Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
110. untuk apa?


__ADS_3



Jackie memakai masker rangkap 3 saat berusaha memberikan kejutan untuk istrinya. Dia begitu ingin melihat senyuman di wajah sang istri.



"Hachu...!" Jackie bersin-bersin karena alerginya kambuh. Benar-benar tak bisa ditahan.



Ayana terkikik geli dan juga sangat senang saat Jackie memberikan hadiah berupa toko perlengkapan bayi juga sekaligus lengkap dengan isinya. Ayana begitu senang dan tak mengira jika sang suami akan memberikan sesuatu yang di impikannya sampai sejauh ini.



"Kita ke Rumah sakit ya? Kau terlihat tidak baik-baik saja." Ucap Ayana dengan cemas menatap wajah sang suami yang hidungnya memerah.



"Hachu!! Tidak usah lah, sebenarnya aku sudah minum obat alergi. Tapi ternyata masih saja.. Hachu...!"



"Eoh..., kalau begitu ayo kita pulang saja. Terlalu lama disini bisa membunuhmu perlahan. Jangan mengabaikan tentang alergimu."



"Iya..., Oke kita pulang." Jackie menurut saja pada sang istri untuk segera pulang. Meninggalkan toko baru yang rencananya baru beberapa hari akan dibuka bila semuanya sudah siap.



Fajar kembali mengemudikan mobil Atasannya, yaitu Jackie. Sementara itu sepasang suami istri itu lebih nyaman duduk di belakang dengan Jackie yang sudah menyandarkan kepalanya di Sandara bangku. Hidungnya masih merasa tidak enak, dia masih saja bersin-bersin.



"Kasihannya suamiku." Ayana mengusap keringat di kening sang suami yang sedari tadi masih saja bersin-bersin sampai mengeluarkan air mata. "Kenapa harus menyiapkan begitu banyak bunga, jika kau saja tidak tahan dengan serbuk sarinya?" Tanya Ayana yang begitu iba melihat suaminya.



"Karena aku tahu, kau sangat suka mawar kan? Jadi ya.... aku hanya ingin mewujudkan impianmu saja. Bunga mawar dan toko perlengkapan bayi." Jawab Jackie yang menatapnya penuh arti.



Ayana terenyuh. Bagaimana tidak? setelah seharian moodnya terganggu dengan banyaknya pikiran negatif, akhirnya dia mendapat kejutan yang tak pernah di sangkanya sama sekali.



"Uh... Makasih sayang." Ayana menghambur dan memeluk erat tubuh Jackie dan dia mendongakkan kepalanya meminta silaturahmi bibir terjadi.



Jackie menyunggingkan senyumnya dan mengerti maksud sang istri. Dia lalu menunduk dan mengambil amplop coklat besar untuk menutup adegan manis tersebut dari pandangan Fajar.



Ah, Kalian.... jiwa jomblo ku meronta-ronta melihat ini. Batin Fajar menggumam.



CUP!


satu kali.



"Makasih." Ucap Ayana sangat lirih dan sorot matanya menggambarkan kegembiraan yang teramat sangat.



"Iya." Jawab Jackie dengan tersenyum manis.



CUP!


dua kali. Setelah yang pertama Jackie yang mengawali, maka yang kedua Ayana yang memulai.



Perlahan, ciuman sederahana itu menjadi sesuatu yang rumit dengan lidah yang saling membelit mengabsen jajaran gigi yang berbaris rapi. Rupanya Ayana telah mempersiapkan semuanya, Dari kecapan yang terasa, Jackie dapat merasakan manis minta dalam bibir sang istri.



"Rasa Mint,." bisiknya di sela-sela \*\*\*\*\*\*\*.



Ayana melepaskan pagutan mereka dan menatap teduh sang suami dengan senyum manis yang begitu indahnya. "Suka?" Tanyanya sederhana, tapi cukup bisa membuat sang suami merasa teristimewa.



"Kau paham seleraku Sayang." Bisik Jackie sambil menggigit kecil daun telinga Ayana. Nampaknya ada sesuatu yang tak tertahankan dari hasil ciuman tersebut.



