Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
28. Pekat Malam


__ADS_3


Ingat, ingat!


Demi dia nih gue update.


...🌹🌹🌹...


Satu Minggu setelah acara makan malam dan membahas tanggal pernikahan. Dimana, Ayana satu satunya orang yang tak memiliki hak suara dalam menentukan tema atupun baju yang nanti dikenakannya.


Dan, satu Minggu pula Jackie mengurus pekerjaan diluar negeri. Membuat Ayana bisa bernafas lega. Jujur diakuinya dia lebih merasakan hidup yang sesungguhnya saat berjauhan dari calon suaminya itu.


Hari ini, adalah hari kepulangan Jackie. Ayana mempersiapkan meja dan segala kebutuhan Jackie dengan sebaik mungkin. Waktu masih menunjukkan pukul 14:00. Ayana gelisah menunggu kedatangan si pemilik ruangan.


Derap langkah kaki mulai terdengar kian mendekat dan bersahutan dengan suara pintu yang terbuka.


" Kopi!" Serunya saat pertama kali menginjakkan kaki. Tanpa salam atau apapun itu.


Ayana mengangguk dan menuruti perintah Jackie begitu saja. Dia keluar untuk membuatkan kopi.


Satu kali buat dan masuk.


" Puih!! kopi apa ini?" Jackie menghentakkan cangkir yang di pegangnya. Tumpahlah kopi itu menyiprat di meja.


" Hanya membuat kopi saja kau tidak becus? Apa yang kau bisa selain mengacaukan hidup orang lain?"


Ayana hanya menunduk menyimpan semua rasa kesalnya. Sebagai manusia, patutlah dia melakukan kesalahan. Tapi kesalahan juga tak akan bisa terjadi tanpa kehendak sang Maha Kuasa bukan?


Lagi-lagi dia hanya menunduk tak menjawab dan tatapannya tertuju pada lantai yang di pijaknya.


" Ganti!" Jackie menyodorkan cangkir.


" Buat yang baru!!" Perintahnya dengan nada bicara yang menyebalkan.


Ayana kembali membuatkan dan masuk kedalam ruang kerjanya.


" Ini pak." Lirihnya dengan menunduk tak berani menatap. Apa yang sebenarnya membuat Jackie sepulang dari urusan bisnis justru lebih membenci ayana?


" Puih" Lagi dia menyemburkannya dan kali ini di wajah Ayana. " Apa ini? Belikan saja jika kau tidak becus membuat kopi!" Jackie memberikan cangkir kopi yang masih panas di tangan Ayana. Lantaran belum siap menerima, kopi panas itu tumpah dan mengenai tangan Ayana. Membuat gadis malang itu meringis menahan perih.


" Auh!" Rintihnya dengan raut wajah kesakitan.


Tak bergeming membantu atau menyesali apa yang telah dia lakukan, Jackie malah kembali duduk dan bersandar di kursi kebesarannya.


" Jangan Manja!!" Sarkasnya tak mengindahkan kondisi tangan Ayana.


Ayana segera kembali ke pantry dan membersihkan tangannya yang terkena air panas. Tangannya memerah. Tak sengaja, dia bertemu dengan mantan suaminya yang juga hendak membuat kopi.


" Na," Gino memanggil Ayana yang langsung menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya.


" Sedang apa?" Tanya Gino lembut. Lelaki itu sudah lebih baik, kakinya sudah tak pincang lagi.


" Sedang menaruh cangkir bekas minum pak Jackie saja." Jawabnya.

__ADS_1


" Oh, bisa buatkan aku kopi?" Gino meminta dengan tersenyum manis.


Sebenarnya Ayana sangat ingin membuatkan kopi untuk lelaki baik yang bertanggung jawab ini. Tapi, dia tak mau bila Gino melihat tangannya yang merah karena luka bakar akibat ulah Jackie. Ayana memilih untuk mencari kesempatan menghindari Gino.


" Maaf kak, aku sedang buru-buru." Ujar Ayana yang terkesan menghindar.


" Baik, mungkin lain kali." Gino tersenyum.


Gino paham, apa yang membuat Ayana menghindarinya adalah adiknya sendiri. Tak mau semuanya semakin rumit, Gino memilih mengabaikan sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


Ayana membeli kopi di sebrang jalan. Saat membeli kopi dia berpapasan dengan wanita berpakaian kurang bahan yang berjalan dengan berlenggok.


" Siapa ya, seperti pernah lihat." Gumamnya dengan menggaruk kepalanya mencoba mengingat sosok wanita yang berpapasan barusan.


Ayana masuk kedalam Cafe dan memesan kopi dia meringis kesakitan dan meniup-niup punggung tangannya.


" Nona, kenapa?" Tanya barista yang ternyata memperhatikan Ayana.


" Oh tidak, hanya tak sengaja tadi tersiram air panas." Kata Ayana.


"Sudah di obati?" Si barista tampan yang perhatian mulai menunjukkan pesonanya dia berbicara sembari sedikit melirik Ayana.



Ayana menggeleng. " Belum sempat."


" Ini kami punya salep. Obatilah, nanti bisa infeksi." Kata si barista.


Tak lama.


" Ini Kak, pesanannya." Si barista menyodorkan cup pesanan Ayana.


" Oh iya." Ayana mengangguk gugup dan menerimanya.


" Semoga lekas sembuh, lain kali lebih berhati-hati ya." Tutur si barista.


