
Hoamzz...., udah ngantuk tiba tiba buka notifikasi ada dia nih.
wihh, langsung dong berdebar jantungku berdebar. Ngantuk ilang semangat datang.
Buat Vanilla, makasehhh banyak banyak ya Sayang.
Padahal kalau di pikir-pikir, Othor-nim ini penggila coklat. Tapi ga apa sih coklat vanilla juga enak sihðŸ¤.
Et dah, ngelanturrrr udah dulu ah. Ngomong-ngomong jadi kangen sama si Gino. Apa kabar ya dia?
Gino: "Apa Thor? Nyari nyari gua. Masih ngantuk nih, sungguh tega kau Thor menjadikanku duda di cerita ini. Ga tau kan lu, gimana gua di perebutkan kaum janda? Damn...! gua lelah tau Thor!! Deket gua kepret lu!!"
Thor : " Hehehehe, ya maap. Pan Othor-nim padamu Gin. Hanya tak mau saja dikau ada yang memiliki.ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤."
Dah ah come back to story.
...🌹🌹🌹...
...Ayana Jasmine POV....
Semua yang berada di bumi ini telah memiliki garis takdirnya masing-masing.
Sikaya dengan hartanya.
Simiskin dengan rasa syukurnya.
Dan semua berjalan sesuai keinginan sang penentu.
Seperti saat ini, aku berada di rumahnya, sungguh tak pernah ku mimpikan sama sekali. Dekat dengannya sampai sedekat ini. Menghirup lagi bau tubuhnya.
Aku juga tak tau mengapa, semenjak kejadian di gudang itu, kepalaku sering sakit secara mendadak. Dan parahnya lagi hidungku berdarah.
Ah, kurasa aku harus menemui Bu Sri lagi.
Untuk sekarang, kunikmati saja sajian di hadapanku ini. Wajah tampan nan damai. Sungguh kau begitu tampan saat terpejam seperti ini dan terdiam dengan mulut pedasmu yang saling mengatup itu.
Meski sebagian wajahmu tertutup rambut yang kusut dan berantakan, tapi kau tetap tampan. Hus....! Lancang sekali mulutku ini. Kulihat tubuhnya bergetar, dia menggigil.
Ah, apa obat yang diminumnya belum memberikan efek?
Tapi aku sudah sedikit lebih baik. Atau dia juga melihat sesuatu saat menolongku kemarin?
Jika iya, maka aku harus mengajaknya untuk pergi menemui Bu Sri. Gagal sudah usahaku untuk berpura-pura masih tertidur saat dia terbangun, setidaknya agar aku tak terlalu canggung.
Berdasarkan rasa kemanusiaan, aku beranikan diri untuk memeriksa suhu tubuhnya. Panas. Satu kata itu menggambarkan semuanya. Dia menggigil tapi tubuhnya terasa panas.
" Pak, bangun...!" Kataku mengguncang perlahan lengannya. Jujur aku takut dia akan menyalang dan mengamuk lantaran tidak suka tanganku ini menyentuh tubuhnya.
Dia diam tak bergeming hanya terus saja menggigil dengan suara giginya yang gemertak.
Aku bingung, tiba-tiba saja aku menjadi bodoh saat ini. Kakiku sungguh lemas bahkan untuk sekedar melangkah saja rasanya begitu berat. Kali ini aku seperti terjerembab dan berakar di sofa.
Oh, belum lagi rasa mual ku yang datang tiba-tiba.
Dan...., kenapa juga aku harus terbangun di saat senja?
Dari yang aku tau, di saat pergantian waktu seperti inilah para mahluk halus menukar alamnya. Jika di waktu manusia itu malam, maka bagi mereka adalah siang hari. Aku melihat kesekitar ruangan. Tirai tirai besar belum tertutup rapat juga lampu yang belum dinyalakan semakin menambah seram keadaan.
Aku merinding. Jika saja tak harus menanggung keadaan bosku ini, aku akan segera lari meski dengan merangkak karena takut dan lemas.
