Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
38. Bukan mauku.


__ADS_3


...🍁🌸🌸🍁...


"Pak, pelan pelan..." Dita mendesis lirih manakala acara dansa tengah dimulai.


Berkat bujukan, atau tepatnya paksaan dari Bunda Winda, keduanya kini tengah berperang manis di atas lantai dansa dengan alunan musik yang mengiringi. Bukan dansa dengan tempo yang santai, tapi salsa.


Bayangkan saja, menari salsa dengan seorang yang amatiran. Sudah berkali-kali kaki Gino terinjak heels milik Dita.


"Ini salsa Dita, bagaimana bisa pelan. Kau dengar saja musiknya begitu energik. Kau yang seharusnya lebih berhati-hati, jariku bisa remuk karena terus kau injak." Gino membalasnya dengan menekankan setiap ucapanya meski dalam mode berbisik dan sesekali tersenyum melihat kearah Ayah dan Bundanya.


"Alex, lihat Kakak dan adikmu. Mereka sudah memiliki pasangan. Kau kapan?" Bunda Winda menanyai anak tengahnya yang hanya duduk dan menikmati alunan musik dengan mulut yang penuh dengan kudapan.


"Santai saja Bun. Belum waktunya, mungkin bidadari ku belum turun dari langit." Jawabnya santai dan mendapatkan keplakan di kepalanya dari sang Ayah.


"Kapan?" Ayah Dhani mendelik dan menatapnya remeh. "Dulu, Ayah ini selalu menolak wanita. Tapi kau, aku belum pernah sama sekali mendengarmu sukses menjalin hubungan."


"Ayah, setiap yang dekat denganku mereka hanya mencari keuntungan. Aku tidak suka. Aku mau istri yang tulus dan apa adanya. Aku mau yang polosan Ayah, biar aku sendiri nanti yang akan membentuk polanya."


"Memang wanita itu kain dasar?" Bunda Winda melayangkan protesnya.


"Memang, memang wanita itu kain dasar. Baik buruk, jelek cantik, pintar bodoh dan sebagainya itu semua merupakan campur tangan suami." Alex kembali melahap makanannya "Aku mau wanita yang tunduk, patuh dan mencintaiku. Seperti Bunda yang mencintai Ayah."


"Terimakasih, ayah jadi terharu." Kata Ayah yang sok melankolis dan berpura-pura mengelap air matanya yang kering.


"Ish! Ayah anak sama saja." Bunda Winda nyelonong pergi setelah tau arah pembicaraan akan semakin meruncing. Jujur saja secara otomatis itu membuatnya merasa malu juga sekaligus bahagia karena dia tau bahwa hubungannya yang harmonis dengan sang suami menjadi panutan bagi anak tengahnya.


"Tapi kau benar-benar mencintaiku kan sayang?" Seru Ayah Dhani yang mengejar istrinya yang meninggalkannya.


"Terimakasih bro!" Ujarnya sebelum mengejar sang istri Setelah sebelumnya mengerlingkan matanya kepada Alex yang juga tersenyum melihat drama Ayah dan Bundanya.


"Tidak aku hanya kepepet!!" Bunda Winda menyahuti dan mendapatkan kekehan tawa renyah dari snag suami yang tentunya dia tau istrinya hanya sekedar bercanda.


Bunda Winda berdiri di samping meja yang menyajikan banyak minuman dan bercengkrama dengan beberapa tamu dekat yang juga merupakan keluarga.


"Gadis itu siapa? calonya Gino?" Tanya seorang saudara wanita dengan penampilan sederhana dan cantik.


"Iya Mbak, semoga saja mereka berjodoh." Jawab Bunda Winda.


"Mereka terlihat serasi. Jangan lupa kabar-kabar ya kalau ada kabar baik. Mbak ikut senang." Kata si saudara yang bernama Agustina. Agustina adalah Kakak tiri dari Dhani.


Meskipun saudara tiri, tetapi mereka tetap rukun meskipun kedua orang tuanya telah lama berpulang.


"Mbak, kalau ada kandidat yang bagus boleh Mbak." Kata Ayah Dhani.


"Kandidat? untuk...? Ah~~, Alex ya?" Agustina menebak dengan tepat sambil mengangguk-angguk.


"Kandidat apa, aku kan hanya ibu rumah tangga. Aku juga bukan tipe wanita yang suka kumpul-kumpul dengan kaum sosialita." Agustina tersenyum simpul.