Tidak pernah mengenal sebelumnya, tapi Ayana dapat melihat ketulusan dan kebaikan di mata si barista ini. Ayana membalasnya dengan senyuman. " Iya, terimakasih." Kata Ayana lalu pergi.


Kembali ke kantor dan harus mempersiapkan mental. Berkali-kali Ayana menarik nafas dan mengehmbuskanya untuk sekedar menguatkan dirinya sendiri.


" Ayo Ay, kamu bisa! Setidaknya ini lebih terhormat daripada mati bunuh diri." Ayana menggumam menyemangati jiwanya.


Ayana tiba di depan ruang kerjanya dia mengetuk pintu sebelum masuk dan mendapat sahutan dari dalam membuatnya melangkah masuk. Sejenak dia mematung melihat pemandangan yang mengkoyakkan hatinya. Jackie tengah duduk memeriksa laporan, dan ada wanita yang berpakaian minim menyampirkan dagunya di pundak calon suaminya.


" Lama sekali! letakkan di meja dan kerjakan laporannya." Jackie berbicara seolah diantara mereka tak ada ikatan apapun sebelumnya. Tanpa risih dia sesekali bercanda dengan si wanita yang masih bertengger di pundaknya.


Marah, kesal lalu menangis. Jackie berharap itu terjadi pada Ayana. Tapi tidak,


Ayana dengan wajah datarnya kembali ke mejanya dan mengerjakan laporannya. Seolah tak terganggu atau menderita sama sekali. Bahkan, luka yang di akibatkan oleh tumpahan kopi panas tadi pun, sudah tak dirasakannya.


Ayana fokus mengerjakan tugasnya. Sementara Jackie sesekali melirik Ayana yang terlihat fokus tanpa gangguan sama sekali. Apa sebenarnya yang diharapkan Jackie?


" Aku dengar kau akan menikah?" Celetuk wanita berbaju merah dengan tatapan mata menggoda kepada Jackie yang sengaja ia perlihatkan dihadapan Ayana.

__ADS_1


Ayana tak menoleh, selain mati rasa, agaknya sekarang dia juga menjadi bisu dan tuli.


" Iya, wanita itu calon istriku." Jackie menunjuk Ayana menggunakan ujung pena miliknya.


" Emmm...., Kenapa B aja? Hanya sekelas sekretaris?"


" Kalau aku memilih yang luar biasa, mana mungkin aku bisa bermain bersama kalian?" Jawab Jackie dengan mengusap perlahan dagu si wanita berpakaian seksi.


Oh ya, Ayana ingat sekarang. Wanita itu adalah wanita yang dahulu menemani Jackie berkaraoke ria. Ayana semakin menguatkan mentalnya dengan tetap fokus bekerja. Dan, apa tadi, Bermain bersama? Apa maksud ucapan Jackie?


Apakah dia melakukan hal itu beramai-ramai??


Argh...! Penging telinga Ayana mendengarkan percakapan yang seolah menggiringnya untuk mengamuk sekarang juga lantaran tak dihargai sama sekali.


" Apa itu tandanya jika kau menemukan yang luar biasa kau akan berhenti bermain dengan kami?" Tanya si wanita gatal.


" Ya, tentu saja. Hanya wanita yang luar biasa yang bisa membuatku kembali seperti dulu." Jawab Jackie menatap Ayana tapi Ayana tetap tak mengindahkannya.


Jam terasa begitu lama berputar bagi Ayana. Waktu seolah melambat kala Jackie sengaja menyiksa batin dan mentalnya. Untuk apa dia akan dinikahi jika hanya di jadikan penonton dalam permainan kotor suaminya sendiri? Mungkinkah dia hanya dijadikan alat peredam kemarahan dari kedua orang tuanya?


Ataukah dia hanya sebagai sekat penutup kebusukan suaminya?


Malam yang semakin larut.


Angin berhembus kencang menandakan hujan akan segera turun membasahi bumi. Entahlah, mungkin hujan akan mewakili Ayana menumpahkan tangisnya? sebab dia sudah tak lagi memiliki air mata.


Air matanya kering manakala selalu tertitikan untuk setiap tekanan dan luka yang Jackie berikan.


Menyendiri sepulang kerja dengan duduk menikmati semangkuk mi rebus di teras toko waralaba. Seolah dia kini bersahabat dengan pahit dan getir kehidupan.


" Hai, Nona. Nona yang tadi kan?" Seorang pemuda mendekat dan menyapanya.


" Oh iya. Kau barista tadi kan?" Ayana mengingat wajah yang tampan berkulit putih pucat itu.


Entahlah walau Ayana menarik diri dari para pria. Nyatanya dia bisa sedikit bercengkrama dan dekat dengan si barista ini walaupun baru pertama kali bertemu.


Canggung. Keduanya nyatanya memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama pendiam.


" Sendirian?" Tanya si barista.


Ayana mengangguk beriring dengan senyum tipisnya.


" Oh, sama. Kenalkan namaku Shaga. Kau?" Shaga mengulurkan tangannya untuk berjabat.


" Shaga. Nama yang bagus. Namaku Ayana." Kata Ayana tersenyum sipu dan menerima jabatan tangan Shaga.


" Cantik." Celetuk Shaga tanpa filter.


" Apa?"


" Ca... cantik. Iya namamu cantik." Shaga tergugup malu-malu karena keceplosan memuji kecantikan Ayana.


__ADS_1


__ADS_2