
...π·π·...
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Ayana mengusap perlahan garis tegas rahang Jackie. Lelaki yang sedari dulu selalu berucap ingin menjadikannya istri.
Lelaki bergigi kelinci yang setiap saat mengusilinya tanpa jeda.
"Kenapa dimuka bumi ini, yang sempurna adalah lelaki? kami para wanita tak akan terlihat sesempurna ini saat tanpa makeup. Tapi kamu? kamu.... Tampan sekali." Lirih Ayana berbicara memuji Kharisma sang suami yang semakin kesini semakin menjadi.
Garis wajah yang sama antara Gino dan Jackie memanglah sudah banyak mendapatkan pengakuan. Hanya Jimmy yang wajahnya mirip dengan garis keturunan sang Ayah. Sedangkan si sulung dan si bungsu sangat mirip dengan Bunda Winda.
Mendengar pujian tersemat untuknya membuat Jackie tersenyum meski dengan mata yang terpejam. Rupanya si gigi kelinci sudah bangun. Dia sengaja menunggu reaksi dari istrinya.
Semalam mereka sudah berbaikan dan saling berjanji untuk memulai semuanya dari awal.
"Benarkah aku setampan itu?" Jackie memainkan alisnya naik turun.
Menggelikan sekali melihat ekspresi wajahnya saat ini. Roman-romanya, Jackie sedang menebar eksistensinya.
"Iya kamu Tampan. Puas?" Ayana mencubit gemas hidung Jackie.
"Ay..., Aku kan tiga tahun lebih tua dari kamu. Bisa kamu berikan panggilan yang bagus untuk Suamimu ini?"
Iya Ayana sampai lupa jika memang Jackie lebih tua darinya. Bagaimana, dari kecil selalu bersama bahkan Jackie sengaja Hiatus beberapa tahun dan menunggu sampai Ayana juga kuliah. Bukankah itu gila? Menggadaikan masa depan demi pujaan hatinya.
"maunya di panggil apa?"
"Sayang, maunya sayang. Jangan yang lain." keukehnya.
"Walaupun di kantor?" Ayana memastikan.
Jackie mengangguk.
"Walaupun temu klien!"
Lagi Jackie mengangguk.
Yang benar saja, CEO manja ini lebih tepat dikatakan sebagai bayi besar daripada seorang pemimpin perusahaan. Wajahnya terlalu imut untuk menjadi pemimpin yang disegani.
Jackie meraih kaca mata lalu memakainya, sedikit merapikan rambutnya dan tersenyum manis menatap Ayana yang juga tengah bersiap untuk bangun.
"Cepat, mandi! hari ini sudah harus masuk kerja kan? Aku dan Diah juga akan memeriksakan kaki ku." Ayana mengikat asal rambutnya dan melihat jam di atas nakas.
"Ada yang lupa!" Jackie membulatkan matanya. Ouh, sungguh menggemaskan. Imut sekali mahluk satu ini, meski dengan tubuhnya yang kekar dan bertato.
"Apa?" Ayana menoleh dan hendak membereskan ranjang mereka.
"Kau tidak ingat?" Jackie memicingkan matanya berharap istrinya akan tau maksudnya.
"Apa? aku tidak melupakan sesuatu Jack."
"Panggil Sayang!" Jackie bersedekah dan menatap dingin Ayana.
"Eh, iya. Lupa. Maaf!" Ayana nyengir kuda memamerkan deretan giginya yang putih.
"Apa sa... sayang yang lupa?"
"Cium!" Ujar Jackie sambil memonyongkan bibirnya minta cium.
"Ah, tidak!" Ayana terkekeh dan menolaknya keras-keras.
" Argh...! Ya sudah aku tidak akan kerja." Ancaman meluncur lancar dari Jackie yang kembali berpura-pura tidur.
Ayana hanya menggeleng. Dia tidak punya pilihan lain. Sedikit pergerakan halus mengusap lembut Surai sang suami, merapikannya lalu mencium kening Jackie. Turun ke hidung, kedua pipi, lalu bibir Jackie.