"Justru itu Mbak. Alex itu tipe lelaki yang suka di utamakan, dia tidak mau dengan wanita mandiri. Berkali-kali ku kenalkan dengan anak temanku tapi selalu berakhir ricuh. Aku sampai malu." Kata Ayah Dhani.

__ADS_1


"Dia maunya wanita yang polos yang mudah di atur dan patuh sama dia Mbak. " Kata Bunda Winda.


"O~~~~. Aku ada sih tapi sepertinya usia sangat jauh dengan Alex. Anaknya baik dan cantik dia masih saudara jauh dengan suamiku."


Perkataan dari Agustina membuat Ayah Dhani dan Bunda Winda berbinar dalam waktu yang bersamaan.


"Benarkah? kita bisa atur waktunya Mbak." Kata Bunda Winda antusias.


Di dalam dapur.


Saat acara tengah berlangsung.


"Aku tidak mau kau gagal. Berikan minuman itu untuk keduanya." Kata Bunda Winda.


"Tapi nyonya, ini obat apa ya?" Dengan polosnya mbok Ijah bertanya.


"Obat sehat Mbok, biar cepat dapat cucu." Kata Bunda Winda berbohong. Kalau diceritakan fungsi asli dari di obat, sudah tentu si mbok tidak akan mau di ajak bekerjasama.


Memang dalam sebuah permainan kita butuh trik dan taktik. Bunda Winda lalu mengulum senyumnya licik.


Malam hari, pesta usai dan semuanya sudah pulang.


"Pak, kenapa kepalaku pusing sekali ya?" Dita mengeluhkan kondisinya yang teramat limbung untuk berjalan.


"Kenapa? kamu belum makan atau bagaimana?" Gino menaruh perhatiannya.


Dita menggeleng. " Tidak, sudah tadi. Tapi, Pak..." Dita memegang lengan Gino wajahnya terlihat pucat dan lemas.


"Ayo ku antar ke kamarku istirahatlah sebentar sambil menungguku mengambilkanmu obat sakit kepala." Gino memapah Dita menuju ke kamarnya.


"Eum~~ kau benar. Aku juga tak sanggup menjawab tumpukan pertanyaannya Pak. Ibumu itu intuisinya tajam aku jadi takut kesepakatan kita akan terbongkar olehnya." Keluh Dita.


"Iya."


Dita dan Gino memasuki kamar Gino. Tak menggubris apapun Dita hanya ingin segera berbaring dan memejamkan matanya guna melenyapkan rasa sakit di kepalanya.


Gino menyandarkan Dita di ranjang dan sibuk mencari obat di lacinya.


"Ini o...." Belum selesai Gino berbicara dia berhenti kala melihat Dita sudah terlelap.


"Apa dia sakit?" Gino meraba kening Dita.


"Ah tidak, suhunya baik-baik saja." Gino berpikir dan menyamakan suhu tubuh Dita dengan tubuhnya.


"Hoamz....! Kepalaku, ah... ngantuk sekali." Gino melepas jasnya dengan niat berganti baju santai.


"Astaga mataku kenapa lengket sekali?" Gino yang berjalan membawa bajunya akhirnya jatuh tertelungkup di dekat kaki Dita. Kini keduanya tengah tidur di ranjang yang sama.


Di kamar Jackie.


"Hhh, rumah ini." Ayana mendengus menghela nafasnya dalam-dalam dan menikmati indah gemerlap langit malam.

__ADS_1


Derap langkah kaki kian mendekat lalu berhenti dan menjadi senyap. Sosok lelaki tampan yang kini telah menjadi suami Ayana itu kemudian meletakkan kedua tangannya untuk bertumpu pada besi pagar balkon.


"Kenapa, kau merindukanya?" Tanya Jackie.


Ayana mengangguk. "Sangat." Ujarnya lirih namun jelas ditelinga Jackie.


"Ayo masuk, udaranya dingin." Kata Jackie yang kemudian berbalik dan hendak masuk kedalam kamarnya.


"Hem." Ayana hanya berdehem tapi tetap tak bergeming dari tempatnya.


"Ay, ayo masuk. Nanti kau sakit." Jackie kembali berbalik dan semakin dekat dengan Ayana. Dia mengikis jarak yang mungkin hanya tersisa beberapa centi.


