
...🍁🍁🍁...
Tak ada yang lebih melegakan dari kejujuran. Tak ada kesakitan yang lebih menusuk daripada kebohongan.
Alex, masih tertidur didalam kamarnya seorang diri. Rian meninggalkannya seiring dengan jam kerja yang telah melambai-lambai memanggilnya. Rian juga harus mendampingi Gino untuk mewakili rapat hari ini.
Jackie datang membesuk Alex bersama dengan Ayana. Keduanya mendapatkan kabar dari Rian. Alex mengalami demam dan terus saja muntah-muntah. Tubuhnya mengalami intoleransi alkohol. Kadar alkohol yang terlalu tinggi hampir saja membuatnya tak bernyawa.
Itu diagnosa yang dokter katakan setelah dini hari tadi Alex mendapatkan penanganan dokter di apartemennya.
"Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Kak Alex itu pribadi yang baik dan hangat. Tapi mengapa untuk sekedar mendapatkan pendamping saja dia begitu sulit?" Ucap Ayana menatap iba Alex yang terbaring tak sadarkan diri.
Jackie yang berada di atas pangkuan sang istri hanya mende*ah dan menelusupkan kepalanya semakin dalam sampai mencium perut Ayana. "Hemhh, Ay... apa kamu juga begini sewaktu aku khilaf dulu?"
Oh, Ayolah Jangan bodoh Jackie. Ayana bukan lagi seperti itu, dia menangis seolah kehilangan separuh minat hidupnya. Jangan lagi kamu meragukan cintanya padamu.
"Menurutmu?" Ayana menunduk menatap wajah Jackie, sedangkan Jackie menengadah menunggu jawabannya. "Bukan lagi, Aku sudah seperti kehilangan nafasku. Apalagi saat pertemuan kita yang pertama. Hhh rasanya aku hilang keberanian. Menatap atau berbicara denganmu saja aku sampai ketakutan."
Terangnya menjelaskan semua yang di rasakanya saat pertama kali bertemu setelah perceraianya dengan Gino. "Aku dipermainkan takdir. Kenapa harus terombang-ambing dan memlalui jalur yang berkelok-kelok tajam, sedangkan pada akhirnya aku kembali padamu?" Ucapnya terhenti. "Si gigi kelinci menyebalkan." Keluhnya sambil mencubit gemas pipi sang suami.
"Entahlah, tampaknya malaikat yang menuliskan takdir sengaja melakukannya agar sering bisa melihat keadaanmu." Ucap Jackie asal.
"Eh, tapi tak apa-apa sih. Boleh juga kalau malaikatnya tampan." Ayana memasang wajah mendamba.
Jackie menghela nafasnya lalu menyentil kening sang istri. " Maunya! kamu tuh ya Ay... suami udah cakep begini. Apa kurangnya aku?"
"Ini nih kurangnya Kamu Jack? Kamu itu selalu menanggapi apa-apa dengan emosi. Marah,.marah dan marah. Coba, sekali-kali yang santai gitu."
"Yak!! tentu aku akan marah kalau sudah menyinggung soal lelaki lain. Tak perduli itu siapapun." Kata Alex.
Ya Ayana sangat paham itu, tak terkecuali. Hal itu sudah Alex buktikan dengan menghajar Gino saat mengetahui Gino menikahi Ayana. Andai saja waktu itu tidak ada Ayana yang maju untuk melerai, mungkin keduanya akan kritis dan berada di kamar rawat inap.
"Tuh, kan... iya... iya.. Udahlah jangan marah. ini hanya bicara omong kosong kan? Aku hanya ingin kamu lebih sabar dan berkepala dingin dalam menghadapi masalah. Jangan mudah terbawa emosi. Itu tidak baik." Ucap Ayana menjelaskan.
"Eh, kalian... Romeo and Juliet kw!" Seru Alex yang ternyata sudah terbangun dan mendekati Adiknya. "Ngapain di rumahku?" Tanyanya acuh yang kemudian berbaring dan menggunakan paha Jackie sebagai bantalan.
"Kak, udah bangun? Mau makan apa? aku masakin deh. Udah lama kan ga makan masakan aku?" Ucap Ayana yang niat hatinya semata-mata hanya sekedar menghibur Alex.