"Sudah, ayo bangun!" Ayana menepuk-nepuk dada Jackie.
Tak lepas begitu saja. Umpan sudah termakan oleh Incaran. Ayana masuk kedalam perangkap.
"Mau kabur?" Tanya Jackie yang menangkap pergelangan tangan Ayana dan menyunggingkan senyum tipisnya.
"Nanti ya. Sebentar lagi. Ingatlah kamu baru sembuh, dan menantu di rumah ini bukan hanya kamu. Tapi juga kak Dita."
"Ya, tapi bukan berarti aku hanya akan bersantai tanpa membantu kan?" Ayana benar bukan? " Kamu mau kubuatkan sesuatu?" Ucapnya mengalihkan topik pembicaraan.
Ayana masih malu harus sedekat ini dengan Jackie. Rasa canggung yang melingkupi membuatnya kikuk dan berkali-kali menghindari tatapan mata Jackie saat titik temu pandangan mereka beradu.
__ADS_1
"Hem, kau benar istriku." Kata Jackie yang tersenyum senang. Tujuannya telah tercapai. Mungkinkah dengan ciuman itu menggambarkan keterbukaan diri mereka yang sudah kembali?
"Aku mau susu pisang dan juga roti lapis isi daging."
"Oke! siap Sayang π!" Ayana menyahuti dengan bersemangat. Dia ingin segera lepas dari dekapan hangat Jackie. Bukanya tak mau, tapi dia masih malu saja.
Di kamar Gino.
"Eh...! Eh...! cepat bangun!!" Gino menoyor kening Dita berkali-kali. "Dasar gadis pemalas! kau begitu rajin saat di kantor, tapi di rumah mertuamu?" Imbuhnya lagi yang tak habis pikir dengan Dita yang kini menjadi istrinya masih terlelap saat matahari mulai meninggi.
"Eungh....!" Dita menggeliat dan meregangkan otot-otot tubuhnya sedikit mengerang lalu mengusap sudut bibirnya yang dirasa agak basah.
"Iyuh...! Lap sana ilermu!!" Gino melemparkan tisu ke wajah Dita.
"Siap Pak! Maaf!" Dita tergagap dan kepalanya masih oleng.
"Pak, pak!" Gino menggerutu tak suka. "Semalam aku menyuruhmu untuk memanggilku apa?"
"Semalam?" Dita menerawang. "Ah~~~iya. Suamiku," Kata Dita penuh penekanan pada kata SUAMIKU.
"Kamu ini, ternyata begitu gaya tidurmu? seperti badak! dan apa ini menjijikkan sekali, kamu ileran? sampai mengering begini?" Gino menatap jijik Dita.
"Maafkan aku Suamiku, tapi aku ileran karena dari semalam tidurku miring kekiri terus."
"Iya, kau memunggungiku! dan kamu tau? aku sudah mengabadikan gambar ilermu ini."
"Yak! untuk apa?" Dita memekik tak senang.
"Eh! ingat ini dirumah mertua. Tentu saja akan kugunakan sebagai senjata. Ini akan berguna suatu saat nanti. Aku tidak sabar melihat reaksi teman-temanmu kalau tau kamu tidur begini. Hahahaha!" Gino tertawa renyah mengabaikan Dita yang sudah bersungut-sungut.
"Suamiku yang tampan, jangan ya." Dita memohon dengan memelas, menangkupkan kedua tangannya di hadapan Gino.
"Bersujud dulu." Pintanya jahil.
Ah, macam aku menyembah berhala saja. Begini nih kalau menikah sama bos sendiri. Apa-apa seenak jidatnya!
Orang lain mah pengantin baru, pagi-pagi morning Kiss. Ini malah adegan sembah menyembah.
Selesai bersujud di hadapan Gino, Gino lalu menyerahkan ponselnya untuk Dita melihatnya.
