
...πΊπΊπΊ...
"Acara ulang tahun." Dita menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Serasa sesak dan berat kedua pundaknya setiap mengingat isi kerjasama yang telah disetujuinya dengan Gino.
"Uang, lagi lagi uang .... Wo.... Uwoo!!" Dita bernyanyi lantang lalu melempar ponselnya ke ranjang dan kemudian di ikuti dengan hempasan tubuhnya pada kasur empuknya.
"Aku sudah seperti artis yang syuting stripping. Setiap waktu hanya memikirkan bagaimana caranya untuk mengubah narasi dan berekspresi secara alami."
"Astaga....!!! Aku menyesal mengusulkan tentang pacar bohongan kepadamu Pak!!" Dita meremas seprei dan memukulnya dengan kesal.
Di acara ulang tahun Ayah Dhani, tentu saja semua keluarga dan anak-anaknya harus hadir. Ini hanya acara sederhana yang di hadiri oleh keluarga inti. Meskipun begitu om dan Tante dari putra Armanto sudah pasti juga akan hadir.
Di apartemen Gino.
"Nana, kuharap kamu bisa menjalani hidupmu dengan baik bersama adikku. Jika dia menyia-nyiakan kesempatan yang telah kuberikan, maka aku bersumpah. Aku bersumpah akan mengambil lagi hatimu." Gumam Gino dengan tatapan mata yang tertuju pada surat pernikahan mereka terdahulu.
Gino juga sudah pasti akan datang dalam acara tersebut. Dia juga akan membawa Dita dan memperkenalkannya di hadapan keluarga besar. Gino memikirkan banyak hal. Dia takut saja kalau kebohongannya akan terbongkar mengingat para tantenya adalah kalangan sosialita yang gemar mengonsumsi segala macam desas-desus yang beredar di sekitar.
"Semoga kau tidak membuat kesalahan Dita. Aku sudah banyak membayarmu." Katanya bermonolog.
Di apartemen Jackie.
Rasa iba, juga rasa bersalah saling tumpang tindih berlapis seperti sandwich. Bertumpuk dan menunjukkan sisi berantakan yang alami.
Tangan Ayana terulur dan hendak mengusap lembut Surai Jackie dan saat itu juga, secara bersamaan ada suara ketukan pintu yang terdengar memburu.
"Yah, tidak jadi." Sedih Diah berbicara lirih.
Diah, walau bagaimanapun dia juga menginginkan kerukunan dan harmonisasi terjadi di dalam rumah itu. Sebagai wanita, jika dia menempatkan diri sebagai Ayana, dia sudah pasti akan luluh dari beberapa waktu lalu. Tapi Ayana?
Dia bertahan dengan egonya.
"Bukalah pintunya. Ada tamu." Ucap Ayana tanpa menyentuh sedikitpun bagian tubuh Jackie.
Jackie pun langsung bangkit tanpa banyak bicara. Dia kembali lesu saat istrinya sendiri masih enggan untuk menyentuhnya. Hatinya menanggung luka dan kecewa.
"Hai!!" Riuh ramai suara khas seorang Alex.
Lelaki bertubuh ideal itu menyelonong masuk tanpa dipersilahkan.
"Hai Nana!! Apa kabar?" Tanya Alex yang melewatkan Jackie yang tadi membukakan pintu untuknya.
"Baik Kak. Kak Alex apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat, aku sehat, kaya dan tampan." Ujarnya sambil memantas diri dan berpose di hadapan adik iparnya. Sungguh kenarsisan tingkat atas.
"Iya, iya aku tau. Tapi tidak lebih gagah dari suamiku. Tinggi kalian saja berbeda hampir satu jengkal." Kata Ayana iseng.
Namun, siapa sangka bila iseng yang di lakukanya adalah iseng-iseng berhadiah yang membuat Jackie kembali berbinar bahagia atas pujian yang disematkan untuknya.
"Kau dengar itu tuan muda narsis!" Jackie tertawa remeh dan berjalan melewati Alex dengan kedua tangannya yang tersimpan di dalam saku celananya.
"Aish...! Berandal!!" Alex mendengus kesal.
Tanpa Ayana duga, Jackie tiba-tiba merebahkan tubuhnya di sofa dan menjadikan paga Ayana sebagai bantalan. Hal itu mengundang reaksi menggelikan dari Alex.
