduklah aku tidak mau kau pingsan karena lama berdiri disana."


Ayana memang berdiri di tepian antara lantai dan karpet. Dia takut menginjakan kakinya setelah tersadar bagaimana rupanya yang berantakan dan belum mandi.


" Tapi saya bau pak, saya belum sempat mandi tadi." Tolaknya halus dengan menunduk menatap ujung kuku jempol kakinya.


" Kemari, atau ku potong gaji?" Tanya Jackie dengan satu alisnya yang terangkat. Nada bicaranya mendominasi menekankan kata potong gaji membuat Ayana berpikir ulang.


Belum sempat menginjakkan kaki di karpet bulu yang mahal. Ayana sudah


BRUGH....!!!


Dia terjatuh dan pingsan. Beruntung sebelum keningnya terantuk sudut meja kaca, Jackie dengan sigap menangkapnya.


" Menyusahkan!!" Desis Jackie.


Kedua kalinya dokter datang lagi. Dokter yang sama, tempat yang sama, waktu yang berbeda dan semua ciri-ciri hasil diagnosis yang sama pula.


" Kalian ini berjodoh sehidup semati atau bagaimana, sakitnya pun sampai sama. Suhu tubuh juga. Apa Bapak sangat mencintai istri bapak ini?" Kata dokter yang menuliskan resep di kertas putih.


Jackie hanya terdiam menelan ludahnya dan memperhatikan bagaimana wajah pucat Ayana yang tadi merawatnya.


" Perhatikan makanya, tidurnya juga saling menguatkan agar cepat sembuh ya?" Ujar Dokter.


" Tadi sewaktu anda yang pingsan, istri Bapak sangat ketakutan Bahakan sampai menangis melihat bapak tidak berdaya. Sungguh manis sekali.. dia sangat tulus. Beruntung sekali Bapak memiliki istri yang patuh dan sangat mencintai Bapak."


Jackie tertegun mendengar penuturan dokter. Mana mungkin Dokter yang menanganinya itu berbohong kan?


Dokter beranjak pergi dan Ayana terbangun. Kini bergantian Jackie yang membuatkan makan siang. Sayur bening dan nasi putih dengan telur goreng. Sudah hanya itu. Menu sederhana yang mampu di buatnya. Bukan tak pandai memasak. Tapi sungguh Jackie tak tahan dengan tubuhnya yang serasa remuk.


" Kau bangun? ini cepat makanlah. Lalu minum obatmu. Kata dokter sakit kita mempunyai gejala yang sama. Jadi dia meresepkan obat yang sama. Sementara kau minum dulu obatku." Jackie mengupas obat untuk Ayana.


Ayana bangkit lalu mengambil tisu dan mengelap tempatnya tadi berbaring. " Maaf, aku mengotori kursi anda Pak." Ayana menunduk beberapa kali.


" Cih, kenapa? Sekotor apa tubuhmu itu? Apa kau sudah kumutan? apa kau punya kusta? Tidak kan?" Desak Jackie.


Ayana menggeleng.


" Duduk lalu minum ini. Aku juga akan meminumnya." Kata Jackie yang juga meminum obatnya Setelah sebelumnya makan siang bersama dengan Ayana menikmati masakan hambar yang di buatnya.


" Aku rasa sakitku serius, lidahku mati rasa. Semua makanan ini hambar." Gumam Ayana.


" Ah, mau hambar mau asin yang penting kenyang dan mengganjal perut." Cetus Jackie merengut karena masakannya mendapat komentar buruk.


" Beruntung masih ada yang bisa dimakan!!" Ketusnya yang memasukkan nasi kedalam mulutnya.


30 menit setelahnya.


" Hoamz...!" Mereka menguap bersamaan.


Jackie yang mengisi waktunya dengan membaca buku dan Ayana yang hanya berbasa-basi melihat-lihat beranda jualan online, akhirnya terlelap bersama karena pengaruh obat.


Mereka terlelap dengan kepala yang saling beradu. Rambut mereka saling bergesekan dan tanpa mereka sadari sekali terjadi dalam tidurnya Jackie mengecup kening Ayana.


Ouh, so sweet. Kalau begini agaknya mereka perlu berterimakasih dengan mbak kunti dan om wowok ga sih? karena demam yang menyatukan cinta. Cie, cie... Karena demam membuat tenaga Jackie melemah dan tak bertenaga untuk marah-marah..


Jackie, liat tuh.


Ngakunya benci setengah mati. Tapi kok naluri bilang sehidup semati, gimana tuh?


__ADS_1


__ADS_2