Merasakan ada perubahan yang aneh pada tatapan mata suaminya, Ayana sontak membulatkan matanya. "Jangan di sini. ada Fajar." Bisik Ayana.



"Ehem...! ehem...! Jar, tolong menepi di depan ya. Kamu pulang saja naik taksi. Aku ada urusan penting." Kata Jackie dengan tiba-tiba setelah mendengarkan bisikan Ayana.



Ayana yang paham urusan penting apa hanya bisa mengulum senyumnya dan menatap keluar jendela.



HEhhhhh....... nasib nasib. Fajar menggerutu dalam hati. "Baik Pak." Sahutnya perlahan tanpa menoleh kebelakang.



"Sudah ku transfer, untuk naik taksi dan makan ya. Suasana hatiku sedang baik sekarang. Hachu....!" Ucap Jackie yang kemudian di akhiri dengan bersin. Untung saja tidak sewaktu berciuman tadi, kalau tidak bisa berabe semuanya.



Seketika wajah Fajar berubah menjadi ceria setelah mendengarkan kata Transfer. Satu kata yang cukup menambahkan dopamine padanya. "Siap Pak!" Ucapnya bersemangat.



Fajar menepi dan turun seketika. Dan Jackie dengan segera mengambil alih kemudi tanpa banyak berbicara lagi.



"Hati hati mengemudinya Pak!" Seru Fajar sambil melambaikan tangannya.



"Sering-sering saja begini Bu, biar Fajar cepat kaya dan bisa kebeli mobil sendiri. Hahahaha!" Ujarnya banyak berharap.



Tentu dia senang, Sekali turun dan menepi Jackie memberikannya 500 ribu hanya untuk ongkos pulang dan makan. Fajar sungguh senang. Untuk pulang dan makan mungkin dia hanya membutuhkan 100 ribu. Dan sisanya? Otaknya langsung mengakumulasikan sebagai pendapatan rutin perminggu. Jika dikalikan 4 maka sudah 2juta terkumpul dan itu lebih dari uang lemburnya.


__ADS_1


Jackie mengemudi membelah jalanan kota, Kota yang ramai dan mulai akan macet di saat jam pulang kerja. Keduanya berhenti di lampu merah.



"Si\*l lampu merah segala." Umpatnya memaki si lampu merah jalanan.



Ayana tertawa, segala lampu merah di salahkan. "Kamu kenapa, lampu merah kok di marahi?" Tanya Ayana yang masih terkikik geli.



"Ayolah sayang," Ucapanya yang kemudian meraih tangan Ayana dan menempatkannya di antara dua paha.



Ayana melotot dan ternganga. Dia sampai menutupi mulutnya. Ia begitu tak percaya melihat apa yang ada di depan mata. "Sayang, kita masih di jalan loh. Untuk kerumah masih 30 menit lagi. Tidak apa-apa terus begitu?" Tanya Ayana yang sejatinya malah memancing sesuatu untuk terus menuntut kebebasannya.



"Apa kau mau mengusapnya agar dia tenang?" Tanya Jackie sambil mengerling nakal.



"Yakin? apa tidak apa-apa? jika dia semakin berotot, aku takut celana mu akan Sobek dibuatnya."



"Argh, kau ini." Jackie mengerang kesal.



"Sudah jangan Marah, Dedek....., ayo bobok lagi ya?" Ayana mengusap lembut sesuatu yang menegang sempurna itu dan mengajaknya berbicara dengan begitu mendayu-dayu.



Aih, bukan begini konsepnya!! itu semakin di usap maka akan semakin memberontak. Ay, kamu gosok terus bisa keluar jin nya.🤣🤣.



Lampu merah padam berganti lampu hijau. Kini mobil kembali berjalan dengan kecepatan tinggi. 5 Menit kemudian Jackie sudah berada di lobby hotel.



"Katanya mau pulang?" Ayana melongo tak percaya ketika mereka sampai di depan lobby.



"Kerjakan PR mu dulu, baru pikirkan pulang. Kita harus kerja kelompok sekarang." Ucap Jackie sambil mengancingkan jasnya agar sesuatu yang menonjol tak terlihat menjendol.



