Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
83. body mist


__ADS_3

...🦒🦒🦒...


Mengapa aku merasa sangat menyesal setelah menolak dia? Kini aku menyadari sesuatu, keluarganya walaupun kaya, tapi sangat berbeda. Seharusnya aku menyadari hal ini lebih awal. Kalau keluarganya memandang apapun dari harta, sudah tentu ibunya tak akan menemui ku untuk menjodohkan aku dengan anaknya. Sekarang aku tinggal meratapi kebodohanku sendiri.


Diah memikirkan semuanya dan hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasibnya.


Pagi hari, lembut sang Bayu menyapukan hawa dingin. Embun turun membumi memberikan kesejukan. Di sebuah balkon kamar Alex, Diah tengah berdiri menghirup udara sejuk. Dia seolah begitu memanjakan paru-parunya. Menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Tak lupa tersirat senyuman di bibir tipisnya.


Alex berdiri dan menatap punggung kecil Diah dari belakang. Angannya mulai melayang. Dia membayangkan jika saja dia sudah menikah dengan Diah, setiap paginya, setiap harinya. Dia bisa memeluk dan memiliki momen romantis berdua.


Alex dia berbeda, Dia sungguh begitu ingin memilki wanita biasa saja yang menggantungkan seluruh kebutuhan dan hidupnya dengan sang suami. Alex jengah menjalin hubungan dengan wanita karir dan juga mandiri. Berkali-kali di khianati dan di tipu oleh wanita mandiri yang juga berprestasi dalam karirnya, membuatnya memiliki opini dan pola pikir yang berbeda.


"Ehem!!" Alex berdehem dengan sengaja agar perhatian Diah teralih padanya.


"Eh, Bapak. Sudah bangun..." Diah terperanjat dan kemudian mendekati Alex dengan rasa canggung.


Diah yang kikuk hanya bisa menunduk dan menatap karpet lantai yang dipijaknya.


"Apa wajahku tak lebih bagus dari karpet bulu itu?" Tanya Alex dengan datar.


"Em... tidak pak." Jawab Diah yang kemudian mendongak menatap wajah Alex.


"Mandikan aku!" Ucap Alex tanpa berbasa-basi dan dia langsung bangkit setelahnya.


"Ma... mandikan?" Diah menjadi tambah gugup dan kebingungan.


Memang dari kejadian itu Alex sama sekali belum membersihkan tubuhnya. Dia hanya berbaring dan terus berbaring. Sekalinya bangun langsung menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Ayana.


"Maksudku lap tubuhku." Ralatnya.


Bukankah ini pekerjaan yang sudah sangat biasa bagi Diah? Dia sudah sering melihat bagian tubuh milik para lansia yang di rawatnya. Tapi kali ini, dia harus menguras tenaga untuk melihat apa yang tersimpan di balik baju Alex.


Ah, iya bagaimana aku bisa lupa. Terakhir yang membersihkan tubuhnya adalah ibunya sendiri. Dan semenjak Nyonya Ayana sakit, Dia belum berganti baju sudah hampir dua hari. Ah..... Bagaimana ini?


"Hei, cepatlah! Aku harus ke kantor untuk rapat!!" Alex berseru dari depan pintu kamar mandinya."


"Iya ..!" Diah menyahut dengan setengah berteriak lalu berlari menghampiri Alex.


Alex memandangnya dengan datar. " Bersikaplah profesional dalam bekerja. Jangan tergoda pada tubuhku." Kata Alex dengan seenak jidatnya.


Sial!! belum pernah aku mengurus lelaki muda kau tahu? Biasanya hanya Kakek-kakek tua yang tak bisa bergerak yang memakai jasaku. Dan kali ini? ouh... , ini Pr besar bagiku.


CLANK!


CLANK!


Alex menjentikkan jarinya di hadapan Diah yang melamun. " Hei, cepatlah! aku sudah hampir terlambat." Kata Alex lagi.


Perlahan dan dengan gugup, bahkan tangannya sampai basah berkeringat. Diah mengusapkan handuk hangat ke wajah dan tubuh bagian atas Alex. Alex hanya terdiam dan menikmati apa yang Diah lakukan. Mereka berdua berdiri di depan cermin wastafel. Alex dengan sangat mudah bisa melihat wajah takut, gugup, dan canggung Diah. Bahkan berkali-kali Diah sampai menelan ludahnya kala mengusap setiap jengkal kulit Alex.