"Sial!" Dita merutuki kebodohannya. Tidak ada apapun di ponsel Gino. Bahkan dia juga tidak ngiler saat tidur.
"Kenapa mukanya begitu? biar serem? aku tidak takut." Gino menggidikan bahunya acuh.
Benar, mau memasang ekspresi seperti apa juga tak akan berpengaruh bagi Gino. Sebab Dita belum terpatri di hatinya. Masih Ayana yang menduduki peringkat pertama.
Di ruang makan.
Senyum bahagia terpancar dari pasangan paruh baya yang mengamati anak dan menantunya yang rukun tengah makan.
"Ah, Ayah..., setelah ini kita akan panen cucu." Bunda Winda mengulum senyumnya mendamba sesuatu yang menggemaskan baginya.
"Iya sayang. Gino 2, Jackie 3, Alex 4." Celetuk ayah Dhani.
"Apa itu?" Ketiga anaknya serempak bertanya dengan wajah penasaran. Mereka pikir pembagian saham atau semacamnya.
"Cucu," Jawab Bunda Winda acuh dan kembali tersenyum senang menatap wajah suaminya.
Membahas mengenai hal itu membuat Ayana tertunduk. Dia meremas ujung bajunya.
Ah, anak ya?
Apa aku masih bisa hamil? Dan juga aku belum sepenuhnya yakin akan perubahan Jackie. Aku masih takut bila nanti anakku akan menjadi korban perceraian orang tuanya.
Dan, keguguran waktu itu...
Mengetahui perubahan mimik wajah Ayana. Jackie lalu menggenggam tangan istrinya di bawah meja lalu tersenyum padanya.
" Mengapa dari kami cuma dua Bun?" Celetuk Dita dengan polosnya yang berbuah sebggolan kaki dari Gino. Dengan Dita yang bertanya begitu tentu saja aneh bagi orang tua Gino. Ambigu, ini antara Dita yang ingin anak banyak, atau tidak ingin punya anak.
"Karena suamimu sudah tua. Usianya sudah 30 tahun lebih. Ya, kecuali kalau kamu mau program bayi kembar, Bunda punya kenalan."
"Uhuk...! uhuk!!" Dita terbatuk-batuk.
Kembar?
Aish, Ayahnya saja sangat menyebalkan begini. Kalau aku melahirkan dua kali dan kembar semua, itu artinya akan punya 4 anak.
Soal harta aku tak kuatir, anakku pasti terjamin. Tapi soal ketenangan jiwaku?
Mengasuh anak sekaligus Ayahnya yang pastinya sikap jahilnya sama.
__ADS_1
My Robb!!! Aku bisa gila. Dita bergidik ngeri membayangkannya.
"Bunda, aku masih muda. Jangankan dua, lima pun benihku masih bisa menetas."
"Mwo?" Dita melotot tak percaya.
Dita, yang sangat suka drama Korea, akan keluar khodam nya saat terkejut seperti ini. Secara otomatis dia akan menggunakan bahasa Annyeong Haseo.
"Kak Alex, dahimu kenapa?" Tanya Ayana yang melihat dahi Alex yang memar.
"Oh, ini? terantuk kusen pintu." Jawabnya santai.
"Makanya kak, nikah! bukan kusen pintu di cium begitu. Benjol kan?" Jackie meledek sesuka hati.
"Ayolah Bunda, Ayah, jangan bahas soal begini kalau masih ada aku! Aku risih, mana jodoh belum muncul, sindiran deras mengucur."
Mereka semua tertawa melihat ekspresi Alex yang sungguh menggemaskan. Anak tengah itu sedang di bully habis-habisan.
Mereka semua berangkat ke kantor, bunda pergi menghadiri acara arisan. Dan, Ayana seharusnya kontrol kerumah sakit.
...POV Ayana....
"Mbak, semuanya sudah siap? buku check up ku?" Tanyaku yang clingukan mencarinya.