Ayana sungguh tak bisa menahan tawanya. Hanya karena permen minta yang dia suka, semuanya jadi begitu sulit di percaya.



"Pesan kamar, suite room." Ucap Jackie pada resepsionist.



"Maaf pak kosong. Kamar VIP sudah di booking untuk wedding." Jawa si resepsionist.



"Ta sudah, yang ada apa?"



"Tinggal double bed pak, singel bed sudah terbooking. dan sebagian masih terpakai."




"Untuk berapa hari pak?" Tanya Resepsionis.



Jackie melirik Ayana yang terdiam di sampingnya. "Dua jam saja." Jawabnya yang membuat si resepsionist menggaruk kepalanya.



"Dua jam tarif sewa kami setarakan dengan sewa kamar satu malam ya pak?" Ucapnya menjelaskan.



Tapi Jackie yang sudah begitu bergemuruh menahan sesuatu menjadi kesal karena si resepsionist yang banyak tanya.



"Iya, terserahmu! aku membutuhkannya sekarang! ini bayar dimuka!" Ucap Jackie memberikan kartu kreditnya.



Si resepsionist hanya bisa menelan ludahnya perlahan, baru kali ini ada pemesan kamar yang tidak sabaran dan hanya memesan untuk dua jam saja.



"Ini pak, terimakasih." Ucapnya.



"Nanti, antarkan makanan termahal di hotel ini ke kamar saya. Harus ada setelah satu jam saya masuk. Juga, ingatkan saya untuk dua jam setelahnya." Kata Jackie dengan begitu tegas.



"Baik pak!" Resepsionis hanya bisa mengangguk patuh. Batu kali ini ada costumer yang sangat arogan. "Kamar paling ujung ya Pak. Lorong ini anda belok kanan." Ujar si resepsionist memberitahukan.



Jackie tak berbicara lagi lalu pergi melengos begitu saja.



"Maaf ya mbak, suami saya sedang lelah dan banyak pikiran." Ucap Ayana yang berada di belakang Jackie. Dia berbicara begitu pelan saat mengambil kunci kamar.



Si resepsionist hanya mengangguk dan tersenyum ramah.



Kamar yang paling murah dan sederhana, terletak di lantai dasar. Dan itu sukses membuat Jackie semakin kesal.



"Tidak ada lift!" Kesalnya yang kebetulan letak kamar berada di ujung lorong.



"Sayang, ini lantai dasar. Mana ada lift? Udah deh jangan marah-marah, sabar kenapa?" Ayana merangkul suaminya lalu mengusap lembut lengannya.



"Huh....!" Jackie mendengus sebal.

__ADS_1



"Sabar, sebentar lagi sampai. Kamu mau gaya apa?" Tanya Ayana guna mengusir mood buruk suaminya.



"Satu Jam, satu jam aku ingin kau yang berada di atas." Ucap Jackie terdengar begitu mesum hingga membuat Ayana merinding sekujur badan.



Benar saja, saat mereka baru saja sampai di kamar. Belum sempat Ayana membuka outerwear, dia sudah di kejutkan dengan Jackie yang menyergapnya dari belakang.



"Kau sengaja menggodaku saat di mobil kan? sekarang kerjakan PR mu." Ucap Jackie yang sudah mencumbui leher istrinya.



Ayana menggeliat kegelian. Dia mengulum senyumnya. "Siapa bilang aku menggoda? aku hanya ingin menjamu vendor terbaikku dan juga mengucapkan terimakasih padanya." Ucap Ayana yang sengaja ia tujukan pada suaminya sendiri.



Jangan lupakan tangan nakalnya yang sudah membelai sesuatu yang menggembung kekar. Ayana melakukannya dengan tatapan manis menggoda membuat Jackie merasakan timbal balik yang sama. Berkali-kali desa\*an itu meluncur dari mulutnya.



Seperti lolypop yang terasa begitu manis dan membuat candu, Ayana menyesapnya dan menjilatinya. Dia tau dimana titik kelemahan sang suami.