Dia menggeliat dan berusaha untuk bangun. Aku juga reflek membantunya, membantu mengangkat kepalanya karena dia terlihat begitu kesusahan hanya untuk sekedar menegakkan batang lehernya.
" Jangan sentuh! kau belum mandi!!" Ujarnya sembari mengerang dan tak begitu jelas.
Reflek, aku melepaskan tanganku dari sanggahan di kepalanya dan berakibat kepalanya terantuk sandaran sofa.
" Auh...! pusing!" Keluhnya saat kembali terjatuh dan terbaring lagi.
Sama saja, kau pikir hanya kau yang merasakan sakit, pusing dan mual. Entahlah apa ini sakit yang tidak jelas, tadi menghilang bahkan aku bisa tidur nyenyak tapi setelah matahari terbenam malah kembali parah.
Ponselku berdering di saku celanaku. Aku mengangkatnya dan rupanya ini dari Dewi penolongku, ibu angkatku Bu Sri.
' Assalamualaikum Bu!' Sapaku lemah.
Kami berbincang dan aku menceritakan semuanya. Dia yang baru saja selesai menutup warung sotonya berkata akan segera kemari. Syukurlah ada yang bisa membawaku pergi dari keadaan yang menyulitkan ini.
" Hidupkan lampu-lampunya!" Serunya dengan suara yang terengah.
__ADS_1
" Pak, bukanya tak mau. Tapi kakiku sungguh lemas seperti tak bertulang. Sedari tadi aku bahkan haus, tapi tak mampu beranjak." Kataku.
Dia terkekeh kecil " kau pikir hanya kau saja? Bahkan tubuhku rasanya seperti ditimpa berton-ton batu! Sakit semua, dingin, kepalaku pusing, perutku mual." Katanya.
" Ah, sudahlah Pak lebih baik kita menghemat energi. Sebentar lagi bantuan akan datang." Kataku yang tanpa bergerak dan bersandar di sofa sementara dia masih berbaring.
" Bantuan? apa kau meminta dokter untuk datang kemari?"
"Bukan, tapi ibu angkatku. Aku memintanya untuk datang dan membawaku pergi dari sini." Kataku jujur.
" Apa katamu pergi? tidak bisa sebelum aku sembuh." Ucapnya seenak jidatnya.
Kalau menunggu sampai dia sembuh, bisa bisa aku pulang tinggal nama karena mati kelelahan.
"Pak, kau bukan sakit. Kau itu ketempelan!!" Cetusku kesal karena dia banyak maunya.
" Cih ketempelan." Dia memungkiri dan Entah mengapa aku yakin saja jika dia juga mengalami hal yang sama denganku kemarin.
" Iya, ketempelan. Itu karena bapak mengunciku di gudang lawas itukan? kalau tidak kita tidak akan seperti ini. Kenapa juga menolongku, seharusnya kau biarkan aku mati membusuk disana dan menjadi anggota dari mereka." Kataku asal-asalan.
Kesal saja saat ingat dia mengurungku disana. Sungguh kurang kerjaan.
" Apa katamu, kau ingin menjadi anggota dari mereka? untuk apa? untuk bisa leluasa mengganggu hidupku dan menggentayangiku?" Ujarnya.
Aku mengulum senyum. Benar juga katanya jika aku menjadi hantu maka tak akan kulepaskan dia.
Lalu, saat kami sedang berbicara, lampu ruang tamu tiba-tiba mati dan menyala terus-terusan seperti ada yang memainkan saklarnya.
" Pak, ini lampunya kenapa?" Aku Sudah gemetaran, seluruh bulu kudukku meremang. Aku memasang mode waspada dan ancang-ancang. Tapi sungguh tubuhku lemas.
Dia terdiam dan memandangku seolah bertanya kembali padaku. Bertanya tentang sesuatu yang tak kasat mata.
" Aku juga tidak tau." Jawabnya.
