
...🌻🌻🌻 ...
"Sekarang?" Tanya Gino agak sedikit terkejut.
"Heum!" Dita mengangguk. "Ayo Ayah, dedek mau jalan-jalan, boleh ya?" Ucapannya lagi menggunakan gaya anak kecil berbicara.
Jika sudah seperti itu, apakah sanggup Gino menolaknya?" Tidak, tentu saja tidak. Gino seketika tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Tak ada pilihan bila sang nyonya telah melayangkan permintaan. Apapun itu selagi tidak membahayakan janin dan ibu, Gino akan selalu menurutinya.
Di sore hari, keduanya berjalan bersama menyusuri jalan setapak. Dan saling bergandengan tangan, tak menyangka jika hubungan antara atasan dan sekretaris akan terjalin sampai pada titik ini.
Dita juga sesekali mengajak Gino mengambil gambar sebagai kenang-kenangan. Dia terlihat begitu senang dan antusias.
"Oh, ada kupu!" Ucapnya dengan riang sambil bertepuk tangan.
Easy, itu hanya kupu-kupu, bukan berlian. Di kota akan sangat jarang menemukan hal seperti ini. Selain debu beterbangan, yang mereka lihat hanyalah si burung besi penguasa langit kota.
"Suka?" Tanya Gino.
"Iya mas, dia cantik." Ucap Dita.
"Apanya yang cantik sih? cantikan juga istriku." Kata Gino yang sengaja merayu membuat Dita seketika tersipu.
Ouh, so sweet... ungkapan seperti itulah kini yang tengah meletup-letup di hati Dita. Jarang sekali suaminya ini melayangkan gombalan yang membuatnya melambung tinggi ke awan.
"Sayang, ada capung!" Lagi Dita berseru saat melihat capung. Gino tak tahu jika Istrinya ini ternyata penggemar serangga. Dia hanya menggeleng beberapa kali sambil tertawa kecil.
Tak terasa mereka telah sampai di gubuk yang Dita maksud. Sebuah gubuk kecil dengan teras yang beratapkan genting tanah liat, dan juga kursi kayu.
"Sudah lama tak di tempati, ku kira akan rusak karena tidak terurus. Tapi sepertinya masih sangat terawat." Gino mengusapkan jari telunjuknya pada kusen pintu yang tak berdebu.
"Aneh." Gumamnya yang terdengar jelas di telinga Sang istri.
Dita seketika memberikan atensi, dia yang tengah terduduk langsung memegang perutnya. Matanya menyiratkan dia sedang ketakutan sekarang.
"Mas, jangan bilang yang aneh-aneh ah. Masa iya tidak di pakai tapi bersih. Jangan, jangan...." Dita mulai terlihat gusar dan berdiri lalu memeluk erat lengan suaminya.
Tatapan mereka beradu dan keduanya saling bertanya dalam diam. "Seharusnya jika ada yang menempati ada yang memberitahuku." Imbuh Gino yang semakin membuat Dita bergidik ngeri.
__ADS_1
"Mas, jangan Ngadi Ngadi deh!" Dita mencubit gemas pinggang sang suami. Dia tak suka saja jika ternyata mereka ada di rumah hantu yang menyeramkan seperti pada film film yang pernah di lihatnya.
"Serius sayang, Ayo kita kembali saja." Kata Gino yang mengajak Dita berbalik badan.
Tapi sebelum mereka melangkah jauh, Terdengar suara deritan pintu terbuka. Suka khas dari engsel pintu yang kering dan berkarat.
Dita dan Gino semakin merinding di buatnya. Pasalnya ada suara-suara mendayu yang memanggil keduaya. Lalu terkikik setelahnya.
"Kak Gino ~~~~!" Sayup-sayup suara memanggil namanya.
"Jangan nengok, pokoknya jangan nengok. Bisa jadi itu hantu yang sok kenal. Ayo fokus jalan dan segera pulang." Gino meremas tangan Dita dan menuntunnya untuk pulang kembali menyusuri jalan setapak.
"Kak Dita ~~~~!" Lagi suara yang menghambur terbawa angin itu memanggil Dita.
"Mas, kok kenal aku juga? padahal aku baru kesini pertama kali kan?" Dita semakin meremas kuat tangan Gino.