"Argh...., kelamaan." Ucap Jackie yang begitu tak sabaran dengan season opening.



Dia mengambil alih permainan dan memimpinnya. Hilang sudah konsekuensi bagi Ayana untuk berada di atas selama satu jam. Jackie dengan segera \*\*\*\*\*\*\* bibir Ayana dan membuatnya berjalan menuju ranjang tanpa melepaskan pagutan.



Jackie memimpin permainan dengan 2kali permainan menghasilkan skor 1 sama. Permainan berakhir seri dengan dua tubuh yang melemas setelah sebelumnya menggelinjang di atas ranjang kenikmatan.



"Ranjang sempit ternyata lumayan bagus." Ujar Jackie setelah menyelesaikan misinya.



Ayana menatapnya lalu tersenyum dan tangannya mengusap kening sang suami. "Otakmu ini terlalu banyak pasirnya, sayang. Terlalu ngeres..." Ujarnya.



Jackie ikut tersenyum. Tak bisa di tampik memang, bahkan dia sendiri sampai kewalahan menanganinya.



"Kamu lapar kan?" Tanya Jackie.



Bersamaan dengan itu, datanglah pelayan yang mengantarkan makanan ke kamar mereka. Berbalut baju terbaik dan rambut yang acak-acakan, juga celana pendek yang kusut, Jackie membuka pintu. Sementara Ayana bersembunyi di balik selimut.



"Pesanan anda Pak." Ujar si pelayan.



"Iya, ini tip buat kamu." Kata Jackie yang memberikan tip kepada pelayan.



Ayana baru beringsut dan hendak memakai bajunya.



"Stop!! Dont ware your shirt. Just \*\*\*\*, and eat." Titah Jackie.



Kening Ayana mengkerut indah. "Tapi,"



"No... no tapi tapi... habis ini aku mau membakar kalori lagi." Kata Jackie.



"Tapi kata dokter," Ayana ingin menolaknya, jujur saja menghadapi suaminya yang begitu rakus dan liar tadi membuatnya merasa kelelahan.



"Aku sudah bertemu dengan dokter, dan ada suatu keajaiban. Katanya rahimmu sudah jauh lebih baik dan ada kemungkinan bisa mengandung."



"Ah, rupanya kau menemuinya?" Cetus Ayana sambil menyelipkan anak rambutnya.



"Iya. Jadi kau sudah tahu?" Jackie memastikan dan duduk di samping Ayana.



"Hem.... jadi pihak rumah sakit tempatku di rawat dulu baru kemarin mengirimkan email permintaan maaf dan juga beberapa uang untuk kompensasi. Salah satu stafnya melakukan kesalahan dalam pembagian hasil diagnosa."



"Begitu?" Jackie terlihat begitu serius menyimak penjelasan sang istri.



"Iya. " Ayana mengangguk. "Jadi dalam satu hari tepat aku di rawat itu, ada salah satu stafnya yang mabuk, dan dia tetap masuk bekerja. Lalu ya terjadilah human error itu. Banyak yang di rugikan yang jelas. Seperti aku yang seharusnya hanya meminum obat dosis rendah, harus mengonsumsi obat dosis tinggi dan efek sampingnya ya seperti waktu aku hamil itu. Itu karena efek yang di timbulkan setelah bertahun-tahun aku mengonsumsi obat yang salah."



"Kita perlu melayangkan tuntutan sayang." Kata Jackie yang berapi-api, dia tak terima bila sang istri harus menghadapi kekeliruan selama bertahun-tahun lamanya dan mengonsumsi obat yang salah.



"Sudah, mereka sedang mengurusnya di meja hijau karena ada satu dari kami yang menuntut. Dan sebagai hasil akhir, kami semua mendapatkan kompensasi." Jawab Ayana menenangkan suami.



"Jangan tanyakan uangnya. Uangnya sudah habis ku pakai."



"Berapa kompensasinya?" Tanya Jackie.



Ayana mulai melahap makanan yang dipesan suaminya. "350jt." Jawabnya dengan mulut yang penuh makanan.



"350 juta? sudah habis? buat apa?"

__ADS_1


__ADS_2