"Itu Bu, ada di meja." Diah menunjuk meja yang ada di dekatku.
Aku mengambilnya dan tak sengaja mataku melihat sebuah map coklat. "Apa ini?" Ku buka, lalu ku baca.
Rupanya itu adalah kontrak kerja yang akan ditandatangani hari ini. Terlihat dari tanggal yang sudah di ketik sebelumnya.
"Mbak, nanti mampir ke kantor Bapak dulu ya. Ini punya Bapak ketinggalan." Aku menunjukkan map coklat tersebut.
"Tapi Bu, kalau untuk berjalan keruangan bapak bukannya lumayan melelahkan ya. Kaki ibu pasti akan sakit."
"Ehm, tidak apa-apa kan? demi suami. Kasihan kalau dia harus kembali kerumah."
"Ya sudah, nanti bawa kruk saja ya Bu."
Diah, dia sangat teliti dalam bekerja. Dia bertanggung jawab atas profesi yang di embannya. Mengkhawatirkan keadaanku lebih dari siapapun. Melayaniku lebih dari sekedar mendapatkan bayaran. Dia tulus dan baik.
Sampai di kantor aku mulai berjalan kesusahan. Tentu saja banyak yang menyambut ku. Mereka masih tak tau aku sudah menjadi Nyonya CEO di perusahaan ini.
Aku hanya asal mengira, mungkin karena suamiku belum sempat saja membuat acara dengan para karyawannya untuk memperkenalkanku sebagai istrinya.
"Ratih?"
" Mbak Ayana?" Ratih terbelalak dan berlari menghambur lalu mengomeli ku.
"Mbak kemana? bisa-bisanya pergi tanpa kabar. Aku dan Bu Sri sampai ketakutan. Kakimu Kenapa?" Cerocosnya panjang lebar ini dan itu.
"Ada nanti aku ceritakan." Kataku yang mengurai pelukan. Aku tak mau banyak bicara sedangkan suamiku saja belum mengumumkan hubungan kami.
"Di dalam ada siapa?" Tanyaku saat melihat ruang kerja suamiku tertutup rapat.
Ratih terlihat kaku untuk menjawabku. Aku meneleng menatapnya lebih dekat. Mencari kejujuran dari dua manik yang bergetar tak jelas.
"A... Ada tamu. Iya ada tamu." Jawabannya terdengar meragukan.
Tak lama saat kami masih berbicara, muncul tiga wanita yang berpakaian dan juga dandanan tak elit keluar dari raung kerja suamiku. Tampilan merek seperti penjaja daging di area selangk**an.
Apa-apaan ini? Apa dia masih menjalin hubungan dengan mereka semua?
Oh, betapa bodohnya aku yang asal percaya tanpa mengingat kebiasaan buruknya yang baru?
Ratih menunduk tak berani menatapku.
"Ya sudah, aku titip ini saja. Nanti berikan untuk Pak Jackie ya." Kataku yang kemudian berjalan cepat meninggalkan ruangan yang membuatku kelilipan.
Ah, iya mataku terasa pedas Setelah melihat wanita-wanita tadi.
Sakit, mengapa terasa sakit?
Aku memilih untuk membeli secangkir kopi dan menenangkan diriku di cafe depan kantorku dulu. Jujur saja aku merindukan cita rasa kopi buatan barista itu. Rasanya khas dan unik. Rasa yang menenangkan.
"Moccachino satu dan vanilla tea satu ya." Kataku memesan.
"Hei, kamu? apa kabar?" sapa ramah kudengar berseling tawa seorang pria kudengar.
" Hei!!"
"Aku baik!" Jawabku sambil tersenyum. Harus tersenyum semanis mungkin pada orang yang tak memiliki urusan pelik denganku. Setidaknya di depannya aku harus bersikap baik dan menyembunyikan rasa getir dan juga kejadian tadi yang perih dimata kala ku melihatnya.
__ADS_1