Persetan dia akan memukulku atau apapun itu, yang terpenting saat ini aku bisa mengalihkan mataku dari ruangan ini. Aku merangkak dan mendekat padanya lalu mendekapnya erat tanpa permisi.
" Lepaskan!!" ketusnya geram.
" Tidak! aku takut!!" Kataku yang sudah gemetaran tak karuan.
" Ah, kacangan." Ejeknya.
Bersamaan dengan itu tiba-tiba terdengar suara gelas jatuh dari atas pantry.
" Coba cek sana, apa itu tadi." Titahnya tak memandang situasi dan kondisi.
" Apa? Bapak saja, bapak kan laki-laki." Kataku yang menolak perintahnya.
" Ladies first!" Serunya sembari merenggangkan dekapanku.
" Bapak boleh pecat saya besok, saya tidak perduli! Tapi mulai sekarang saya tidak akan menuruti kemauan Bapak!!" Pekikku sambil terus memejamkan mataku.
Sumpah aku masih teringat bagaimana rupa mengerikan dari mahluk yang kulihat di gudang tempo hari.
" Benar, besok kau mau ku pecat?" Tanyanya dan aku tak tau bagaimana ekspresinya sekarang.
" Silahkan!! atau mulai malam ini juga tidak apa-apa, aku ikhlas dunia akhirat!" Ujarku dengan terus menutup mata.
Bunyi bel pintu yang nyaring membuat kami sama sama terlonjak.
" siapa itu?" Gumamnya.
" Pak, yang keras. Mana mungkin terdengar jika lirih begini." Protesku meski dengan suara dan tubuh yang bergetar ketakutan.
" Ah, cerewet!!" Makinya.
ku membuka mata perlahan dan melihat rupanya dia juga memejamkan matanya. Cih, takut juga dia!
" Buka matanya dan kita hidupkan semua lampu bersama." Kataku lirih.
Tapi dia malah menatapku seperti ini.
" Sekarang?" Tanyanya.
" Tidak, kapan-kapan saja setelah kita menjamur dan menyatu dengan sofa!" Ketusku kesal."
" Hei, mana tanganmu?"
Tangan? mengapa dia menanyakan tangan? jelas-jelas sedari tadi tanganku merangkul pinggangnya.
" Ini" aku mengeluarkan tanganku dua duanya dari bawah. Tepatnya dari balik pinggangnya.
" Coba pegang pipiku." Pintanya dan aku mulai curiga.
__ADS_1
" Hangat, tapi tadi ada yang mengusap pipiku dan sangat dingin." Ujarnya.
" Ah jangan menakutiku Pak. Tanganku sedari tadi memelukmu. Disini di bawah sini." kembali aku memperagakan bagaimana memeluknya erat.
Kami terdiam dengan saling tatap dalam remang cahaya.
" Atau jangan-jangan itu...!" Ku segera membekapnya.
" Jangan sebut apapun dan ayo ikut aku membuka pintu."
Masih dengan tanganku yang membekap mulutnya dan kami berjalan dengan mata ayam. Ya, kami hanya membuka sebagian mata kami karena takut. Sungguh takut apalagi setelah dia bilang ada yang menyentuhnya. Oh astaga.... !
Aku sedikit lega saat Bu Sri datang. Mimik wajahnya sangat tegang kala memasuki apartemen. Dia tak banyak berucap dan hanya menemaniku mengambil barang-barang milikku.
" Kau Nak..." Ucapnya perlahan kala melihat Jackie yang hanya berdiri di ambang pintu dan enggan untuk masuk.
" Iya Bu...?" Sahutnya.
" Kau ikut kami saja. Ada yang ingin kuberitahukan padamu. Tapi tidak disini, ada yang mengawasi kalian disini." Kata Bu Sri yang semakin membuatku berjingkat ngeri.
Jackie segera mengambil barang-barang miliknya dan tentunya bersamaku dan Bu Sri yang menemani.
Malam hari pukul 21:21.