Tapi reaksi Jackie sudah memasang wajah masam di atas pangkuannya. Ayana memainkan kedua pipi Jackie hingga mulutnya ikut bergerak lucu. Ayana memajukan bibirnya lalu memberikan kecupan di udara. Dan wajah lesu itupun seketika berganti menjadi sangat ceria.
"Hoek!" Alex pura-pura merasakan mual. "Melihat kalian aku semakin ingin muntah rasanya. Ay bisa buatkan aku kopi?" Pinta Alex dengan suara yang lembut.
"Aku juga!" Ujar Jackie ikut ikutan.
" Kamu mau kopi juga? Susu aja ya?" ucap Ayana mengetahui suaminya tidak bisa mengonsumsi kopi di pagi hari.
__ADS_1
"em..." Jackie hanya mengangguk nurut.
Ayana membuatkan kopi, sedangkan Kakak beradik itu masih berbaring di sofa dengan Jackie yang memangku kepala Alex.
"Kenapa sih kak sampai mabuk begitu?" Tanya Jackie.
"Aku patah hati." Ucap Alex dengan tatapan kosong dan hampa. " Calon kakak iparmu pergi." Ucap Alex dengan putus asa.
"A .. apa? Diah pergi? kemana?" Jackie mulai tertarik dengan cerita Alex.
"Diah pergi? kemana?" Ayana yang tadinya hanya lamat-lamat mendengarkan akhirnya mulai tertarik dan bergabung.
"Kemarin, waktu kita dinas....." Alex menceritakan semuanya dari mulai dia yang merencanakan pernikahan dan juga strategi untuk menghadapi ayahnya hingga akhirnya Diah yang pergi dan memilih uang daripada dirinya.
Ayana merenung memikirkan kembali kata-kata Alex. Sepertinya ada yang salah dalam hal itu. Diah lebih memilih uang? Agaknya ada hal mendasar yang tidak tercantum dalam cerita yang di rilis?
"Kak, apa kakak yakin jika tidak ada yang mendasari tindakan Diah? Celetuk Ayana.
"A... apa maksudmu?" Alex terbengong.
Ayana mulai mengutarakan maksud ucapannya. " Maksudku, jika memang tujuannya adalah uang, maka dia tidak akan menolak lamaran Bunda sebelumnya kan? Dari selama aku mengenalnya, Diah bukan tipe seperti itu."
Alex terdiam dan menyesap kopinya. "Buh.... buih...! Vanass!!" Alex mengibaskan tangannya di depan mulutnya yang terbakar kopi.
"Hati-hati kak panas. Memangnya kakak mau pertunjukan debush?" Celetuk Jackie.
"Ish..!" Alex mendengus kesal pada Jackie lalu kembali menaruh atensi pada Ayana. "Kamu ada benarnya Ay."
"Iyalah, kan dia perempuan." Celetuk Jackie ngawur.
Ayana mendelik menatapnya menginterupsi agar suaminya serius dalam diskusi.
"Maksudku aku sudah.."
"Woah!" Ayana dan Jackie menutup mulutnya yang tercengang.
" Kakak udah kasih DP? udah angkat kredit?" Celetuk Jackie.
PLETAK!!
Satu jitakan mendarat di kepala Jackie.
"Heh! yang aku tanam benih calon adik keponakanmu bodoh bukan motor matic!" Seru Alex yang mengerang kesal dengan adiknya.
"I.. iya itu maksudku." Ralat Jackie.
"Kok bisa? bukanya Diah menolak mempunyai hubungan dengan... Apa jangan-jangan.... kak Alex...." Ayana menerka dan tepat sasaran.
__ADS_1
Alex mengangguk. "Iya, aku memaksanya." Ucap Alex.
"Oh...! Dasar kalian kakak beradik sama saja!" Ketus Ayana yang terbawa suasana lantaran mengingat sesuatu yang pernah terjadi padanya dan Jackie, juga saat dengan Gino dulu.
Alex dan Jackie kompak mendelik ke arahnya. "Inilah kan kalau suka main paksa. Kalau tidak ada kesiapan, lebih baik jangan. Kita tidak pernah tau yang terjadi setelahnya." Kata Ayana dengan nada tegas.
"Iya sayang Maaf, ga lagi-lagi." Jackie menangkup kedua tangannya di hadapan Ayana.
Ayana mendapatkan usapan halus di punggungnya dari sang suami yang menenangkanya. Sementara itu Ayana masih menyimpan kekesalan tersendiri.