"Konsentrasi, jangan membayangkan yang tidak-tidak!" Tegur Alex bertepatan dengan Diah yang menelan ludahnya dengan susah payah.


"I.... iya Pak!" Jawab Diah dengan mata yang tak berani beradu pandang meski hanya lewat pantulan.


Aih..., Dia ini. Apa tidak tau, aku sedari tadi menahan segala hasrat di dalam jiwa? Tubuhnya, sangat mirip dengan iklan yang ada di TV. Ini perut atau bata bertumpuk? Oh... God!! aku sudah melewatkan kesempatan emas. Batin Diah yang hanya bisa menyingkirkan kecanggungan dengan senyum piasnya.


"Aku tau aku tampan. Kau pasti menyesal karena telah melewatkan tawaran menarik bukan?" Alex sengaja meledek Diah.


"Oh, ya. Sekalian siapkan pakaian yang bagus nanti untukku berganti. Aku ada kencan buta." Kata Alex.


Apa kencan buta? Oh, ****!! aku telah menyia-nyiakan kesempatan terbaik dalam hidupku!!😭. Diah merutuki kebodohannya. Dia menyesal dan sangat menyesal.


" Baik Pak." Jawab Diah dengan datarnya. Dia berusaha setenang mungkin meski jiwanya meronta-ronta.


Tiba di saat yang paling mendebarkan. Saat di bagian bawah pinggang. "Pak, untuk yang bawah Bapak bersihkan sendiri bisa kan?" Kata Diah yang menghentikan pergerakan tangannya dan menatap wajah Alex.


"Bersikaplah PROFESIONAL!" Kata Alex dengan mengeja huruf demi huruf.


"Huft....!" Diah menunduk lalu menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Tak ada pilihan, ini bentuk balas Budi dan ucapan terimakasih.


Alex masih berdiri dan Diah berlutut dengan mete yang terpejam dan tangan yang sudah memegang kepala ikat pinggang Alex. Air mata Diah luruh bersamaan dengan luruhnya harga dirinya yang berserakan di lantai.


"STOP!" kata Alex tiba-tiba yang kemudian menggenggam tangan Diah dan menghentikan pergerakannya. "I can do it myself." Ucap Alex yang kemudian meninggalkan Diah dan dia menuju ke shower.

__ADS_1


Ah, selamat! Selamat lah aku! Aku sungguh merasa menjadi wanita murahan sekarang. Bagaimana bisa aku hampir saja melihat benda berharga milik orang yang kutolak? Terimakasih Tuhan, kau masih menyelamatkan harga diriku. Batin Diah yang mengusap dadanya dan kemudian keluar dari kamar mandi dan menutupnya perlahan.


Dengan susah payah, Alex mengurus dirinya sendiri dengan satu tangan. Dia keluar dari kamar mandi dan menggunakan bathrobe.


"Bisa kau bantu aku kramas? Kepalaku gatal." Keluh Alex dengan acuhnya kemudian melewati Diah begitu saja.


Diah yang masih berdiri di dekat pintu kini bingung memikirkan bagaimana caranya bisa membantunya untuk keramas sedangkan di lehernya masih terpasang alat penyangga. Diah kemudian mengambil baskom dan meletakkannya di sisi dekat ranjang lalu mengaturnya sedemikian rupa agar Alex bisa nyaman saat mencuci rambutnya.


Ribet banget....ribet!! kenapa tidak ke salon saja? Kan lebih mudah. Keluh Diah saat mencuci rambut Alex.


"Apa untuk semua pekerjaan ini kau melakukannya hanya setengah hati?" Tandas Alex meski tanpa bukti.


Diah gelagapan. " Em... em... tidak! Aku sangat ikhlas. Sangat senang malah, bisa membantu bapak." Kata Diah yang tentunya hanya manis sebatas kata.


Alex mulai memainkan ponselnya, dan sebuah Panggilan tiba-tiba masuk saat Diah mengeringkan rambutnya.


"Sst...!" Alex meminta Diah untuk mematikan hairdryer.


Diah menurut dan mematikan hairdryer.


" Halo, Bun..." Alex.


"………………" Bunda Winda.


"Jangan di batalkan Bun. Aku tidak enak, kesannya seolah aku ini adalah lelaki yang tak bertanggungjawab. Katakan saja aku akan tetap datang walau sedikit terlambat." Alex.


"……………………" Bunda Winda.


"Iya, aku akan tampil setampan mungkin. Salam untuk Tata dan Tante bunga ya Bun." Alex.


"…………" Bunda Winda.