Bu Sri memberikan kami air doa dan membawa kami untuk menginap di rumahnya.
" Nak, yang kulihat kau dan Ayana memiliki keterikatan." Lirih aku mendengar mereka berbincang.
Aku sedang di kamar selepas menunaikan shalat isya dan mandi sebelumnya.
" Keterikatan apa ya Bu?" Tanya Jackie yang terdengar penasaran tapi juga bodoh.
" yang jelas itu suatu hal yang baik." Jawab Bu Sri.
" Nak, apa kau suka berbicara kotor di rumahmu?" Tanya Bu Sri.
Hemh, bukan kotor lagi. Tapi sudah sama dengan TPA. Tempat Pembuangan Akhir!!
Bahkan kalau kesal segala penghuni taman safari hadir dalam absennya.
Jackie diam, itu berarti dia tak menjawabnya.
Mengapa, malu kau bila aibmu terbongkar? Cih JK!!
Entah mengapa aku kesal sendiri di buatnya.
Tak tahan, aku memilih keluar dari kamar tamu.
" Bu, apa dia juga di ganggu hantu?" Tanyaku yang sangat penasaran.
Bu Sri tertawa kecil yang bagiku mengerikan. " Tadinya hanya di perlihatkan penampakan. Tapi karena mulutnya yang kotor dan suka menghina si hantu jadi suka padanya."
" Astaga!! apa benar?" Aku sampai melotot tak percaya dan melihat Jackie yang kikuk.
" Bu, apakah bisa dihilangkan?" Dia ketakutan dan panik. Terlihat dari kakinya yang bergerak-gerak di bawah kolong meja.
" Bisa, tapi ibu sarankan untuk sementara kau jangan tinggal sendirian ya. Bukan menakuti, tapi kulihat saat sendirian kau sering memikirkan sesuatu hal yang membuat jiwamu hampa. Kutebak ini ada hubungannya dengan Ayana." Kata Bu Sri.
Jlebb.....!
Bunuh saja aku Bu... Bunuh saja anak pungut mu ini! ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
Kenapa dibongkar semua, kenapa tau semua? ini acara bedah aib atau bagaimana??ðŸ˜ðŸ˜ðŸ¤§.
Setelahnya Jackie menatapku dengan tatapan mata yang tak bisa ku jelaskan. Dan aku...., aku menunduk menyesal membawa Jackie kemari. Coba tadi kubiarkan saja dia dibelai sayang sama mbak Kunti kan tidak begini jadinya.
" Sudah, sudah aman. Kalian makan dan beristirahat lah. Ayana kau bisa tidur bersama dengan ibu. Dan nak Jackie bisa menempati kamar tamu." Bu Sri berbicara dengan ramahnya.
" Ayana, nanti tunjukkan kamar tamunya ya." Pesan Bu Sri sebelum meninggalkan kami yang makan bersama dengan canggung.
Saat makan.
" Jangan semua yang Bu Sri ucapkan kau ambil hati ya pak. Itu semua hanya tebakan." Kataku yang sebenarnya hanya ingin dia melupakan apa yang Bu Sri ucapkan.
" Tapi dia benar, jiwaku memang sering kosong semenjak wanita yang paling kucintai menghianatiku." Katanya dengan tatapan mata yang memancarkan kebencian.
Ah, sudah... dia sudah kembali ke mode normal. Ke mode membenciku setengah mati.
Arghh...., Nasibku yang malang.... Aku menunduk meratapi nasibku sendiri yang mungkin besok akan kehilangan pekerjaan.
" Hidupku kacau karenamu!! Rumah tangga Kak Gino hancur juga karenamu!!"
Ah, sudahlah lebih baik aku ikut patkai dan sun-gokong saja mengambil kitab suci kebarat. Tapi, setelah kupahami semua yang terjadi padaku adalah sebuah ketentuan. Aku tak dapat menolak hanya mamaou menjalani dan berdamai dengan apa yang kualami.
__ADS_1