"Ouh....! Astaga mataku!" Alex mengerang dan menutup matanya.
" Mataku ternoda!! bisakah kalian bersikap biasa saja di hadapanku? Tidakkah sikap yang seperti ini adalah sikap durhaka seorang adik kepada kakaknya yang masih lajang?" Protes Alex bercuit meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya sedang menimba pahala dengan istriku. Ya kan sayang?" Jackie menggoda Ayana dan juga kakaknya tentunya.
Ayana hanya tersenyum-senyum lalu mengusap kening Jackie.
Tanpa kata, tanpa suara, satu usapan mewakili segalanya. Jackie merasa sesak di dadanya menjadi kian ringan seiring dengan sentuhan yang diterimanya.
"Mbak Diah!! tolong buatkan minum Mbak!" Ayana berseru.
"Di.... Diah? Mbak? kalian ada pembantu? Jadi ada orang lain disini." Alex mendelik tak percaya dan memasang ekspresi lucu dengan wajah malunya.
"Iya Nona." Sahut Diah lemah lembut.
Mbak, ah pasti kalau sudah di panggil Mbak oleh adik iparnya, sudah pasti adalah wanita yang lebih dewasa atau pantas dipanggil dengan Tante baginya.
"Bukan pembantu, tapi perawat Ayana. Selama aku bekerja, setidaknya ada orang lain yang harus membantu istriku kan?"
"Iya, itu wajib. Kau suaminya, kau juga harus merawatnya dengan baik." Alex menimpali dan duduk dengan kaki yang bersilangan.
"Maaf Nona, Tuan, saya lupa bertanya. Mau dibuatkan minum apa ya?" Tanya Diah dengan sopan.
Saat Diah datang. Alex terbengong melihat Diah, mulutnya menganga. Mungkin dia lupa caranya menutup mulutnya dengan baik.
"Teh saja. Buatkan kami teh chamomile." Titah Ayana dengan tersenyum ramah.
"Baik." Diah mengangguk lalu pergi membuat teh.
"Kau memanggilnya dengan Mbak, tapi mengapa tubuhnya mungil dan dia masih terlihat pantas untuk menjadi anak SMA." Kata Alex.
" Memang dia baru lulus SMA dan masih magang sebagai perawat di salah satu rumah sakit. Dan... aku merekrutnya sebagai perawat istriku. Kenapa, ada yang salah?" Jackie heran.
"Tapi dia terlalu kecil untuk menjadi perawat yang akan selesai masa pendidikan." Desis Alex masih tak percaya.
Jackie tertawa. " Kau itu kenapa? tidak kah kau mengenal istilah loncat kelas? atau istilah anak genius di sekolahmu dulu? Dia itu adalah siswi terpintar dalam akademiknya. Dia yang di usulkan oleh pihak rumah sakit saat aku bertanya mengenai perawat ahli."
"Silahkan diminum tehnya Tuan dan Nona." Diah meletakkan cangkir teh di meja. "Em, Tuan..., Nona.... saya sekalian permisi pulang, hari sudah sore jam kerja saya juga sudah selesai."
"Iya, Mbak Diah..., tolong kalau pulang sekalian bawa lauk yang di meja itu ya buat makan malam. Biar tidak usah masak lagi karena kami akan pergi jadi tidak ada yang makan." Kata Ayana.
"Na, sisakan ya. Aku belum makan." Bisik Alex malu-malu.
"Iya Nona." Kata Diah menurut.
Masih kecil begitu sudah menjadi perawat. Pasti dia sangat pintar. Ah, beruntung sekali nanti yang menjadi suaminya akan memiliki garis keturunan dari wanita pintar yang juga anak-anaknya akan pintar juga nantinya.
Tanpa sadar Alex memuji Diah dalam hati.
...πππΌππ...
Ayana memantas dirinya dan berdiri di depan cermin dia mengagumi gaun yang di pilihkan oleh suaminya.
"Kau sangat cantik." Puji Jackie yang juga berdiri di sebelah Ayana setelah mandi.
"Terimakasih." Sudah hanya itu yang terucap dan Ayana segera kembali duduk di kursi rias. Kakinya belum pulih benar dan masih tak bisa untuk terlalu lama berdiri atau berjalan.
Jackie dari pantulan cermin sesekali mencuri pandang pada Ayana dan mengulum senyumnya.