"Terimakasih sudah peduli terhadap aku." Ayana menunduk lesu.


Menangkap hal yang tak biasa dari gelagat istrinya, Jackie lalu mendekat dan berjongkok di samping Ayana untuk mengamati mimik wajah Ayana. Lamat-lamat, terdengar suara rendah yang bergetar disertai dengan pergerakan bahu yang turun naik.


"Kau menangis Ay? Kenapa? ada apa? jangan menangis." Jackie khawatir dia lalu menggenggam tangan istrinya dan mengusapnya hangat penuh Sayang.


"Tidak, aku tidak menangis. Air mataku hanya terjun bebas. Bukan mauku memiliki keadaan seperti ini. Maafkan aku yang dulu pernah mengkhianati kepercayaan dan perasaanmu."


Apa yang Jackie tangkap dari tangis Ayana hanyalah semata-mata mengenai kondisi fisiknya. Menjengkelkan, tapi ini fakta. Lelaki itu terlahir tanpa kepekaan perasaan. Bukan mengarah fisik Ayana berkeluh-kesah, tapi pada rumitnya perasaannya saat ini.


"Tidak, semuanya sudah berlalu. Kau akan sembuh Ay. Kau akan bisa berjalan lagi. Kau akan sembuh dari sakitmu." Jackie mengusap lutut istrinya lalu mengecup kedua punggung tangan Ayana .


"Disini, disini lebih sakit daripada kakiku." Ayana memukul-mukul dadanya dengan Isak tangis yang tertahan.


Jackie terdiam, dia hanya ingin menyimak apa yang istrinya sampaikan. Apa yang istrinya selama ini rasakan.


"Aku teramat sakit sat tau bahwa kau menikahiku hanya untuk membalas dendam. Jack, dulu memang aku menikah dengan Kak Gino. Tapi aku bersumpah, aku tidak pernah berselingkuh ataupun merebutnya dari kak Lena." Ayana menatap lekat kedua manik hitam milik suaminya.


"Aku bersumpah, aku menyetujuinya hanya karena ingin bapakku tetap hidup."


"Lalu, selama kau menjadi istrinya, kau bersikap baik padanya? bahkan kau sampai mengandung anaknya."


"Karena memang itu yang di mau Kak Lena, dia yang terus mendesak ku agar cepat hamil. Aku tidak punya pilihan, dan juga aku bukan manusia yang suci aku melakukannya dalam status sah dan Halal." Ayana tergugu nan pilu.


"Lalu, mengapa denganku kau sama sekali tak mau kusentuh Ay?"


"A... aku.... tidak mau ada korban lain lagi. Bila harus ada yang pergi, itu seharusnya hanya aku. Bila harus ada yang sakit, juga seharusnya hanya aku. Aku tidak mau bila nanti aku hamil anakmu dan kau akan merenggutnya dariku. Itu menyakitkan, lebih menyakitkan daripada kematian."


Jackie menggeleng. Ternyata itu pemahamannya selama ini. Ayana trauma, dia trauma akan kehamilan. Dia takut bila hamil dan kandungannya atau anaknya nanti akan. menuai segala laranya.


"Tidak, Sayang tidak. Aku menyesal telah mendengarkan orang yang salah. Aku terlalu bodoh dan termakan segala hasutannya." Jackie berbicara dengan air mata yang jatuh tak kalah derasnya dari sang istri.


"Aku... aku serius dengan pernikahan ini. Aku benar-benar ingin kita bahagia bersama." Kata-kata dari Jackie membuat Ayana seketika mendongakkan kepalanya. Ia menatap kedua mata suaminya lekat mencoba mencari kejujuran disana.


"Kita mulai semuanya dari awal. Aku ingin bahagia sampai tua bersamamu sayang." Kata Jackie tulus.


Ayana diam tak bergeming dengan air mata yang masih setia membanjiri pipinya. Telinganya terasa penging mendengarkan pengakuan dari lelaki yang pernah berkata akan menyakitinya. Ayana bingung, ucapan mana yang harus di percayanya.


Dengan suasana haru, penuh emosional Jackie merengkuh Ayana dalam dekapannya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Bukan mauku untuk menyakitimu. Ma... Maafkan aku."


Ayana mengangguk perlahan. Dia luruh, dia runtuh dalam pengakuan sang Tuan.


__ADS_2