"Lalu, apa sudah memeriksa ke kosanya?" Tanya Ayana yang mungkin saja Alex belum mendatangi kosan Diah karena terlalu banyak pikiran.
Alex mengangguk. "Sudah Ay, tapi tidak ada. Bahkan tidak ada yang tau ataupun melihat Diah sejak seminggu lalu. Yang itu artinya semenjak dia merawatku, dia sama sekali tidak pernah pulang."
"Kalau sampai dia hamil, aku akan menyesal seumur hidup karena telah menelantarkan anak dan ibu dari anakku." Ucap Alex bersedih.
Dalam situasi seperti ini sudah selayaknya setiap anggota keluarga saling menguatkan satu sama lain. Tak ubahnya seperti sebuah rakit yang bersatu, bersama dalam satu ikatan hingga mampu menerjang ombak pasang.
Ayana reflek memeluk Alex dengan tiba-tiba dan Jackie yang di kepalanya masih hangat ingatan akan ucapan Ayana barusan hanya menghela nafasnya dalam-dalam mencoba menetralkan rasa kesalnya.
"Sabar ya Kak, Dia pasti akan kembali juga dengan anakmu." Ucap Ayana lalu melepaskan pelukannya.
"Tapi Ay, masalahnya Ayah menolak memberikan restu pada hubungan kami karena asal usul Diah. Ayah tidak merestui kami."
"Ah, apa karena itu Diah pergi? Ayah yang mengusirnya? Kita tahu sendiri bukan Bagaimana Ayah ketika sedang marah?" Ujar Jackie.
"Iya, kamu benar. Aku tidak berfikir ke arah sana." Sahut Alex merenung.
Ketiga orang itu larut dalam pikiran mereka masing-masing. Merenung dan memikirkan jalan keluarnya.
...~~~...
Di suatu tempat yang lainnya.
"Ayah, Alex bilang jika dia sudah meniduri Diah. Bagaimana bila dia mengandung cucu kita Yah?" Tanya Bunda Winda pada sang suami yang masih menyesap teh hangatnya.
Ayah Dhani lalu meletakkan cangkirnya dengan perlahan dan menatap datar istrinya. "Kalau Tuhan yang berkehendak, aku tidak bisa menolak. ku tolak pun, dia pasti akan kembali dan menjadi bagian dari keluarga kita. Tapi kalau tidak, maka jangan pernah paksakan aku untuk mengubah keputusanku." Ujar Ayah Dhani dengan tenang.
"Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Itu adalah sebuah frasa yang sering orang dulu katakan untuk membalut fakta mengenai peranan genetika seseorang terhadap watak dan sifatnya. Yang artinya, semua yang sudah terbawa secara genetik maka tidak akan bisa berubah." Sambungnya kemudian menatap teduh sang istri.
"Aku tahu, di balik ini ada perananmu. Termasuk pernikahan Gino dan juga Dita. Ini pelajaran buatmu untuk tidak terus ikut campur dalam takdir Yang Maha Kuasa." Ucap Ayah Dhani membuat Bunda Winda tergelak.
Suamiku mengetahui semuanya? Tap.... tapi dia tidak marah sama sekali? Batin Bunda Winda yang harap-harap cemas.
"Kalau dia memang mengandung cucu kita, maka kita tidak ada pilihan lain selain menikahkan keduanya. Tapi setelah dia melahirkan, harus segera bercerai." Ucap Ayah Dhani yang membuat Bunda Winda menjadi naik darah.
"Ayah! mau memisahkan seorang ibu dari anaknya? Yah, jika kamu saja sebagai lelaki tidak bisa berpisah jauh dengan anak- anakmu, apalagi dia yang seorang ibu? Tolong lah yah, berikan Putramu kesempatan." Bunda Winda memohon dengan teramat sangat. Bulir bening di matanya sudah berguguran. Dia begitu menyesali perbuatannya.
__ADS_1
"Tidak akan kupisahkan secara jarak, dia tetap bisa merawat dan mengasuh anaknya tapi dengan menyembunyikan identitasnya sebagai ibu... Dan bila Alex terus memberontak maka aku akan berbuat yang lebih dari ini." Ayah Dhani menghardik istrinya secara terang-terangan.
Bagaikan buah simalakama. Apakah Alex bisa bertemu lagi dengan Diah dan membina sesuatu yang indah?