Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
53. Kebersamaan.


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


"Ah, aku malu. Itu acara keluarga besarmu dan bukankah aku sudah mengatakan. Sebaiknya kita batalkan saja perjodohan ini."


Diah dan Alex beradu argumen di rumah sakit. Alex sengaja mendatangi Diah dirumah sakit.


Baru datang saja tadi sudah banyak menyita perhatian dari teman-teman Diah.


Ya, bagaimana ya namanya juga orang tampan, kemanapun pasti banyak yang melirik.


"Eh, tidak bisa begitu. Kau harus datang, ayolah bantu aku. Malam ini semua Kakak dan adikku berkumpul. Aku tak mau menjadi bahan olok-olokan mereka berdua." Alex mengiba dengan wajahnya yang sendu.


Bagaimana ini?


Sebenarnya aku ingin menolaknya. Tapi, oh lihat ini dia seperti pangeran...😘😘.


Tampan sekali....Batin Diah yang sebenarnya mendambakan sosok Alex.


Apa kurangnya Alex?


Tampan, kaya, mapan dan berpenghasilan soal keturunan jangan di ragukan.


"Hemhh...!" Diah mendengus menghela nafasnya. " Baiklah, aku akan membantumu." Kata Diah yang pasrah dan menyerah. Tak kuasa dia diserang perasaan dan isi kepalanya yang berbeda pendapat.


"Benarkah?" Alex berbinar senang dan memeluk Diah dengan refleknya.


"Jaga sikap mu!" Diah mendorong wajah Alex agar tak menempel dengan wajahnya. " Ini di rumah sakit.. !" Desis Diah yang kemudian berjalan meninggalkan Alex yang di ikuti oleh Alex yang mengekor seperti kucing.


"Sekarang kau akan bersiap kan?" Tanya Alex bersemangat sampai matanya membulat dan senyum manisnya terpancar.


Diah menggeleng. " Tidak!" Katanya menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri tanda menolak.


"Masih dua jam lagi." Katanya.


"Apa? lalu kapan kau akan bersiap? tinggal berapa jam lagi?" Alex mengkhawatirkan tidak cukupnya waktu.


"Cukup, aku hanya akan datang dengan penampilanku. Jangan berfikir untuk mengajakku ke salon mahal atau membawakan baju mahal untukku karena aku tak akan memakainya." Tegas Diah berbicara tanpa ada keraguan dan sorot matanya yang berbeda.


Kamu beda.


Kamu masih kecil, tapi pikiranmu dewasa. Kamu bisa menjaga baik harga dirimu.


Aku suka....


Gumam Alex dalam hati mengagumi sosok Diah yang tegar dan mandiri.


"Pergilah dulu, dua jam itu lama Tuan Alex. Kau bisa berjamur kalau terlalu lama disini." Kata Diah dengan datarnya.


Diah ini suka, tapi minder juga Diah menjadi jual mahal jatuhnya. Dan Alex? Dia sudah kehilangan setengah harga dirinya. Kemana Alex Putra Armanto yang selalu di kejar-kejar wanita itu?

__ADS_1


Kini dia malah sibuk mengejar satu gadis kecil yang tak berstrata tinggi.


"Tidak!" Alex menggeleng yakin. "Pokoknya aku akan tetap menunggumu sampai kau benar-benar menepati janjimu." Ujar Alex.


"Hhhhh, terserah!" Ketus Diah berbicara yang kemudian memutar bola matanya malas dan pergi dengan menenteng dokumen pasien.


Diah berjalan masuk kedalam ruang karyawan.


Lalu....


Dia menganga.... berteriak histeris tapi dalam mode senyap.


Kakinya melonjak-lonjak senang seperti anak TK yang baru saja dibelikan mainan.


"Ah...., apa tadi dia ingin menungguku?" Diah berbicara sendiri penuh suka cita sampai-sampai dia menepuk-nepuk pipinya gemas.


"A....!!!" Lagi dia merayakan kesenangannya. " Tak pernah dia merasa kebahagiaan sampai seperti ini sebelumnya. Hidupnya yang terbilang berat membuatnya harus berjuang demi pendidikan dan melupakan soal urusan percintaan.


Alex itu yang pertama. Hemh....! Kalau Alex tau, sudah pasti dia akan berbangga hati. Mengingat, dalam hal percintaan Alex adalah jagonnya.


"Kenapa? kamu punya ayam atau apa Di?" Tanya teman Diah yang kebetulan sedang lewat.


"Ehem...! ehem.....! Oh tidak, hanya sedang berolahraga kecil saja. Em.... aku duluan ya." Pamitnya setelah menyembunyikan euforianya.


Di ruang tunggu.


"Aih.... lama sekali anak kecil itu...." Alex mengeluh. Ini sudah berkali-kali mengeluh.


"Ah, kenapa bisa sampai sebodoh ini? harusnya kan dari tadi." Ujar Alex bermonolog lalu menepuk kepalanya sendiri karena kebodohannya.


"Nanti nilai dan laporanku bagaimana?" Tanya Diah yang berjalan terpaksa mengikuti langkah lebar Alex meninggalkan rumah sakit.