"Kemarilah." Kata Ayana yang kemudian menepuk sisi kosong di sebelahnya.
Jackie menurut dan duduk disampingnya. " Ada apa?" Tanyanya dengan fokus yang hanya tertuju pada simpul dasinya.
__ADS_1
"Apakah, kau sudah memafkanku?" Ayana meraih dasi Jackie lalu mulai mengikatnya.
"Ay, Sayang sudah berkali-kali aku bicara padamu jika aku menyesal pernah membencimu."
"Tapi, waktu itu kau bilang. Niatmu menikahiku hanya untuk membalas dendam." Ayana menatap getir suaminya.
"Tidak, tidak lagi setelah aku mengetahui segala kebenarannya. Aku minta maaf padamu Sayang."
Alih-alih menjawab, Ayana malah mengecup pipi Jackie. "Sudah, kau terlihat tampan sekarang." Pujinya yang kemudian berjalan meninggalkan kamar.
Sebenarnya apa maksudnya? Jackie menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ada rasa senang juga rasa penasaran yang bersarang.
Acara pesta.
Pesta ulang tahun diselenggarakan dengan meriah dan hangat. Mereka semua datang dan memberikan kado serta ucapan.
"Dita, sini bantu Bunda." Bunda Winda melambai memanggil Dita.
"Ah, iya Bun." Dita tersenyum puas lalu menghampiri bunda Winda.
Dita menata beberapa kue dan juga makanan berat di dapur. Tangannya berkeringat dingin, dia takut salah menjawab pertanyaan dari ibu sang bos.
"Aku dengar dari Gino, hubungan kalian sudah lumayan lama."
"Ah, iya." Dita meringis kecut.
"Jangan malu-malu, kami tidak pernah membedakan manusia. Hanya saja kami tidak menyukai manusia munafik yang suka berbohong." Cetus Bunda Winda membuat Dita menengguk ludahnya perlahan.
Mengerikan!!? Apa yang dibenci oleh bunda Winda sudah ada di depan mata.
"Jadi, selama kau tidak berbohong maka tidak ada yang perlu di takutkan bukan?" Ini merupakan kalimat penindas yang kejam. Antara menyindir dan menelisik memang tak beda jauh.
"Sayang, aku cari dimana-mana taunya kamu disini." Gino merangkul pinggang Dita dan mengecup kening Dita.
Tentu saja semua itu hanya pura-pura. Tapi pancaran bahagia terlihat jelas dalam gurat wajah wanita paruh baya yang ada di hadapan mereka.
"Kalian serasi sekali. Kapan menikahnya?" cetus Bunda Winda menggoda. "Jangan mau hanya di pacari saja Dita. Desak Gino untuk menikahimu! Bunda senang sekali melihat anak-anak bunda memiliki pasangan yang baik dan rukun begini."
"Ah...," Belum Dita menjawabnya. Gino sudah menyambar.
"Tenang saja Bunda. Tentu kami akan segera menikah. Ya kan sayang?" Gino mengedipkan sebelah matanya.
Sayangnya kedipan mata itu tertangkap mata oleh sang Bunda. "Gino matamu kenapa?"
"A... ah~~~ Ini. Sepertinya kelilipan Bun." Ucap Gino beralasan. " Sayang coba tiupkan." Rengek Gino manja kepada sang kekasih abal-abal.
"Ah, Sayang.. sakit ya? Iya aku tiup, mana yang mana?" Dita lagi-lagi berpura-pura dan terlihat alami.
Merasa anaknya butuh waktu untuk berdua, bunda Winda memutuskan untuk kembali ketengah pesta.
"Huft....! untung saja." Gino melepas pelukannya dan mendengus lega.
"Pak, bolehkah aku kembalikan saja uangmu? Aku merasa tanggung jawab ini terlalu berat." Kata Dita.
"Tidak! tidak bisa sampai aku benar-benar menemukan wanitaku!!" Final Gino berbicara.
Tanpa mereka sadari, dibalik pintu ada sepasang telinga yang menyimak pembicaraan mereka berdua.
Kalian, ternyata.
Baiklah, aku akan ikut bermain. Kita lihat, siapa yang akan memenangkan permainan ini.
__ADS_1
Kau akan segera hamil Dita dan Gino, kau harus bertanggungjawab. Batin seseorang dan kemudian mengulum seringai mengerikan.