"Bye Bun." Alex mengakhiri panggilan.


Hairdryer kembali menyala dan Diah kembali mengeringkan rambut Alex.


Tak ada yang perlu kusesali berlarut-larut, relakan saja jika dia bukan untukmu. Kau terlalu jelata untuk dia yang berada. Diah menggumam dalam hatinya.


Selesai dengan urusan rambut, Diah kemudian keluar dan Alex mengenakan pakaiannya sendiri meski harus berulang kali meringis menahan sakit.


Diah yang setelah mandi belum sempat mengeringkan rambutnya dengan baik, kini meladeni Alex dengan rambutnya yang terlihat masih setengah basah. Sungguh pemandangan yang membuat Alex menengguk ludahnya perlahan.


Dia terlihat cantik alami saat begini. Makeup tipis dan rambut setengah basah. Dan apa ini, bau parfum murahan. Cibirnya dalam hati saat mengendus aroma parfum Diah yang khas parfum anak-anak.


"Apa yang kau pakai?" Tanya Alex dengan ketusnya saat Diah menuangkan air putih kedalam gelasnya.


Diah bingung, dia kemudian mengendus bau tubuhnya. Apa aku bau? Gumamnya.


"Coba lihat apa yang kau pakai!" Kata Alex.


"I.... Ini Pak." Diah menunjukkan parfum yang dia simpan di dalam tasnya. Sebuah parfum anak-anak yang beraroma segar dengan khas jeruk dan berry.


Alex tersenyum. Dia tidak berkata apapun lagi dan kemudian mulai makan dan mengacuhkan Diah.


Apa maksudnya? mau lihat tapi tidak berkata apapun... Aku jadi bingung. Diah menggaruk alisnya dengan satu jari.


Selesai dengan sarapan, Diah membawa semua perlengkapan Alex yang mungkin saja di butuhkan. Juga termasuk baju ganti dan obat-obatan Alex.


Selama dalam perjalanan, keduanya hanya saling diam. Diah yang tadinya ingin duduk di sebelah bangku sopir, tak bisa menolak perintah dari Alex yang memintanya untuk duduk di sebelahnya.


"Nanti selama aku rapat, kau tunggu saja di ruanganku. Persiapkan makan siang di dalam kantor, juga sediakan tempat berbaring bagiku." Serentetan pesan dari Alex yang hanya mendapatkan anggukan dari Diah.


Para karyawan dan juga beberapa dewan direksi menyapa dan menyambut kedatangan Alex. Sebelumnya mereka mengetahui kabar Alex dari Ayah Dhani tapi Ayah Dhani juga yang melarang para petinggi perusahaan untuk membesuknya.


"Wah, Alex!" Sapa seorang lelaki paruh baya yang terlihat seumuran dengan ayah Dhani.


"Om," Sahut Alex lalu tersenyum ramah.


"Kau, kata ayahmu tidak parah. Tapi sampai begini?"


"Om, aku tidak apa-apa hanya saja masih terasa sakit jika berbicara keras atau tertawa."


"Loh, Kenapa? apa rusukmu yang mengalami cidera?"

__ADS_1


"Iya Om, rusukku retak lumayan parah. Kata dokter sih dua bulan baru bisa sembuh." Ujar Alex dengan sekilas melirik Diah yang menunduk menatap lantai. Bagaimanapun juga setiap apa yang Alex ucapkan, secara tak langsung itu membuatnya tersinggung. Diah merasa bersalah akan apa yang menimpa Alex.


"Wah, begitu ya? Om tau bagaimana rasanya. Om dulu mengalaminya saat kecelakaan tunggal. Sakitnya luar biasa. Apalagi kalau bersin dan batuk, wah paru-paru rasanya seperti akan meledak. Semoga cepat sembuh ya. Maaf juga untuk rapat kali ini tidak bisa di wakilkan. Dan untuk tanda tangan, kami tidak bisa menggantikan berkas yang wajib kamu baca terlebih dahulu sebelum mendapatkan tanda tangan mu." Kata Lelaki paruh baya yang merupakan salah satu dewan direksi pemegang saham.


"Iya, Om. Terimakasih atas kepeduliannya." Jawab Alex sambil tersenyum.


Alex kemudian masuk kedalam lift bersama dengan Diah. Mereka terdiam sampai pintu lift tertutup.


"Sekarang kau bisa mengkalkulasi kan? berapa jumlah kerugian yang perusahaanku alami ketika aku tidak ada di kantor? semuanya harus tertunda dan itu pun hanya bisa di tunda selama dua hari." Kata Alex dengan lugas tanpa meninggikan suaranya.