Diah tak enak hati karena harus membolos. Tapi lagi dan lagi, tidak ada yang sulit bagi Alex. Uang dan status adalah senjanya.


"Tenang saja. Kepala bagian rumah sakit ini adalah teman baikku. Kamu tinggal bilang saja mau Laporan yang terbaik, atau yang biasa saja biar tak ada yang curiga?" Tanya Alex dengan gampangnya tanpa beban.


Diah hanya bisa pasrah memutar bola matanya malas. Tak ada pilihan lain jika sudah berhadapan dengan si pemaksa yang manis ini.


Aku selalu saja kehilangan pertahanan saat berhadapan langsung dengannya.


Oh tuhan.... Apakah dia benar jodohku?


Hatiku tak karuan sekarang, Tanganku gemetaran. Batin Diah yang melihat Alex berjalan cepat dengan setia menggenggam tangannya sampai ke parkiran depan rumah sakit.


"Tanganmu dingin sekali. Kau sakit?" Tanya Alex yang merasakan dinginnya tangan Diah.


"Tidak. Aku baik-baik saja." Jawabnya. "Antarkan aku pulang dulu, aku akan bersiap." Ucapnya lagi yang kemudian memakai sabuk pengamannya sendiri sedangkan tangan Alex mulai terulur untuk memakaikannya.


"Kenapa? hanya memasang ini, aku bisa sendiri. Ini bukan sinetron." Cibirnya yang kemudian mendapatkan cubitan gemas di hidungnya.


"Kau ini." Kata Alex gemas.


Alex, dia sadar atau tidak telah menjadi budak cinta bagi Diah yang jaim.

__ADS_1


Di dalam perjalanan Alex mengamati bagaimana Diah mengusap-usap tangannya sendiri untuk mencari kehangatan.


"Dingin ya?" Tanya Alex.


Diah mengangguk.


Tanpa banyak bicara, Alex lalu meraih tangan Diah dan menciumnya sekali dan kemudian meletakkannya di pipinya yang hangat.


"Begini apa masih dingin?" Tanyanya perlahan dengan garis wajah yang terlihat begitu sempurna dari samping membuat diah tertegun dan hampir meneteskan liurnya.


"O.... Oh, Tidak. Tapi tolong lepaskan, kita belum punya ikatan." Diah berusaha menarik tangannya. Biasalah jaim,padahal mau. Eh bukan mau banget....!


"Tidak, dan kita akan segera punya ikatan setelah acara makan malam ini. Nanti berdandan lah yang cantik ya." Kata Alex dengan lembutnya dan mengedipkan matanya menatap Diah sekilas.


Emmmh... , memang Alex yang paling manis dari pada kedua saudaranya.


BLUSH....!!!!


Pipi Diah merona seketika seperti udang rebus.


Aaaaaaaaaaaaaaa.....!


Dia ini, manis seklai dan hgaris rahangnya saat serius begitu. Eeerrrrr sexyh.....Diah membatin dengan otak mesumnya.


Mereka berhenti di kosan Diah yang tak berada jauh dari jalan raya.


"Kamu tunggu di mobil. Aku hanya sebentar." Kata Diah bersiap untuk turun.


"No! aku ikut!!" Alex memaksa. " Pokoknya sampai kamu menepatinya, aku harus ikut kemanapun kamu pergi. Siapa tau kamu hanya beralasan untuk kabur?" Cecar Alex menaruh kecurigaan.


"Aastaga!" Diah menggeleng dan melebarkan matanya. " Hei! aku ini bukan pembohong." Kesalnya yang kemudian turun dan masuk kedalam kosannya.


"Cepat masuk sebelum aku berubah pikiran!!" Teriaknya dari pintu kamarnya.


Sepetak kamar kosan tanpa dapur dan ruang tamu. Hanya kamar tidur dan kamar mandi yang tersedia. Jadi dengan jelas terlihat bagaimana rupa kamar Diah.


"Duduknya di depan pintu saja jangan berpindah kemana-mana!" kata Diah menginterupsi secara tegas.


"Tapi panas!" Alex mengeluh sebelum berjuang..


" Kalau mau dingin, segera kembali ke mobilmu yang ber AC..!" Kata Diah malas.


"Iya iya, aku tunggu disini." Alex menunduk patuh lalu mendudukkan bokongnya di lantai tanpa alas.


" Di...! Apa tidak ada air?" Tanya Alex melihat-lihat ruangan tersebut.


" Ada di kardus di bawah ranjang!" Seru Diah menyahut.


Saat mendekati ranjang, dan melihat warna gorden kamar Diah Alex menyadari sesuatu.


"Di..., gorden mu sudah ganti? kemarin waktu bervideo call dengan kami warnanya bukan yang ini." Alex mencurigai sesuatu.


Di kamar mandi.

__ADS_1


"Ah, mampus!! kan?"lirihnya berbicara. Diah mengigit bibir bawahnya sambil menguping apa yang Alex tanyakan. Bukan karena dia tuli, tapi dia ingin mendengarkan dengan sangat jelas.


Diah memilih mengabaikannya dan berpura-pura bernyanyi menikmati lagu yang di ingatnya.


__ADS_2