"Udah, pokoknya jangan nengok. Manut sama suami oke?" Ucap Gino tanpa menoleh dan terus mengajak Dita berjalan.
"Ho oh!" Dita pun menurut saja.
Mereka tetap berjalan bahkan keduanya sampai terengah-engah saat sampai di teras rumah besar. Ponsel Gino yang berdering berkali-kali pun di abaikanya.
"Mas, jangan jangan gubug itu sama seperti film horor yang pernah ku tonton."
"Apa memangnya?"
"Ya, hunian hantu. Tapi mereka menipu mata kita dan menampakkan wujud indah sebuah tempat padahal aslinya. Hih....." Dita menggidikan bahunya.
"Udah deh, ga usah ngawur. Kamu itu kebanyakan nonton film horor."
Ponsel Gino kembali berdering. Dan dia sempat terlonjak kaget saat suasana hening tiba tiba terdengar dering.
"Hallo! ada apa!" Gino langsung memekik di awal kata. Jantungnya masih tak karuan sekarang.
"Ada apa, ada apa! lihat aku menghubungimu berapa kali kak? Kenapa pergi terus saat ku Panggil?" Ujar Jackie yang balik memarahi.
"Ah, kau menghubungi di saat yang tidak tepat. Ada apa?"
"Justru aku menghubungi di saat yang tepat. Kau baru saja dari rumah kecil Ayana kan?"
__ADS_1
"Iya."
"Iya, aku juga disana tadi dan yang memanggilmu itu aku Kak. Kenapa malah lari terbirit-birit? Aneh...! tidak kasihan istrimu sedang hamil kau ajak lomba lari?"
Gino seketika mematung dalam sepersekian detik dia lalu tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa dia begitu bodoh sampai ketakutan seperti tadi?
Dia tidak lagi menggubris panggilan Jackie dan malah terus saja tertawa membuat Dita kebingungan.
"Ish, dasar gila!" Jackie mengumpat karena panggilannya di abaikan.
"Kenapa?" Dita mengguncang lengan Gino. "Ada apa?" Dia sangat ketakutan kalau-kalau suaminya ini ketempelan.
"Tadi, yang manggil kita itu bukan hantu sayang. Tapi Jackie." Kata Gino yang masih terbahak-bahak, dia ingat bagaimana tadi dia menarik tangan Dita dan menyeretnya untuk berjalan cepat.
"Astaga! Iya?" Dita tak percaya dan dia juga ikut tertawa. "Lihat, sandal jepit ku sampai putus!" Ucapnya sambil menenteng sandal jepit sebagai barang bukti.
"Ah iya sandal, sandalku malah hilang. Tidak tahu kemana." Ujar Gino masih dengan suara gelak tawanya.
Bisa bisanya mereka tanpa memeriksa langsung berasumsi dan lari dengan terbirit-birit.
Dita tertawa terbahak-bahak lalu memegang perutnya. "Nak, jangan tiru Ayahmu yang penakut ini ya." Ucapnya menasehati si janin.
"Apa, kamu juga." Celetuk Gino tak mau kalah.
"Halah, kamu Mas, tadi bilang jagan nengok..., jangan nengok..." Dita mengulang gaya bicara Gino saat ketakutan tadi dengan menye-menye.
"Terus yang narik paling kenceng juga kamu kan?" Dita masih mencecar suaminya.
"Halah, kamu juga. Yang bilang soal hantu seperti di film film siapa? kamu kan?" Tudingnya tak mau kalah.
Mereka saling tatap hingga akhirnya kembali terbahak-bahak.
"Dedek tidak apa-apa kan?" Tanyanya sambil mengusap perlahan perut rata sang istri.
"Tidak, dia kuat." Dita juga ikut mengusapnya perlahan.
Jika saja saat ini Dita tidak sedang hamil, maka bisa di pastikan keduanya akan mengikuti lomba lari jarak jauh dan berebut piala. Jalan cepat saja sampai lupa sendalnya, apalagi kalau lari?
Dalam keadaan apapun, Gino masih saja memberikan perhatian perhatian kecil bagi sang istri. Seperti saat ini dia masih sempat-sempatnya sambil tertawa lalu memijit kaki sang istri. Dita hanya diam menerima perlakuan baik suaminya. Dia sangat bersyukur di dalam pernikahannya yang tidak terencana terdapat hadiah indah untuknya.
__ADS_1