"Masih mau menjadi wanita angkuh?" Imbuh Alex sambil menyeringai dan tampak mengerikan.


"Maaf Pak, karenaku kau menderita banyak kerugian dan juga terluka." Kata Diah setulus hati.


Alex terdiam tak menjawabnya dan keluar meninggalkan Diah yang hanya bisa mengekor di belakangnya.


...🌼🌼🌼...


Rapat selesai, dan jam makan siang tiba.


Alex sudah sangat kelelahan, dia bahkan langsung berbaring di sofa saat rapat usai.


"Kunci pintunya, aku mau beristirahat sebentar." Ucapnya yang berbaring di sofa.


Diah menurut dan mengunci pintu. Masih bubur gandum dan smoothies makanan Alex sehari-hari. Dia begitu bosan saat melihat menunya.


" Apa tidak ada yang lain? hanya itu?" Tanya Alex saat melihat Diah mulai menata makan siang di meja dekat sofa.


Alex tidak tau bagaimana tadi Diah harus berburu makan siangnya yang tak mudah ditemukan. Diah harus berpanas-panasan dengan bantuan ojol.


"Pak, ini baru beberapa hari. Paling tidak satu Minggu. Bapak baru bisa memakan nasi biasa. Untuk sekarang, makanan yang bisa bapak konsumsi hanya ini."


"Hemh, iyalah. Andai saja yang mengurusku begini adalah istriku, tentu aku akan lebih cepat sembuh." Celetuknya.


Senyuman getir meluncur dari bibir Diah. "Sabar Pak, sebentar lagi kan bapak akan mendapatkan istri."


Aku harap itu kau Diah. Batin Alex.


Semoga kencan butamu kali ini membuahkan hasil Pak. Gumam Diah dalam hatinya.


"Ayo, makan." Diah mulai menyuapinya.


Alex menurut saja dan sesekali ia mencuri pandang pada Diah. Bagaimana bisa aku malah jatuh cinta pada wanita seperti dia yang bahkan kuliah saja belum selesai. Dia yang begitu polos dan sederhana.


Saat tengah makan, terdengar suara pintu diketuk.


"Pak, permisi. Paket!" Kata Jesi sekertaris Alex.


"Suruh masuk!" Sahut Alex dengan perlahan. dan Diah menyahuti sebagai Alex.


"Masuk!" seru Diah sedikit lantang.


"Permisi Pak, ada paket. Harap tanda tangan." Kata Jesi sambil menyerahkan paket dari kurir.


"Di, kau tanda tanganlah. Aku malas bangun." Ujar Alex yang masih berbaring.


Diah menandatangani paket dan meletakkannya di dekat meja. Paketnya sangat berat untuk ukuran barang yang di kirimkan melalui jasa ekspedisi. Diah yang tak mau tau hal pribadi orang lain memilih untuk diam dan kembali mengurus Alex.


Selesai makan, dan kini dia kembali bekerja dan duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Diah meminta ijin untuk pergi makan siang. Selepas Diah pergi, Alex kemudian membuka paketnya bersamaan dengan Jesi yang masuk menyerahkan dokumen.


" Apa itu pak?" Tanya Jesi.


"Ouh! kau membuatku kaget. Nah, untung ada kamu. Sekalian angkat dan bawakan kesana. Ini lumayan berat ternyata." Alex.


"Iya pak, berat. Apa ini isinya?" Jesi mengangkat dan meletakkan sesuai di mana Alex menunjuk.


Alex tersenyum senang. " Ini body mist anak-anak."


"Buat apa?" Tanya Jesi terheran.


" Untuk diminum! ya jelas di pakai lah." Alex mendengus kesal dan membuka satu body mist spray anak-anak dengan gambar kereta dan juga botol plastik berwarna biru muda.


"Bapak, biasanya harus yang branded. Tapi sekarang?" Jesi tidak meneruskan ucapannya.

__ADS_1


"Ish, Memangnya kenapa? tidak boleh? aku sangat suka baunya." Ujar Alex yang terkesan acuh dan kemudian menghirup wangi body mist tanpa menghiraukan keberadaan Jesi.


"Aneh sekali, biasanya parfumnya yang paling murah berharga 5 juta. Dan tadi hanya berapa ratus ribu sudah dapat satu kardus. Sungguh ini sebuah dobrakan." Gumam Jesi keheranan.


__ADS_2